Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Pendiri Lembaga Peneliti CSIS, Jusuf Wanandi, membongkar isi pertemuannya dengan Presiden Prabowo Subianto dalam program Rosi.

Dua pekan lalu, Jusuf hadir dalam pertemuan bersama jajaran pengusaha yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), termasuk Sofjan Wanandi dan Ketua Apindo, Shinta Kamdani.

Tak hanya itu, sejumlah mantan menteri luar negeri dan pakar hukum internasional juga bertemu dengan Presiden Prabowo.

Saat ditanya apakah dirinya kini menjadi penasihat Presiden, Jusuf langsung menepis.

"Penasihat? Enggak, nanti orang marah semua. Tapi pokoknya kalau dia perlu sesuatu, of course Im there to help," ujarnya.

Jusuf mengaku, sebelum Pemilu, ia bahkan mendatangi Prabowo untuk berdialog langsung. Ia menyinggung pernyataan Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan Hasan Nasbi yang menyebut Prabowo telah berubah gaya kepemimpinan.

Dalam pertemuan bersama Apindo, Prabowo juga disebut menyinggung tudingan lama yang kerap diarahkan kepadanya.

"Dulu saya dibilang anti-Cina. Mengapa gue anti-Cina? Keluarga gue macam-macam. Ada Kristen, Islam, dari Manado, ada yang Cina," kata Jusuf menirukan pernyataan Presiden.

Menurut Jusuf, pernyataan itu menunjukkan komitmen Presiden untuk merangkul semua elemen bangsa, termasuk pengusaha keturunan Tionghoa. Bahkan, Prabowo disebut sepakat dengan Apindo untuk mendorong penciptaan lapangan kerja, dimulai dari Jawa Barat.

Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Mari Elka Pangestu menambahkan fokusnya untuk membantu rakyat paling miskin melalui penguatan sektor usaha.

Bagaimana pendapat Anda?

Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/ROjVyyb0jL0



#imlek #china #indonesia



Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi Anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah Lebih Dekat, Satu Langkah Makin Terpercaya!

