Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Presiden Prabowo Subianto mengundang para mantan presiden, wakil presiden, menteri luar negeri, serta ketua umum partai politik ke Istana Merdeka, Jakarta, Senin (3/3/2026).

Menteri Luar Negeri 2001-2009, Hassan Wirajuda menuturkan dirinya telah dua kali dipanggil Presiden Prabowo. Pertemuan terakhir berlangsung selama lebih dari tiga jam dan membahas perkembangan terbaru kondisi geopolitik dunia.

Salah satu isu yang menjadi sorotan utama adalah pecahnya konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Dalam pertemuan tersebut, Presiden Prabowo juga membuka ruang dialog dengan para mantan diplomat senior untuk memberikan pandangan dan masukan terkait kebijakan luar negeri Indonesia.

Tak hanya itu, Prabowo juga disebut secara terbuka mengakui bahwa komunikasi pemerintah kepada publik masih perlu diperbaiki.

Hal ini muncul karena banyak pertanyaan publik terhadap sejumlah kebijakan yang diambil pemerintah.

Dalam diskusi tersebut, Presiden juga memberikan penjelasan mengenai sejumlah langkah kebijakan luar negeri Indonesia, termasuk alasan di balik keputusan bergabung dalam forum World of Peace. Termasuk isu tarif dagang Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Bagaimana menurut Anda?

Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/Ar0YyHxS21c



#prabowo #donaldtrump #iran

Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi Anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah Lebih Dekat, Satu Langkah Makin Terpercaya!



