Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengatakan penentuan awal puasa Ramadan 2026, kemungkinan berbeda antara pemerintah dengan Muhammadiyah.

Hal itu disampaikan Nasaruddin ditemui menjelang sidang isbat di Hotel Borobudur, Jakarta, pada Selasa (17/2/2026).

"Hanya dekade terakhir ini ada perbedaan ya karena teman-teman dari Muhammadiyah itu punya metodenya sendiri yang diaktualkan, kita tidak bisa memaksa kawan-kawan kita yang mau berpendapat berbeda," ujar Nasaruddin.

Baca Juga Kemenag Gelar Sidang Isbat Penentuan 1 Ramadan 2026, Ini Tahapannya | BREAKING NEWS di https://www.kompas.tv/nasional/651245/kemenag-gelar-sidang-isbat-penentuan-1-ramadan-2026-ini-tahapannya-breaking-news

#puasa #menteriagama #nasaruddinumar

Produser: Ikbal Maulana
Thumbnail: Vila

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/651260/full-menag-sebut-ada-potensi-beda-awal-puasa-ramadan-pemerintah-dan-muhammadiyah
Transkrip
00:00Dan nanti kan persaksiannya akan ada berita acara, begitu.
00:03Saya mohon jangan salah paham, karena kami bintang ini.
00:06Kita akan kembali ke sidang-sidang seperti ini, padahal menyimakkan di kantor.
00:09Agar tidak disalah pahami, gitu ya?
00:10Iya, kondisi objektifnya, jalanan di depan kantor kita, di jalan Tamrin itu sedang dibangun oleh dins pekerjaan jalanan itu ya.
00:20Jadi nggak ada sama sekali tempat parkir, dan tentu nggak mungkin di situ.
00:24Hanya kita pindah ke sini, ya mudah-mudahan tahun-tahun akan datang, apa, periode-periode akan datang, sidang akan datang
00:31kembali seperti semula ya.
00:33Itu yang pertama.
00:35Nah, hari ini insya Allah sebentar lagi kita akan melakukan sidang isbat bersama dengan para kei.
00:40Dan ini saya juga berterima kasih, karena orang tua kita ini baru pertama kali dihadiri oleh Ketua Umumui.
00:49Biasanya kamu mungkin mengirim utusan, Alhamdulillah.
00:51Nah, ini kebanggaan tersendiri buat kita, Kementerian Agama ya.
00:56Nah, jadi sebetulnya nggak ada persoalan, karena memang ini sudah sering.
01:02Ada perbedaan metodologi, ya.
01:04Tapi sekalipun perbedaan metodologi ada, dulu juga kecenderungannya ada, tetapi tetap kompak ya.
01:11Kenapa? Karena ya, apa kata pemerintah melalui sidang isbatnya dari mengumpulkan pendapat para ulama,
01:19Nah, maka itu yang disebekati oleh teman-teman kita semua.
01:22Nah, hanya dekada terakhir ini ada perbedaan.
01:25Ya, karena teman-teman dari Muhammadiyah itu punya metodenya tersendiri yang diaktualkan,
01:32yang kita juga tidak bisa memaksa kawan-kawan kita yang mau berpendapat berbeda,
01:38bertafsir beda dari satu nasi yang ada ya.
01:42Nah, sama-sama ada hadisnya misalnya,
01:46Sumuliru'yah, Wa'aptiruliru'yah.
01:48Ru'yah di situ kita bisa mengertikan dua macam, ya kan.
01:53Ru'yah bisa pengertiannya itu melihat,
01:56tapi juga bisa melihat dalam pengertian perhitungan.
02:01Jadi, Muhammadiyah itu menggunakan metode hisab sebagai informasi,
02:07Ru'yah sebagai konfirmasi.
02:09Sedangkan non-Muhammadiyah, termasuk dalamnya NU,
02:13menggunakan Ru'yah itu sebagai informasi,
02:17sedangkan hisab itu sebagai konfirmasi.
02:22Nah, jadi memang sulit dipersatukan memang.
02:28Kemudian, yang bisa mempersatukan itu adalah tingginya hilal.
02:31Kenapa tahun-tahun yang lalu?
02:33Karena ketinggian hilal itu sudah di atas dua derajat, ya kan.
02:37Dengan demikian, peluang untuk bisa meru'yah itu bisa.
02:40Nah, kebetulan memang bisa diru'yah,
