00:00Anak-anak, mari kita sambingkan Prabowo Gibran versus Prabowo Ahaye.
00:06Kansi yang mana yang paling besar?
00:08Dua-duanya punya kansi yang sama.
00:10Kalau lihat dari foto itu yang bertolak belakang gitu ya.
00:14Ini persaingan politiknya sudah dimulai dari gambar itu.
00:17Jadi yang ngompori kompas TV sebenarnya.
00:20Kita melihat saja nanti by desainnya seperti apa.
00:23Tapi memang orang-orang yang bisa muncul ke permukaan harusnya memang desain politiknya memang harus wajar.
00:29Kalau tidak wajar jadi kurang ajar kan gitu.
00:32Nah kalau soal ijazah ini memang nampaknya tidak akan pernah selesai.
00:37Dikulik-kulik sampai kemudian Pak Jokowi memperlihatkan ijazah itu seperti apa.
00:41Lalu kemudian seperti yang dibilang oleh kader demokrat ya.
00:45Bahwa itu teman saya, sahabat saya tembakannya sudah jelas kepada siapa.
00:51Hanya dua yang bermasalah dalam akhir-akhir ini soal ijazah palsu ya.
00:55Tapi ternyata yang satu berhasil menunjukkan, yang satu tidak.
00:58Jadi di situ saja sudah aja nih bibit-bibit pertentangannya.
01:02Nah mudah-mudahan bibit itu terus dikembangkan malah menurut kita.
01:05Karena ini menjelang pertarungan event politik yang pada intinya kita ingin melihat mana pertarung-pertarung sejatinya.
01:12Aktor-aktor politik memang bermain di ranah panggung depan, panggung belakang.
01:15Tapi panggung tengah itu lebih manis jika dikelola dengan baik dengan menunjukkan identitas dirinya dan kepartainya secara masif.
01:23Jadi mereka-mereka yang sekarang menjadi kadar, kita nggak tahu nih apakah Paldo juga akan menjadi caleg atau bahkan barangkali Paldo nanti.
01:31Kan tidak tahu yang akan menjadi wapresnya dari PSI yang disodorkan.
01:36Kita lihat saja perkembangannya.
01:37Tapi saya suka antara Ahaye dan Gibran menjadi pesaing.
01:41Jangan menjadi teman supaya politik makin ramah.
01:46Oke, dari 2029 persaingan capres atau cowopres nih?
01:48Tergantung Pak Prabowo.
01:50Tapi yang jelas berpartai sikap harus jelas.
01:53Itu yang penting.
01:55Kalau seandainya mau bola lambung, yaudah tunjukin.
01:59Kita sikap kita ijazah begini, yaudah nggak apa-apa gitu.
02:02Daripada, oh bukan konteksnya ini konteksnya itu jangan gitu loh.
02:05Terus yang kedua, kudeta menuduh Pak Jokowi, tuduh aja nggak apa-apa gitu.
02:10Kita bisa jawab masalahnya.
02:11Karena kalau nggak dituduh secara jelas, kita juga bingung.
02:15Kalian serius nggak sih ngelempat isu?
02:16Atau uji coba aja.
02:17Atau ngeliat ini nanti hasil surveinya mana.
02:19Naik nggak nih?
02:20Jangan-jangan inilah sebuah upaya hanya untuk mengaruhkan suasana seperti orang yang dituduh dari tadi.
02:26Oke, mengaruhkan suasana katanya, Mariska.
02:28Begini, sekali lagi saya ingin menegaskan dan kita juga tahu sendiri
02:32tidak pernah ada bukti bahwa Partai Demokrat ada dalam pusaran ini.
02:35Itu yang pertama.
02:36Lalu yang kedua adalah sepertinya kita sudah move on dari permasalahan kudeta Partai Demokrat.
02:41Karena itu sudah lama.
02:42Itu yang mau ngomong.
02:43Mas, kita jelaskan lagi sekali lagi.
02:46Itu kejadiannya adalah pada saat Pak Ahaye sedang menjelaskan tentang perjuangan Partai Demokrat.
02:52Membangun semangat.
02:53Di rumah perjuangan, di rumah perjuangan Partai Demokrat.