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/655025/eks-menlu-hassan-wirajuda-bersama-prabowo-diskusi-3-jam-bahas-board-of-peace-hingga-tarif-trump
Transkrip
00:00Selamat malam, selamat berjumpa kembali di program Rosy bersama saya Rosyana Silalahi.
00:06Sejak 28 Februari 2026 kita menyaksikan sesuatu yang mengejutkan.
00:11Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran hingga menewaskan pemimpin tertinggi Ayatullah Ali Khamenei
00:18hanya dalam tempo kurang dari 24 jam.
00:21Eskalasi ini telah memicu kekhawatiran global termasuk Indonesia
00:25karenanya saya ingin mendengar pandangan seorang diplomat senior.
00:32Ia mencapai puncak karir sebagai seorang diplomat
00:36karena ia ditunjuk sebagai seorang Menteri Luar Negeri
00:41di dua zaman, zaman periode Presiden Ibu Megawati dan Bapak Susilo Bambang Yudhoyono.
00:49Bapak Hasan Wirayuda yang menjadi Menteri Luar Negeri sejak tahun 2021
00:56Sampai 2009.
00:58Pak Hasan, terima kasih.
01:00Senang sekali bisa akhirnya ketemu.
01:02Lama banget kita gak ketemu, Pak.
01:04Terima kasih, Rosy.
01:06Saya akhirnya bisa ngeliat Pak Hasan karena dipanggil Presiden.
01:10Waktu itu soal Board of Peace.
01:12Lalu kemudian ngeliat lagi Pak Hasan.
01:15Kalau gak karena Board of Peace, saya gak punya alasan untuk ketemu Pak Hasan Wirayuda.
01:22Tanpa perlu alasan sebetulnya.
01:24Terima kasih ya Pak, sudah di Rosy.
01:26Sangat menghargainya.
01:27Pak Hasan, dua kali dipanggil oleh Presiden Prabowo
01:32sebagai bagian dari para mantan Menteri Luar Negeri.
01:37Dan kemudian kemarin malam juga dipanggil oleh Presiden Prabowo
01:43untuk semacam berdiskusi soal situasi geopolitik.
01:48Menurut Bapak, dari pertemuan pertama dan kedua,
01:52apa yang paling menjadi concern dan standpoint Presiden Prabowo?
01:56Yang membedakan adalah bahwa pada pertemuan kedua yang saya hadiri
02:01ada elemen baru, yaitu terjadinya atau pecahnya perang
02:06yang dimotori oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
02:12Yang pada pertemuan pertama belum terjadi.
02:15Jadi menambah pentingnya mungkin oleh pikiran Pak Presiden Prabowo
02:22untuk mengulangi, melanjutkan diskusi yang sebetulnya sudah dilakukan sebelumnya.
02:27Jadi elemen baru yaitu pecahnya perang Iran.
02:31Lama kan pertemuannya Pak, hampir tiga jam kalau nggak salah?
02:35Lebih dari tiga jam.
02:35Lebih dari tiga jam.
02:37Menurut Bapak, apa yang kan banyak sekali tentu situasi yang harus dijelaskan.
02:45Menurut Pak Hasan sebagai seorang diplomat senior,
02:49pernah menjadi Menteri Luar Negeri,
02:51apa penjelasan paling penting yang Bapak highlights dari Presiden Prabowo?
02:59Pertama, saya sampaikan bahwa banyak pertanyaan,
03:05banyak dugaan-dugaan yang tidak terjawab
03:10karena faktor komunikasi pemerintah yang kurang baik.
03:13Beliau sangat terbukaan mengakui bahwa iya betul,
03:17komunikasi perlu diperbaiki, ditingkatkan.
03:21Dengan kata lain, ada keterbukaan beliau.
03:23Seperti juga tercermin dalam diskusi,
03:26beliau pasti memberikan briefing latar belakang
03:30tentang bagaimana suatu kebijakan diambil,
03:33tapi juga beliau membuka peluang untuk kita berdialog.
03:37Itu sesuatu yang menurut saya sangat positif.
03:41Waktu itu apa masukan Pak Hasan?
03:44Atau perspektif apa yang Bapak bagikan dalam pertemuan itu?
03:48Pertama, kalau yang pertama kan lebih pada board of peace.
03:55Pada pertemuan pertama tadi saya sudah sampaikan
03:58keperluan komunikasi publik yang lebih baik dari pihak pemerintah.
04:02Yang kedua tentunya pemahaman akan penjelasan yang lebih baik
04:08tentang mengapa kita ikut bergabung dalam board of peace.
04:13Kemudian beliau juga menjelaskan panjang lebar
04:16tentang pada waktu hampir yang bersamaan
04:20atau seterkait atau tidak terkait adalah
04:22perundingan tentang tarif yang diimpose oleh Presiden Trump.
