00:00Dan nanti kan persaksiannya akan ada berita acara, begitu.
00:03Saya mohon jangan salah paham, karena kami bintang ini.
00:06Kita akan kembali ke sidang-sidang seperti ini, padahal menyimakkan di kantor.
00:09Agar tidak disalah pahami, gitu ya?
00:10Iya, kondisi objektifnya, jalanan di depan kantor kita, di jalan Tamrin itu sedang dibangun oleh dins pekerjaan jalanan itu ya.
00:20Jadi nggak ada sama sekali tempat parkir, dan tentu nggak mungkin di situ.
00:24Hanya kita pindah ke sini, ya mudah-mudahan tahun-tahun akan datang, apa, periode-periode akan datang, sidang akan datang
00:31kembali seperti semula ya.
00:33Itu yang pertama.
00:35Nah, hari ini insya Allah sebentar lagi kita akan melakukan sidang isbat bersama dengan para kei.
00:40Dan ini saya juga berterima kasih, karena orang tua kita ini baru pertama kali dihadiri oleh Ketua Umumui.
00:49Biasanya kamu mungkin mengirim utusan, Alhamdulillah.
00:51Nah, ini kebanggaan tersendiri buat kita, Kementerian Agama ya.
00:56Nah, jadi sebetulnya nggak ada persoalan, karena memang ini sudah sering.
01:02Ada perbedaan metodologi, ya.
01:04Tapi sekalipun perbedaan metodologi ada, dulu juga kecenderungannya ada, tetapi tetap kompak ya.
01:11Kenapa? Karena ya, apa kata pemerintah melalui sidang isbatnya dari mengumpulkan pendapat para ulama,
01:19Nah, maka itu yang disebekati oleh teman-teman kita semua.
01:22Nah, hanya dekada terakhir ini ada perbedaan.
01:25Ya, karena teman-teman dari Muhammadiyah itu punya metodenya tersendiri yang diaktualkan,
01:32yang kita juga tidak bisa memaksa kawan-kawan kita yang mau berpendapat berbeda,
01:38bertafsir beda dari satu nasi yang ada ya.
01:42Nah, sama-sama ada hadisnya misalnya,
01:46Sumuliru'yah, Wa'aptiruliru'yah.
01:48Ru'yah di situ kita bisa mengertikan dua macam, ya kan.
01:53Ru'yah bisa pengertiannya itu melihat,
01:56tapi juga bisa melihat dalam pengertian perhitungan.
02:01Jadi, Muhammadiyah itu menggunakan metode hisab sebagai informasi,
02:07Ru'yah sebagai konfirmasi.
02:09Sedangkan non-Muhammadiyah, termasuk dalamnya NU,
02:13menggunakan Ru'yah itu sebagai informasi,
02:17sedangkan hisab itu sebagai konfirmasi.
02:22Nah, jadi memang sulit dipersatukan memang.
02:28Kemudian, yang bisa mempersatukan itu adalah tingginya hilal.
02:31Kenapa tahun-tahun yang lalu?
02:33Karena ketinggian hilal itu sudah di atas dua derajat, ya kan.
02:37Dengan demikian, peluang untuk bisa meru'yah itu bisa.
02:40Nah, kebetulan memang bisa diru'yah,
02:42dan perhitungan Muhammadiyah juga memang sudah wujudul hilal.
02:46Nah, mungkin nanti sedikit ada persoalan,
02:48seandainya hasil temuan terakhir teman-teman itu berbeda, ya.
02:54Kenapa? Karena menurut hisab, ya, perhitungan kita,
02:59wujud hilal sekarang ini masih dibawa upuk, ya.
03:03Masih 2 derajat 24 menit, 42 detik, dibawa upuk.
03:09Paling tinggi di ujung Aceh itu 0 derajat,
03:13masih minus ya, minus 0 derajat 58 menit, 47 detik.
03:17Dengan sudut hilal ngasi, masih sangat juga rendah, ya.
03:20Nah, jadi saya kira ini juga perlu menjadi bahan diskusi sebentar, ya.
03:29Kalau kita menggunakan kalender lokal, ya.
03:34Nah, sesungguhnya ini belum wujudul hilal.
03:37Belum wujudul hilal karena masih dibawa upuk, ya, kan.
03:40Tapi kalau rekan-rekan Muhammadiyah menggunakan kalender barunya,
03:45ya, kalender global, maka, ya, besok berpuasa.
03:52Karena masih ada, misalnya, di Alaska, di Amerika, ya, sudah ada mungkin bisa melihat, ya.
03:57Nah, itu masih mungkin ada diskusi sebentar, ya.
04:02Kalau seandainya teman-teman dari Muhammadiyah mau menunda kalendernya nanti tahun depan, ya,
04:09baru dimulai, jangan sekarang, maka kita kompak.
04:12Besok belum puasa.
04:13Karena masih dibawa upuk, ya, kan.
04:15Tapi kalau mau menggunakan kalender globalnya sekarang, ya,
04:20ya, kemungkinan besarnya akan perbedaan.
04:22Tetapi sekali lagi, ya, menentukan sidang isbat sebentar.
04:25Oke.
04:26Berarti kita masih menunggu sidang isbat, namun kalau pun ada perbedaan terkait dengan satu Ramadan ini,
04:31kita harus memaknainya dengan keberagaman yang juga, apa ya, kita maknainya dengan baik, gitu ya.
04:36Indonesia itu punya pengalaman hidup di tengah perbedaan, tapi tetap kompak dan bersatu.
04:42Binaikatunggal Ika itu suatu moda yang sangat besar.
04:45Perbedaan itu bukan alasan untuk menimbulkan konflik, ya, kan.
04:49Perbedaan itu indah.
04:51Tapi tentu lebih indah lagi kalau bisa kompak.
04:55Terima kasih banyak Prof. Nasaruddin atas waktunya.
04:58Saat ini akan segera melaksanakan rapat, ya?
05:01Oke, baik, terima kasih banyak.
05:02Nah, itulah tadi saudara disampaikan oleh Prof. Nasaruddin Umar yang mengatakan bahwa
05:07meskipun memang ada kemungkinan bahwa apakah nanti setelah sidang isbat ini dilaksanakan,
05:12apakah akan berbeda satu Ramadan versi Muhammadiyah ataupun versi pemerintah.
05:17Namun ini bukan menjadi persoalan bagaimana kita memaknai bahwa Indonesia dengan beauty in diversity.
05:23Artinya ini adalah keindahan dalam keberagaman.
05:25Jadi memang kita tidak perlu menyoalkan terkait dengan perbedaan ini,
05:29namun juga kita saling menghargai terkait dengan perbedaan awal satu Ramadan yang akan sesat lagi.
05:34Ini tampaknya juga sudah akan mulai untuk kemudian sidang isbat dilaksanakan.
05:38Kita akan menanti bagaimana nanti selanjutnya.
05:41Kembali kepada Anda.
05:41Ya, Fedriska Ananda, jurnalis Kompas TV tadi langsung mewawancarai Menteri Agama K.I. Haji Prof. Nasaruddin Umar
05:51untuk segera memulai prosesi sidang isbat.
05:56Biasanya ini dimulai dari seminar posisi hilal tadi,
06:00kalau dari agenda yang kita dapatkan, pukul 16 waktu Indonesia Barat sudah dimulai.
06:04Ini terbuka untuk umum, terdiri dari tim Hisab Rukyat Kemenak,
06:08memaparkan data astronomi mengenai posisi hilal di seluruh Indonesia,
06:11dan dilanjutkan dengan sidang isbat tertutup yang seperti disampaikan oleh Menteri Agama tadi.
Komentar