Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Menteri Luar Negeri 2001-2009, Hassan Wirajuda menilai antara serangan Amerika Serikat terhadap Iran saat ini dengan perang Irak yang dilancarkan pada era Presiden George W. Bush. Kedua konflik tersebut sama-sama menunjukkan kecenderungan kebijakan yang bersifat unilateral.

Namun, Hassan menilai terdapat perbedaan dalam karakter kepemimpinan antara Presiden Donald Trump dan Presiden George W. Bush ketika menghadapi krisis internasional.

Saat itu, pemerintah Indonesia secara resmi mengeluarkan pernyataan yang mengecam keras agresi militer Amerika Serikat terhadap Irak.

Indonesia menilai tindakan militer itu merupakan pelanggaran terhadap Piagam PBB dan hukum internasional, serta berpotensi mengancam perdamaian dan keamanan dunia.

Indonesia juga meminta Dewan Keamanan PBB untuk menjalankan mandatnya dalam memulihkan stabilitas dan keamanan di kawasan tersebut.

Ia mengungkapkan, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat saat itu, Colin Powell, sempat menghubunginya secara langsung.

Powell disebut berupaya melobi Indonesia agar mendukung langkah militer Amerika Serikat di Irak.

Namun, Hassan menegaskan bahwa Indonesia tetap berpegang pada sikap prinsipil yang telah disampaikan sebelumnya kepada publik.

Baginya, posisi tersebut merupakan bagian dari proses pengambilan kebijakan luar negeri yang dilakukan secara demokratis dan berlandaskan hukum internasional.

Bagaimana menurut Anda?

Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/Ar0YyHxS21c

#irak #amerikaserikat #indonesia

Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi Anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah Lebih Dekat, Satu Langkah Makin Terpercaya!

