Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 14 jam yang lalu
JAKARTA, KOMPAS.TV - Ketua Jokowi Mania, Andy Azwan dan Pakar Hukum Tata Negara dan Kuasa Hukum Roy Suryo CS, Refly Harun berbicara soal isu Ijazah diorkestrasi hingga 2029.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Lingkar Madani, Ray Rangkuti bicara soal persaingan politik di tahun 2026 hingga 2029.

Sebelumnya, Saat menyambut kunjungan pengurus PKS, Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono mengungkit kembali luka lama, soal upaya perebutan Ketua Umum dari tangannya, 2021 silam. Kata AHY, "kami mudah memaafkan, tapi sulit melupakan".

Pernyataan politik AHY hanya berselang sepekan, dari pernyataan kader seniornya di DPR, Benny K Harman, yang menyindir soal keaslian ijazah. Tanpa menyebut nama, publik langsung paham siapa yang dimaksud, saat Benny memuji Hakim MK Arsul Sani, yang mau menunjukkan ijazah aslinya tatkala diterpa isu ijazah palsu.

Apakah pernyataan AHY yang mengungkit upaya perebutan Ketua Umum Demokrat, dan sindiran kader soal keaslian ijazah, bagian dari kontestasi dan orkestrasi politik menuju 2029?

Video Editor: Aqshal

Produser: Theo Reza

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/634404/kata-andy-azwan-hingga-refly-harun-soal-isu-ijazah-terus-diorkestrasi-hingga-2029
Transkrip
00:00Anak-anak, mari kita sambingkan Prabowo Gibran versus Prabowo Ahaye.
00:06Kansi yang mana yang paling besar?
00:08Dua-duanya punya kansi yang sama.
00:10Kalau lihat dari foto itu yang bertolak belakang gitu ya.
00:14Ini persaingan politiknya sudah dimulai dari gambar itu.
00:17Jadi yang ngompori kompas TV sebenarnya.
00:20Kita melihat saja nanti by desainnya seperti apa.
00:23Tapi memang orang-orang yang bisa muncul ke permukaan harusnya memang desain politiknya memang harus wajar.
00:29Kalau tidak wajar jadi kurang ajar kan gitu.
00:32Nah kalau soal ijazah ini memang nampaknya tidak akan pernah selesai.
00:37Dikulik-kulik sampai kemudian Pak Jokowi memperlihatkan ijazah itu seperti apa.
00:41Lalu kemudian seperti yang dibilang oleh kader demokrat ya.
00:45Bahwa itu teman saya, sahabat saya tembakannya sudah jelas kepada siapa.
00:51Hanya dua yang bermasalah dalam akhir-akhir ini soal ijazah palsu ya.
00:55Tapi ternyata yang satu berhasil menunjukkan, yang satu tidak.
00:58Jadi di situ saja sudah aja nih bibit-bibit pertentangannya.
01:02Nah mudah-mudahan bibit itu terus dikembangkan malah menurut kita.
01:05Karena ini menjelang pertarungan event politik yang pada intinya kita ingin melihat mana pertarung-pertarung sejatinya.
01:12Aktor-aktor politik memang bermain di ranah panggung depan, panggung belakang.
01:15Tapi panggung tengah itu lebih manis jika dikelola dengan baik dengan menunjukkan identitas dirinya dan kepartainya secara masif.
01:23Jadi mereka-mereka yang sekarang menjadi kadar, kita nggak tahu nih apakah Paldo juga akan menjadi caleg atau bahkan barangkali Paldo nanti.
01:31Kan tidak tahu yang akan menjadi wapresnya dari PSI yang disodorkan.
01:36Kita lihat saja perkembangannya.
01:37Tapi saya suka antara Ahaye dan Gibran menjadi pesaing.
01:41Jangan menjadi teman supaya politik makin ramah.
01:46Oke, dari 2029 persaingan capres atau cowopres nih?
01:48Tergantung Pak Prabowo.
01:50Tapi yang jelas berpartai sikap harus jelas.
01:53Itu yang penting.
01:55Kalau seandainya mau bola lambung, yaudah tunjukin.
01:59Kita sikap kita ijazah begini, yaudah nggak apa-apa gitu.
02:02Daripada, oh bukan konteksnya ini konteksnya itu jangan gitu loh.
