00:03Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tewas dalam serangan Israel dan Amerika Serikat.
00:08Iran pun mengancam akan membalas dengan serangan yang lebih besar.
00:12Apakah konflik ini bakal berlangsung lama dan apakah alasan serangan hanya karena masalah nuklir Iran?
00:18Kami akan membahas ya bersama praktisi dan pengajar hubungan internasional Synergy Policies, Dina Praptor Raharja.
00:25Mbak Dina, selamat sore.
00:28Selamat sore, Mbak Sintia.
00:30Mbak Dina, apakah kematian dari Ayatollah Ali Khamenei ini bisa membuat Iran semakin meningkatkan serangan ke negara-negara yang memang
00:39dianggap sebagai sekutu Amerika?
00:40Karena kita tahu dari pemberitaan terkini sudah banyak negara-negara lain yang menjadi korban serangannya.
00:49Kalau dilihat dari peta yang berkembang dan pola komentar juga dari pihak Israel maupun Amerika Serikat.
01:00Ekskalasi ini masih belum akan berhenti ya.
01:03Kalau saya lihat kecenderungannya Amerika Serikat juga mengeluarkan statement yang provokatif dan tidak konsisten juga.
01:12Jadi alasan yang disampaikan mengapa Amerika Serikat itu melakukan serangan ke Khamenei bahkan melakukan pembunuhan di sana itu bukan karena
01:24senjata nuklir yang dimiliki oleh Iran.
01:27Tetapi karena alasan-alasan lain seperti misalnya untuk melindungi Amerika Serikat dari regime yang dianggap otoriter gitu.
01:37Jadi berarti alasan yang berkembang ini sebenarnya menunjukkan ada masalah eksistensial ya.
01:46Yang harus kita cermati dan ini yang menurut saya masih belum terlalu dibahas di Indonesia.
01:53Kesannya bahwa tindakan dari Amerika Serikat ini masih bisa dibenarkan.
01:58Padahal menurut saya sama sekali tidak bisa dibenarkan.
02:01Kalau negara-negara teluk resta memblokir ruang untuk negosiasi sama sekali berarti.
02:08Jadi kalau saya lihat ketarungannya ke depan ini berarti bukan lagi hanya antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel tetapi
02:16juga aktor-aktor besar seperti Rusia dan China itu tidak mungkin tinggal diam.
02:23Kalau pertarungannya ini berarti juga seputar geopolitik masalah konektivitas dan jalur logistik yang sangat penting untuk energi negara-negara dunia.
02:36Dan sebelum ini ditutup oleh Amerika Serikat atau dihancurkan oleh Amerika Serikat negara lain mengambil alih dan memastikan bahwa Selat
02:46Hormuz tidak dikuasai oleh satu negara saja.
02:49Itu yang saya lihat. Jadi mungkin masih panjang.
02:52Mbak Dina kalau memang saat ini Selat Hormuz ditutup dan tidak bisa melakukan jalur ataupun transportasi minyak dunia.
03:03Apakah ini tidak lagi bicara soal isu regional tapi saat ini kita sudah bicara terkait dengan krisis global ke depannya?
03:11Betul sekali. Menurut saya krisis global betul-betul sudah di depan mata sekarang.
03:16Jadi kita tidak bisa menyikapi ini hanya sekedar masalah Timur Tengah.
03:2184% dari minyak mentah Timur Tengah itu yang masuk dari Selat Hormuz itu masuknya ke pasar Asia.
03:31Dan negara yang menyerang adalah China, India, Jepang, dan Korea Selatan.
03:36Jadi kalau Amerika Serikat menutup ini semena-mena juga, artinya jika Iran tidak melakukan preemptive strike ya di wilayah Selat
03:48Hormuz,
03:49berarti negara-negara yang menjadi musuh ekonomi Amerika Serikat ini akan bergantung sepenuhnya pada ekspor minyak dari Amerika Serikat.
03:59Jadi penentu harga ke depan untuk energi itu ada di tangan Amerika Serikat.
04:04Dan ini yang dihindari ya, yang dicoba dihindari di tingkat global.
04:08Artinya kita sendiri harus bisa melihat bahwa pertarungan geopolitik antara major powers negara adidaya ini berarti sudah sampai di titik
04:17yang begitu kritis.
04:18Sehingga ini bukan lagi soal Khamenei sebenarnya dan juga bukan notabene Iran saja,
04:26tapi seluruh jalur minyak dunia itu sebenarnya lewat sana.
04:32Mau produksinya dari Uni Arab, mau dari Saudi, Oman, Qatar, dan lain-lain semua lewatnya sana.
04:39Jalur laporan dari Amerika juga menunjukkan laporan jalur alternatif lain itu ternyata belum berfungsi optimal ya.
04:47Jadi pasti ada masa transisi yang sangat menyakitkan untuk tingkat global jika ini berlanjut di sana.
04:54Oke, tapi yang menjadi pertanyaannya sekarang begini Mbak Dina,
04:57jika banyak negara yang akan berdampak ketika selat hormus ini ditutup,
05:01akan menimbulkan dampak terhadap distribusi minyak dunia,
05:08apakah nantinya negara-negara lain ini, negara-negara besar lainnya akan ikut turun tangan dalam isu regional yang sebenarnya antara
05:19Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
05:21Tapi usai jeda masih akan kita bahas tetap bersama kami di Kompas Petang.
05:33Terima kasih Anda masih bersama kami di Kompas Petang dan masih membahas terkait selat hormus yang saat ini ditutup dan
05:41bersama Mbak Dina Praktora aja.
05:43Mbak Dina kalau tadi sudah disebutkan bahwa akan banyak negara yang terdampak jika selat hormus ini ditutup dalam jangka waktu
05:51yang lebih panjang lagi.
