00:00Apa kekuatan dan daya tawar Indonesia untuk bisa dibutuhkan oleh pihak yang berperang?
00:06Saya masih bersama Menteri Luar Negeri, periode 2001 hingga 2009 Bapak Hasan Wirayuda.
00:13Pak Hasan sebagai Menteri Luar Negeri di era yang juga bisa dibilang dua periode.
00:21Pak Hasan ini kenapa saya undang?
00:24Rasanya situasi saat ini itu relate sekali dengan situasi di mana Bapak menjadi Menteri Luar Negeri kala itu.
00:32Karena waktu itu ada World Trade Center yang dibom, yang disebutkan bahwa otak belakangnya adalah Al-Qaeda.
00:40Lalu ada perang Afghanistan, ada kemudian Amerika menyerang Iraq untuk mengenyahkan rejim Saddam Hussein.
00:50Dan pertanyaan saya dulu, gini Pak, mana yang lebih root jam waktu perang telur kedua Bush Junior
00:59sama sekarang ketika Amerika dan Israel bersatu padu menyerang Iran?
01:08Berbedaannya adalah bahwa baik perang dilancarkan oleh Presiden Bush Junior terhadap Iraq
01:15seperti perang dilancarkan oleh Trump terhadap Iran sekarang.
01:19Itu Amerika berada pada posisi atau kebijakan ini didasarkan kebijakan yang sangat unilateral.
01:25Dia mengabaikan segala aturan internasional, dia mengabaikan PBB.
01:31Tapi berbedaannya adalah dari segi kepemimpinan, Adesun Kresi sebagai leader,
01:38Trump itu memang berbeda dengan Presiden Bush.
01:42Walaupun dalam kita menanggapi perisewa itu, kita cerminkan posisi kita yang sangat prinsipul,
01:51yang sangat tegas kalau dibilang karena misalnya terhadap perang yang dilancarkan Amerika terhadap Iraq.
02:00Statement kita itu mungkin tidak banyak negara, boleh dikatakan mungkin satu-satunya.
02:05Apa yang waktu itu Pak, sebagai perwakilan pemerintah Indonesia,
02:10Menteri Luar Negeri Hassan Wirayuda mengeluarkan statement?
02:14Kita mengutuk dengan keras tindakan agresi militer yang dilancarkan oleh Amerika terhadap Iraq.
02:23Yang kedua itu merupakan pelanggaran terhadap piagam PBB dan hukum internasional.
02:30Karena itu kita meminta, saya katakan bahwa yang ketiga adalah bahwa itu merupakan ancaman terhadap penamaian dan keamanan dunia.
02:37Karena itu kita meminta kepada Dewan Keamanan untuk sesuai dengan mandatnya memulihkan perdamaian dan keamanan di kawasan itu.
02:47Itu pertanyaannya yang sangat keras loh Pak.
02:49Sangat keras.
02:50Karena itu tidak heran kalau empat hari kemudian, Menteri Luar Negeri Colin Powell,
02:54menelpon saya, melobi agar Indonesia bisa mendukung agresi militer Amerika terhadap Iraq.
03:04Saya katakan Anda mesti sudah baca statement yang kita keluarkan di Jakarta, yang saya katakan tadi elemennya.
03:10Dan itu satu proses yang sangat demokratis.
03:13Sebelum perang Iraq dilancarkan pada tanggal 20 Maret 2003,
03:18kita melakukan konsultasi yang ada dengan berbagai pihak, tokoh masyarakat, tokoh lintas agama bahkan.
03:24Kita mendiskusikan apakah kita harus mencegah perang, kita tahu akan gagal.
03:29Tapi semua berat-berat perlu kita lakukan upaya mencegah perang.
03:32Sebab kita khawatir perang itu akan ditafsirkan di dunia barat dan juga oleh di kita sebagai perang bukan hanya Amerika,
03:40tapi barat terhadap Islam.
03:43Lebih parah lagi kalau itu Kristen terhadap Islam.
03:46Jadi kita melakukan upaya-upaya yang sangat intensif.
03:49Dan sampai pada kesimpulan, ya kita upayakan bersama untuk mencegah perang yang tidak tahu akan gagal.
03:56Tetapi juga yang kedua, kita sepakati statement yang akan kita keluarkan.
04:02Jadi karena itu kepada Colin Powell, saya katakan,
04:05itu statement pernyataan yang tidak hanya mewakili pernyataan pemberita,
04:10tapi juga rakyat Indonesia.
04:12Dan ini satu proses yang sangat demokratis,
04:14sehingga beliau bereaksi dengan sangat gentle.
04:16Saya mengerti, mari kita setuju dengan setuju.
04:21Menurut saya luar biasa.
04:24Karena selama kita bisa menjalankan politik standpoint kita,
04:28saya rasa tidak ada satupun negara lain yang bisa memaksa
04:31apa yang menjadi pilihan pandangan politik kita.