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/655032/eks-menlu-hassan-wirajuda-ungkap-sikap-keras-indonesia-saat-as-serang-irak-strongly-condemn-rosi
Transkrip
00:00Apa kekuatan dan daya tawar Indonesia untuk bisa dibutuhkan oleh pihak yang berperang?
00:06Saya masih bersama Menteri Luar Negeri, periode 2001 hingga 2009 Bapak Hasan Wirayuda.
00:13Pak Hasan sebagai Menteri Luar Negeri di era yang juga bisa dibilang dua periode.
00:21Pak Hasan ini kenapa saya undang?
00:24Rasanya situasi saat ini itu relate sekali dengan situasi di mana Bapak menjadi Menteri Luar Negeri kala itu.
00:32Karena waktu itu ada World Trade Center yang dibom, yang disebutkan bahwa otak belakangnya adalah Al-Qaeda.
00:40Lalu ada perang Afghanistan, ada kemudian Amerika menyerang Iraq untuk mengenyahkan rejim Saddam Hussein.
00:50Dan pertanyaan saya dulu, gini Pak, mana yang lebih root jam waktu perang telur kedua Bush Junior
00:59sama sekarang ketika Amerika dan Israel bersatu padu menyerang Iran?
01:08Berbedaannya adalah bahwa baik perang dilancarkan oleh Presiden Bush Junior terhadap Iraq
01:15seperti perang dilancarkan oleh Trump terhadap Iran sekarang.
01:19Itu Amerika berada pada posisi atau kebijakan ini didasarkan kebijakan yang sangat unilateral.
01:25Dia mengabaikan segala aturan internasional, dia mengabaikan PBB.
01:31Tapi berbedaannya adalah dari segi kepemimpinan, Adesun Kresi sebagai leader,
01:38Trump itu memang berbeda dengan Presiden Bush.
01:42Walaupun dalam kita menanggapi perisewa itu, kita cerminkan posisi kita yang sangat prinsipul,
01:51yang sangat tegas kalau dibilang karena misalnya terhadap perang yang dilancarkan Amerika terhadap Iraq.
02:00Statement kita itu mungkin tidak banyak negara, boleh dikatakan mungkin satu-satunya.
02:05Apa yang waktu itu Pak, sebagai perwakilan pemerintah Indonesia,
02:10Menteri Luar Negeri Hassan Wirayuda mengeluarkan statement?
02:14Kita mengutuk dengan keras tindakan agresi militer yang dilancarkan oleh Amerika terhadap Iraq.
02:23Yang kedua itu merupakan pelanggaran terhadap piagam PBB dan hukum internasional.
02:30Karena itu kita meminta, saya katakan bahwa yang ketiga adalah bahwa itu merupakan ancaman terhadap penamaian dan keamanan dunia.
02:37Karena itu kita meminta kepada Dewan Keamanan untuk sesuai dengan mandatnya memulihkan perdamaian dan keamanan di kawasan itu.
02:47Itu pertanyaannya yang sangat keras loh Pak.
02:49Sangat keras.
02:50Karena itu tidak heran kalau empat hari kemudian, Menteri Luar Negeri Colin Powell,
02:54menelpon saya, melobi agar Indonesia bisa mendukung agresi militer Amerika terhadap Iraq.
03:04Saya katakan Anda mesti sudah baca statement yang kita keluarkan di Jakarta, yang saya katakan tadi elemennya.
03:10Dan itu satu proses yang sangat demokratis.
03:13Sebelum perang Iraq dilancarkan pada tanggal 20 Maret 2003,
03:18kita melakukan konsultasi yang ada dengan berbagai pihak, tokoh masyarakat, tokoh lintas agama bahkan.
03:24Kita mendiskusikan apakah kita harus mencegah perang, kita tahu akan gagal.
03:29Tapi semua berat-berat perlu kita lakukan upaya mencegah perang.
03:32Sebab kita khawatir perang itu akan ditafsirkan di dunia barat dan juga oleh di kita sebagai perang bukan hanya Amerika,
03:40tapi barat terhadap Islam.
03:43Lebih parah lagi kalau itu Kristen terhadap Islam.
03:46Jadi kita melakukan upaya-upaya yang sangat intensif.
03:49Dan sampai pada kesimpulan, ya kita upayakan bersama untuk mencegah perang yang tidak tahu akan gagal.
03:56Tetapi juga yang kedua, kita sepakati statement yang akan kita keluarkan.
04:02Jadi karena itu kepada Colin Powell, saya katakan,
04:05itu statement pernyataan yang tidak hanya mewakili pernyataan pemberita,
04:10tapi juga rakyat Indonesia.
04:12Dan ini satu proses yang sangat demokratis,
04:14sehingga beliau bereaksi dengan sangat gentle.
04:16Saya mengerti, mari kita setuju dengan setuju.
04:21Menurut saya luar biasa.
04:24Karena selama kita bisa menjalankan politik standpoint kita,
04:28saya rasa tidak ada satupun negara lain yang bisa memaksa
