00:05Selamat malam, saya Rosia Nasilalahi, Anda menyaksikan program Rosi.
00:11Akhir Januari, tepatnya Jumat 30 Januari, Presiden Prabowo Subianto melakukan pertemuan tertutup dengan tokoh-tokoh yang dianggap kritis pada pemerintah.
00:20Apa sebenarnya motif dan tujuan dari pertemuan ini?
00:23Malam ini saya mengundang salah satu tokoh oposisi yang bertemu dengan Presiden Prabowo Subianto.
00:29Ia adalah seorang yang sebenarnya pernah berada dalam pemerintahan.
00:33Sekretaris Kementerian BUMN periode 2005-2010, Bapak Said Dido.
00:38Pak Said, terima kasih selamat malam sudah di Rosi.
00:40Terima kasih juga.
00:41Setelah ketemu Pak Presiden, langsung nggak ada kabarnya, tidak bisa dihubungi, katanya pulang kampung.
00:49Ini pulang kampung mau refleksi untuk mengubah pandangan politik atau apa nih?
00:54Saya biasa, kalau saya ingin menunggu reaksi publik seperti apa sebenarnya atas pertemuan ini.
01:02Karena ini kan Pak Prabowo sepertinya baru pertama kali membuka pintu untuk ketemu dengan orang yang mengkritisi pemerintahan selama ini.
01:12Nah, saya biarkan, hampir 10 hari saya menghilang.
01:16Memang pulang kampung?
01:17Dan saya dihubungi untuk kembali dan saya bilang, enggak nanti saya ingin menikmati kampung saya dulu.
01:26Itu, nah akhirnya baru saya muncul untuk membicarakan dengan Mbak Rosi nanti apa yang terjadi sebenarnya, apa di belakang itu
01:34semua.
01:34Kenapa saya ingin dengar dan saya rasa penonton Rosi Kompasivi juga ingin mendengar cerita dari Pak Said Dido.
01:40Karena Pak Said Dido belum, di antara para tokoh itu ya termasuk yang belum menceritakan apa isi pertemuan.
01:46Dan rasanya penting sekali untuk mengetahui asal-muasal pertemuan Presiden dengan Pak Said Dido dan tokoh lainnya.
01:53Karena setelah itu beruntun tuh, habis itu dengan para mantan Menlu, para tokoh agama ulama soal posisi Indonesia di Board
02:03of Peace, soal Israel dan Palestina.
02:07Lalu kemudian juga ada Apindo dan ada pengusaha-pengusaha besar lainnya.
02:12Jadi seolah pertemuan Presiden dan Pak Said Dido dan para tokoh lainnya, seperti membuka jalur komunikasi mereka dengan Pak Prabowo.
02:21Saya mau tanya adalah pertanyaan awal Pak Said Dido, apa asal-muasal bisa bertemu dengan Presiden Prabowo?
02:28Asal-muasalnya sebenarnya begini, saya agak capek juga berjuang nih, tapi kok bangsaku semakin hari semakin terpuruk.
02:37Dalam segala hal, demokrasi, kemiskinan, korupsi, ketimpangan, semua terpuruk.
02:43Dan kita hanya mendaur ulang terus itu terjadi, sehingga terpikir oleh saya, ini ada yang salah ini, bangsa ini.
02:52Nah, sehingga muncul keinginan saya mengumpulkan seluruh komponen di rumah saya, yang saya istilahkan dialog, kondro, barongko, dan durem.
03:02Di rumahnya Pak Said Dido?
03:03Di rumah saya.
03:04Sebelum bertemu dengan Presiden Prabowo?
03:06Sebelum, itu tanggal 2027.
03:07Nah, saya mengumpulkan empat komponen yang saya istilahkan.
03:12Orang dalam, ya ini saya undang Burhanun Abdullah, Laude Kamalundin.
03:18Yang selama ini memang menjadi think tank-nya Pak Prabowo?
03:20Ya, think tank-nya Pak Prabowo.
03:22Orang yang saya anggap di pavilion, belum dalam, tapi bekas luar masuk, sudah berhubungan terus.
03:28Di teras lah ya, kira-kira ya.
03:30Yang ketiga, orang luar yang masih punya harapan ke Prabowo.
03:35Yang ketempat, orang luar yang sudah tidak punya harapan.
