00:00Papua pun harus ditanam kelapa sawit supaya bisa menghasilkan juga BBM dari kelapa sawit.
00:12Juga tebu menghasilkan etanol.
00:20Singkong kasava juga untuk menghasilkan etanol.
00:24Sehingga kita rencanakan dalam lima tahun semua daerah bisa berdiri di atas kakinya sendiri.
00:54Halo Sobat Kumpas TV, kembali lagi di Zoomcaster bersama saya Hilda Nusantara.
01:01Sobat Kumpas TV, bencana ekologis di Sumatera ini menjadi sorotan banyak pihak.
01:06Banyak pihak yang bilang bahwa ini bukan hanya faktor alam semata.
01:10Namun ada konsekuensi dari kesalahan tata kelola hutan dan lahan.
01:14Nah yang jadi sorotan lainnya adalah soal perkebunan sawit.
01:18Yang kemudian juga ramai dibahas, ramai disoroti.
01:20Namun kita juga harus paham nih sebagai masyarakat, apakah perkebunan sawit ini beda dengan hutan.
01:27Karena memang beda, tapi kita harus mengerti dari yang pakar nih yang menjelaskan begitu ya.
01:32Nah saat ini di Zoomcaster saya sudah mengundang ada Akademisi Kehutanan dari Universitas Maudia Malang.
01:38Ada Bapak Febri Arief Cahyawibawa.
01:40Selamat sore, Assalamualaikum Pak Febri.
01:43Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.
01:45Selamat sore Ibu Hilda.
01:47Selamat sore Pak, sehat Pak.
01:49Terima kasih ya Pak, sudah meluangkan waktu untuk Kompas TV.
01:53Iya, Alhamdulillah sehat.
01:55Sama-sama.
01:56Alhamdulillah.
01:58Bapak, pertanyaan pertama ini, sebenarnya pertanyaan simpel.
02:02Kenapa masyarakat harus paham dulu nih, bahwa perkebunan sawit dan hutan ini jauh berbeda?
02:08Bisa dijelaskan Pak Febri.
02:09Oke, dari yang paling dasar saja sih, kalau sawit itu, saya sering bilang dia akarnya serabut, jadi berbeda sama pohon yang dia, akarnya jangkauannya ke dalam itu lebih jauh ketimbang sawit.
02:36Ya, kalau sawit itu, saya ada banyak baca literatur, perkiraan 60 sampai 1 meter saja.
02:44Nah, kan kalau misalkan pohon itu, seminimal-minimalnya itu 3 meter sampai, ada bahkan yang sampai 5 meter, 6 meter.
02:52Seperti itu, itu yang sederhana saja.
02:55Kemudian, kalau pohon biasanya dia punya, kalau di bahasa kehutanan itu, strata ya.
03:04Jadi, itu sangat membantu sekali, kalau misalkan pas saat terjadi hujan, itu sangat membantu banget.
03:11Jadi, kalau di kebun sawit, rata-rata yang dia monokultur, dengan tinggi yang hampir sama, sehingga dan kemudian dengan jarak yang cukup lebar,
03:27dan di bawahnya tidak ada yang menutupi, walaupun nanti ada rumputan, tapi itu masih minim, minim sekali.
03:38Untuk, apa ya istilahnya, menjauhkan tanah dari hempasan air hujan, seperti itu.
03:47Oke, dua hal itu yang paling sederhana yang bisa dijelaskan.
03:51Nah, kemudian, kalau saya menempatkan diri saya sebagai orang-orang Pak Febri,
03:56mungkin orang akan berbicara bahwa, bagaimana kemudian menjadi berbahaya jika hujan deras ini datang,
04:02dan kemudian melalui perkebunan sawit dan melalui hutan.
04:05Ini secara bahasa, mudahnya bisa dijelaskan ke masyarakat aum itu gimana sih, Pak Febri?
04:11Ya, oke.
04:12Nah, tadi, ini kaitannya dengan akar ya, tadi yang akar serabut dan pendek itu.
04:19Jadi, kalau misalkan air itu, kalau misalkan masuk ke tanah,
04:25ya, jadi harusnya ada beberapa yang dia bisa menyimpan air itu.
04:31Ya, salah satunya adalah akar tadi itu.
04:33Jadi, kalau misalkan akar itu tidak bisa menyimpan air dengan baik,
04:39dan kemudian, apa namanya ya, tanah itu menjadi jenuh, basah, dan segala macamnya itu,
04:47Nah, itu juga yang akan mendorong terjadinya kerusakan-kerusakan sederhana, ya, kayak erosi lah.