02:56Jadi menurut saya itu sangat...
02:58Lalu kemudian apa hubungannya dengan Pak Jokowi?
03:00Karena tidak pernah disebutkan di situ apapun tentang Pak Jokowi.
03:03Dan kami tahu bahwa itu sudah mas kita move on aja dari permasalahan partai, dari permasalahan kudeta partai.
03:08Kita tahu sudah move on dari lama.
03:09Nah, itulah makanya.
03:10Dan yang kedua adalah kenapa kita harus berkutat dengan...
03:14Itu kan kejadian 2023.
03:15...dengan narasi-narasi yang usang seperti ini.
03:18Tidak ternyata ketum.
03:18Narasi-narasi usang tentang bagaimana Partai Demokrat ada dalam pusaran ini.
03:24Karena kita lihat sendiri bahwa Mas Ahaye dalam konteksnya pada saat itu adalah menjelaskan tentang perjuangan Partai Demokrat.
03:31Baiklah, mas waktunya lama kalau kita harus berterima kasih sama semua orang.
03:38Berterima kasih kepada Tuhan.
03:39Bebas dong ngomong Mas Ahaye.
03:41Makanya harus bersih hati dalam...
03:44Ini bukan sesi lagi yang saling ini loh ya.
03:49Dan inilah yang terakhir adalah kami merasa bahwa Partai Demokrat saat ini ada di pemerintahan.
03:54Kamu juga mengerti kapasitas kami sebagai Partai Demokrat dan ingin memberikan yang terbaik untuk masyarakat.
03:58Jadi saya rasa tidak perlu lagi saya berulit-ulit tentang masalah ini.
04:04Karena Partai Demokrat inginnya ini bergerak selesai.
04:07Kita tangkap.
04:07Kita tangkap.
04:08Anda konsisten dari satu.
04:10Sehingga kita bisa bekerja untuk masyarakat tinggal lebih banyak.
04:15Pertama, bagi saya ini persaingan politik.
04:17Dan itu boleh-boleh saja.
04:19Bahkan dalam bacaan saya 2026 mungkin pemainnya bukan lagi Ahaye dengan Demokrat.
04:24Boleh saja di partai yang lain juga akan mulai muncul sebagai persaingan.
04:29Lebih-lebih setelah kemarin mereka melihat rada-rada semuanya turun nih.
04:33Apa upaya yang harus dilakukan dalam 4 tahun ke depan ini untuk menaikan suara gitu.
04:38Wah, kontribusi Partai Demokrat bang.
04:40Saat ini ada di pemerintahan dan kita akan berusaha untuk menunjukkan.
04:43Jangan dipotong.
04:45Kan saya sudah mengatakan tadi, jangan dipotong.
04:47Itu saya nggak bicara soal demokrat.
04:49Bicara semua partai politik.
04:51Itu akan dari 2021 ini akan tampil dengan wajahnya yang sendiri-sendiri gitu.
04:56Dan oleh karena itu, bagi saya, kita terima persaingan ini.
05:00Itu makanya saya menurut.
05:01Nggak usah bahasa-bahasa, baik yang mengarasa bahwa demokrat mau main sendiri.
05:05Anda terima.
05:07Itulah persaingan gitu loh.
05:08Jadi jangan cengeng.
05:09Jangan ini, jangan itu gitu ya.
05:11Itu persaingan.
05:12Dan sebagai jantan gitu, jangan itu.
05:15Ya ada demokrat, oh ya ada lawan.
05:16Itu yang pertama.
05:17Yang kedua, ini kan kalau di wajah ini kan demokrat Ahye melawan Pak Jokowi gitu.
05:25Dibuat ininya.
05:26Kita mudah-mudahan 2026 ke depan, Ahye akan berhadapan langsung dengan Gibran gitu loh.
05:31Karena sejauh ini kelihatan apapun masalahnya, Gibran ini nggak muncul gitu loh.
05:36Selalu aja berdiri di belakang wajah Pak Jokowi.
05:39Kapan nih Gibran muncul sebagai kesuatuatan?
05:44Sebab saingan Gibran nanti itu bukan, saingan Ahye itu, jelaskan bukan Pak Jokowi.