04:35Apalagi kita adalah sejak dulu adalah bebas dan aktif.
04:38Seberapapun otoriter atau dianggap seorang tiran, Saddam Hussein,
04:43tetapi ketika dia dijatuhkan dengan agresi militer,
04:48kita sebagai bangsa Indonesia yang memiliki pandangan politik bebas mereka,
04:53kita tetap bisa mengutuk apa yang dilakukan bahwa itu sangat melanggar
04:57hukum internasional dan di luar moral peradaban.
05:00Ada tiga hal dalam tindakan perang yang lancarkan Amerika,
05:07seperti sebelumnya terhadap Irak,
05:12yaitu tidak ada respek penghormatan terhadap kedaulatan negara,
05:17suatu negara.
05:18Yang kedua, tidak ada penghormatan terhadap prinsip keutuhan wilayah negara.
05:26Dan tidak ada penghormatan terhadap prinsip atau violation terhadap prinsip non-interference.
05:32Itu prinsip, tiga prinsip yang sudah ada sejak 350 tahun lalu.
05:36Yang juga kemudian dikemas dalam piagam PBB.
05:39Jadi dalam artian itu luar biasa langgaran itu.
05:44Kementerian luar negeri seharusnya juga bisa melakukan hal yang sama,
05:48dilakukan oleh Kementerian luar negeri di eranya Pak Hasan Wira Yuda.
05:55Situasi apa yang menurut Bapak membedakan ketika,
06:00ini juga menjadi banyak pertanyaan,
06:03ketika political statement pemerintahan Indonesia itu
06:08satu, tidak mengecam apa yang terjadi agresi Israel dan Amerika ke Iran,
06:13dan juga tidak mengucapkan duka cita atas gugurnya pemimpin tertinggi Khamene.
06:20Kira-kira situasi apa yang menjadi pertimbangan sehingga kita tidak memilih
06:26political statement seperti itu, and condolences.
06:30Ada tiga hal yang tidak perlu saling berkaitan,
06:34tapi juga menjadi faktor pertimbangan menurut saya.
06:36Pertama, kita tengah dalam proses negosiasi tentang tarif.
06:42Yang kedua, pembentukan board of peace,
06:46yaitu upaya memulihkan Gaza dari malapetaka perang
06:50yang lancarkan Israel selama dua tahun.
06:52Yang ketiga, tentunya perang Irannya itu sendiri.
06:56Tiga hal ini saling terkait yang mungkin menjadi pertimbangan
07:01kenapa kita tidak terlalu vokal dalam menyuarakan posisi kita.
07:07Menyuarakan itu kan tidak perlu kita bilang strongly condemned.
07:11Ada seribu satu kata dalam bahasa diplomatik yang bisa digunakan.
07:15Misalnya seperti katakan oleh Macron terhadap perang ini,
07:20bahwa apa yang dilancarkan oleh Amerika itu tidak sejalan dengan hukum internasional.
07:24Agak cukup orang sudah paham makna itu.
07:27Jadi, itu atau terlambat dilakukan.
07:38Tapi memang berbeda dengan perang Irak dulu.
07:41Kaitan-kaitan dengan masalah-masalah lain yang tengah menjadi preokupasi kita.
07:47Karena kenapa jadi banyak pertanyaan seperti ini?
07:50Karena Indonesia dan pemerintahan dan Iran itu bersahabat.
07:55Semua presiden dari Bung Karno sampai Presiden Joko Widodo pernah ke Teheran.
08:01Dan Presiden Ahmadinejad juga mengunjungi Indonesia.
08:05Pak Hasan Wirayuda yang waktu itu menyambut sebagai Menteri Luar Negeri.
08:10Artinya ketika ada pemimpin tertinggi negara sahabat yang gugur
08:14karena diserang oleh dua negara adidaya, rasanya meskipun kita punya kepentingan dengan dua, dengan Amerika,
08:22rasanya itu tidak menyampingkan untuk pernyataan dukacita atas meninggalnya seorang pemimpin negara sahabat.
08:32Bukankah kita bersahabat dengan Iran?
08:34Saya cukup gembira bahwa kemarin pernyataan itu dikeluarkan.
08:38Wakil oleh Menteri Luar Negeri.
08:41Apakah itu juga masukan dari para tokoh dalam pertemuan dengan Presiden yang kedua kemarin?
08:48Sejujurnya ya.
08:53Kita boleh berbeda aliran politik ya.
08:57Tapi menghormati tokoh yang meninggal atau siapapun sebetulnya juga satu kewajiban.
09:07Wajiban bahkan dari perspektif agama.
09:10Terlepas dari pandangan kita tentang perangnya itu sendiri.
09:13Tapi gugurnya seorang tokoh pemimpin negara ya wajar untuk kita sampaikan dukacita kita yang mendalam.
09:23Dan itu sudah dinyatakan.
09:24Akhirnya dinyatakan.
09:25Akhirnya dinyatakan.
09:26Terima kasih.
Komentar