00:00Pak Hasan kemudian muncul, sejak awal sebenarnya keterlibatan pemerintah Indonesia untuk masuk BOP, Board of Peace itu sudah mendapat kritik.
00:12Tetapi kemudian sedikit banyak ada penjelasan bahwa ini adalah pilihan yang tersisa.
00:19Oke, fine, understood. Tapi kemudian dengan penyerangan Amerika dan Israel ke Iran, BOP ini kemudian menjadi dianggap sangat-sangat tidak
00:30relevan.
00:31Apakah dengan pertemuan Bapak kemarin yang kedua bersama para tokoh lainnya dengan Presiden Prabowo, Bapak juga cukup melihat bahwa tidak
00:40ada gunanya lagi kita ada di dalam BOP?
00:44Satu, potensi gunanya kelihatan menyusut.
00:47Potensi gunanya kelihatan menyusut.
00:50Jadi berapa persen? Mungkin di bawah 5 persen kondisi sekarang ya.
00:58Sebab dua aktor utama yang berperan penting dalam upaya pemulihan Gaza adalah Trump sebagai ketua dan Netanyahu sebagai anggota.
01:10Dua itu kan problem maker-nya. Jadi itu satu.
01:14Jadi kita terbuka dan mestinya kita terbuka seperti juga ditunjukkan oleh Presiden Prabowo bahwa kita akan evaluasi dari proses ini.
01:26But how far can you go? Berapa lama lagi tapi harus kita menunggu eskalasi?
01:32Apa prakondisi menurut Pak Hasan yang memang this is it? It's a final say? Keluar dari BOP?
01:39Itu kita mesti pertimbangkan, mesti hitung konteks domestik Amerika.
01:45Hari-hari ini, kemarin dan hari ini Senat dan House sedang melakukan penilaian terhadap kebijakan Trump ini.
01:56Apakah tindakan yang didasarkan oleh pertimbangan eksekutif dan mengabaikan kewajiban bahwa perang harus dinyatakan oleh Kongres.
02:09Itu yang tidak terjadi.
02:10Dan kata lain apakah perang dilancarkan oleh Trump terhadap Iran itu konstitusional atau tidak konstitusional.
02:16Itu satu faktor yang bisa mengerem. Mudah-mudahan ke arah penghentian atau sebelum penghentian ke arah pengurangan tegangan melalui dialog
02:28misalnya.
02:29Jadi itu satu. Yang kedua, perkembangan di lapangan sendiri.
02:33Apabila sudah disebut sampai kemarin bahwa Amerika akan menggelar pasukan darat.
02:40Dan itu akan memperdalam intensitas dari perangnya itu sendiri.
02:48Bahkan saya khawatirkan bisa menjadi meluas di wilayah-wilayah di mana penduduk atau warga syiah di sejumlah negara di kawasan
03:00itu besar.
03:02Mulai dari Lebanon yang punya Hezbollah, yang sudah terjadi juga perang dengan Hezbollah melawan Israel.
03:08Kemudian Syria, kemudian Iraq sendiri, kemudian Iran, Bahrain yang 70% penduduknya syiah, Yemen yang berkuasa dikuasai oleh juga Houthi
03:24yang syiah.
03:25Mudah-mudahan sentimen keagamanannya tidak menjadi contributing factor dalam membuat perang itu meluas dan menjadi lebih intensify.
03:36Mudah-mudahan juga...
03:37Maksud Bapak, contributing factors itu adalah untuk membalaskan, Pak, serangan Amerika, Israel ke Iran sehingga ada sentimen ideologis yang kemudian
03:49secara sporadis itu akan membalas Amerika, Israel atau tempat-tempat lain di luar Amerika dan Israel yang dianggap representasi dari
03:59dua negara ini.
04:00Persis, persis. Jadi itu kalau lebih utamanya apabila terjadi serangan darat.
04:09Kalau serangan udara kan relatif korban juga lebih terbatas karena selektif target ya.
04:15Darat akan lebih meluas jangkauan wilayahnya, tapi juga korban yang lebih besar dan akan lebih lama.
04:25Karena sekali Amerika masuk juga tidak mudah untuk mundur.
04:28Dan Amerika punya rekam jejak buruk dalam peperangan di mana dipulai pasukan, infanteri, ground troops.
04:36Karena mereka tidak pernah menang di sana. Kita bicara soal Vietnam, Afganistan, Irak.
04:42Rasanya mereka tidak akan dengan mudah juga mengerahkan pasukan darat untuk apa yang disebut dengan pergantian rezim.
04:50Karena pergantian rezim hanya bisa berhasil kalau mengirimkan pasukan darat.
04:53Rasanya Amerika harus berpikir 3, 4, 5 kali untuk melakukan itu.
04:58Itu yang bisa mengubah pandangan politik domestik Amerika.
05:04Seperti kita tahu sejak ada perang Vietnam yang mengubahkan demo-demo besar di seluruh Amerika untuk penghentian perang.
05:14Pahasan terakhir.
05:16Jadi apakah satu, Presiden Prabowo mengatakan bersedia untuk menjadi mediator Irak dan Israel Amerika.