04:56Ya, bahasa sederhananya adalah terjadi erosi atau longsor tadi itu.
05:00Beda sama, apa namanya, pohon, dia punya akar yang jauh, jangkauannya lebih panjang,
05:11dan ke arah sekitar kanan-kirinya juga cukup lebar.
05:18Dan kemudian, apalagi, apa namanya, pohon itu punya karakteristik yang,
05:25terutama kalau di hutan ya, gugurnya daun itu, itu bisa menjadi seresah.
05:30Nah, seresah itu kalau misalkan ada proses namanya dekomposisi atau pengurayan oleh bakteri tadi itu,
05:36itu bisa menjadi bahan organik, ya, atau humus bahasa sederhananya,
05:42itu salah satu penahan air yang luar biasa.
05:47Nah, itu proses ekologi itu yang harusnya berlanjut.
05:50Nah, sedangkan kalau menurut saya di sawit itu, proses itu sepertinya hilang, ya,
05:57karena, apa namanya, daun sawit itu kan hampir mirip dengan kelapa, ya.
06:07Jadi, prosesnya juga lebih lama, ya, proses untuk pembentukan humus,
06:14atau apalagi di monokultur biasanya dibersihkan.
06:17Jadi, proses itu hilang, ya, kalau misalkan itu dalam jangka waktu yang cukup panjang,
06:24itu sangat membahayakan untuk fungsi hutan sebagai konservasi di airnya itu tadi, tanah dan air.
06:35Oke, tadi disebut monokultur juga kan, sistem tanam sawit ini monokultur, ya, Pak Febri, ya,
06:42ini juga rentan juga, perbesar kerentanan ekologis.
06:47Nah, bisa dijelaskan, Pak, sistem tanamnya sawit ini, Pak Febri.
06:50Oke, nah, kalau di monokultur itu, dia cuma satu, namanya mono, ya, jadi satu tanaman saja.
06:59Jadi, dalam hamparan luas, misalkan saja, 500 hektare itu full sawit tanpa ada tanaman lainnya.
07:08Karena dia bahasanya monokultur, jadi hanya satu sawit saja.
07:12Nah, ya, itu tadi berkaitan banyak terkait dari strata, terkait dengan pembentukan alami, proses dekomposisi.
07:26Kemudian, kalau yang monokultur itu sudah diatur jaraknya.
07:30Nah, kalau misalkan, apa namanya, di sawit mungkin bisa jaraknya itu bisa 3x2 atau bahkan 4x4, bahkan atau 3x4, misalkan seperti itu.
07:47Nah, itu memang sistem di monokultur itu, ya, bentukannya seperti itu, Bu Hilda.
07:54Oke, baik, Pak Febri.
07:57Kalau kita melihat kemarin yang masih lekat sekali kan bencana Sumatera yang bahkan sampai saat ini, ya, masih menjadi sorotan.
08:05Apakah kemudian memang faktor intensitas hujan yang tinggi yang juga bisa rentan kemudian menjadi faktor juga atau bagaimana tentu saja ini menjadi kajian yang sangat panjang, ya, apakah karena penyebabnya dari perkebunan sawit tentu butuh kajian yang sangat panjang, butuh penyelidikan yang sangat panjang.
08:25Tapi kalau dilihat dari sisi karakteristiknya, kemudian resiko-resikonya, gitu.
08:32Seperti apa sih, Pak Febri?
08:34Ya, oke.
08:36Apa namanya, kalau kita bandingkan, ya, sawit dengan pohon kehutanan, faktor resiko, kalau misalkan, apalagi kita bandingkan dengan hutan alam,
08:51misalkan yang benar-benar alam hutannya adalah itu jauh berisiko sawit ketimbang hutan alam tadi.
08:58Karena dia punya kemampuan, apa ya, strata tadi itu yang dia mampu menahan air, ya, untuk menghempas langsung ke tanah.
09:13Kemudian belum lagi tadi terkait bahan organik dan segala macamnya itu, nah itu, ya, kalau kita berbicara keunggulan, ya.
09:25Nah, kalau misalkan kita kaitkan dengan erosi yang terjadi, longsor yang terjadi menjadi bancana besar di Indonesia,
09:34itu ada banyak faktor, ya, kalau menurut saya, menurut saya banyak faktor.
09:44Yang pertama memang curah hujan, karena sebenarnya di hutan pun bisa terjadi, apa namanya, longsor.