02:05Terus yang kedua, kudeta menuduh Pak Jokowi, tuduh aja nggak apa-apa gitu.
02:10Kita bisa jawab masalahnya.
02:11Karena kalau nggak dituduh secara jelas, kita juga bingung.
02:15Kalian serius nggak sih ngelempat isu?
02:16Atau uji coba aja.
02:17Atau ngeliat ini nanti hasil surveinya mana.
02:19Naik nggak nih?
02:20Jangan-jangan inilah sebuah upaya hanya untuk mengaruhkan suasana seperti orang yang dituduh dari tadi.
02:26Oke, mengaruhkan suasana katanya, Mariska.
02:28Begini, sekali lagi saya ingin menegaskan dan kita juga tahu sendiri
02:32tidak pernah ada bukti bahwa Partai Demokrat ada dalam pusaran ini.
02:35Itu yang pertama.
02:36Lalu yang kedua adalah sepertinya kita sudah move on dari permasalahan kudeta Partai Demokrat.
02:41Karena itu sudah lama.
02:42Itu yang mau ngomong.
02:43Mas, kita jelaskan lagi sekali lagi.
02:46Itu kejadiannya adalah pada saat Pak Ahaye sedang menjelaskan tentang perjuangan Partai Demokrat.
02:52Membangun semangat.
02:53Di rumah perjuangan, di rumah perjuangan Partai Demokrat.
02:56Jadi menurut saya itu sangat...
02:58Lalu kemudian apa hubungannya dengan Pak Jokowi?
03:00Karena tidak pernah disebutkan di situ apapun tentang Pak Jokowi.
03:03Dan kami tahu bahwa itu sudah mas kita move on aja dari permasalahan partai, dari permasalahan kudeta partai.
03:08Kita tahu sudah move on dari lama.
03:09Nah, itulah makanya.
03:10Dan yang kedua adalah kenapa kita harus berkutat dengan...
03:14Itu kan kejadian 2023.
03:15...dengan narasi-narasi yang usang seperti ini.
03:18Tidak ternyata ketum.
03:18Narasi-narasi usang tentang bagaimana Partai Demokrat ada dalam pusaran ini.
03:24Karena kita lihat sendiri bahwa Mas Ahaye dalam konteksnya pada saat itu adalah menjelaskan tentang perjuangan Partai Demokrat.
03:31Baiklah, mas waktunya lama kalau kita harus berterima kasih sama semua orang.
03:38Berterima kasih kepada Tuhan.
03:39Bebas dong ngomong Mas Ahaye.
03:41Makanya harus bersih hati dalam...
03:44Ini bukan sesi lagi yang saling ini loh ya.
03:49Dan inilah yang terakhir adalah kami merasa bahwa Partai Demokrat saat ini ada di pemerintahan.
03:54Kamu juga mengerti kapasitas kami sebagai Partai Demokrat dan ingin memberikan yang terbaik untuk masyarakat.
03:58Jadi saya rasa tidak perlu lagi saya berulit-ulit tentang masalah ini.
04:04Karena Partai Demokrat inginnya ini bergerak selesai.
04:07Kita tangkap.
04:07Kita tangkap.
04:08Anda konsisten dari satu.
04:10Sehingga kita bisa bekerja untuk masyarakat tinggal lebih banyak.
04:15Pertama, bagi saya ini persaingan politik.
04:17Dan itu boleh-boleh saja.
04:19Bahkan dalam bacaan saya 2026 mungkin pemainnya bukan lagi Ahaye dengan Demokrat.
04:24Boleh saja di partai yang lain juga akan mulai muncul sebagai persaingan.
04:29Lebih-lebih setelah kemarin mereka melihat rada-rada semuanya turun nih.
04:33Apa upaya yang harus dilakukan dalam 4 tahun ke depan ini untuk menaikan suara gitu.
04:38Wah, kontribusi Partai Demokrat bang.
04:40Saat ini ada di pemerintahan dan kita akan berusaha untuk menunjukkan.
04:43Jangan dipotong.
04:45Kan saya sudah mengatakan tadi, jangan dipotong.
04:47Itu saya nggak bicara soal demokrat.
04:49Bicara semua partai politik.
04:51Itu akan dari 2021 ini akan tampil dengan wajahnya yang sendiri-sendiri gitu.
04:56Dan oleh karena itu, bagi saya, kita terima persaingan ini.
05:00Itu makanya saya menurut.
05:01Nggak usah bahasa-bahasa, baik yang mengarasa bahwa demokrat mau main sendiri.
05:05Anda terima.
05:07Itulah persaingan gitu loh.
05:08Jadi jangan cengeng.
05:09Jangan ini, jangan itu gitu ya.
05:11Itu persaingan.
