00:00Wow, Pak Menteri, kalau dengar cerita ini, keren banget, inspiring ya.
00:12Jadi memang yang namanya belajar itu saat ini tidak lagi dibatasi ruang-ruang kelas.
00:23Tadi kita dengar cerita, thank you banget ini juga buat Kompas TV luar biasa.
00:28Hal-hal seperti ini saya rasa perlu terus diperbanyak ya Mbak Rosi supaya orang-orang kita, adik-adik kita terutama mahasiswa itu bisa melihat bahwa keterbatasan, permasalahan itu justru menjadi sumber kemajuan.
00:49Jadi adik-adik mahasiswa kalau zaman sekarang sering kita dapati, aduh masalah berat banget sih, tugas banyak banget, uang bulanan terlambat.
01:03Jadi keterbatasan-keterbatasan yang ada, itu justru kalau kita belajar dari tiga orang inovator tadi, itu karena keterbatasan lah mereka memiliki atau bisa membuat kemajuan.
01:18Senang tadi dengar salah satu apa yang dikatakan oleh Raim, karena kegelisahan, dan gelisah itu bukan hanya karena melihat diri sendiri ya, tapi melihat sekitar.
01:31Bagaimana kita melihat di sekitar kita dan kita ingin menjadi bagian dari kemajuan komunitas kita.
01:37Kan jarak antara masalah dan solusi itu peluang usaha, ekonomi di dalamnya.
01:45Biasanya keresan-keresan siapa yang rajin resah, kan mahasiswa rajin di doktrin sama abang-abang sama dosen kita, kayak mahasiswa harus kritis, itu dia kritis tadi tuh.
01:56Rajin resah, kritis aja, kenapa ini balkon begini, kritis aja tidak apa-apa sama rektornya langsung.
02:04Kenapa ini semua ini?
02:05Pak Rektor, inovasi undip katanya banyak sekali ya?
02:11Jadi tahun ini kita di DS-68, Mbak Rosi, kita kemarin display 35 inovasi 2025 undip.
02:20Kami terima kasih Pak Menteri juga ikut menyaksikan bentuk-bentuknya apa, tapi poinnya sama dengan yang dibilang oleh Mas Raim ya, keresahan.
02:31Pak Menteri punya tagline, Dikti Saintec berdampak.
02:37Alhamdulillah kita tanggal 29 April 2024, kali pertama saya dilantik jadi rektor, tagline-nya langsung itu, bermartabat, bermanfaat gitu.
02:46Jadi sebaik-baik orang adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain, sebaik-baik kampus adalah yang paling banyak manfaatnya bagi masyarakat gitu.
02:55Ini untuk, saya mau benar gak nih Pak Rektor?
03:02Data terbaru yang dirilis oleh Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual, DJKI, Kementerian Hukum dan HAM, 25 Oktober 2025, undip berhasil menempati peringkat kedua sebagai perguruan tinggi dengan jumlah permohonan patent terbanyak di Indonesia selama satu dekade terakhir.
03:25Selamat buat undip.
03:27Totalnya 1.165 permohonan.
03:31Betul.
03:32Paten kali.
03:34Betul Mbak Rasi.
03:36Jadi tadi sama dengan Mas Jamal ya, kita juga resah juga Mas Raim, Mbak Cipta, ada universitas sebesar ini di Jawa Tengah, tapi banyak problem di Pantura.
03:49Pantura itu kan ada rob, ada banjir dan lain sebagainya.
03:52Makanya yang kita highlight pertama adalah mesin desalinasi.
03:57Yang bisa mengubah air laut, air payo, air siap minum.
04:00Jadi undip juga melakukan inovasi itu ya, seperti Mas Jamal.
04:04Ya, jadi air laut sekalian bisa.
04:08Jadi kita sudah bangun di Brebes, kemudian di Pemalang, kemudian Jepara, di Denmark juga.
04:16Tiga malahan di Denmark, demak maksudnya sayung Denmark.
04:19Di Blora, di Blora karena banyak kapur Mbak Rasi.
04:28Jadi katanya ada relate dengan stunting.
04:31Kalau terlalu banyak yang diminum, terlalu banyak kapur, potensi stuntingnya tinggi.
04:34Sama juga yang di Brebes, juga banyak stunting karena terlalu banyak tercemar pesticida.
04:39Kita buat.
04:40Ini pertanyaan agak filosofis.
04:42Sebenarnya orang kreatif lalu membuat inovasi, mencoba terus inovasi,
04:49melakukan terus inovasi, itu sebenarnya is it given or earned?
04:53Apakah itu memang sudah diciptakan oleh sang pencipta, jadi bagian dari talentanya?
05:01Atau itu sesuatu yang harus diraih sendiri oleh manusia?
05:06Raim, kamu kan kelihatannya bijaksana.
05:11Dua-duanya, kalau sejauh pengalamannya saya, dua-duanya, dua-duanya.
05:17Bahkan saya bisa lebih mengenal wakat hobi di saat saya lagi di Jakarta.
05:21Anehnya teori ini, bahkan saya bisa lebih, oh karena ada pembanding berarti.
05:26Kita di wakat hobi begini, begini terus.
05:28Jadi kamu lebih mencintai wakat hobi setelah berada di Jakarta?
05:32Kita jauh lebih melihat sesuatu in bigger picture kali.
05:36Betul.
05:36Jauh lebih lensanya, lebih wide, jadi oh orang lain seperti ini.
05:41Padahal, nah dengan membandingkan apa yang orang-orang lakukan juga,
05:46masuk juga elemen inovasi tadi itu.
05:48Sebenarnya yang kami lakukan ini sangat sederhana, pakai teori The First Man Landing on the Moon.