05:26Meskipun Iran dan Amerika, meskipun memang untuk menjadi seorang mediator itu adalah panggilan dari dua belah pihak yang bertikai.
05:37Sebenarnya seberapa besar daya tawar kita bisa menjadi mediator dari tiga negara ini?
05:44Pertama, pikiran atau kebijakan untuk damai biasanya sangat tergantung pada kondisi peperangan.
05:53Dan apakah sudah mencapai satu stalemate di mana pihak-pihak yang berperang tidak lagi punya harapan untuk menang dalam proses
06:03perang itu.
06:03Itu yang membuka pikiran mereka untuk oke kita coba dialog.
06:08Nah sekarang ini belum ada tanda-tanda itu.
06:10Dan katain momentum untuk mengusulkan, memajukan dialog belum ada di sana.
06:15Karena kalau kita dengar sendiri pernyataan dari otoritas Iran mengatakan untuk Israel dan Amerika tidak terbuka ruang dialog.
06:24Tidak ada ruang negosiasi.
06:26Itu rasanya juga secara tidak langsung ingin menyampaikan bahwa kami tidak perlu juru damai.
06:32Yang kedua, semestinya yang dibujuk, diajak untuk berdialog pihak yang penyerang.
06:42Bukan yang diserang.
06:44Karena yang diserang kalau dia yang menguatkan oke saya dialog berarti kapitulasi.
06:48Pertama menjawab mereka terperaihannya sendiri bahwa perang dihentikan karena semacam menyerah.
06:55Jadi pendekatan kita harusnya lebih utama pada Amerika dan Israel.
07:00Tapi persoalannya apakah kita punya leverage, posisi tawar terhadap kedua negara?
07:06Tadapis Israel pasti tidak karena kita tidak punya hubungan diplomatik.
07:10Tidak ada Amerika kita tahu bagaimana Trump.
07:13Ujakan Trump sekarang yang sangat mengabaikan apapun.
07:21Jadi satu tidak mudah.
07:23Ada juga seruan dari kelompok masyarakat kita, ORMAS,
07:27untuk kita mengambil inisiatif melalui jalur organisasi konferensi Islam.
07:32Kurang disadari bahwa OKI pun terpecah.
07:35Dan kita juga perlu tahu kalau kita bicara di OKI, praktis Saudi Arabia punya hak fitu.
07:40Sekali dia bilang tidak, ya nggak akan terjadi apa-apa.
07:43Kalau begitu Pak, Indonesia bisa ambil peran apa?
07:47Peran bersama negara-negara lain yang tidak menghendaki perang terjadi dan terjadi berkepanjangan
07:55untuk menggalang suara.
07:58Tidak kurang di Eropa sendiri, Spanyol sangat frontal untuk menolak pangkalan militer yang digunakan oleh Amerika.
08:05Kemudian Inggris, Perancis, Jerman.
08:09Uni Eropa sama sikapnya terhadap tindakan agresi militer Amerika dan Israel.
08:19Tapi juga China dan Rusia.
08:23Jadi dengan kata lain, suara bersama itu juga diperlukan.
08:26Dan di situ mungkin kita bisa berperang karena praktis kita punya hubungan baik dengan semua.
08:32Jadi tapi tidak serta-merta segera untuk berperan mendamaikan mereka.
08:39Jadi terminologinya bukan mendamaikan.
08:44Karena yang berdamaian itu hanya bisa terjadi kalau Israel dan Amerika berhenti agresi terhadap Iran.
08:53Tetapi menyerukan bahwa dua negara ini berhenti untuk melakukan serangan.
08:59Begitu kan Pak?
09:00Jadi bahasanya adalah bagaimana bersama-sama negara lain Indonesia terlibat aktif untuk mengatakan pada Amerika dan Israel
09:07stop doing this.
09:10Menurut saya itu yang lebih realistik bisa dilakukan.
09:12Karena terhadap banyak pandangan yang sama di dunia.
09:14Termasuk yang kawasan yang dulu sekutunya Amerika.
09:19Baik.
09:20Terima kasih Pak Hasan Wirayuda.
09:23Saya senang sekali.
09:25Karena bicara dengan seorang Menlu yang sepanjang karirnya menjadi seorang Menteri Luar Negeri
09:31juga mengalami peristiwa perang yang bisa dibilang sangat betul-betul menjadi sejarah.
09:41Bagaimana bom WTC dan kemudian New York tidak lagi sama seperti biasa.
09:46Kemudian ada soal Al-Qaeda dan ISIS.
09:48Terima kasih Pak Hasan Wirayuda.
09:50Terima kasih banyak.
09:51Sungguh sebuah perspektif yang luar biasa.
09:54Terima kasih.
09:55Terima kasih juga Anda telah menyaksikan Rosi.
09:58Kita jumpa lagi Kamis depan.
10:00Tetaplah di Kompas TV Independent Terpercaya.
10:04Selamat malam.
10:05Sampai jumpa.
10:07Terima kasih telah menonton.
10:10Terima kasih telah menonton.
Komentar