Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV - Kasus penemuan jenazah di Kampung Gajah menguak fakta mengejutkan bahwa pelakunya ternyata adalah teman korban sendiri yang kesal karena korban tidak mau berteman lagi dengannya.

Kasus pembunuhan ini menjadi perhatian publik setelah motif pelaku terungkap. Rasa kesal dan sakit hati diduga menjadi pemicu tindak pidana tersebut.

Untuk membahas lebih lengkap soal kasus pembunuhan ini, simak dialog KompasTV bersama Kapolres Cimahi, Niko Adi Putra, serta kriminolog Haniva Hasna.

Baca Juga Kapolres Cimahi Beber Sederet Fakta Dugaan Pembunuhan Siswa SMP di Kampung Gajah di https://www.kompas.tv/regional/651070/kapolres-cimahi-beber-sederet-fakta-dugaan-pembunuhan-siswa-smp-di-kampung-gajah

#pembunuhan #kampunggajah #cimahi #breakingnews

Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/651393/full-kapolres-cimahi-bongkar-motif-pembunuhan-siswa-smp-di-kampung-gajah-ini-sorotan-kriminolog
Transkrip
00:00Saudara kasus penemuan jenazah di Kampung Gazah menguak fakta mencengangkan bahwa pelakunya ternyata adalah temannya sendiri yang kesal korban tidak
00:11mau menjalin hubungan pertemanan lagi dengan pelaku.
00:14Kita bahas lebih lengkap soal kasus pembunuhan ini bersama Kapolres Cimahi, AKBP Niko Adiputra dan juga kriminolog Hanifah Hasna yang
00:27juga nanti akan bergabung dalam pembahasan kita pada petang ini.
00:31Saya sapa dulu Pak Kapolres Cimahi, selamat petang Pak Niko.
00:37Selamat petang Pak Sesiad.
00:38Pak Niko ini akhirnya terungkap, pelakunya ditangkap namun yang mencengangkan adalah motifnya.
00:43Betul karena sakit hati korban yang tidak mau lagi berkawan ataupun menjalin pertemanan dengan pelaku?
00:52Ya betul, jadi perlu kami sampaikan bahwasannya motif yang akhirnya menjadi alasan dari pelaku si eksekutor IA ini yang mana
01:02akhirnya mengajak tersangka lainnya atau pelaku AP ini adalah memang karena sakit hati.
01:07Sakit hati di saat korban ZA memutus pertemanan sehingga dia menyampaikan sudah tidak perlu lagi menghubungi dan tidak perlu lagi
01:17untuk berteman sehingga alasan itulah yang membuat akhirnya pelaku menjadi sakit hati dan akhirnya memutuskan untuk berangkat menuju ke Bandung
01:25dengan niatan memang untuk menghabisi nyawa si korban.
01:29Demikian.
01:29Kemudian bagaimana akhirnya polisi tahu bahwa dua temannya ini ternyata adalah pelakunya?
01:36Ya tentunya berdasarkan hasil pool bucket yang kami miliki dan juga dari hasil olah TKP awal dari kemudian sembilan saksi
01:44yang kami lakukan pemeriksaan dan kemudian juga hasil olah TKP awal akhirnya merujuklah terhadap pelaku yang dalam kurun 1x24 jam
01:52alhamdulillah berhasil kami amankan.
01:54Dan walaupun pelaku sempat melarikan diri awalnya menuju ke Tasik kira-kira diamankan di daerah Garut tepatnya di Kecamatan Banyu
02:02Resmi seperti itu.
02:03Kemudian apakah dari pihak keluarga sendiri memang sudah menduga ataupun ada kecurigaan dengan teman dari korban ini?
02:13Baik jadi perlu kami jelaskan Kang Yasir bahwasannya pertemanan antara pelaku dengan korban ini sebenarnya sudah terjadi cukup lama.
02:20Sehingga dulu juga sempat ada kejadian yang akhirnya korban kemudian dibawa sekolah ke Bandung karena dulu korban sekolah di Garut
02:29bersama dengan pelaku.
02:32Kemudian dipindahkan ke Bandung sehingga pada saat satu hari tidak kembali atau tepatnya itu hari Senin.
02:39Hari Senin itu sudah dicari oleh pihak keluarga dan pihak keluarga sudah mencoba menghubungi pelaku.
02:44Dan kemudian besok paginya itu pelaku eksekutor YA dengan pelaku AP yang diajak itu sudah pernah dikumpulkan di satu rumah
02:53oleh Pak RT di sana.
02:55Itu untuk ditanyakan bahwasannya apakah pelaku mengetahui di mana korban berada.
03:01Kemudian dengan membuat alibi bahwa dia tidak tahu.
03:06Dan di saat itulah pada saat pelaku sudah menguasai HP milik korban yang membuat alibi seolah-olah korban itu masih
