00:04Saudara tersangka sudah ditangkap, namun hingga kini motif ia tega membunuh anak politisi PKS masih menjadi teka-teki.
00:11Kita bahas bersama dengan psikolog forensik Mas Reza Indragiri. Selamat petang Mas Reza.
00:17Selamat petang, Assalamualaikum.
00:18Mas Reza, sebagai psikolog forensik, Anda membacanya seperti apa?
00:22Ketika ada dua kasus yang berbeda, kasus pencurian, kemudian dikaitkan dengan kasus pembunuhan yang sudah jalan dua pekan ini,
00:29terus sudah menetapkan tersangka, bagaimana pihak polisi akhirnya meyakinkan bahwa keterangan tersangka ketika mengaku menjadi pelaku pembunuhan ini bisa menjadi
00:40penyebab utama dalam kasus ini?
00:43Tempoh hari dalam perbincangan di Kompas memang saya membuat prediksi bahwa asumsi bawah perkiraan saya pihak Polda Banten akan menyampaikan
00:53pengumuman tentang hasil kerjanya pada awal bulan Januari.
00:57Atau asumsi atas, setelah 46 hari berarti itu keuntungan saya pada akhir bulan Januari atau awal Februari, itu perkiraan saya.
01:07Namun, kalau kemudian kita berfokus pada apakah pelaku pencurian ini juga merupakan pelaku pembunuhan,
01:14terus terang saya masih mempertanyakan hal itu.
01:16Kenapa?
01:17Karena dari pemberitaan yang saya dapat di media, satu, bahwa di lokasi pembunuhan itu pelaku tidak mengambil barang apapun.
01:26Berarti perkiraan saya, orang yang masuk ke rumah anggota PKS tersebut, kemudian melakukan pembunuhan terhadap anak,
01:35melancarkan aksinya di latar belakangnya oleh motif emosional.
01:38Emosional, marah, dendam, sakit hati, dan sejenisnya.
01:42Terlebih karena ada luka atau cedera yang sedemikian parah pada tubuh korban.
01:47Namun, pada peristiwa yang kedua, yaitu pencurian di rumah mantan anggota DPRD,
01:54kata pencurian saja sudah jelas menunjukkan bahwa pelaku memiliki motif instrumental,
01:59yaitu mendapatkan manfaat tertentu dari aksi kejahatannya.
02:03Nah, saya belum bisa teriakinkan bagaimana seseorang yang sebelumnya melancarkan aksi kejahatan ekstrim
02:09dengan motif emosional, kemudian beralih dalam tempo dua pekan menjadi pelaku kejahatan yang instrumental.
02:19Perubahan motif yang sedemikian tajam itu dalam kurun waktu dua pekan itu yang masih mengundang tada tajam.
02:24Oke, jadi menurut Anda, Mas Reza, apa yang harus dilakukan oleh polisi
02:28sehingga tidak sekedar mengandalkan pengakuan dari tersangka yang sudah ditangkap ini?
02:35Saya harus tandaskan bahwa perkiraan saya,
02:40pernyataan bahwa pelaku pencurian itu juga merupakan pelaku pembunuhan,
02:46tampaknya berasal dari keterangan yang disampaikan oleh si pelaku pencurian.
02:50Jadi bayangkan ada sebuah interogasi dalam waktu singkat dilakukan oleh sekian banyak personel polisi
02:56dan si pelaku dalam keadaan shock atau mungkin dalam keadaan terguncang.
03:00Sorry, Mas Reza, itu kemungkinan bisa terjadi dalam kasus ini?
03:05Oh jelas, pelaku kejahatan sesungguhnya juga bisa mengalami shock.
03:09Baik akibat perbuatannya maupun akibat kerjaan kepolisian.
03:12Nah, dalam situasi sedemikian lupa, ketika seorang terperiksa terus-menerus diintrogasi,
03:19apalagi seandainya menggunakan cara-cara yang abusif atau cara-cara kekerasan atau penyiksaan,
03:24maka ada resikonya bahwa dari mulut pelaku akan keluar istilahnya adalah
03:28coerced false confession.
03:31Pengakuan yang sesungguhnya palsu, pengakuan yang sesungguhnya tidak sesuai dengan kenyataan,
03:36namun dia sampaikan karena berada di bawah tekanan atau di bawah paksaan.
03:40Nah, itu yang saya khawatirkan.
03:42Karena itu, alih-alih berfokus semata-mata atau merasa terpuaskan
03:46karena seorang pelaku penculian sudah tanda petik.
03:49Mengaku sebagai pelaku pembunuhan,
03:52teman-teman di kepolisian pasti paham
03:53bahwa proses penegakan hukum harus mengandalkan pada pembuktian.
03:57Pembuktian berarti dibuktikan dua alat bukti.
04:00Pada aspek itulah menurut saya belum terpenuhi.
04:05Jadi menurut Anda, dari analisa Anda, ini seperti yang tadi Anda sampaikan,
04:11ada seperti shock begitu pada saya, interogasi.