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/651825/jusuf-wanandi-bongkar-isi-pertemuan-dengan-prabowo-dulu-saya-dibilang-anti-cina-rosi
Transkrip
00:00As you know, I'm here invited by the President of the United States of America for, I think, a very
00:11important meeting of the Board of Peace.
00:15In fact, I think the first official meeting of the Board of Peace that has been put to attach an
00:34implementation and a continuation of the ceasefire in Gaza.
00:44And we are attempting to continue to forge a path towards a real and lasting solution of the Palestinian issue.
01:01Also, I'm here to conclude a major trade agreement between our two countries.
01:09I think it's an agreement that carries out a real significance for our businesses, investors, between our two countries and
01:21in the greater region of the Pacific.
01:29President Prabowo Subianto sudah tiba di Amerika Serikat untuk bertemu Presiden Trump.
01:33Paling tidak ada dua isu penting yang harus dibicarakan, yaitu soal tarif dagang dan Board of Peace.
01:39Presiden Prabowo juga menekankan pentingnya memastikan setiap langkah diplomasi ekonomi benar-benar berpihak pada kepentingan nasional.
01:46Saya mengundang pendiri lembaga peneliti CSIS, Pak Yusuf Wanandi, dan juga Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional.
01:55Perempuan Indonesia pertama yang ada dalam kabinet pada waktu itu adalah perempuan Indonesia keturunan Tionghoa.
02:04Yang pertama kali masuk dalam kabinet pada waktu itu zaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
02:10Dan ia juga perempuan pertama yang mendapat gelar PhD dari luar negeri, Ibu Mari LK Pangestu.
02:16Pak Yusuf, Ibu Mari, ada dua hal tadi dalam press conference Pak Prabowo di Amerika Serikat.
02:24Yaitu datang untuk pertemuan yang sangat penting dalam Board of Peace.
02:28Dan juga menyelesaikan perjanjian perdagangan besar antara kedua negara kita.
02:33Saya ke Pak Yusuf dulu karena Pak Yusuf ikut dalam pertemuan Pak Prabowo dan para mantan Menlu.
02:40Apakah memang banyak kritikan mengapa kita harus ikut dalam Board of Peace?
02:46Karena seolah-olah kita ikut bersama kemauan Presiden Trump.
02:50Nah, Pak Yusuf sendiri setelah mendengar penjelasan Presiden,
02:55menurut Bapak memang kita tidak punya pilihan lain selain ikut dalam Board of Peace.
02:59Ya, karena apa? Karena kita itu kan mau meringankan beban dan kesangsaraan daripada bangsa Palestina.
03:09Satu-satunya yang dilihat oleh Bapak Presiden, dan kita waktu itu hadir setuju.
03:15Satu-satunya cara itu adalah kalau Trump ini mau stop orang Yahudi ini,
03:21berhasil Israel ini kan begitu.
03:23Jadi karena itu saya rasa memang that is maybe for the time being at least,
03:29the only way to stop this, sebetulnya, this impossible in human, you know,
03:37event killing people like that.
03:39Kalau begitu tapi kenapa nggak argumentasinya atau asumsinya sesuatu yang berbeda?
03:43Ya nggak usah ikut BOP.
03:45Supaya itu lebih menunjukkan solidaritas kita pada Palestina yang tidak ikut dalam BOP.
03:51Ya, tapi kalau kita nggak ikut, kita nggak bisa mempengaruhi.
03:55Sehingga dengan demikian, dibunuh lagi.
03:58Itu kan kita lihat.
04:00Jadi penjelasan pada waktu itu, menurut Pak Yusuf,
04:04memang ini adalah satu-satunya pilihan yang ada di atas meja?
04:07Ya, cukup meyakinkan.
04:09Dan sementara, this is the only choice.
04:13Maybe in the future, we could have other choices.
04:16But that is for later to be seen.
04:18But now, this is the choice.
04:21Apakah, bagaimana dengan banyak kritik yang mengatakan dengan ikut BOP Indonesia,
04:28seperti hanya ikut kemanguan Trump?
04:32Ya, itu kan kalau you berhubungan dengan Trump kan kelihatannya begitu.
04:36Jadi di seluruh dunia dikira lo antiknya Trump.
04:39Tapi kan nggak perlu begitu, kita kan mempunyai tujuan sendiri.
04:42Kenapa kita mau ikut?
04:46Saya ke Bu Mari.
04:48Seperti tadi yang dikatakan oleh Presiden Prabowo.
04:50Satu, ada soal Board of Peace.
04:52Dan dua, juga soal tarif dagang.
04:55Tarif dagang ini cukup mendebarkan.
04:59Menurut Bu Mari, seberapa besar daya tawar kita untuk bisa menurunkan tarif dagang kita?
05:04Ya, baik negosiasi perdagangan maupun Board of Peace.
05:09Dalam arti, sepertinya seolah-olah itu Amerika secara unilateral ya.
05:15Menentukan hal-hal yang sebenarnya buat kita juga kurang nyaman caranya.
05:20Tapi intinya sih sebetulnya, seperti Pak Yusuf sampaikan tadi,
05:25kita tetap harus bernegosiasi dan berhubungan dengan Amerika.
05:28Dan perjanjian perdagangan juga sama, walaupun kita sangat tidak suka dengan caranya