04:30Jadi banyak latar belakang dari proses itu
04:34yang cukup mencerahkan semua yang hadir dalam pertemuan.
04:39Kita memahami lebih baik,
04:41karena itu saya melihat kalau itu dijelaskan
04:43kepada publik pelayanan lebih baik,
04:45susahnya memang sebagian itu kan tidak mudah juga
04:48untuk dijelaskan.
04:50Karena dalam diplomasi ada banyak hal yang bersifat rahasia
04:54yang tidak mudah gelar secara terbuka.
04:58Tapi esensinya kan bisa dijelaskan.
05:00Itu yang disadari oleh pemerintah.
05:03Dan dalam board of peace misalnya,
05:08saya mengatakan mengapa dari awal kita tidak cukup menjelaskan.
05:13Setelah pertemuan di New York pada tanggal 23 September,
05:19setelah beliau berbicara di majelis umum,
05:22kan ada pertemuan bersama dengan 8 negara-negara
05:29berpenduduk mayoritas Islam atau negara Islam.
05:32Dan di situ dibangun kesepakatan untuk
05:368 itu akan ikut serta dalam board of peace.
05:40Yang kedua, sebelum penandatanganan dokumen board of peace
05:45di Davos pada bulan Januari kan juga didahului pertemuan
05:52di antara negara 8 negara Islam atau berpenduduk mayoritas Islam
05:59yang kita bagian dari kesepakatan itu untuk ikut serta dalam board of peace.
06:06Saya melihat dari segi kalkulasi kekuatan,
06:108 negara itu bisa menjadi penyeimbang.
06:14Dari katakanlah kedudukan Trump yang sebagai ketua,
06:21sangat dominan.
06:23Sangat dominan.
06:24Dan bukan tanpa kekuatan,
06:26sebab Trump pasti menghitung
06:28bahwa 8 negara ini juga punya peran
06:32atau kontribusi yang tidak bisa diabaikan,
06:35khususnya dalam kontribusi pendanaan
06:38dari kegiatan yang dirancang untuk memulihkan Gaza.
06:43Itu satu.
06:44Jadi, satu yang kita lihat sebagai satu elemen positif.
06:51Yang lain adalah bahwa sebelum gagasan tentang board of peace,
06:57kita akan menyaksikan selama dua tahun lebih
07:00sejak selama dua tahun lebih Israel dengan sangat leluasa.
07:05Tiap hari menyerbu Gaza,
07:08kita saksikan penduduk sipil wanita yang menjadi korban,
07:1471 ribu menjadi korban meninggal,
07:18belum jumlah besar kerusakan yang terjadi.
07:22Tapi lebih dari itu juga tidak ada tanda-tanda
07:27ke arah memulihkan situasi perang menjadi satu kencatan senjata.
07:35Sekat atau tidak kita kepada Presiden Trump adalah Presiden Trump
07:40yang memang punya kemampuan untuk menekan Israel
07:45menyepakati kencatan senjata.
07:46Dan dari situlah kita saksikan penderitaan rakyat Palestina
07:52belum sebetulnya berakhir,
07:54tapi mulai ada tanda-tanda ke arah perbaikan.
07:56Misalnya dengan penyaluran bantuan kemanusiaan.
07:59Jadi dari penjelasan Presiden yang langsung kepada para mantan menlu,
08:04tokoh-tokoh, pada waktu itu,
08:07Pak Hasan melihat bahwa ini make sense pada waktu itu
08:11mengapa setuju untuk masuk BOP.
08:13Pak saya mau masuk, nanti saya akan tanya juga soal BOP
08:17setelah ada serangan Amerika dan Israel ini.
08:20Sebagai seorang mantan Menteri Luar Negeri,
08:25seorang diplomat senior,
08:27saya ingin dengar,
08:28apa tanggapan Bapak soal apa yang terjadi?
08:32Mengapa Amerika menyerang Iran bersama Israel?
08:36Sebenarnya ini perangnya siapa?
08:38Perangnya Israel yang dibantu oleh Amerika
08:41atau perangnya Amerika yang dibantu oleh Israel?
08:45Yang kedua, yang pertama,
08:48perangnya Israel yang dibantu Amerika.
08:50Karena memang nantannya sudah cukup lama
08:52berpikiran tentang bagaimana mengubah kawasan itu
08:55di mana Israel menjadi pemegang peranan sebagai hegemon.
09:01Karena setiap kekuatan yang muncul,
09:04yang dianggap menjadi tandingan atau saingan Israel,
09:07pasti dia akan lemahkan.
09:09Kita lihat saja mulai dari Irak, Saddam Hussein,
09:14kemudian Syria ketidak masa Assad,
09:17dan Iran di masa kepemimpinan spiritual yang Ali Khomeini
09:26yang kemarin korban dari pembomongan.
09:30Ini sesuatu yang juga sangat mengejutkan