02:42dan perhitungan Muhammadiyah juga memang sudah wujudul hilal.
02:46Nah, mungkin nanti sedikit ada persoalan,
02:48seandainya hasil temuan terakhir teman-teman itu berbeda, ya.
02:54Kenapa? Karena menurut hisab, ya, perhitungan kita,
02:59wujud hilal sekarang ini masih dibawa upuk, ya.
03:03Masih 2 derajat 24 menit, 42 detik, dibawa upuk.
03:09Paling tinggi di ujung Aceh itu 0 derajat,
03:13masih minus ya, minus 0 derajat 58 menit, 47 detik.
03:17Dengan sudut hilal ngasi, masih sangat juga rendah, ya.
03:20Nah, jadi saya kira ini juga perlu menjadi bahan diskusi sebentar, ya.
03:29Kalau kita menggunakan kalender lokal, ya.
03:34Nah, sesungguhnya ini belum wujudul hilal.
03:37Belum wujudul hilal karena masih dibawa upuk, ya, kan.
03:40Tapi kalau rekan-rekan Muhammadiyah menggunakan kalender barunya,
03:45ya, kalender global, maka, ya, besok berpuasa.
03:52Karena masih ada, misalnya, di Alaska, di Amerika, ya, sudah ada mungkin bisa melihat, ya.
03:57Nah, itu masih mungkin ada diskusi sebentar, ya.
04:02Kalau seandainya teman-teman dari Muhammadiyah mau menunda kalendernya nanti tahun depan, ya,
04:09baru dimulai, jangan sekarang, maka kita kompak.
04:12Besok belum puasa.
04:13Karena masih dibawa upuk, ya, kan.
04:15Tapi kalau mau menggunakan kalender globalnya sekarang, ya,
04:20ya, kemungkinan besarnya akan perbedaan.
04:22Tetapi sekali lagi, ya, menentukan sidang isbat sebentar.
04:25Oke.
04:26Berarti kita masih menunggu sidang isbat, namun kalau pun ada perbedaan terkait dengan satu Ramadan ini,
04:31kita harus memaknainya dengan keberagaman yang juga, apa ya, kita maknainya dengan baik, gitu ya.
04:36Indonesia itu punya pengalaman hidup di tengah perbedaan, tapi tetap kompak dan bersatu.
04:42Binaikatunggal Ika itu suatu moda yang sangat besar.
04:45Perbedaan itu bukan alasan untuk menimbulkan konflik, ya, kan.
04:49Perbedaan itu indah.
04:51Tapi tentu lebih indah lagi kalau bisa kompak.
04:55Terima kasih banyak Prof. Nasaruddin atas waktunya.
04:58Saat ini akan segera melaksanakan rapat, ya?
05:01Oke, baik, terima kasih banyak.
05:02Nah, itulah tadi saudara disampaikan oleh Prof. Nasaruddin Umar yang mengatakan bahwa
05:07meskipun memang ada kemungkinan bahwa apakah nanti setelah sidang isbat ini dilaksanakan,
05:12apakah akan berbeda satu Ramadan versi Muhammadiyah ataupun versi pemerintah.
05:17Namun ini bukan menjadi persoalan bagaimana kita memaknai bahwa Indonesia dengan beauty in diversity.
05:23Artinya ini adalah keindahan dalam keberagaman.
05:25Jadi memang kita tidak perlu menyoalkan terkait dengan perbedaan ini,
05:29namun juga kita saling menghargai terkait dengan perbedaan awal satu Ramadan yang akan sesat lagi.
05:34Ini tampaknya juga sudah akan mulai untuk kemudian sidang isbat dilaksanakan.
05:38Kita akan menanti bagaimana nanti selanjutnya.
05:41Kembali kepada Anda.
05:41Ya, Fedriska Ananda, jurnalis Kompas TV tadi langsung mewawancarai Menteri Agama K.I. Haji Prof. Nasaruddin Umar
05:51untuk segera memulai prosesi sidang isbat.
05:56Biasanya ini dimulai dari seminar posisi hilal tadi,
06:00kalau dari agenda yang kita dapatkan, pukul 16 waktu Indonesia Barat sudah dimulai.
06:04Ini terbuka untuk umum, terdiri dari tim Hisab Rukyat Kemenak,
06:08memaparkan data astronomi mengenai posisi hilal di seluruh Indonesia,
06:11dan dilanjutkan dengan sidang isbat tertutup yang seperti disampaikan oleh Menteri Agama tadi.
Komentar

Dianjurkan