05:52Apakah ini artinya negara-negara besar lainnya yang sebenarnya tidak ikut terlibat dalam apa yang terjadi saat ini,
06:02akan ikut turun tangan, akan turun dalam hal militer juga terkait dengan hal ini?
06:08Kalau dalam hal pengaruh mereka sudah turun ya, per kemarin 28 Februari di Persikatan Bangsa-Bangsa,
06:17Dewan Keamanan Persikatan Bangsa-Bangsa itu sudah terjadi kegaduhan,
06:22karena negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Perancis, kemudian Cina, Rusia itu sudah adu bicara di sana,
06:31mengajukan permintaan emergency meeting ya.
06:36Sorry, Amerika Serikat tidak termasuk di situ.
06:38Tapi kita lihat bahwa poinnya di sana adalah negara-negara ini berusaha untuk meredam suasana.
06:45Dan satu catatan di sini, Dewan Keamanan PBB itu sebenarnya punya keterbatasan kalau soal selat hormus.
06:52Karena selat hormus ini bukan international water, bukan laut lepas ya yang bisa diatur oleh international.
07:00Wilayah ini jatuhnya wilayah teritorial, laut teritorial yang dikuasai oleh Iran atau Oman.
07:06Jadi sebenarnya kemarin ketika Menteri Luar Negeri Oman itu bersuara,
07:10sudah diupayakan semaksimal mungkin mereka menjadi mediator ya kan, sampai tanggal 27 Februari loh.
07:17Dan hasilnya menjamin bahwa Iran itu sebenarnya sudah let go, sudah nggak punya lagi itu program senjata nuklir.
07:26Dan bisa dijamin mereka mau bekerja sama.
07:28Dan kalau saya lihat dari jarahnya sebenarnya itu satu-satunya jalan ya untuk Iran.
07:35Karena mereka sendiri juga terjepit.
07:37Jadi nggak mungkin sebenarnya mereka punya agenda yang lain.
07:41Satunya mungkin Indonesia Miss itu ya.
07:44Tapi kalau secara hukum laut internasional, oke ini adalah bagian teritorial Iran dan Oman.
07:50Apakah memang diperbolehkan satu negara menutup jalur transportasi
07:54yang memang sebenarnya sangat dibutuhkan oleh banyak negara terkait dengan hajat hidup orang banyak?
07:59Dalam hal ini Minyak?
08:02Justru framenya, kalau saya perhatikan, kita harus nggak bisa melepaskan ini dari kasus yang berkembang di Israel-Palestina.
08:10Dan pembentukan juga Board of Peace.
08:13Iran itu sudah dituding berkali-kali oleh Israel maupun Amerika Serikat menjadi pendana dari Hamas.
08:20Dan kita tahu Hamas itu menjadi pemain satu-satunya yang sekarang dianggap menghambat agenda dari Israel maupun Amerika Serikat di
08:28Gaza.
08:29Dan kalau kita memang peduli ya, Indonesia peduli betul dengan agenda Palestina,
08:35sebenarnya kita preferensinya itu justru supaya Iran itu dihormati wilayah teritorinya
08:41dan dijamin keamanannya dan dibawa ke meja negosiasi dan bukannya diserang secara militer.
08:48Jadi kalau Amerika Serikat menunjukkan kekuatan full dan bahkan sudah Israel sudah jelas-jelas yang membuat kampanye
08:57bahwa dia punya operasi militer besar, Lions Roar gitu, itu menunjukkan bahwa nggak ada ruang negosiasi itu.
09:06Justru kita yang menginginkan stabilitas di Palestina harusnya melihat ini, situasi ini terkait, betul-betul sangat terkait.
09:15Jadi kaitan antara perang geopolitik yang besar yang kemudian mencakup Rusia dan Cina yang eksistensinya juga jadi terganggu
09:23gara-gara ini ditutup dan kaitannya dengan proses perdamaian di Israel dan Palestina ini sangat-sangat lekat.
09:31Oke, kalau bicara soal peran dari Indonesia sendiri, apakah dari hal kemampuan sebagai mediator,
09:40Indonesia bisa dikatakan cukup mampu dalam hal itu?
09:44Kita tidak bisa lompat logika.
09:47Satu, kita maju ke dalam peranan sebesar itu ya.
09:53Kita jelas harus mempersiapkan orang-orang yang tepat, resources yang memadai, dan juga membaca situasi dengan tepat.
10:01Menurut saya, Turki, Oman, Qatar, Bahrain, bahkan Saudi itu sudah melakukan berbagai macam bentuk tekanan
10:09dan ada yang sudah melaju sampai ke meja perundingan beberapa kali.
10:12Mentoknya di siapa?
10:14Tidak bisa membendung Amerika Serikat maupun Israel.
10:18Meskipun Indonesia sudah ada di Board of Peace?
10:22Justru statement yang dikeluarkan dari Kementerian Luar Negeri, saya ada concern di sini ya.
10:27Itu sama sekali tidak ada rasa duka cita terhadap Iran atau prihatin bahwa telah terjadi serangan besar terhadap Iran.
10:35Yang masih di sini artinya, apakah Indonesia memang sudah betul-betul digerakkan agenda luar negerinya oleh Amerika Serikat?
10:42Karena kalau kita dalam posisi mencari peran sebagai mediator, kita harus netopal di situ.
10:48Oke, baik. Terima kasih Mbak Dina Praptor Harja, praktisi dan juga pengajar hubungan internasional.
10:55Sinergi Policy sudah berbagi perspektif di Kompas Petang.
10:59Selamat sore Mbak Dina.
Komentar