09:33dan menjadi pembicaraan
09:34bahwa dalam serangan tanggal 28 Februari lalu,
09:40pemimpin Ali Khamani itu berhasil digugur
09:46atau dikena rudal,
09:49gugur, dan juga perangkat-perangkat pemimpin lainnya
09:54dalam tempo kurang dari 24 jam.
09:57Apakah pada waktu itu,
09:59itu bisa diklaim sebagai kemenangan serangan Amerika dan Israel
10:03atau gugurnya Khamani itu tidak bisa serta-merta
10:08dianggap sebagai klaim kemenangan serangan Amerika-Israel?
10:12Pak Hassan.
10:13Dari perspektif Amerika dan mungkin juga Israel,
10:16bahwa kematian Sheikh Ali Khamenei
10:22dianggap sebagai berakhirnya atau tumbangnya rezim.
10:26Suara Trump sebelum atau segera setelah berita kematian itu
10:32juga cenderung ke arah rezim berakhir.
10:36Yang dilupakan adalah bahwa
10:39dan faktanya sekarang kita saksikan bahwa
10:42ada berlapis calon-calon pemimpin pengganti.
10:48Ayatullah Ali Khamenei
10:50yang mungkin menggunakan pepatah kita
10:53hilang satu tumbuh seribu.
10:56Dan memang Iran punya kemampuan itu.
10:59Jadi...
10:59Jadi dengan gugurnya Khamenei itu
11:03tidak dianggap sebagai sebuah mission accomplished?
11:06Kenyataannya paling enggak seserlah ditunjuknya
11:10penguasa sementara.
11:13Jelas tidak mission yang accomplished.
11:16Karena itu masih diperluas.
11:19Dengan termasuk berita hari ini
11:23CIA mensponsori suku Kurdis Syiah di Iran
11:28untuk menggunakan kekuatan senjata melawan rezim di Teheran.
11:34Jadi...
11:35Dan kita juga tahu dalam pengalaman sejarah di kawasan itu
11:39mensponsori satu kelompok belum tentu bisa berhasil.
11:43Tapi yang jelas bisa akan memperluas perang.
11:45Ketika objek dari agresi itu adalah pergantian rezim.
11:51Apakah menurut Pak Hassan
11:52ini adalah sebuah alasan yang dibuat-buat?
11:56Atau sesungguhnya
11:57memang ada target operasi
12:00untuk pergantian rezim
12:02yang masih belum bisa dilakukan oleh Amerika?
12:05Sebetulnya kalau menurut saya
12:06yang menjadi target Amerika
12:10lebih lagi Israel adalah
12:12pengembangan senjata nukuler oleh Iran.
12:15Itu isu yang sudah
12:16sejak saya awal menteri pun sudah jadi isu ya.
12:20Tetapi kalau kita lihat terakhir
12:23dalam perang 12 hari
12:26Trump kan sangat bangga
12:28mengatakan bahwa
12:33riset senukuler Iran sudah obliterated.
12:36Sudah musnah.
12:38Tapi sekarang ketika dia gunakan argumen bahwa
12:42Trump mem...
12:44Sorry saya ulangi.
12:46Iran merupakan ancaman besar terhadap Amerika Serikat
12:49antara lain karena
12:51kemampuan mengembangkan
12:53senjata nuklir yang pada
12:54tahun lalu dikatakan sudah musnah.
12:58Jadi memang tidak ada konsistensinya.
13:00Karena di domestic politics Amerika juga
13:02mempertanyakan
13:04motif perang ini apa sebut-sebutnya.
13:07Tapi buat Israel jelas.
13:10Dan itu bagian dari seragih besar untuk tidak ada saingan Israel.
13:14Apalagi Iran yang punya tidak hanya kemampuan untuk mengembangkan senjata nuklir pada waktunya.
13:21Tapi juga kemampuan mengembangkan misil.
13:25Punya nuklir is one thing.
13:27Tapi kalau tidak punya misil untuk mendelivery
13:29ya tidak banyak manfaatnya.
13:31Tapi Iran menunjukkan luar biasa.
13:34Kemampuan mengembangkan misil yang
13:36dengan hypersonic
13:39tapi juga
13:41drones yang jumlahnya puluhan ribu
13:45yang mematahkan mitos
13:47bahwa Israel
13:49tidak mungkin terjangkau
13:52dengan dome sistem pelindungan
13:56melalui misil Patriots dan Tad.
14:00Nyatanya
14:00Iran dapat melakukan itu.
14:02Bahkan Tel Aviv.
14:03dan Yerusalem kena serangan terakhir.
14:06Pak Hasan
14:08kita akan jeda dulu
14:09tetapi saya ingin bertanya pada Pak Hasan
14:12karena kemudian negara-negara Teluk mendapat imbasnya.
14:15Betul bahwa penjelasan dari Iran adalah
14:18ini adalah bagian dari self defense.
14:20Tapi sejauh mana ini akan memperdalam konflik regional?
Komentar

Dianjurkan