09:54Apa namanya, di mana, di sawit pun juga bisa terjadi.
09:59Apalagi pada kondisi topografi yang kemiringannya yang sangat curam itu sangat rentan sekali.
10:08Makanya kalau nanam sawit, apalagi dipaksakan di kontur yang topografinya sangat miring, itu sangat membahayakan sih, menurut saya.
10:20Karena apa, yang pertama dia, apakah bisa menahan tanah yang cukup luas tadi itu di kondisi kemiringan,
10:31karena secara otomatis kita berbicara gaya gravitasi, ya.
10:35Gaya gravitasi itu kalau di kemiringan, tanah itu dia mau atau akan turun.
10:41Apalagi dengan dorongan dengan adanya air, dengan intensitas yang cukup tinggi, ya, itu dia pasti akan mendorong.
10:52Makanya ada kalau terjadinya erosi atau longsor, titik jenuh air itu bisa menjadi penyebab, salah satu penyebab terjadinya longsor.
11:03Ya, selain dari vegetasi, ada titik-titik jenuhnya.
11:07Sehingga kalau misalkan air itu sudah jenuh, kemudian akar pohon tidak bisa menahan, ya sudah, itu akan terjadi.
11:17Secara otomatis itu, dinamai hukum alam, itu akan terjadi yang namanya erosi, seperti itu.
11:23Oke, menarik sekali penjelasannya.
11:26Nah, jadi, tapi yang juga jadi banyak pertanyaan, ya, Pak Febri, setelah kemarin terjadi penjalan di Sumatera, ini banyak juga yang bilang,
11:34terus, sebenarnya jika memang tempat tersebut, uang tersebut bisa ditanami sawit, itu standarnya berapa, luasnya berapa hektare?
11:42Ada juga pertanyaan, tadi sebenarnya sempat disinggung sama Pak Febri, ya, bahwa tidak baik ditanam di lahan yang kemiringan, gitu, karena resikonya besar sekali.
11:50Nah, sebenarnya kalau tempat yang pas untuk ditanami sawit itu, tempat yang seperti apa, secara karakteristiknya, kemudian batasannya, Pak?
11:58Batasannya itu sebenarnya umumnya itu sampai seberapa luas saja? Bisa dijelaskan, Pak?
12:06Apa namanya?
12:08Kalau saya menyarankan untuk sawit, ya, ditanam di dataran yang landai saja.
12:16Jangan sampai di topografi yang miring, ya, kalau saya bilang sih, 45 derajat kemiringannya itu, itu sudah sangat rawan sekali.
12:29Kalau apalagi ditanami monokultur, ya, itu sangat rawan sekali, apalagi punya karakteristik seperti sawit, seperti itu.
12:37Kalau untuk berkaitan dengan luasan, ya, kita tidak bisa menentukan, ya.
12:44Ya, itu tergantung dari, apa namanya, pemerintah daerah, ya, ini pemerintah negara di dataran negara, kemudian di daerah juga.
12:57Karena sisi lain, memang sawit itu kan punya nilai ekonomi, ya, jadi kalau misalkan negara mengarahkan ke situ, ya, yang tujuannya adalah ekonomi, ya, jelas penanaman juga akan cukup luas, ya, seperti yang sekarang ditanam itu.
13:17Tapi kalau misalkan secara ekologi, itu, apa ya, ada sisi lain yang sangat membahayakan.
13:26Tidak bisa menggantikan.
13:27Iya, selain, ya, yang menggantikan hutan itu nggak bisa.
13:32Nggak bisa, ya, Pak. Itu udah harga mati, ya, tidak bisa menggantikan fungsi ekologis, ya, Pak, ya.
13:36Betul, betul. Jadi, ada beberapa habitat, ya, kita berbicara terkait satwa, ya, habitat satwa yang hilang karena, apa namanya, misalkan karena sawit dan segala macamnya itu.
13:49Nah, itu sangat, ada beberapa yang sangat dirugikan, lah, kalau untuk dari segi konservasi, seperti itu.
13:58Pada akhirnya yang rugi banyak sekali memang, Pak, ya, kalau kita belajar dari bencana ini tidak hanya satwa juga, ya, banyak sekali banyak hal.
14:08Dari sisi manusia, ya, nyawa yang hilang, kemudian juga dari sisi permukiman yang hilang, akses yang hilang, saat ini ternyata damanya panjang sekali.
