Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV - Banjir bandang dahsyat yang melanda Sumatera Utara meninggalkan persoalan serius terkait munculnya kayu-kayu gelondongan yang terbawa arus sungai. Banjir bandang membawa muatan gelondongan kayu di Kabupaten Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, hingga Sibolga.

Diduga, kayu gelondongan itu berasal dari penebangan liar yang ikut memperparah banjir dan longsor.

Apakah adanya gelondongan kayu yang terbawa banjir bisa jadi petunjuk bahwa banjir di Sumatera Utara terjadi karena penebangan hutan?

Kami akan membahasnya bersama Kepala Kampanye Global Hutan Indonesia Greenpeace, Kiki Taufik.

Baca Juga [FULL] Pengungsi Banjir & Longsor di Pidie Aceh Ungkap Kronologi Longsor-Butuh Bantuan Makanan di https://www.kompas.tv/nasional/634415/full-pengungsi-banjir-longsor-di-pidie-aceh-ungkap-kronologi-longsor-butuh-bantuan-makanan

#kayugelondongan #greenpeace #banjir #sumaterautara

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/634420/blak-blakan-greenpeace-ungkap-fakta-di-balik-kayu-gelondongan-saat-banjir-terjang-sumut
Transkrip
00:00Apakah adanya gelondongan kayu yang terbawa banjir bisa jadi petunjuk bahwa banjir di Sumatera Utara terjadi karena penebangan hutan?
00:07Kami akan membahasnya bersama Kepala Kampanye Global Hutan Indonesia Greenpeace, Kiki Taufik. Mas Kiki, selamat petang.
00:14Selamat petang, Mas.
00:16Mas Kiki, apakah berdasarkan temuan dari Greenpeace sudah dapat dikonfirmasi bahwa bencana yang terjadi di Sumatera ini disebabkan karena penebangan hutan?
00:24Baik, terima kasih, Mas. Pertama-tama, ya sebelum saya menjawab itu, saya ingin menyampaikan turut berduka cita terhadap semua korban banjir bandang yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
00:40Kami turut berduka dan sama-sama berduka semoga masyarakat yang mendapatkan musibah ini segera mendapatkan pertolongan seperti itu.
00:54Nah, tadi pertanyaannya apakah ini betul-betul mengindikasi bahwa adanya penebangan hutan yang masif?
01:01Ya, bahwa terjadinya, bahwa kejadian ini memang awalnya disebabkan adanya cuaca ekstrim dengan siklus tropis senyar yang terjadi pada tanggal 25 sampai 27 November di Selat Malaka.
01:18Jadi ini terjadi secara regional ya, di Selat Malaka.
01:22Yang karena itu ada Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, kemudian arahnya itu lanjut ke Malaysia.
01:28Nah, tetapi bukan hanya karena siklon tropis senyar ini, tapi penyebab utamanya adalah karena daya dukung yang ada di wilayah das,
01:42daerah aliran sungai di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat ini sudah tidak lagi seimbang.
01:49Artinya, ada banyak sekali perubahan tutupan hutan di wilayah-wilayah hulu yang menyebabkan terjadinya banjir bandang seperti ini.
02:01Dan artinya bahwa pertanyaannya, apakah ini mengindikasikan terjadinya deforestasi?
02:07Ya, terjadi deforestasi yang sangat masif di bagian hulu, bagian tengah, di das-das yang ada di wilayah tiga provinsi tersebut.
02:17Oke, berdasarkan data Greenpeace, seberapa parah sebenarnya deforestasi yang terjadi di Sumatera, Mas?
02:24Oke, Sumatera saat ini, hutan alam tersisa di Sumatera saat ini hanya tinggal kurang lebih 12 juta hektare.
02:3411,6 juta hektare.
02:36Atau 24 persen dari total hutan alam yang ada di Indonesia.
02:4224 persen?
02:42Betul, 75 persennya itu sudah berubah fungsi.
02:48Kebun sawit itu paling besar, kemudian kebun kayu atau HTI itu yang kedua, dan berikutnya adalah pertambangan.
02:55Tentu ada juga pemukiman, tapi itu kecil ya, pemukiman, pertanian masyarakat itu kecil.
03:04Tapi paling besar adalah tiga industri itu.
03:06Apakah Greenpeace juga memiliki data, Mas Giki, siapa sebenarnya yang melakukan penembakan hutan sehingga membuat hutan di Sumatera Utara yang tertutup hanya tinggal 25 persen?