05:52Saingan Ahye itu nanti 2009 namanya Gibran.
05:55Oke.
05:55Nah ini Gibran ini nggak tampil nih, menghadapi isu yang berhubungan dengan keluarganya.
06:01Macam-macam dan sebagainya itu.
06:03Dan sejauh ini kelihatan, apa namanya itu ya, berlindung di belakang bapaknya.
06:08Sementara Ahye sudah mulai sebagai, Ahye bukan sebagai SBI lagi, sebagai ketua umum demokrat, macam-macam.
06:16Oke, Pak Pajung apakah Gibran merekrisah ada Ahye atau bahkan mungkin calon Capres dan Wapres berikutnya nanti 2029?
06:23Iya, kebalik malah.
06:25Kenapa kebalik?
06:26Karena Gibran itu bekerja dalam senyap ya, dan dia adalah satu kekuatan besar untuk 2029.
06:35Dan sudah nggak ada nilai tawar lain bahwa paket Prabowo Gibran itu adalah paket permanen yang susah untuk ditaklukkan.
06:43Berangkat dari situ maka terjadi kegelisahan pada calon-calon lain ya, mungkin dari Mbak Diska punya pimpinan, dari partai-partai lain.
06:51Sehingga terjadi gerakan-gerakan politik yang coba mendelegitimasi karya-karya besar Gibran maupun Jokowi.
06:59Jadi kalau misalnya tadi bahasanya bahwa kenapa partai demokrat tertuduh,
07:03cara kita memandang adalah bukan hal yang tidak ada latar belakangnya kalau kader-kadernya ini satu persatu turun gunung membela Koi Suryo.
07:15Mantan kader.
07:15Yang adalah juga mantan kader demokrat.
07:17Itu juga salah.
07:18Pertanyaan besar kita adalah, gimana etika politik sebagai satu koalisi besar, Jokowi Prabowo Gibran,
07:25demokrat ada di situ, lalu kemudian menghajar Jokowi dan Gibran di situ.
07:29Itu kan tidak etis dari sisi koalisi politik.
07:32Dan ini cara untuk merontokkan nama besar Jokowi dan Gibran yang punya karya besar hari ini sebagai wakilis yang sangat-sangat cerdas.
07:40Mas Agung, Prabowo Gibran sudah paket permanen atau mungkin nanti Ahaya nyusul?
07:46Sangat dinamis ya.
07:47Sangat, ganggu gak ada jika dia?
07:49Cair, cair, cair.
07:50Tidak ada wakil presiden terpilih untuk kedua kali dengan presiden yang sama dalam sejarah Republik.
07:54Saya kira ini peluang bagi semua, apakah itu ketum-ketum, apakah itu menteri, apakah itu kader-kader potensial lain kepala daerah,
08:03untuk membidik, ya kalau di internal Koalisi Indonesia Maju Plus, persaingannya persaingan siapa Cawapresnya.
08:08Tapi kalau di luar Koalisi Indonesia Maju Plus, persaingannya siapa RI1-nya.
08:12Sehingga menurut saya celah elektoral ini harusnya dioptimalkan secara sehat dan konstruktif.
08:17Dalam artian begini, Jokowi efek itu atau teman-teman PSI dan relawan itu sangat tersinggung bila kasus ijasa ini di otak atik.
08:24Kenapa? Karena ini bisa mempengaruhi Jokowi efek untuk 2029 ketika meng-endorse PSI, meng-endorse Gibran ataupun Kaisar dan seterusnya.
08:31Tapi yang paling penting, calon-calon potensial yang memang ngumbi di kursi Cawapres tadi harus punya efek juga.
08:37Misalkan ahaya efek ini mau apa bentuknya? Mau isu apa? Mau panggung apa? Mau kebijakan apa?
08:43Ini karena harus ditemukan. Atau yang lain, bahlil efek misalkan. Atau siapa lagi?
08:47Sehingga maksud saya di sini adalah bagaimana pertarungan ini dibuka saja biar publik tercerdaskan.
08:52Jadi nggak usah ragu, kemudian sembunyi dan seterusnya. Supaya apa? Jelas, tegas dan cerdas kita semua.
08:59Oke, baik. Bang Andi, jadi apakah isu ijazah akan terus diorkestrasi sampai 2029?
