00:01Kegiatan kita cukup masif, responsif, di beberapa tempat memang masih tantangan.
00:08Dengan penyumlahan dari tiga provinsi, estimasi yang diperlukan dana adalah sekian,
00:15Puan Presiden, 51,82 triliun.
00:18Benjana ini menjadi benjana nasional, karena berat sekali,
00:20kalau daerah tidak mampu menangani kebenjanaan.
00:24Kalau kami pemerintah daerah tidak mampu membersihkannya,
00:27dengan itu kami meminta pemerintah pusat, pemerintah Aceh membantu kami.
00:33Dengan kondisi kami yang sangat terbatas,
00:36maka kami mohon ulurkan tangan dari pemerintah pusat maupun dari pemerintah provinsi Aceh.
00:47Setelah saya berada di Kecamatan Payabedi, Kabupaten Aceh-Tamiyang,
00:51yang menjadi lokasi dari dapur umum berada, ini adalah situasi malam sangat minim.
00:57Penerangan, tapi saya akan tunjukkan, karena lokasi dari dapur umum ini terpaut cukup jauh dengan pusat kota di Kabupaten Aceh-Tamiyang.
01:06Saya mendapatkan informasi, meskipun bisa ditunjukkan, ini sudah ada dapur umum yang kemudian disiagakan.
01:13Tapi saya tadi sudah konfirmasi kepada Wakil Bupati Aceh-Tamiyang,
01:18bahwa belum ada posko khusus untuk mengungsi.
01:24Saya akan tanyakan hal ini langsung kepada Wakil Bupati Aceh-Tamiyang,
01:31Pak Ismail, yang juga sudah berada di area posko dapur umum ini.
01:36Saya sudah bersama dengan Pak Ismail.
01:38Pak Ismail, izin Pak di PokokopasTV, Pak.
01:41Ya, terima kasih, Pak.
01:44Sebelumnya saya turut pihatin, Pak.
01:46Atas bencana yang terjadi di Kabupaten Aceh-Tamiyang, Bapak juga menjadi korban.
01:50Ya, betul, Pak.
01:52Kondisi rumah Bapak saat ini?
01:53Waduhannya sampai saat ini tidak bisa digunakan, yang selamat cuma asbest, Pak.
01:58Sementara dalamnya abis, porak-poranda, baju semua, berapa-porak itu tidak bisa digunakan lagi.
02:03Pak, saya izin tanyakan, Pak.
02:04Tentu saya mengerti bahwa Bapak dalam kondisi yang sulit, Bapak adalah korban,
02:08tapi Bapak juga harus tetap tegar untuk menyelamatkan warga Bapak.
02:12Tapi bantuan secara masif, saya belum melihat, Pak.
02:16Dan belum ada pos pengungsian. Betul demikian?
02:21Memang benar.
02:23Semenjak kejadian itu, memang kita akui pada saat banjir pertama itu, kita akses susah, Pak.
02:30Mungkin dikarenakan dengan itu, bantuan-bantuan agak lambat.
02:35Dikarenakan dua hari sebelum banjir besar itu, sinyal handphone sudah mati total.
02:42Kita tidak bisa komunikasi.
02:44Destrik juga demikian.
02:45Dan ketika banjir, hubungan darat, transportasi putus total, Pak.
02:50Dari arah Medan ke Tamiang juga tidak bisa.
02:54Juga dari arah Langsa ke Tamiang juga tidak bisa, Pak.
02:56Saya tadi melihat secara langsung situasi di Jembatan Kembar, Pak.
03:01Jembatan Tamiang.
03:03Dan daerah sekitar banyak sekali warga yang membangun akhirnya posko darurat secara mandiri.
03:08Saya juga melihat begitu banyak warga yang kelaparan, kehausan, dan butuh obat-obatan.
03:14Yang jadi polemik ataupun yang jadi kendala, apakah karena statusnya hanya tangkap darurat, bukan bencana nasional?
03:21Ya, sampai sekarang masih tangkap darurat, Pak.
03:23Dan belum bencana nasional.
03:25Apakah itu mempengaruhi proses penyaluran bantuan di sini?
03:28Sangat mempengaruhi.
03:29Walaupun banyak bantuan dari pusat masuk.
03:32Tetapi kan itu tidak mencukupi, Pak.
03:35Nah, bantuan yang masuk saat ini hanya beruntung sembako, obat-obatan, air bersih, gitu.
03:40Sementara itu, infrastruktur kita semua rusak, Pak.
03:44Infrastruktur pemerintahan semua 100% habis.
03:46Sampai sekarang juga, PLN belum hidup, kemudian, jangankan masyarakat, kami sebagai tim aja di sini, yang untuk mendistribusikan.
03:57Kami sangat kewalahan, karena BBM yang tidak ada.
04:01Karena ada beberapa SBB di Aceh Tamiang yang masih tutup, Pak.
04:04Betul.
04:04Karena rusak apa ya?
04:05Karena rusak.
04:06Ya, apakah kesulitan untuk kemudian menangani bencana di Aceh Tamiang ini juga terkendala persoalan anggaran?
04:16Mengenai anggaran ini memang kami sangat sulit.
04:18Karena di APBD itu, APBD kita kan menganggarkan dana tangkap doruan itu sekitar 2 miliar, Pak.
04:25Hanya 2 miliar?
04:261 tahun, ya. 2 miliar 1 tahun.
04:271 tahun?
04:281 tahun cuma 2 miliar, Pak.
04:30Dan itu tidak cukup?
04:31Dan kalau kayak gini keadaan, bukan tidak cukup, Pak.
04:35Jauh, sangat tidak cukup.
04:37Sangat jauh dari kecukupan itu, Pak.
04:40Apakah Bapak berharap dan menginginkan bahwa status bencana di Aceh Tamiang ini dinaikkan, termasuk di Provinsi Aceh, menjadi bencana nasional?
04:50Semestinya, ya banjir Tamiang ini kan sudah sama seperti tsunami ini, Pak.
04:55Sudah sama seperti tsunami?
04:56Sudah sama seperti tsunami.
04:57Bapak kan sudah melihat tadi, rumah hanyut, mobil berjungkir balik, masyarakat kita bagaikan, apa itu ya, udah berkubang, kayak gitu.
05:08Pengungsi di mana-mana, anak-anak sakit di mana-mana, pemukiman warga habis.
05:13Bahkan yang sudah pasti, satu pemukiman habis total.
05:17Bukan kami menyerah, Pak, ya.
05:19Bukan kami menyerah.
05:20Untuk membangun kembali infrastruktur, baik infrastruktur jalan, jembatan, dikarenakan jalan jembatan terputus dua, Pak.
05:30Kalau kami menggunakan pakai APBD, itu jauh, Pak.
05:34Maka kami sangat berharapkan, agar bencana banjir di Tamiang ini bisa dinaikkan statusnya untuk menjadi bencana nasional, Pak.
05:44Harapan, termasuk permintaan itu, bukan berarti Bapak menyerah, bukan berarti Bapak merasa tidak mampu, tapi memang kenyataannya sangat sulit.
05:54Kekurangan itu ada di setiap lini Aceh Tamiang.
05:57Kami akan berupaya sama upadu semaksimal mungkin, untuk berupaya agar untuk Tamiang ini kondusif kembali.
06:06Nah, tapi kembali ke awal tadi, jika menggunakan uang APBD, jauh dari kemungkinan.
Komentar