03:19Baik, jadi kalau kita melihat secara general, sebenarnya kita bisa lihat lebih detail lagi bahwa tutupan hutan yang berubah di Sumatera ini memang tidak terjadi dalam waktu singkat.
03:34Memang sejak tahun 1990 sampai saat ini terjadi deforestasi yang sangat masif di Sumatera.
03:43Nah, pelakunya tentu tadi setelah saya sampaikan adalah pertama industri kelapa sawit, yang kedua industri pup and paper atau kayu, dan yang ketiga itu adalah industri pertambangan.
03:59Nah, saat ini ada beberapa industri atau perusahaan yang mengindikasikan, terindikasi memberikan dampak yang sangat signifikan, terutama di Sumatera Utara.
04:11Yang pertama adalah PT Toba Pub and Lestari.
04:15Toba atau TPL ya, Toba Pub Lestari ini, ini adalah sebuah perusahaan kayu, pub and paper, yang wilayahnya cukup luas.
04:26Dan itu ada di Tapanuli bagian hulu.
04:31Nah, beberapa waktu yang lalu, ada masyarakat, sejumlah masyarakat, masyarakat setempat yang menolak dan meminta pemerintah untuk menutup TPL.
04:41Karena memang menyebabkan pada saat itu, mereka sudah merasakan dampak dari Toba Pub Lestari itu.
04:49Kemudian ada juga tentu pertambangan ilegal, yang kita sudah lihat di tambang emas gitu ya.
04:57Kemudian ada juga kebun-kebun sawit di sekitar itu.
05:02Dan juga ada pembangunan PLTA Batang Toru, itu juga cukup memberikan kontribusi.
05:09Oke, saya ingin tanyakan Mas Iki Bawa, tadi Anda menyebutkan deforestasi yang terjadi di Sumatera sudah terjadi sejak tahun 1990.
05:16Artinya berjalan 25 tahun. Apakah praktik ini berjalan dengan aturan ataupun legal, atau justru ada tindak ilegal di sana?
05:25Nah, ini yang jadi permasalahan utama ya.
05:28Sebenarnya beberapa tahun terakhir itu kami selalu menyampaikan kepada pemerintah untuk mereview izin-izin.
05:37Ijin-izin konsesi. Kenapa seperti ini? Karena ini kejadian yang berulang.
05:43Jadi saat ini kita ini dalam kondisi krisis iklim.
05:47Artinya perubahan cuaca, iklim yang berubah itu sangat cepat.
05:51Dan kita tidak prediksi itu.
05:55Pada saat terjadi nyala nina seperti ini, atau musim basah seperti ini,
06:01bisa jadi kejadian banjir bandang itu akan semakin sering dan terjadi di banyak wilayah.
06:07Oke, ketika Greenpeace meminta pemerintah mereview kembali izinnya, tanggapan pemerintah seperti apa Mas Kiki?
06:14Ya, saat ini yang menjadi pertanyaan kepada pemerintah adalah apakah pemerintah punya roadmap yang jelas untuk menyelamatkan lingkungan di Indonesia.
06:26Selalu mereka, jadi data-data ini memang data-data yang kami sudah pernah masuk ini ke dalam omisi informasi publik ya.
06:38Kita pernah bersengketa dengan kementerian terkait pada saat kita meminta data.
06:43Karena data ini seharusnya data publik.
06:45Tetapi data-data tertentu, termasuk misalnya izin-izin-izin konsesi, ini dikecualikan.
06:52Nah, kalau data saja tidak transparan, bagaimana kita bisa memonitor dan mengawasi?
06:59Nah, dalam beberapa waktu yang lalu memang ada moratorium hutan dan lahan gambut.
07:06Itu bagus dan itu harus dipertahankan.
07:08Tetapi di saat yang bersamaan masih ada pemberian izin di wilayah-wilayah yang sangat berbahaya.
07:15Saat ini musim hujan, kita ketemu banjir.
07:17Nanti di musim kemarau, itu kita akan ketemu kebakaran lahan dan gambut.
07:23Dan ini selalu berulang.
07:24Jadi, kita ini adalah bangsa yang besar namun tidak belajar dari apa yang sudah terjadi berulang kali di Indonesia.
07:33Baik, kita tunggu langkah konkret pemerintah untuk kemudian mengembalikan hutan di Sumatera yang telah hilang.
07:39Terima kasih, Kepala Kampanye Global Hutan Indonesia Greenpeace, Mas Kiki Tafik telah bergabung di Kompas Petang.
07:45Terima kasih, Mas.
Jadilah yang pertama berkomentar
Tambahkan komentar Anda

Dianjurkan