00:00Selamat malam, selamat berjumpa kembali di program Rosy bersama saya Rosyana Silalahi.
00:06Sejak 28 Februari 2026 kita menyaksikan sesuatu yang mengejutkan.
00:11Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran hingga menewaskan pemimpin tertinggi Ayatullah Ali Khamenei
00:18hanya dalam tempo kurang dari 24 jam.
00:21Eskalasi ini telah memicu kekhawatiran global termasuk Indonesia
00:25karenanya saya ingin mendengar pandangan seorang diplomat senior.
00:32Ia mencapai puncak karir sebagai seorang diplomat
00:36karena ia ditunjuk sebagai seorang Menteri Luar Negeri
00:41di dua zaman, zaman periode Presiden Ibu Megawati dan Bapak Susilo Bambang Yudhoyono.
00:49Bapak Hasan Wirayuda yang menjadi Menteri Luar Negeri sejak tahun 2021
00:56Sampai 2009.
00:58Pak Hasan, terima kasih.
01:00Senang sekali bisa akhirnya ketemu.
01:02Lama banget kita gak ketemu, Pak.
01:04Terima kasih, Rosy.
01:06Saya akhirnya bisa ngeliat Pak Hasan karena dipanggil Presiden.
01:10Waktu itu soal Board of Peace.
01:12Lalu kemudian ngeliat lagi Pak Hasan.
01:15Kalau gak karena Board of Peace, saya gak punya alasan untuk ketemu Pak Hasan Wirayuda.
01:22Tanpa perlu alasan sebetulnya.
01:24Terima kasih ya Pak, sudah di Rosy.
01:26Sangat menghargainya.
01:27Pak Hasan, dua kali dipanggil oleh Presiden Prabowo
01:32sebagai bagian dari para mantan Menteri Luar Negeri.
01:37Dan kemudian kemarin malam juga dipanggil oleh Presiden Prabowo
01:43untuk semacam berdiskusi soal situasi geopolitik.
01:48Menurut Bapak, dari pertemuan pertama dan kedua,
01:52apa yang paling menjadi concern dan standpoint Presiden Prabowo?
01:56Yang membedakan adalah bahwa pada pertemuan kedua yang saya hadiri
02:01ada elemen baru, yaitu terjadinya atau pecahnya perang
02:06yang dimotori oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
02:12Yang pada pertemuan pertama belum terjadi.
02:15Jadi menambah pentingnya mungkin oleh pikiran Pak Presiden Prabowo
02:22untuk mengulangi, melanjutkan diskusi yang sebetulnya sudah dilakukan sebelumnya.
02:27Jadi elemen baru yaitu pecahnya perang Iran.
02:31Lama kan pertemuannya Pak, hampir tiga jam kalau nggak salah?
02:35Lebih dari tiga jam.
02:35Lebih dari tiga jam.
02:37Menurut Bapak, apa yang kan banyak sekali tentu situasi yang harus dijelaskan.
02:45Menurut Pak Hasan sebagai seorang diplomat senior,
02:49pernah menjadi Menteri Luar Negeri,
02:51apa penjelasan paling penting yang Bapak highlights dari Presiden Prabowo?
02:59Pertama, saya sampaikan bahwa banyak pertanyaan,
03:05banyak dugaan-dugaan yang tidak terjawab
03:10karena faktor komunikasi pemerintah yang kurang baik.
03:13Beliau sangat terbukaan mengakui bahwa iya betul,
03:17komunikasi perlu diperbaiki, ditingkatkan.
03:21Dengan kata lain, ada keterbukaan beliau.
03:23Seperti juga tercermin dalam diskusi,
03:26beliau pasti memberikan briefing latar belakang
03:30tentang bagaimana suatu kebijakan diambil,
03:33tapi juga beliau membuka peluang untuk kita berdialog.
03:37Itu sesuatu yang menurut saya sangat positif.
03:41Waktu itu apa masukan Pak Hasan?
03:44Atau perspektif apa yang Bapak bagikan dalam pertemuan itu?
03:48Pertama, kalau yang pertama kan lebih pada board of peace.
03:55Pada pertemuan pertama tadi saya sudah sampaikan
03:58keperluan komunikasi publik yang lebih baik dari pihak pemerintah.
04:02Yang kedua tentunya pemahaman akan penjelasan yang lebih baik
04:08tentang mengapa kita ikut bergabung dalam board of peace.
04:13Kemudian beliau juga menjelaskan panjang lebar
04:16tentang pada waktu hampir yang bersamaan
04:20atau seterkait atau tidak terkait adalah
04:22perundingan tentang tarif yang diimpose oleh Presiden Trump.
04:30Jadi banyak latar belakang dari proses itu
04:34yang cukup mencerahkan semua yang hadir dalam pertemuan.