14:17Pak Febri, terakhir, sebagai Akademisi Kehutanan, pakarnya nih yang ahli,
14:21Saran Bapak, kebijakan pemerintah ini harusnya apa yang harus diperbaiki, dievaluasi total dari tata kelola hutan, tata kelola lahan, pak?
14:32Karena ini pasti, seperti yang saya alasinggung tadi, banyak pihak yang menilai ini adalah konsekuensi dari buruknya tata kelola lahan dan hutan di Indonesia.
14:42Ya, kalau saran saya sih, kita lebih bijak saja mengelola kawasan hutan, ya,
14:50Karena hutan itu sangat penting, bukan hanya sekedar ekonomi, ya, tapi ada konservasi, mulai dari ada mikroba, mulai dari ada satwa manusia, ya, kemudian suatu waktu alam pun bisa membuat hal yang seperti ini, terjadilah bencana dan segala macamnya.
15:18Nah, kalau misalkan kita berbicara terkait pengelolaan, ya, sebenarnya di, apa namanya ya, di aturan kita itu sudah jelas,
15:35Indonesia itu sudah membagi hutan-hutan yang mana dia masuk menjadi kawasan konservasi, mana yang dia bisa menjadi kawasan pemanfaatan, dan lainnya lah ya.
15:48Jadi, ya, fokus saja pada kawasan yang pemanfaatan, memang yang difungsikan untuk arahnya adalah pemanfaatan itu untuk nilai ekonomi, misalkan ekonomi masyarakat, ataupun dari negara.
16:02Jadi, tidak, jangan, istilahnya jangan semuanya ditanam sawit, ya, karena dampaknya akan berbahaya kalau misalkan semuanya ditanam sawit seperti itu.
16:14Nah, ini juga menyambung ini ya, karena baru saja kita masih memikirkan bencana Sumatera, belum selesai sampai saat ini sudah disinggung lagi,
16:25Papua akan ditanami sawit, menurut Bapak, hal ini bijak nggak sih, Pak, dilakukan, disampaikan saat ini, kemudian kebijakan-bijakan ini,
16:33baiknya apa yang bisa dicegah, dievaluasi, menurut Bapak bagaimana, Pak Febri?
16:40Kalau terkait kebijakan yang akan ada penanaman sawit di Papua, ya, sebaiknya benar-benar dicek terlebih dahulu, ya, terkait kondisi tanah dan segala macamnya,
16:58karena tanah itu ada beberapa yang punya tipe dia remah, ya, jadi mudah, mudah sekali lepas, longsor, nanti ujung-ujungnya longsor, ya, kemudian yang kedua, ya,
17:14bijaki sajalah secara konservasi seperti apa, dibijaki secara yang ekonomi yang seperti apa, jadi tidak melulu kita berbicara ekonomi saja, ya,
17:26kalau misalkan kita melihat dari nilai atau sebenarnya hutan itu bisa dilihat nilai ekonominya, valuasinya, jadi tidak hanya terkait uang yang didapatkan oleh negara atau dari masyarakat,
17:46tapi bagaimana hutan itu menjaga kita itu menjadi valuasi ekonomi yang luar biasa sebetulnya, seperti itu.
17:54Bagus sekali katakan tanya, bagaimana hujan, hutan menjaga kita itu menjadi nilai yang luar biasa, dan tadi bagaimana juga kita sebagai manusia harus bijak juga pemerintah khususnya, ya,
18:07bijak secara konservasi, bijak secara ekonomi, karena walau bagaimanapun, kita kan manusia ini harus hidup berdampingan, ya, Pak, ya, berdampingan dengan alam,
18:17jadi kita juga tidak boleh semena-mena pada alam, agar alam juga bersikap baik pada kita, karena ini kan hukum yang saling berkaitan, ya, Pak Febri, ya,
18:27jadi harusnya memang kita semua ini harus belajar banyak dari kejadian bencana Sumatera kali ini, dan pemahaman-pemahaman seperti ini yang juga pentingnya harus diedukasi ke masyarakat,
18:37agar juga tidak salah kapra secara pengetahuan bahwa memang sangat berbeda antara sawit, kebun sawit, dan juga hutan.
18:44Terima kasih banyak, Pak Febri, atas waktunya dan penjelasannya kepada Soet Keomas TV, terima kasih lain waktu kita bisa membahas lagi lebih dalam tentang hutanan.
18:54Ada Pak Febri dari Akademisi Kutanan Universitas Momadia Malang di Zoomcaster, saya akhiri dulu, terima kasih, Pak, salam sehat, sampai jumpa.
Komentar