04:14Apakah dengan yang seperti yang Anda sampaikan ini,
04:16sehingga polisi harus betul-betul tidak hanya mengandalkan keterangan
04:21ataupun pengakuan dari tersangka, harus mencari bukti lain.
04:25Padahal kalau kita lihat CCTV rusak,
04:27jejak dari pelaku pun tidak ada di lokasi kejadian pembunuhan ini.
04:32Dari pemberitaan di media, saya menangkap kesan kuat
04:35bahwa teman-teman di kepolisian belum mendapatkan sesuatu
04:39yang sungguh-sungguh untuk berharga
04:41untuk mengamankan siapa gerangan pelaku pembunuhan itu.
04:44Tadi sudah dikatakan, CCTV rusak.
04:47Jejak-jejak kejahatan di TKP tampaknya bersih.
04:50Saya maknai barangkali tidak tersedia sidik jari yang memadai.
04:53Tidak ada pula jejak DNA si pelaku di situ.
04:56Tambahan lagi, dari sekian banyak saksi yang sudah diperiksa,
04:59sampai hari ini kita belum mendengar kabar
05:01bahwa polisi berhasil menyusun atau membuat
05:04sketsaw wajah si pelaku pembunuhan.
05:06Nah, dengan informasi, dengan temuan yang sangat-sangat minim,
05:10bahkan seolah tidak ada itu,
05:12izinkan saya untuk bertanya kembali.
05:14Benarkah pelaku penculian itu adalah pelaku pembunuhan?
05:19Kenapa? Karena sekali lagi, saya khawatir,
05:21keluarnya pengakuan bahwa saya pelaku pembunuhan,
05:25itu adalah keluar dari mulut si pelaku penculian
05:27karena dia berada di bawah shock dalam sebuah interogasi
05:30yang sangat-sangat menekan dirinya.
05:32Jadi pertanyaan selanjutnya, apa yang harus dilakukan oleh polisi?
05:35Karena polisi tentu sudah mendapatkan tersangka dari pengakuan pelaku ini.
05:41Untuk membuktikannya lagi, apa yang harus disampaikan
05:45atau apa yang harus dilakukan oleh polisi dalam penyidikan nanti?
05:48Pertama, si pelaku penculian ini punya sidik jari, punya rambut, punya DNA.
05:56Silahkan dicek di lokasi pembunuhan sebelumnya.
05:59Ada tidak jejak-jejak identitas si pelaku itu?
06:02Itu pertama.
06:03Atau yang kedua, mari kita realistis bahwa
06:08betapapun unit reskrim adalah unit yang seringkali mendapat tekanan besar dari masyarakat
06:13untuk menyelesaikan kasus secepat-cepatnya,
06:16tapi angka global menunjukkan bahwa
06:20tingkat keterungkapan kasus pembunuhan
06:22ternyata turun drastis dibandingkan 10 tahun lalu.
06:26Itu artinya, tersedia alasan sesungguhnya bagi pihak kepolisian
06:30untuk mengatakan, kami paling tidak hingga saat ini
06:33belum berhasil mengungkap kasus pembunuhannya.
06:36Kalau tidak ingin menempatkannya sebagai kasus yang tidak kunjung terpecahkan.
06:39Jadi silakan saja dilakukan penanganan penegakan hukumnya secara proporsional,
06:44prosedural, dan profesional,
06:46atau sebaliknya menyampaikan kepada publik
06:49bahwa memang terkait dengan pembunuhannya
06:50belum tersedia bukti yang memadai.
06:53Jadi Anda sendiri masih sedikit ragu begitu ya
06:56bahwa pelaku pencurian yang ditangkap ini
06:59merupakan juga sekaligus pelaku pembunuhan anak dari politisi PKS ini?
07:04Saya masih terus terang terhantui dengan kasus cheer bonds yang tahun silam, Mas.
07:09bahwa ada tujuh orang plus satu anak
07:12yang dianyaya sedemikian rupa dalam proses interogasi.
07:16Akhirnya keluar dari mulut mereka sebuah pengakuan
07:19bahwa mereka telah melakukan beruda paksa dan pembunuhan.
07:23Tapi pengakuan itu ternyata sekali lagi merupakan bentuk
07:27coerse false confession.
07:29Pengakuan yang salah, pengakuan tidak sebagaimana kenyataannya,
07:32tetapi diberikan karena mereka berada di bawah tekanan yang sangat dasyat
07:36dari interogator.
07:37Saya berharap situasi semacam itu tidak terulang
07:41sehingga lagi-lagi ada orang yang dipidana
07:44atas sesuatu yang sesungguhnya tidak pernah dilakukan.
07:48Oke, sehingga mendorong bagaimana polisi akhirnya
07:50mengedepankan scientific investigation ya
07:51dalam pengusutan kasus pembunuhan anak politisi PKS
07:56yang tersangkanya ini sudah ditangkap oleh polisi.
07:58Terima kasih, Mas Reza Indragiri, Psikolog Forensik
08:01telah berbagi perspektif terkait dengan kasus ini di Kompas Petang.
08:04Salam sehat, Mas Reza Indragiri.
Komentar