04:39Kita memahami lebih baik,
04:41karena itu saya melihat kalau itu dijelaskan
04:43kepada publik pelayanan lebih baik,
04:45susahnya memang sebagian itu kan tidak mudah juga
04:48untuk dijelaskan.
04:50Karena dalam diplomasi ada banyak hal yang bersifat rahasia
04:54yang tidak mudah gelar secara terbuka.
04:58Tapi esensinya kan bisa dijelaskan.
05:00Itu yang disadari oleh pemerintah.
05:03Dan dalam board of peace misalnya,
05:08saya mengatakan mengapa dari awal kita tidak cukup menjelaskan.
05:13Setelah pertemuan di New York pada tanggal 23 September,
05:19setelah beliau berbicara di majelis umum,
05:22kan ada pertemuan bersama dengan 8 negara-negara
05:29berpenduduk mayoritas Islam atau negara Islam.
05:32Dan di situ dibangun kesepakatan untuk
05:368 itu akan ikut serta dalam board of peace.
05:40Yang kedua, sebelum penandatanganan dokumen board of peace
05:45di Davos pada bulan Januari kan juga didahului pertemuan
05:52di antara negara 8 negara Islam atau berpenduduk mayoritas Islam
05:59yang kita bagian dari kesepakatan itu untuk ikut serta dalam board of peace.
06:06Saya melihat dari segi kalkulasi kekuatan,
06:108 negara itu bisa menjadi penyeimbang.
06:14Dari katakanlah kedudukan Trump yang sebagai ketua,
06:21sangat dominan.
06:23Sangat dominan.
06:24Dan bukan tanpa kekuatan,
06:26sebab Trump pasti menghitung
06:28bahwa 8 negara ini juga punya peran
06:32atau kontribusi yang tidak bisa diabaikan,
06:35khususnya dalam kontribusi pendanaan
06:38dari kegiatan yang dirancang untuk memulihkan Gaza.
06:43Itu satu.
06:44Jadi, satu yang kita lihat sebagai satu elemen positif.
06:51Yang lain adalah bahwa sebelum gagasan tentang board of peace,
06:57kita akan menyaksikan selama dua tahun lebih
07:00sejak selama dua tahun lebih Israel dengan sangat leluasa.
07:05Tiap hari menyerbu Gaza,
07:08kita saksikan penduduk sipil wanita yang menjadi korban,
07:1471 ribu menjadi korban meninggal,
07:18belum jumlah besar kerusakan yang terjadi.
07:22Tapi lebih dari itu juga tidak ada tanda-tanda
07:27ke arah memulihkan situasi perang menjadi satu kencatan senjata.
07:35Sekat atau tidak kita kepada Presiden Trump adalah Presiden Trump
07:40yang memang punya kemampuan untuk menekan Israel
07:45menyepakati kencatan senjata.
07:46Dan dari situlah kita saksikan penderitaan rakyat Palestina
07:52belum sebetulnya berakhir,
07:54tapi mulai ada tanda-tanda ke arah perbaikan.
07:56Misalnya dengan penyaluran bantuan kemanusiaan.
07:59Jadi dari penjelasan Presiden yang langsung kepada para mantan menlu,
08:04tokoh-tokoh, pada waktu itu,
08:07Pak Hasan melihat bahwa ini make sense pada waktu itu
08:11mengapa setuju untuk masuk BOP.
08:13Pak saya mau masuk, nanti saya akan tanya juga soal BOP
08:17setelah ada serangan Amerika dan Israel ini.
08:20Sebagai seorang mantan Menteri Luar Negeri,
08:25seorang diplomat senior,
08:27saya ingin dengar,
08:28apa tanggapan Bapak soal apa yang terjadi?
08:32Mengapa Amerika menyerang Iran bersama Israel?
08:36Sebenarnya ini perangnya siapa?
08:38Perangnya Israel yang dibantu oleh Amerika
08:41atau perangnya Amerika yang dibantu oleh Israel?
08:45Yang kedua, yang pertama,
08:48perangnya Israel yang dibantu Amerika.
08:50Karena memang nantannya sudah cukup lama
08:52berpikiran tentang bagaimana mengubah kawasan itu
08:55di mana Israel menjadi pemegang peranan sebagai hegemon.
09:01Karena setiap kekuatan yang muncul,
09:04yang dianggap menjadi tandingan atau saingan Israel,
09:07pasti dia akan lemahkan.
09:09Kita lihat saja mulai dari Irak, Saddam Hussein,
09:14kemudian Syria ketidak masa Assad,
09:17dan Iran di masa kepemimpinan spiritual yang Ali Khomeini
09:26yang kemarin korban dari pembomongan.
09:30Ini sesuatu yang juga sangat mengejutkan
09:33dan menjadi pembicaraan
09:34bahwa dalam serangan tanggal 28 Februari lalu,
09:40pemimpin Ali Khamani itu berhasil digugur
09:46atau dikena rudal,
09:49gugur, dan juga perangkat-perangkat pemimpin lainnya
09:54dalam tempo kurang dari 24 jam.