03:39Berkumpul di rumah saya, saya bilang kita...
03:42Jadi, empat simpul tokoh ini banyak, tapi mereka merepresentasikan itu.
03:47Orang dalamnya Pak Prabowo, orang yang masih di teras, orang yang di luar masih punya harapan, dan orang yang sudah
03:53tidak punya harapan pada Pak Prabowo.
03:55Nah, saya biarkan ini bicara, tapi sepertinya ada orang yang memainkan, sehingga tanggal 25, ini kan acara 27.
04:0325 itu saya sudah dihubungi orang, bisa nggak dihentikan.
04:09Karena dianggap, ada yang menyamakan ini kayak petisi 50.
04:13Mau upaya makar?
04:15Mau makar.
04:16Nah, saya bilang, saya ini kan lihat aja nanti.
04:19Ini siaran langsung kok, siaran aja.
04:22Nah, terus tanggal 26, itu makin tekanan makin tinggi.
04:27Ya, tapi jiwa petarung saya tetap jalan.
04:30Aku harus tunjukkan bahwa saya diduk bukanlah orang seperti yang diduga oleh mereka.
04:35Nah, akhirnya orang yang awalnya merancang dengan saya, mengundurkan diri juga.
04:42Dia nggak mau datang.
04:44Dan Bapak melihat itu ada koneksinya, ada keterkaitannya antara larangan untuk membuat acara itu di rumah Pak Syed Dido, dan
04:51ada yang mundur dari acara itu.
04:53Nah, yang menarik, yang awalnya nggak mau datang, tahu-tahu datang, itu orang dalam.
04:59Nah, setelah saya telusuri, orang ini datang, saya tanya, eh, kenapa lu datang?
05:04Aku disuruh dari dalam untuk mengikuti apa acara ini.
05:12Oke, oke.
05:13Nah, berjalan lah Mbak Rusi.
05:14Nah, terus orang yang diutus ini, dia bilang kasih tau saya, jam 3 sudah melapor ke dalam.
05:21Karena kesimpulan kita saat itu hanya menyatakan bahwa sebenarnya perusahaan bangsa ini karena kedaulatan sudah diambil.
05:29Yang lain itu hanya dayang-dayang pelaksana berbangsa dan bernegara.
05:35Presiden pun ditentukan oleh yang sudah mengambil kedaulatan, yaitu oligarki.
05:40Semua sudah diambil.
05:41Jadi kedaulatan politik, hukum, ekonomi, sumber daya alam dan wilayah sudah terambil.
05:48Nah, sehingga kita menyimpulkan, ini kalau kita terus diadu mereka dengan mendukung-mendukung, bangsa ini akan hancur.
05:59Oke, sebentar.
06:00Supaya penonton Rosi bisa tahu relevansinya.
06:03Jadi Pak Syed Dido membuat satu acara yang dicurigai atau ditengarai bisa menjadi upaya makar.
06:09Sehingga bahkan salah satu inisiasi acara itu mengundurkan diri.
06:13Dan kemudian ada semacam orang dalam yang datang ke acara dan melihat sendiri isi acara itu.
06:18Dan ternyata bisa dibilang sama sekali jauh dari upaya makar.
06:22Apakah karena acara ini yang kemudian tidak ditandai sebagai upaya makar, makanya Pak Syed Dido jadi bertemu presiden?
06:30Sepertinya, karena kesimpulannya adalah itu, kami beroposisi terhadap orang yang menghalangi kembalinya kedolatan.
06:40Itu kesimpulan kita.
06:42Clear itu ya?
06:42Ya, itu dilaporkan oleh orang ini utus ini dan kelihatannya Pak Presiden mengambil, oh ini oke nih.
06:49Ini oke nih kesimpulan ini.
06:51Nah, kami tidak beroposisi ke Prabowo, kami tidak beroposisi.
06:53Tapi, oposisi kami adalah siapapun yang pernah yang memegang kedolatan itu, mengambil kedolatan itu, siapa yang pernah menyerahkan itulah oposisi
07:03kami ke sana.
07:04Nah, jadi itulah sebenarnya cikal bakal mengapa Bapak bertemu dengan presiden.
07:10Apakah, betul ya Pak ya, oleh di inisiasi juga atau di Pak Safri Samsuddin yang ikut membuka jalan?