05:12Dan sebagai jantan gitu, jangan itu.
05:15Ya ada demokrat, oh ya ada lawan.
05:16Itu yang pertama.
05:17Yang kedua, ini kan kalau di wajah ini kan demokrat Ahye melawan Pak Jokowi gitu.
05:25Dibuat ininya.
05:26Kita mudah-mudahan 2026 ke depan, Ahye akan berhadapan langsung dengan Gibran gitu loh.
05:31Karena sejauh ini kelihatan apapun masalahnya, Gibran ini nggak muncul gitu loh.
05:36Selalu aja berdiri di belakang wajah Pak Jokowi.
05:39Kapan nih Gibran muncul sebagai kesuatuatan?
05:44Sebab saingan Gibran nanti itu bukan, saingan Ahye itu, jelaskan bukan Pak Jokowi.
05:52Saingan Ahye itu nanti 2009 namanya Gibran.
05:55Oke.
05:55Nah ini Gibran ini nggak tampil nih, menghadapi isu yang berhubungan dengan keluarganya.
06:01Macam-macam dan sebagainya itu.
06:03Dan sejauh ini kelihatan, apa namanya itu ya, berlindung di belakang bapaknya.
06:08Sementara Ahye sudah mulai sebagai, Ahye bukan sebagai SBI lagi, sebagai ketua umum demokrat, macam-macam.
06:16Oke, Pak Pajung apakah Gibran merekrisah ada Ahye atau bahkan mungkin calon Capres dan Wapres berikutnya nanti 2029?
06:23Iya, kebalik malah.
06:25Kenapa kebalik?
06:26Karena Gibran itu bekerja dalam senyap ya, dan dia adalah satu kekuatan besar untuk 2029.
06:35Dan sudah nggak ada nilai tawar lain bahwa paket Prabowo Gibran itu adalah paket permanen yang susah untuk ditaklukkan.
06:43Berangkat dari situ maka terjadi kegelisahan pada calon-calon lain ya, mungkin dari Mbak Diska punya pimpinan, dari partai-partai lain.
06:51Sehingga terjadi gerakan-gerakan politik yang coba mendelegitimasi karya-karya besar Gibran maupun Jokowi.
06:59Jadi kalau misalnya tadi bahasanya bahwa kenapa partai demokrat tertuduh,
07:03cara kita memandang adalah bukan hal yang tidak ada latar belakangnya kalau kader-kadernya ini satu persatu turun gunung membela Koi Suryo.
07:15Mantan kader.
07:15Yang adalah juga mantan kader demokrat.
07:17Itu juga salah.
07:18Pertanyaan besar kita adalah, gimana etika politik sebagai satu koalisi besar, Jokowi Prabowo Gibran,
07:25demokrat ada di situ, lalu kemudian menghajar Jokowi dan Gibran di situ.
07:29Itu kan tidak etis dari sisi koalisi politik.
07:32Dan ini cara untuk merontokkan nama besar Jokowi dan Gibran yang punya karya besar hari ini sebagai wakilis yang sangat-sangat cerdas.
07:40Mas Agung, Prabowo Gibran sudah paket permanen atau mungkin nanti Ahaya nyusul?
07:46Sangat dinamis ya.
07:47Sangat, ganggu gak ada jika dia?
07:49Cair, cair, cair.
07:50Tidak ada wakil presiden terpilih untuk kedua kali dengan presiden yang sama dalam sejarah Republik.
07:54Saya kira ini peluang bagi semua, apakah itu ketum-ketum, apakah itu menteri, apakah itu kader-kader potensial lain kepala daerah,
08:03untuk membidik, ya kalau di internal Koalisi Indonesia Maju Plus, persaingannya persaingan siapa Cawapresnya.
08:08Tapi kalau di luar Koalisi Indonesia Maju Plus, persaingannya siapa RI1-nya.
08:12Sehingga menurut saya celah elektoral ini harusnya dioptimalkan secara sehat dan konstruktif.
08:17Dalam artian begini, Jokowi efek itu atau teman-teman PSI dan relawan itu sangat tersinggung bila kasus ijasa ini di otak atik.
08:24Kenapa? Karena ini bisa mempengaruhi Jokowi efek untuk 2029 ketika meng-endorse PSI, meng-endorse Gibran ataupun Kaisar dan seterusnya.
08:31Tapi yang paling penting, calon-calon potensial yang memang ngumbi di kursi Cawapres tadi harus punya efek juga.
08:37Misalkan ahaya efek ini mau apa bentuknya? Mau isu apa? Mau panggung apa? Mau kebijakan apa?
