Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
SEMARANG, KOMPAS.TV - Di tengah aktivitas perdagangan dan deretan toko di kawasan Pecinan Kota Semarang, berdiri sebuah bangunan masjid yang menjadi simbol toleransi nyata. Kami ajak Anda untuk menilik seperti apa bangunan Masjid An-Nur yang dulu disebut sempat menjadi tempat persembunyian Pangeran Diponegoro.

Masjid An-Nur Diponegoro, sebuah masjid tua di tengah gang sempit kompleks Pecinan, konon sempat menjadi tempat singgah dan persembunyian Pangeran Diponegoro pada masa penjajahan. Meski berada di jantung permukiman warga etnis Tionghoa, keberadaannya justru menjadi bukti betapa eratnya akulturasi budaya di Kota Semarang.

Tidak ada sekat antara suara azan dan bising suara pasar tradisional di sekelilingnya. Warga sekitar yang mayoritas nonmuslim sudah berpuluh-puluh tahun hidup berdampingan dengan rukun dan saling menjaga.

Bagi para pengunjung yang melintas, masjid ini seolah menjadi ketenangan di tengah padatnya aktivitas ekonomi. Arsitekturnya yang sederhana namun kokoh menyimpan cerita tentang semangat persatuan yang tak pernah padam dimakan zaman.

Meski sempat dipugar beberapa kali, bagian atap masjid ini masih dipertahankan keasliannya hingga kini. Pemerintah Kota Semarang juga secara resmi telah menetapkan Masjid An-Nur Diponegoro sebagai benda cagar budaya sejak tahun 1992.

#diponegoro #semarang #masjid

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/651894/kisah-masjid-an-nur-diponegoro-saksi-sejarah-di-jantung-pecinan-semarang-kompas-sahur
Transkrip
00:00Masih di Kompas Sahur, Saudara bersama saya Muhammad Syahreza.
00:03Saudara di tengah aktivitas perdagangan dan juga deretan toko di kawasan Pecinan Kota, Semarang,
00:08berdiri sebuah bangunan masjid yang menjadi simbol toleransi nyata.
00:12Kami ajak Anda untuk menilik seperti apa bangunan masjid Anur,
00:17yang dulu disebut sempat menjadi tempat persembunyian Pangeran Diponegoro.
00:24Halo Saudara Kompas TV, saat ini saya berada di salah satu gang kecil
00:29di Kompleks Pecinan Kota, Semarang.
00:31Nah, yang menarik hari ini saya mau menelusuri salah satu bangunan cagar budaya
00:37yang mencerminkan toleransi antara umat Tionghoa dengan umat Islam.
00:42Salah satu bangunan ini juga cukup lama berdirinya, sekitar tahun 1600-an.
00:47Bagaimana keindahan dan juga kemegahan dari bangunan ini?
00:50Ayo ikuti saya sekarang.
00:56Masjid Anur Diponegoro adalah sebuah masjid tua di tengah gang sempit
01:01Kompleks Pecinan Kota, Semarang, Konon, sempat menjadi tempat singgah
01:05dan persembunyian Pangeran Diponegoro pada masa penjajahan.
01:11Meski berada di jantung permukiman warga etnis Tionghoa,
01:15keberadaannya justru menjadi bukti betapa aratnya akulturasi budaya di Kota, Semarang.
01:22Tidak ada sekat antara suara azan dan bising suara pasar tradisional di sekelilingnya.
01:28Warga sekitar yang mayoritas non-muslim sudah berpuluh-puluh tahun
01:33hidup berdampingan dengan rukun dan saling menjaga.
01:37Bagi para pengunjung yang melintas,
01:40masjid ini seolah menjadi ketenangan di tengah padatnya aktivitas ekonomi.
01:45Arsitekturnya yang sederhana namun kokoh,
01:47menyimpan cerita tentang semangat persatuan yang tak pernah padam di Makan Saman.
01:54Meski sempat dibugar beberapa kali,
01:57bagian atap masjid ini masih dipertahankan keasliannya hingga kini.
02:02Pemerintah Kota, Semarang, juga secara resmi telah menetapkan
02:05Masjid Anur Diponegoro sebagai benda cakar budaya sejak tahun 1992.
02:13Nah saudara, ini tadi adalah bangunan Masjid Anur Diponegoro
02:19atau yang sering disebut sebagai Masjid Menyanan
02:22karena di Kompleks Pecinan Kampung Menyanan.
02:24Masjid ini memang dulunya,
02:27konon katanya ini merupakan masjid yang sempat disinggahi
02:31Pangeran Diponegoro dalam masa penjajahan Belanda.
02:34Serta Pangeran Diponegoro juga kabarnya dulu sempat mengaji
02:37dan bersembunyi di sini dari peperangan.
02:39Selain itu, bangunan ini juga sudah menjadi cakar budaya
02:43Semarang, Jawa Tengah sejak tahun 1992.
02:48Beberapa kali memang sudah dirombak begitu ya
02:51atau diperbaharui, namun atap di masjid ini
02:54ini masih atap asli saudara.
02:56Beginilah masjid yang menjadi simbol toleransi
02:59antara etnis Tionghoa dan juga kaum muslim
03:02yang memang dulunya ini didirikan oleh kaum muslim
03:05di Kompleks Pecinan Kota Semarang.
03:08Dari Kota Semarang, Gese Lutfiah, Dedy Setia melaporkan.
03:11Terima kasih.
03:14Terima kasih.
03:16Terima kasih.
03:16Terima kasih.
Komentar

Dianjurkan