Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV - Setelah lebih dari dua pekan dalam pengejaran, polisi akhirnya menangkap terduga pelaku pembunuhan anak anggota Dewan Pakar DPD Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kota Cilegon, Banten, Maman Suherman. Usai penangkapan tersebut, polisi kini fokus mendalami motif pelaku.

Meski tersangka telah berhasil diamankan, hingga saat ini motif pelaku tega membunuh anak politisi PKS tersebut masih menjadi teka-teki. Penyidik masih terus mengumpulkan keterangan dan bukti guna mengungkap latar belakang peristiwa pembunuhan ini.

Untuk membahas kemungkinan motif dari sisi psikologis dan perilaku pelaku, simak pembahasan KompasTV bersama psikolog forensik Reza Indragiri.

Baca Juga Polisi Ungkap Sosok Tersangka Pembunuhan Anak Politisi PKS Cilegon: Pencuri Rumah Mewah di https://www.kompas.tv/nasional/641696/polisi-ungkap-sosok-tersangka-pembunuhan-anak-politisi-pks-cilegon-pencuri-rumah-mewah

#pembunuhan #pkscilegon #rezaindragiri #kriminal #banten #breakingnews

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/641743/psikolog-forensik-blak-blakan-motif-tersangka-pembunuh-anak-politisi-pks-cilegon-ada-perubahan
Transkrip
00:04Saudara tersangka sudah ditangkap, namun hingga kini motif ia tega membunuh anak politisi PKS masih menjadi teka-teki.
00:11Kita bahas bersama dengan psikolog forensik Mas Reza Indragiri. Selamat petang Mas Reza.
00:17Selamat petang, Assalamualaikum.
00:18Mas Reza, sebagai psikolog forensik, Anda membacanya seperti apa?
00:22Ketika ada dua kasus yang berbeda, kasus pencurian, kemudian dikaitkan dengan kasus pembunuhan yang sudah jalan dua pekan ini,
00:29terus sudah menetapkan tersangka, bagaimana pihak polisi akhirnya meyakinkan bahwa keterangan tersangka ketika mengaku menjadi pelaku pembunuhan ini bisa menjadi
00:40penyebab utama dalam kasus ini?
00:43Tempoh hari dalam perbincangan di Kompas memang saya membuat prediksi bahwa asumsi bawah perkiraan saya pihak Polda Banten akan menyampaikan
00:53pengumuman tentang hasil kerjanya pada awal bulan Januari.
00:57Atau asumsi atas, setelah 46 hari berarti itu keuntungan saya pada akhir bulan Januari atau awal Februari, itu perkiraan saya.
01:07Namun, kalau kemudian kita berfokus pada apakah pelaku pencurian ini juga merupakan pelaku pembunuhan,
01:14terus terang saya masih mempertanyakan hal itu.
01:16Kenapa?
01:17Karena dari pemberitaan yang saya dapat di media, satu, bahwa di lokasi pembunuhan itu pelaku tidak mengambil barang apapun.
01:26Berarti perkiraan saya, orang yang masuk ke rumah anggota PKS tersebut, kemudian melakukan pembunuhan terhadap anak,
01:35melancarkan aksinya di latar belakangnya oleh motif emosional.
01:38Emosional, marah, dendam, sakit hati, dan sejenisnya.
01:42Terlebih karena ada luka atau cedera yang sedemikian parah pada tubuh korban.
01:47Namun, pada peristiwa yang kedua, yaitu pencurian di rumah mantan anggota DPRD,
01:54kata pencurian saja sudah jelas menunjukkan bahwa pelaku memiliki motif instrumental,
01:59yaitu mendapatkan manfaat tertentu dari aksi kejahatannya.
02:03Nah, saya belum bisa teriakinkan bagaimana seseorang yang sebelumnya melancarkan aksi kejahatan ekstrim
02:09dengan motif emosional, kemudian beralih dalam tempo dua pekan menjadi pelaku kejahatan yang instrumental.
02:19Perubahan motif yang sedemikian tajam itu dalam kurun waktu dua pekan itu yang masih mengundang tada tajam.
02:24Oke, jadi menurut Anda, Mas Reza, apa yang harus dilakukan oleh polisi
02:28sehingga tidak sekedar mengandalkan pengakuan dari tersangka yang sudah ditangkap ini?
02:35Saya harus tandaskan bahwa perkiraan saya,
02:40pernyataan bahwa pelaku pencurian itu juga merupakan pelaku pembunuhan,
02:46tampaknya berasal dari keterangan yang disampaikan oleh si pelaku pencurian.
02:50Jadi bayangkan ada sebuah interogasi dalam waktu singkat dilakukan oleh sekian banyak personel polisi
02:56dan si pelaku dalam keadaan shock atau mungkin dalam keadaan terguncang.
03:00Sorry, Mas Reza, itu kemungkinan bisa terjadi dalam kasus ini?
03:05Oh jelas, pelaku kejahatan sesungguhnya juga bisa mengalami shock.
03:09Baik akibat perbuatannya maupun akibat kerjaan kepolisian.
03:12Nah, dalam situasi sedemikian lupa, ketika seorang terperiksa terus-menerus diintrogasi,
03:19apalagi seandainya menggunakan cara-cara yang abusif atau cara-cara kekerasan atau penyiksaan,
03:24maka ada resikonya bahwa dari mulut pelaku akan keluar istilahnya adalah
03:28coerced false confession.
03:31Pengakuan yang sesungguhnya palsu, pengakuan yang sesungguhnya tidak sesuai dengan kenyataan,
03:36namun dia sampaikan karena berada di bawah tekanan atau di bawah paksaan.