09:57Apakah pada waktu itu,
09:59itu bisa diklaim sebagai kemenangan serangan Amerika dan Israel
10:03atau gugurnya Khamani itu tidak bisa serta-merta
10:08dianggap sebagai klaim kemenangan serangan Amerika-Israel?
10:12Pak Hassan.
10:13Dari perspektif Amerika dan mungkin juga Israel,
10:16bahwa kematian Sheikh Ali Khamenei
10:22dianggap sebagai berakhirnya atau tumbangnya rezim.
10:26Suara Trump sebelum atau segera setelah berita kematian itu
10:32juga cenderung ke arah rezim berakhir.
10:36Yang dilupakan adalah bahwa
10:39dan faktanya sekarang kita saksikan bahwa
10:42ada berlapis calon-calon pemimpin pengganti.
10:48Ayatullah Ali Khamenei
10:50yang mungkin menggunakan pepatah kita
10:53hilang satu tumbuh seribu.
10:56Dan memang Iran punya kemampuan itu.
10:59Jadi...
10:59Jadi dengan gugurnya Khamenei itu
11:03tidak dianggap sebagai sebuah mission accomplished?
11:06Kenyataannya paling enggak seserlah ditunjuknya
11:10penguasa sementara.
11:13Jelas tidak mission yang accomplished.
11:16Karena itu masih diperluas.
11:19Dengan termasuk berita hari ini
11:23CIA mensponsori suku Kurdis Syiah di Iran
11:28untuk menggunakan kekuatan senjata melawan rezim di Teheran.
11:34Jadi...
11:35Dan kita juga tahu dalam pengalaman sejarah di kawasan itu
11:39mensponsori satu kelompok belum tentu bisa berhasil.
11:43Tapi yang jelas bisa akan memperluas perang.
11:45Ketika objek dari agresi itu adalah pergantian rezim.
11:51Apakah menurut Pak Hassan
11:52ini adalah sebuah alasan yang dibuat-buat?
11:56Atau sesungguhnya
11:57memang ada target operasi
12:00untuk pergantian rezim
12:02yang masih belum bisa dilakukan oleh Amerika?
12:05Sebetulnya kalau menurut saya
12:06yang menjadi target Amerika
12:10lebih lagi Israel adalah
12:12pengembangan senjata nukuler oleh Iran.
12:15Itu isu yang sudah
12:16sejak saya awal menteri pun sudah jadi isu ya.
12:20Tetapi kalau kita lihat terakhir
12:23dalam perang 12 hari
12:26Trump kan sangat bangga
12:28mengatakan bahwa
12:33riset senukuler Iran sudah obliterated.
12:36Sudah musnah.
12:38Tapi sekarang ketika dia gunakan argumen bahwa
12:42Trump mem...
12:44Sorry saya ulangi.
12:46Iran merupakan ancaman besar terhadap Amerika Serikat
12:49antara lain karena
12:51kemampuan mengembangkan
12:53senjata nuklir yang pada
12:54tahun lalu dikatakan sudah musnah.
12:58Jadi memang tidak ada konsistensinya.
13:00Karena di domestic politics Amerika juga
13:02mempertanyakan
13:04motif perang ini apa sebut-sebutnya.
13:07Tapi buat Israel jelas.
13:10Dan itu bagian dari seragih besar untuk tidak ada saingan Israel.
13:14Apalagi Iran yang punya tidak hanya kemampuan untuk mengembangkan senjata nuklir pada waktunya.
13:21Tapi juga kemampuan mengembangkan misil.
13:25Punya nuklir is one thing.
13:27Tapi kalau tidak punya misil untuk mendelivery
13:29ya tidak banyak manfaatnya.
13:31Tapi Iran menunjukkan luar biasa.
13:34Kemampuan mengembangkan misil yang
13:36dengan hypersonic
13:39tapi juga
13:41drones yang jumlahnya puluhan ribu
13:45yang mematahkan mitos
13:47bahwa Israel
13:49tidak mungkin terjangkau
13:52dengan dome sistem pelindungan
13:56melalui misil Patriots dan Tad.
14:00Nyatanya
14:00Iran dapat melakukan itu.
14:02Bahkan Tel Aviv.
14:03dan Yerusalem kena serangan terakhir.
14:06Pak Hasan
14:08kita akan jeda dulu
14:09tetapi saya ingin bertanya pada Pak Hasan
14:12karena kemudian negara-negara Teluk mendapat imbasnya.
14:15Betul bahwa penjelasan dari Iran adalah
14:18ini adalah bagian dari self defense.
14:20Tapi sejauh mana ini akan memperdalam konflik regional?
Komentar