09:04Apakah isu ijazah masih terus akan diorkestrasi sampai 2029?
09:07Iya, pasti lah kalau gitu. Tapi kecuali kalau mereka-mereka ini memang ditahan, kemudian prosesnya lebih cepat di pengadilan.
09:16Oke.
09:17Itu pasti sudah akan cepat clear untuk kita.
09:20Tapi kalau kita lihat, ini kan sudah ada yang genit-genit, sudah mulai bermain-main, bermanuver, bermanuver itu.
09:29Saya akan tambahkan, kalau kita lihat bagaimana Prabowo Gibran, hasil survei itu 73% ke atas.
09:37Artinya, akseptabilitas dari masyarakat Indonesia, hasil kerja dari Pak Prabowo dan Mas Gibran ini,
09:43ini diterima dengan baik gitu loh.
09:46Oke.
09:46Apalagi ketika Mas Gibran ini dipercaya betul oleh Pak Presiden untuk menggantikan beliau untuk KTTG 20.
09:54Yang selama ini dikatakan, Mas Gibran tidak bisa bahasa Inggris, tidak bisa berbicara yang lugas, pelangga-pelongo.
10:05Itu terbantakan kepada para pembenci-pembenci Mas Gibran.
10:08Oke.
10:08Jadi ingat, Pak Jokowi bahasa Inggrisnya, dua jempol, Mas Gibran, bahasa Inggrisnya, dua jempol juga.
10:17Oke baik, Pak Refli, sebetulnya kawan-kawan mahasiswa, tolong undang Pak Gibran untuk datang ke kampus.
10:21Oke baik, Pak Refli, sudah bisa dong.
10:24Pak Refli, sudah mau ngomong.
10:25Pak Refli, sudah bisa.
10:27Satu ya, tidak gampang rupanya menjadi orang sopan dalam perdebatan yang liar begini.
10:32Namanya juga bola liar.
10:34Karena tidak pernah diberi kesempatan.
10:36Sementara saya tidak mau menginterupsi, itu satu.
10:39Yang kedua, kita diharuskan percaya dengan jurubicara-jurubicara partai politik.
10:46Padahal kita tahu kerja partai politik itu adalah main panggung depan, main panggung belakang.
10:51Panggung depan ngomong apa, belakang ngomong apa.
10:53Ya termasuk PSI, Demokrat, dan lain sebagainya.
10:57Jadi kita berasumsi bahwa kita benar, suci, dan lain sebagainya.
11:01Itu misalnya tidak begitu.
11:02Yang ketiga, persaingan itu biasa saja dalam politik.
11:07Kenapa kita alergi sekali?
11:09Kebiasaan partai politik itu riding boat itu biasa.
11:12Semua partai politik akan memanfaatkan celah apapun.
11:15Apalagi kalau dia berada di posisi oposisi misalnya.
11:19Tapi kalau dia di pemerintahan, dia akan muter-muter dan lain sebagainya.
11:23Karena persaingan itu real.
11:25Karena ini kita multi-party system.
11:26Tetapi kalau kita mau bicara tentang fakta, data, analisis, atau sekedar opini.
11:33Ya kita harus lihat dong.
11:34Masa 8 tersangka, 1 mantan Demokrat, tiba-tiba Demokrat yang mengorkestrasi.
11:40Itu kan nggak masuk akal namanya.
11:42Tapi makanya saya kasih reserve.
11:45Kalau dia orkestrasi, saya meragukannya.
11:47Artinya kalau dia di depan loh, sebagai dirijan, sebagai inisiator.
11:51Tapi kalau dia riding the wave, mungkin saja.
11:53Dan jangan lupa, kalau eskalasi ini makin meningkat,
11:57maka akan banyak partai riding the wave.
11:59Sebagai contoh misalnya begini.
12:01Kalau misalnya eskalasi untuk impeachment terhadap Gibran itu meningkat,
12:05semua partai akan ikut.
12:07Oke, baik.
12:08Terima kasih semua yang harus saya malam ini.
12:10Sampai jumpa.
12:11Sampai jumpa di depan.
12:12Saya masih utarikan.
12:13Baik.
Komentar