05:53Kita tidak peduli.
05:55Ya sudah, bantu tepi tangan itu temanmu.
06:00Bagus, bagus, bahasa Inggris bagus.
06:01Kayak kita tidak peduli setelah orang pertama yang ke bulan, siapa namanya sih?
06:08Kita tidak peduli.
06:10Orang kedua ada yang tahu tidak?
06:12Orang kedua yang datang ke Amerika ada yang tahu tidak?
06:14Orang kedua yang ke benua Asia ada yang tahu.
06:17Kita tidak peduli, kita cuma peduli siapa orang pertama.
06:20The First Man in the Moon.
06:22Waktu kami naik sebagai musisi dan seniman, sadar tidak sadar pakai teori yang sama.
06:30Kayak waktu anak-anak komik semua waktu itu sebagai stand-up komedian saja,
06:34muncul Ernest Prakasa sebagai director nomor satu stand-up komedian.
06:38Oh, orang pertama stand-up komedian sebagai director nomor satu.
06:41Dan sampai sekarang masih menjadi yang terhebar salah satunya juga.
06:45Kalau kau lihat podcaster sekarang, stand-up komedian semua,
06:50berarti mesti di ruang yang saya suka ini,
06:53oh penyanyi harus ada juga nih, minimal dari stand-up komedian.
06:59Dan saingannya kami bukan cuma Ernest,
07:02tapi sama-sama setara dengan penyanyi yang lain.
07:04Rasanya stand-up komedi yang bisa nyanyi dan bikin lirik lagu cuma raim ya?
07:09Ada beberapa, tapi...
07:11Bukan, belum 600 juta.
07:13We don't care who the second.
07:15The second?
07:16We don't care, sometimes we don't care who the second, the third.
07:20Okay, oh, really?
07:22Yes.
07:23Oh, okay.
07:25Saya mau kasih info tipis lagi terhadap besarnya lagu Komang.
07:30Tipis aja.
07:31Jadi lagu Komang dua tahun yang lalu itu sempat masuk,
07:34termasuk lagu Lesung Pipi, masuk di top global chart.
07:37Itu top global, pelan-pelan, pelan-pelan.
07:41Itu si top global, chart, Spotify bikin chart 100 lagu populer dunia.
07:48Lagu Komang masuk di list 100 itu.
07:51Jadi saingannya lagu Komang itu adalah Tyler Swift, Justin Bieber.
07:55Tiba-tiba, tiba-tiba ada raim laode Komang situ.
08:00Siapa mas-mas ini?
08:02Ternyata kita tinggal dimanapun di era sekarang ini,
08:06kalau inovasi dikaitkan juga dengan teknologi juga,
08:10kita bisa setara, nama kok setara.
08:12Satu playlist dengan Justin Bieber.
08:15Setara, raim laode setara dengan Taylor Swift.
08:19Setara dengan Justin Bieber.
08:20Tapi tidak keuangannya, sangat jauh sekali itu.
08:24Ada satu kutipan tipis.
08:26Buku organisme yang cepat meninggal, mati adalah yang tidak beradaptasi.
08:32Itu kali kita.
08:34Kali yang mati yang tidak relevan sekarang ini,
08:36apakah kita tidak beradaptasi?
08:38Jangan sampai kita adalah dinosaurus di zaman kita.
08:41Jangan sampai orang sudah pacaran dengan AI,
08:44Kau masih main, belum ikut adaptasi.
08:48Walaupun, bedakan itu adaptasi dengan hanyut.
08:54Berbeda adaptasi dengan hanyut.
08:56Kalau ada iPhone terbaru, kau beli.
08:57iPhone terbaru, kau beli lagi.
08:59iPhone terbaru, kau beli lagi.
09:01Mungkin bukan adaptasi.
09:03Itu namanya hanyut.
09:04Kalau kau mengerti konsep beradaptasi bukan hanyut,
09:07Saya tidak peduli artis sekarang pakai sepatu apa.
09:10Sepatuku ini saja.
09:12Saya tidak peduli artis lain pakai baju apa.
09:14Saya baju yang ini saja.
09:15Kalau pakaian dan baju masih kamu gunakan untuk menambah value-mu,
09:20berarti harga dirimu lebih mahal daripada pakaianmu.
09:26Boleh.
09:27Jadi moral ceritanya Rahim ini ingin mengatakan bahwa
09:30teman-teman jangan mudah hanyut atau terharu
09:34atau ingin ikut-ikutan hanya melihat
09:36dari story, social media orang lain
09:39yang flexing naik mobil mahal,
09:43unboxing apa gitu.
09:46Tidak gitu.
09:46Beradaptasi itu bukan dengan mengejar materi-materi seperti itu.
09:51Terlebih sekarang kelas-kelas personal branding ini
09:54kita ditipu sebenarnya.
09:57Personal branding kita,
09:59oh kamu sebagai individu harus bagus personal brandingmu.
10:02Padahal personal branding,
10:04kelasnya mulai dari personalnya dulu.
10:06Baru brandingannya.
10:08Banyak yang lagi menjabat sekarang,
10:10brandingannya lebih tinggi daripada personalnya.
10:12Ketahuan bodohnya.
10:13Ketahuan bohongnya.
10:16Ketahuan.
10:18Kalau brandingan butuh budget.
10:20Brandingan butuh budget.
10:21Baliho, iklan di TV, influencer.
10:24Tapi personal,
10:25temannya apa?
10:26Baca buku itu.
10:27Baca buku temanmu.
10:29Temanmu itu.
10:30Perbaiki literasimu.
10:32Lima tahun ke depan aku jadi storyteller terhebat.
10:35Selamat malam.
10:36Selamat malam.
10:38Terima kasih.
Komentar