03:14hidup dengan melakukan chat ke beberapa temannya disampaikan bahwa kurang lebihnya adalah saya diculik, saya tidak tahu dari mana bisa
03:22minta tolong untuk bantuan uang dan sebagainya dan sebagainya.
03:25Sehingga dia ingin memunculkan alibi bahwa seolah-olah korban itu masih hidup.
03:28Itu adalah modus operandinya terkait dengan diputus pertemanan pelaku akhirnya membunuh temannya sendiri yang merupakan siswa SMP.
03:36Kita masih akan membahas soal ini, Pak Niko jangan berancak dulu karena nanti usai jeda kami juga akan memperbincangkannya dengan
03:42kriminolog yang akan bergabung bersama kami di Kompas Petang.
03:46Tetaplah bersama kami di Kompas TV.
03:56Kami lanjutkan perbincangan kami terkait dengan kasus diputus pertemanan akhirnya seorang pelajar ini menjadi korban pembunuhan oleh temannya sendiri.
04:06Tadi sudah berbincang dengan Kapolres Cimahi, AKBP Niko Adiputra dan saya juga akan mengajak untuk bergabung bersama kami di diskusi
04:14ini,
04:15kriminolog dari Universitas Indonesia, Mbak Hanifah Hasna. Selamat petang, Mbak Hanifah.
04:20Selamat petang, Mas Yashir.
04:22Ya tadi sudah kita dengarkan penjelasan dari Pak Kapolres Cimahi yang membenarkan bahwa sebenarnya alasannya adalah karena sakit hati,
04:30pertemanan mereka diputus begitu. Menurut Anda sebagai kriminolog sejauh mana begitu ya?
04:37Rasa sakit hati oleh seorang teman ini bisa berdampak pada pengambilan keputusan hingga akhirnya mengakhiri nyawa temannya sendiri?
04:47Oke baik. Jadi ini berbeda dengan kasus orang dewasa ya.
04:51Kalau orang dewasa kan biasanya mereka sudah bisa mengelola emosi gitu.
04:55Tapi kalau anak-anak biasanya kalau emosi, prosesnya adalah emosi, aksi baru dipikir gitu.
05:01Karena di dalam otaknya secara neurologis sebetulnya otak bagian depan yaitu tempat mengambil keputusan
05:07dan melihat konsekuensi itu masih belum berkembang optimal.
05:11Karena optimalnya di usia 21 sampai 25 tahun.
05:14Tapi ketika anak-anak di usia 14 tahun ini biasanya yang paling berkembang adalah otak emosi.
05:19Sehingga ketika terjadi sesuatu dan dia mengalami eskalasi peningkatan dari emosi tersebut,
05:27dia akan melakukan tindakan ekstrim.
05:29Nah anak-anak itu kenapa hanya diputuskan pertemanan saja bisa melakukan hal ini?
05:34Mungkin kalau orang dewasa kita bisa mengatakan diputus pertemanan saja.
05:39Tapi bagi remaja, teman itu adalah citra diri.
05:44Teman itu adalah penerimaan.
05:45Teman itu adalah menunjukkan bahwa dia itu berfungsi dalam kelompok sosial.
05:52Nah ketika dia dihilangkan dalam pertemanan itu,
05:55makanya yang terjadi adalah bentuk penolakan, rasa tidak berharga,
05:59dan ini menjadi sesuatu yang sangat-sangat berat bagi remaja.
06:02Nah oleh sebab itu biasanya mereka ada fase mengunyah.
06:05Mengunyah itu mengunyah emosi atau fase ruminasi namanya.
06:10Fase ruminasi itu merasa bahwa kok aku diperlakukan seperti ini ya?
06:13Apa yang harus aku lakukan ketika dia melalui fase ruminasi ini?
06:18Akhirnya ada fase yang disebut dengan moral justifikasi.
06:23Yang menganggap bahwa kalau aku membuat dendam itu bukan sesuatu yang salah,
06:27karena dia juga mengawali hal ini dengan membuat aku tidak nyaman.
06:31Demikian masyarakat.
06:32Berarti memang pengaruh dari kondisi umur dari pelaku yang ternyata memang masih remaja begitu ada 16 tahun dan juga 17
06:40tahun.
06:40Saya ke Pak Kapolres ini, apa pendampingan ataupun proses hukum?
06:45Maksud saya proses hukum yang akhirnya diterapkan pada dua pelaku ini akan seperti apa?
06:52Ya, yang pertama tentunya kami sampaikan ke Mas Yaser bahwasannya untuk penerapannya,
06:57karena ini adalah adat berada pandangan hukum,
06:59tentunya ya terkait dengan masalah hukum acaranya kita menggunakan hukum acara anak.
07:03Hal-hal lain ya tidak ada yang berbeda untuk perkenaan pasal juga kita akan kenakan pasal,
07:07seperti pasal 80 ayat 3 untuk Undang-Undang Pelindungan Anak,