04:31apa yang menjadi pilihan pandangan politik kita.
04:35Apalagi kita adalah sejak dulu adalah bebas dan aktif.
04:38Seberapapun otoriter atau dianggap seorang tiran, Saddam Hussein,
04:43tetapi ketika dia dijatuhkan dengan agresi militer,
04:48kita sebagai bangsa Indonesia yang memiliki pandangan politik bebas mereka,
04:53kita tetap bisa mengutuk apa yang dilakukan bahwa itu sangat melanggar
04:57hukum internasional dan di luar moral peradaban.
05:00Ada tiga hal dalam tindakan perang yang lancarkan Amerika,
05:07seperti sebelumnya terhadap Irak,
05:12yaitu tidak ada respek penghormatan terhadap kedaulatan negara,
05:17suatu negara.
05:18Yang kedua, tidak ada penghormatan terhadap prinsip keutuhan wilayah negara.
05:26Dan tidak ada penghormatan terhadap prinsip atau violation terhadap prinsip non-interference.
05:32Itu prinsip, tiga prinsip yang sudah ada sejak 350 tahun lalu.
05:36Yang juga kemudian dikemas dalam piagam PBB.
05:39Jadi dalam artian itu luar biasa langgaran itu.
05:44Kementerian luar negeri seharusnya juga bisa melakukan hal yang sama,
05:48dilakukan oleh Kementerian luar negeri di eranya Pak Hasan Wira Yuda.
05:55Situasi apa yang menurut Bapak membedakan ketika,
06:00ini juga menjadi banyak pertanyaan,
06:03ketika political statement pemerintahan Indonesia itu
06:08satu, tidak mengecam apa yang terjadi agresi Israel dan Amerika ke Iran,
06:13dan juga tidak mengucapkan duka cita atas gugurnya pemimpin tertinggi Khamene.
06:20Kira-kira situasi apa yang menjadi pertimbangan sehingga kita tidak memilih
06:26political statement seperti itu, and condolences.
06:30Ada tiga hal yang tidak perlu saling berkaitan,
06:34tapi juga menjadi faktor pertimbangan menurut saya.
06:36Pertama, kita tengah dalam proses negosiasi tentang tarif.
06:42Yang kedua, pembentukan board of peace,
06:46yaitu upaya memulihkan Gaza dari malapetaka perang
06:50yang lancarkan Israel selama dua tahun.
06:52Yang ketiga, tentunya perang Irannya itu sendiri.
06:56Tiga hal ini saling terkait yang mungkin menjadi pertimbangan
07:01kenapa kita tidak terlalu vokal dalam menyuarakan posisi kita.
07:07Menyuarakan itu kan tidak perlu kita bilang strongly condemned.
07:11Ada seribu satu kata dalam bahasa diplomatik yang bisa digunakan.
07:15Misalnya seperti katakan oleh Macron terhadap perang ini,
07:20bahwa apa yang dilancarkan oleh Amerika itu tidak sejalan dengan hukum internasional.
07:24Agak cukup orang sudah paham makna itu.
07:27Jadi, itu atau terlambat dilakukan.
07:38Tapi memang berbeda dengan perang Irak dulu.
07:41Kaitan-kaitan dengan masalah-masalah lain yang tengah menjadi preokupasi kita.
07:47Karena kenapa jadi banyak pertanyaan seperti ini?
07:50Karena Indonesia dan pemerintahan dan Iran itu bersahabat.
07:55Semua presiden dari Bung Karno sampai Presiden Joko Widodo pernah ke Teheran.
08:01Dan Presiden Ahmadinejad juga mengunjungi Indonesia.
08:05Pak Hasan Wirayuda yang waktu itu menyambut sebagai Menteri Luar Negeri.
08:10Artinya ketika ada pemimpin tertinggi negara sahabat yang gugur
08:14karena diserang oleh dua negara adidaya, rasanya meskipun kita punya kepentingan dengan dua, dengan Amerika,
08:22rasanya itu tidak menyampingkan untuk pernyataan dukacita atas meninggalnya seorang pemimpin negara sahabat.
08:32Bukankah kita bersahabat dengan Iran?
08:34Saya cukup gembira bahwa kemarin pernyataan itu dikeluarkan.
08:38Wakil oleh Menteri Luar Negeri.
08:41Apakah itu juga masukan dari para tokoh dalam pertemuan dengan Presiden yang kedua kemarin?
08:48Sejujurnya ya.
08:53Kita boleh berbeda aliran politik ya.
08:57Tapi menghormati tokoh yang meninggal atau siapapun sebetulnya juga satu kewajiban.
09:07Wajiban bahkan dari perspektif agama.
09:10Terlepas dari pandangan kita tentang perangnya itu sendiri.
09:13Tapi gugurnya seorang tokoh pemimpin negara ya wajar untuk kita sampaikan dukacita kita yang mendalam.
09:23Dan itu sudah dinyatakan.
09:24Akhirnya dinyatakan.
09:25Akhirnya dinyatakan.
09:26Terima kasih.
Komentar

Dianjurkan