07:20Sepertinya, saya tidak tahu karena bukan dia yang menghubungi saya.
07:23Nah, orang yang diutus itu menyatakan, tolong, nah setelah itu, ini kan tanggal 27, 28 saya sudah dihubungi, siapkan lima
07:34orang untuk menghadap presiden.
07:36Oke, jadi Pak Syed diminta untuk menyiapkan lima orang?
07:40Untuk tanggal 31 awalnya, di Hambalang, selalu dimajukan.
07:44Nah, saya bilang begini, jangan saya menyiapkan, jadi saya kirim puluhan nama, yang hadir semua saya pilih, silahkan dipilih.
07:50Siapa yang dipilih oleh istana, nah akhirnya terpilihlah lima orang itu kan, dengan saya.
07:56Nah, jadi yang memilih adalah mereka.
07:59Mereka yang memilih, itu kejadiannya sebenarnya.
08:02Jadi, sebenarnya mungkin Pak Presi menyatakan loh, teman seperjuangan saya ada di luar.
08:08Yang selama ini mungkin dihalangi seakan-akan musuh, padahal agenda kita kebetulan sama.
08:15Apakah lima tokoh yang kemudian kita sudah tahu, sama-sama ada Pak Syedidu, Pak Abraham Samad, ada Mantan Kabar Eskrim,
08:24ada Siti Zuhro.
08:26Nah, apakah ini representasi keahlian, atau menurut Bapak ini representasi mereka, suara-suara kritis mereka?
08:34Saya tidak tahu kriteriannya, karena, seperti pembahamannya, Ferry Amsari kan hadir juga.
08:41Semua nama yang itu saya ada pembahamannya.
08:43Pak, Ferry Amsari nggak hadir dong?
08:44Hadir.
08:45Ferry Amsari?
08:46Nggak, di tempat saya, di rumah saya.
08:47Oh, oke.
08:48Jadi semua yang hadir itu saya kirim.
08:50Oke, semua yang hadir, yang Bapak undang yang tadi ya di tengah, dicurigai sebagai upaya makar itu, Bapak kasih listnya
08:56ke Presiden?
08:57Atau ke utusan Presiden?
08:58Silahkan dipilih oleh istana.
09:00Dipilihlah lima itu.
09:01Jadi saya nggak tahu apa kriteria digunakan untuk memilih.
09:07Pak Safri, kemudian tadi kita lihat cuplikan pernyataan Pak Safri, tidak ada tokoh, tidak ada oposisi di negara ini.
09:14Apakah memang Pak Syed Didu juga sekarang tidak lagi bersifat oposan dalam hal ini?
09:21Mungkin kalau dalam terminologi di demokrasi kita tidak ada oposisi, tapi bersuara kritis lagi.
09:27Apakah karena sudah bertemu dengan Presiden, seorang Syed Didu sekarang melempom?
09:33Saya tidak punya bakat diam kalau melihat sesuatu.
09:37Saya tidak.
09:38Pasti saya akan teriak.
09:39Saya akan teriak.
09:40Lihat setelah itu kan saya masih teriak.
09:42Masih teriak bagaimana transmigrasi di gua, diambil tanahnya.
09:48Saya tidak akan.
09:48Dan di dialog itu perlu kami gambarkan.
09:52Mbak Rusi itu menurut saya.
09:54Kan begini.
09:56Kalau begitu begini.
09:56Apa kritik terbesar atau misalnya masukanlah yang paling keras yang Bapak sampaikan pada Presiden?
10:06Dan Bapak melihat Presiden menerimanya dengan sangat terbuka?
10:09Saya melihat begini, Presiden sangat menghargai saat itu karena dia sendiri yang mempresentasikan.
10:16Padahal dia memperkenalkan staff yang kita kenal dekat itu, main lume, main sekap, dan ada sepuluh.
10:24Dan menyampaikan ini ordal saya di samping meja gitu kan.
10:28Nah setelah itu dia presentasi satu jam.
10:30Dan di presentasi itu karena begini.
10:33Ada beberapa pertanyaan yang saya harus tahu Pak Presiden Prabowo ini.
10:37Apakah Pak Presiden Prabowo ini memang keberlanjutan Jokowi?