07:11dan juga pasal 459 dari Undang-Undang nomor 1 tahun 2023 tentang pembunuhan berencana.
07:17Jadi perlu kami sampaikan bahwasannya ada beberapa kejadian juga di Garut,
07:21yang memang menunjukkan bentuk impulsif daripada si pelaku.
07:25Contohnya, bila mana si korban ini slow respon untuk membalas chat,
07:30maka si pelaku ini sangat begitu kesalnya sampai ada kejadian dia memukul.
07:35Dia memukul si korban itu sendiri, sehingga hal tersebut diketahui oleh keluarga korban.
07:39Akhirnya kemudian dibicarakan, dibicarakan.
07:41Nah itu beberapa kejadian yang akhirnya kalau kita bilang mungkin emosinya begitu meledak,
07:47bila mana ada hal yang menurut dia ada yang kurang pas.
07:49Seperti itu mungkin.
07:50Berarti ini yang juga akan digali oleh pelaku ya terkait dengan sebenarnya latar belakang dari akhirnya pelaku melakukan tindakan ini,
07:58termaksud dari melihat kondisi psikis dari pelaku, Pak Kapolres?
08:03Ya, kalau seperti itu tentunya akan kita lakukan.
08:06Karena ini baru 1 hari 24 jam kita lakukan upaya diamankan,
08:11tentunya beberapa dengan pendampingan maupun pengecekan terkait dengan masalah psikis
08:16akan kita lakukan nanti berturut-turut ke depannya.
08:18Sesuai dengan kalender untuk proses penyidikan yang akan kita laksanakan ke depan nanti.
08:23Seperti itu.
08:23Kalau Mbak Hanifa melihat sebenarnya ini bukan sesuatu yang muncul tiba-tiba begitu rasa sakit hati ini,
08:29tapi memang sebelumnya juga pernah ada kronologi kejadian antara pelaku dan juga korban.
08:34Anda membacanya ini betul mereka berkawan atau lebih kepada ada si pelaku yang lebih mendominasi terhadap korban?
08:45Ya, baik bisa jadi demikian Mas.
08:47Karena sebetulnya kejahatan yang dilakukan oleh seseorang pun oleh anak-anak itu sebetulnya bukan hasil dari kemarahan satu malam.
08:55Tapi ini melalui proses panjang. Jadi kemarahan laten yang membuat seseorang melakukan eskalasi dari kemarahannya tadi itu.
09:02Ditambah lagi dengan psikologisnya yang kurang matang.
09:05Sebetulnya segala macam kejahatan itu karena yang pertama,
09:09kena tekanan tinggi, tekanan hidup yang tinggi.
09:11Tekanan hidup itu dari mana? Dari penerimaan tadi, dari penolakan, dan lain-lain.
09:16Kemudian kontrol diri yang kurang.
09:19Kenapa dia kontrol diri yang kurang?
09:20Karena mungkin selama ini dia tidak diajarkan meregulasi emosi.
09:24Baik dari sekolah, baik dari orang tua, baik dari lingkungan, maupun dari ruang digital.
09:29Yang membuat seseorang menjadi lebih ekstrim ketika melakukan kemarahan.
09:34Dan yang terakhir adalah, kenapa anak-anak melakukan hal ini?
09:37Karena kontrol sosialnya tidak ada.
09:39Tadi Pak Bang Niko sudah menyampaikan bahwa dia atau si pelaku sering mengikuti kemarahannya.
09:44Atau agresifitasnya.
09:47Tetapi yang dilakukan keluarga mungkin pada saat itu hanya mendamaikan.
09:51Tetapi tidak melihat sinyal-sinyal bahwa anak tersebut memiliki kondisi psikologis yang berbeda.
09:56Sehingga harus dibantu dengan profesional.
09:59Karena kalau dibantu oleh profesional, kemungkinan emosinya bisa diturunkan.
10:03Dan agresi-agresi yang mungkin akan keluar ekstrim selanjutnya sampai melakukan pembunuhan bisa ditekan atau ditiadakan.
10:10Demikian Mas Yesir.
10:11Baik. Terakhir singkat saja Pak Kapolres.
10:13Dijerat dengan pasal apa kedua pelaku ini?
10:16Baik. Kami kenakan terkait dengan pasal 40 ayat 3 Undang-Undang nomor 35 tahun 2014 terkait dengan perlindungan anak.
10:24Junto pasal 459 dan juga 458 Undang-Undang nomor 1 tahun 2023 terkait dengan KUHP.
10:32Pembunuhan berencana yang mana ancamannya adalah pidana mati atau pidana penjara sumur hidup atau pidana penjara 20 tahun.
10:41Seperti itu.
10:41Baik. Tentu saja kita berharap kasus ini jadi pelajaran bersama untuk kita semua.
10:45Terima kasih Kapolres Simai, AKBP Niko Adiputra dan juga Kriminolog UI Hanifah Asna telah bergabung bersama kami di Kompas Petang.
10:52Salam sehat semuanya.
Komentar

Dianjurkan