05:35ataupun hal-hal yang diminta ke kita ya.
05:38Tapi bagaimana kita menafigasi supaya apa yang diinginkan oleh Trump tercapai,
05:44tetapi sebenarnya itu tidak merugikan kepentingan nasional kita.
05:48Apa daya tawar kita Bu?
05:49Jadi daya tawar kita ya sebetulnya kita negara yang boleh dikatakan negara relatif besar,
05:56negara yang demokratis.
05:58Jadi dari kacamata Amerika dan kita tidak ada masalah-masalah konflik dengan Amerika maupun dengan negara lain.
06:06Jadi kita dianggap relatif positif ya.
06:10Setahu saya Amerika melihatnya relatif positif.
06:13Termasuk bahwa kita masuk Board of Peace itu dilihatnya seperti sebagai positif ya.
06:19Jadi kita sebetulnya dalam posisi menjaga hubungan dengan Amerika yang positif.
06:25Dan itu membantu negosiasi yang sebetulnya boleh dikatakan cukup susah ya.
06:30Tapi menurut saya mudah-mudahan ini hasilnya nanti cukup baik ya.
06:35Dan cukup baik itu bukan hanya relatif ke Indonesia ya.
06:40Tapi kita harus melihatnya relatif dibanding yang diperoleh oleh negara lain yang menjadi pesaing kita.
06:45Karena itu sebetulnya yang kita bargainingnya di situ gitu.
06:50Pertanyaannya untuk Pak Yusuf dan Bung Mari.
06:52Jadi bagaimana kalau ada orang berasumsi kita ikut Board of Peace
06:58supaya juga bisa dapat kompensasi yang baik dalam tarif dagang.
07:05Kira-kira seberapa make sense hipotesa ini?
07:10Enggak langsung berkaitan ya kalau menurut saya.
07:13Tetapi it doesn't hurt kalau kita dianggap positif oleh Amerika
07:20di dalam kita melakukan negosiasi.
07:23Tapi negosiasinya tetap sulit ya di dalam pelaksanaannya.
07:27Tapi kita menurut saya sih berhasil untuk bisa mendapat yang terbaik lah.
07:32Kita belum tahu nih hasilnya.
07:35Tapi kalau kita tidak negosiasi itu dampaknya lebih parah sih.
07:40Kalau kita tetap di 32 persen.
07:42Enggak turun ke 19 persen.
07:44Itu banyak industri kita yang dependensi ke pasar Amerika
07:49seperti garment, textile, foodware, fishery products, mabel.
07:55Itu sekitar 4 juta lebih pekerjaan yang akan bisa terancam gitu ya.
08:02Tapi simulasi kita nih dari Dewan Ekonomi Nasional
08:05kalau kita dari 32 turun ke 19 itu bisa menciptakan kira-kira 630 ribu pekerjaan baru.
08:12Dengan langsung dari 32 ke 19.
08:16Apalagi ini kan harapan dia kalau bisa kurang.
08:19Terutama yang untuk padat karya itu akan lebih banyak lagi pekerjaan yang diciptakan.
08:27Jadi itu manfaat ya.
08:28Kita bicara manfaat yang kita ingin dapat dari perjanjian ini.
08:33Tapi tentunya tanpa mengorbankan kepentingan nasional.
08:38Karena itu juga sudah menjadi bottom line-nya dari presiden sendiri juga.
08:43Seberapa besar Pak Yusuf meyakini bahwa tarif dagang kita bisa menghasilkan kabar baik?
08:54Saya kira seperti juga Mary katakan ya.
08:58Untuk sekarang ini sistem dunia ini kan gila.
09:02Jadi karena itu apa yang dapat kita rebut atau apa dapat kita peroleh sekarang
09:07dengan cara-cara yang sekarang bisa diterima itu selalu positif untuk kita.
09:14Jadi jangan ingat menyebabkan Trump segala hantu itu tidak ada itu.
09:22Kalau menurut saya tergantung kita.
09:24Kita anggap we need it, go and get it.
09:28That's it.
09:30Dan mengamankan kepentingan nasional itu penting.
09:32Jadi board of peace atau perjanjian perdagangan itu istilah kita itu ada escape clause-nya.
09:39Jadi dari permintaan-permintaan yang mungkin kurang nyaman itu ada escape clause-nya.
09:44Jadi board of peace misalnya.
09:45Kalau anytime kita merasa apa yang mereka lakukan atau ciptakan sebagai terms kita tidak nyaman,
09:51kita bisa anytime keluar.
09:53Perdagangan juga sama.
09:54Diminta untuk macam-macam yang sebetulnya mengganggu sovereignty.
09:58Kita bisa ada escape clause-nya, subject to domestic regulation, subject to national interest, subject to WTO.
10:06Jadi ada ininya, mengamankan kepentingan nasionalnya.
10:10Karena harus membayar 17 triliun itu juga termasuk mengagetkan dan bikin orang apa-apaan nih.
10:17Ini kan you bergaul dengan orang-orang yang kaya.
10:21Jadi bagaimanapun juga, kalau dia bilang payar, ya bayar.
10:25Saya kira ya.
10:27You want to be part of it?
10:30Pay.
10:31That's the message, right?
10:33And what is it against it?
10:34You cannot escape it.
10:36Everybody is doing the same.
10:37Kan begitu.
10:39Jadi jangan ditambah-tambah alasan atau situasi yang kita hadapi.
10:47We have to make decisions.
10:49Kalau nggak salah perlu dikasih 3 tahun kok untuk bayar.
10:53Iya.
10:543 tahun lagi.
10:56Yang kemudian kita bisa keluar.
10:59Kan begitu.
11:00Oke.
11:00Terima kasih.
Komentar

Dianjurkan