03:40Nah, itu yang saya khawatirkan.
03:42Karena itu, alih-alih berfokus semata-mata atau merasa terpuaskan
03:46karena seorang pelaku penculian sudah tanda petik.
03:49Mengaku sebagai pelaku pembunuhan,
03:52teman-teman di kepolisian pasti paham
03:53bahwa proses penegakan hukum harus mengandalkan pada pembuktian.
03:57Pembuktian berarti dibuktikan dua alat bukti.
04:00Pada aspek itulah menurut saya belum terpenuhi.
04:05Jadi menurut Anda, dari analisa Anda, ini seperti yang tadi Anda sampaikan,
04:11ada seperti shock begitu pada saya, interogasi.
04:14Apakah dengan yang seperti yang Anda sampaikan ini,
04:16sehingga polisi harus betul-betul tidak hanya mengandalkan keterangan
04:21ataupun pengakuan dari tersangka, harus mencari bukti lain.
04:25Padahal kalau kita lihat CCTV rusak,
04:27jejak dari pelaku pun tidak ada di lokasi kejadian pembunuhan ini.
04:32Dari pemberitaan di media, saya menangkap kesan kuat
04:35bahwa teman-teman di kepolisian belum mendapatkan sesuatu
04:39yang sungguh-sungguh untuk berharga
04:41untuk mengamankan siapa gerangan pelaku pembunuhan itu.
04:44Tadi sudah dikatakan, CCTV rusak.
04:47Jejak-jejak kejahatan di TKP tampaknya bersih.
04:50Saya maknai barangkali tidak tersedia sidik jari yang memadai.
04:53Tidak ada pula jejak DNA si pelaku di situ.
04:56Tambahan lagi, dari sekian banyak saksi yang sudah diperiksa,
04:59sampai hari ini kita belum mendengar kabar
05:01bahwa polisi berhasil menyusun atau membuat
05:04sketsaw wajah si pelaku pembunuhan.
05:06Nah, dengan informasi, dengan temuan yang sangat-sangat minim,
05:10bahkan seolah tidak ada itu,
05:12izinkan saya untuk bertanya kembali.
05:14Benarkah pelaku penculian itu adalah pelaku pembunuhan?
05:19Kenapa? Karena sekali lagi, saya khawatir,
05:21keluarnya pengakuan bahwa saya pelaku pembunuhan,
05:25itu adalah keluar dari mulut si pelaku penculian
05:27karena dia berada di bawah shock dalam sebuah interogasi
05:30yang sangat-sangat menekan dirinya.
05:32Jadi pertanyaan selanjutnya, apa yang harus dilakukan oleh polisi?
05:35Karena polisi tentu sudah mendapatkan tersangka dari pengakuan pelaku ini.
05:41Untuk membuktikannya lagi, apa yang harus disampaikan
05:45atau apa yang harus dilakukan oleh polisi dalam penyidikan nanti?
05:48Pertama, si pelaku penculian ini punya sidik jari, punya rambut, punya DNA.
05:56Silahkan dicek di lokasi pembunuhan sebelumnya.
05:59Ada tidak jejak-jejak identitas si pelaku itu?
06:02Itu pertama.
06:03Atau yang kedua, mari kita realistis bahwa
06:08betapapun unit reskrim adalah unit yang seringkali mendapat tekanan besar dari masyarakat
06:13untuk menyelesaikan kasus secepat-cepatnya,
06:16tapi angka global menunjukkan bahwa
06:20tingkat keterungkapan kasus pembunuhan
06:22ternyata turun drastis dibandingkan 10 tahun lalu.
06:26Itu artinya, tersedia alasan sesungguhnya bagi pihak kepolisian
06:30untuk mengatakan, kami paling tidak hingga saat ini
06:33belum berhasil mengungkap kasus pembunuhannya.
06:36Kalau tidak ingin menempatkannya sebagai kasus yang tidak kunjung terpecahkan.
06:39Jadi silakan saja dilakukan penanganan penegakan hukumnya secara proporsional,
06:44prosedural, dan profesional,
06:46atau sebaliknya menyampaikan kepada publik
06:49bahwa memang terkait dengan pembunuhannya
06:50belum tersedia bukti yang memadai.
06:53Jadi Anda sendiri masih sedikit ragu begitu ya
06:56bahwa pelaku pencurian yang ditangkap ini
06:59merupakan juga sekaligus pelaku pembunuhan anak dari politisi PKS ini?
07:04Saya masih terus terang terhantui dengan kasus cheer bonds yang tahun silam, Mas.
07:09bahwa ada tujuh orang plus satu anak
07:12yang dianyaya sedemikian rupa dalam proses interogasi.
07:16Akhirnya keluar dari mulut mereka sebuah pengakuan
07:19bahwa mereka telah melakukan beruda paksa dan pembunuhan.
07:23Tapi pengakuan itu ternyata sekali lagi merupakan bentuk
07:27coerse false confession.
07:29Pengakuan yang salah, pengakuan tidak sebagaimana kenyataannya,
07:32tetapi diberikan karena mereka berada di bawah tekanan yang sangat dasyat
07:36dari interogator.
07:37Saya berharap situasi semacam itu tidak terulang
07:41sehingga lagi-lagi ada orang yang dipidana
07:44atas sesuatu yang sesungguhnya tidak pernah dilakukan.
07:48Oke, sehingga mendorong bagaimana polisi akhirnya
07:50mengedepankan scientific investigation ya
07:51dalam pengusutan kasus pembunuhan anak politisi PKS
07:56yang tersangkanya ini sudah ditangkap oleh polisi.
07:58Terima kasih, Mas Reza Indragiri, Psikolog Forensik
08:01telah berbagi perspektif terkait dengan kasus ini di Kompas Petang.
08:04Salam sehat, Mas Reza Indragiri.
Komentar

Dianjurkan