08:43Ini karena harus ditemukan. Atau yang lain, bahlil efek misalkan. Atau siapa lagi?
08:47Sehingga maksud saya di sini adalah bagaimana pertarungan ini dibuka saja biar publik tercerdaskan.
08:52Jadi nggak usah ragu, kemudian sembunyi dan seterusnya. Supaya apa? Jelas, tegas dan cerdas kita semua.
08:59Oke, baik. Bang Andi, jadi apakah isu ijazah akan terus diorkestrasi sampai 2029?
09:04Apakah isu ijazah masih terus akan diorkestrasi sampai 2029?
09:07Iya, pasti lah kalau gitu. Tapi kecuali kalau mereka-mereka ini memang ditahan, kemudian prosesnya lebih cepat di pengadilan.
09:16Oke.
09:17Itu pasti sudah akan cepat clear untuk kita.
09:20Tapi kalau kita lihat, ini kan sudah ada yang genit-genit, sudah mulai bermain-main, bermanuver, bermanuver itu.
09:29Saya akan tambahkan, kalau kita lihat bagaimana Prabowo Gibran, hasil survei itu 73% ke atas.
09:37Artinya, akseptabilitas dari masyarakat Indonesia, hasil kerja dari Pak Prabowo dan Mas Gibran ini,
09:43ini diterima dengan baik gitu loh.
09:46Oke.
09:46Apalagi ketika Mas Gibran ini dipercaya betul oleh Pak Presiden untuk menggantikan beliau untuk KTTG 20.
09:54Yang selama ini dikatakan, Mas Gibran tidak bisa bahasa Inggris, tidak bisa berbicara yang lugas, pelangga-pelongo.
10:05Itu terbantakan kepada para pembenci-pembenci Mas Gibran.
10:08Oke.
10:08Jadi ingat, Pak Jokowi bahasa Inggrisnya, dua jempol, Mas Gibran, bahasa Inggrisnya, dua jempol juga.
10:17Oke baik, Pak Refli, sebetulnya kawan-kawan mahasiswa, tolong undang Pak Gibran untuk datang ke kampus.
10:21Oke baik, Pak Refli, sudah bisa dong.
10:24Pak Refli, sudah mau ngomong.
10:25Pak Refli, sudah bisa.
10:27Satu ya, tidak gampang rupanya menjadi orang sopan dalam perdebatan yang liar begini.
10:32Namanya juga bola liar.
10:34Karena tidak pernah diberi kesempatan.
10:36Sementara saya tidak mau menginterupsi, itu satu.
10:39Yang kedua, kita diharuskan percaya dengan jurubicara-jurubicara partai politik.
10:46Padahal kita tahu kerja partai politik itu adalah main panggung depan, main panggung belakang.
10:51Panggung depan ngomong apa, belakang ngomong apa.
10:53Ya termasuk PSI, Demokrat, dan lain sebagainya.
10:57Jadi kita berasumsi bahwa kita benar, suci, dan lain sebagainya.
11:01Itu misalnya tidak begitu.
11:02Yang ketiga, persaingan itu biasa saja dalam politik.
11:07Kenapa kita alergi sekali?
11:09Kebiasaan partai politik itu riding boat itu biasa.
11:12Semua partai politik akan memanfaatkan celah apapun.
11:15Apalagi kalau dia berada di posisi oposisi misalnya.
11:19Tapi kalau dia di pemerintahan, dia akan muter-muter dan lain sebagainya.
11:23Karena persaingan itu real.
11:25Karena ini kita multi-party system.
11:26Tetapi kalau kita mau bicara tentang fakta, data, analisis, atau sekedar opini.
11:33Ya kita harus lihat dong.
11:34Masa 8 tersangka, 1 mantan Demokrat, tiba-tiba Demokrat yang mengorkestrasi.
11:40Itu kan nggak masuk akal namanya.
11:42Tapi makanya saya kasih reserve.
11:45Kalau dia orkestrasi, saya meragukannya.
11:47Artinya kalau dia di depan loh, sebagai dirijan, sebagai inisiator.
11:51Tapi kalau dia riding the wave, mungkin saja.
11:53Dan jangan lupa, kalau eskalasi ini makin meningkat,
11:57maka akan banyak partai riding the wave.
11:59Sebagai contoh misalnya begini.
12:01Kalau misalnya eskalasi untuk impeachment terhadap Gibran itu meningkat,
12:05semua partai akan ikut.
12:07Oke, baik.
12:08Terima kasih semua yang harus saya malam ini.
12:10Sampai jumpa.
12:11Sampai jumpa di depan.
12:12Saya masih utarikan.
12:13Baik.
Jadilah yang pertama berkomentar
Tambahkan komentar Anda

Dianjurkan