10:41Apakah Pak Presiden Prabowo ini masih dibawa membayang-bayang Jokowi?
10:47Itu kan harus.
10:48Apa sih, apakah Presiden Prabowo ini sebenarnya masih betul hanya omong-omong tidak berani ambil keputusan?
10:56Itu kan yang tertanam di ini saya dari dialog itu.
10:59Nah apakah Pak Prabowo ini memang dengan pasangannya Capres ini memang itu pasangan yang sesuai dengan keinginan atau ada sesuatu?
11:08Itu di kepala saya.
11:10Dan apakah Prabowo ini memang masih bisa diharapkan untuk memperantas korupsi dan mengambil kedolatan oligarki?
11:20Itu yang tertanam.
11:21Dan malam itu terjawab.
11:23Terjawab semua.
11:24Terjawab.
11:25Semua itu terjawab.
11:27Jadi semua pertanyaan Bapak tentang suatu hal yang sebenarnya menjadi juga banyak pertanyaan orang.
11:33Apakah itu dijawab langsung oleh karena pertanyaan Pak Said Didu?
11:37Atau dari penjelasannya Pak Prabowo?
11:40Dari penjelasan.
11:41Karena begini.
11:41Saya tidak bisa menanya itu.
11:43Karena pasti ini politik.
11:45Tapi saya menanggap.
11:45Saya kasih contoh begini.
11:47Bapak Presiden.
11:49Bapak Presiden sekarang.
11:51Itu dari tujuh Presiden sebelumnya.
11:54Baru kali ini ada Presiden yang berani menyinggung oligarki.
11:59Baru kali ini.
12:00Dan dengan Bapak menyinggung itu.
12:02Itu bagaikan.
12:04Itu Bapak sudah masuk akan.
12:06Dan musuh akan bangkit semua.
12:09Dan saya bilang.
12:10Bapak sudah sampai di titik.
12:11To kill or to be killed.
12:14Bapak membunuh atau dibunuh.
12:17Dan Bapak mohon maaf.
12:18Waktu Bapak tidak lama loh Pak.
12:20Tidak panjang.
12:22Dan Bapak saya teranggap.
12:24Bapak masih lambat untuk mengambil.
12:26Nah saya agak-agak keras gitu.
12:28Nah saya tunggu beliau ini.
12:30Dia tidak biasa saja.
12:31Nah akhirnya dia menjelaskan semua.
12:34Ini begini.
12:35Intinya begini.
12:36Kan pada saat presentasi dia sebutkan tuh.
12:39Dia sebutkan nama.
12:40Inilah perampok negara.
12:42Perampoknya sekian.
12:43Caranya menyimpannya begini.
12:45Sampai dia menyatakan.
12:46Bayangkan.
12:47Under invoice saja.
12:49Oleh orang-orang ini.
12:50Itu 1,2 triliun dolar.
12:541,2 triliun dolar.
12:56Artinya 20 ribu triliun.
12:58Selama 30 tahun.
12:59Dan dia bilang.
13:00Ini orang-orangnya ini aja.
13:01Yang melakukan itu.
13:03Nah terus.
13:04Dia jelaskan lagi.
13:05Ini kita harus kasih pelajaran.
13:07Ini gak bisa ya.
13:08Harus dihentikan.
13:09Orang ini beli begini.
13:10Nah oke.
13:11Artinya.
13:12Saya masih percaya bahwa dia tidak omon-omon.
13:15Nah setelah itu.
13:16Sebut nama itu ya Pak ya?
13:18Sebut nama.
13:18Dan menariknya Bu Rosi.
13:20Jadi ya agar Pak Bipaham.
13:22Nama-nama yang disebutkan itu.
13:24Tidak jauh beda dengan nama yang sering saya sebutkan.
13:27Secara terbuka?
13:28Secara terbuka.
13:29Jadi ya.
13:30Itu nama-namanya.
13:32Dan begini.
13:33Oke.
13:34Kalau begitu begini.
13:35Saya jadi penasaran.
13:36Apakah nama-nama yang disebutkan Presiden.
13:39Ketika bertemu dengan Anda Pak Saididu.
13:41Adalah juga nama-nama yang bertemu.
13:43Di 2 malam lalu.
13:46Kami kembali sesaat lagi.
13:58Di tanganmu.
Komentar