Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 5 jam yang lalu
KOMPAS.TV - Usai perang lebih dari sebulan, Amerika Serikat dan Iran akhirnya sepakat gencatan senjata.

Kepala Center for Intermestic and Diplomatic Engagement (CIDE) Anton Aliabbas mengatakan titik temu paling awal dalam negosiasi AS-Iran adalah keinginan kedua pihak untuk meredakan konflik sementara.

Anton mengidentifikasi tiga isu krusial dalam perundingan, yakni konflik regional, isu nuklir, dan pengelolaan Selat Hormuz.

"Yang paling mungkin dinegosiasikan adalah terkait Selat Hormuz, karena dari Iran sendiri kan bilang 'negara saya sudah dihancurkan ini butuh duit untuk perbaikan," kata Anton dalam program BOLA LIAR, Jumat (10/4/2026).

Baca Juga Peran China-Rusia di Balik Gencatan Senjata AS-Iran | BOLA LIAR di https://www.kompas.tv/nasional/662208/peran-china-rusia-di-balik-gencatan-senjata-as-iran-bola-liar



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/662209/selat-hormuz-jadi-kunci-negosiasi-as-iran-akankah-damai-tercapai-bola-liar
Transkrip
00:02Saya langsung ke Mas Anton, dari sejumlah poin proposal negosiasi, mana yang kira-kira akan diaminkan ataupun ditolak oleh kedua
00:12pihak?
00:13Mas, gini loh, bahwa tadi dibilang, gak ada yang bilang bahwa 10 itu sudah disetujuin.
00:19Amerika sudah jelas, ngajuin 15. Iran 10.
00:24Walaupun kenapa kemudian 10 itu mendadak menjadi, wah ini disetujuin.
00:27Karena Trump sudah menyebutkan di media sosial bahwa 10 poin workable basis.
00:34Jadi dia mencatin, jadi dikira-kira bahwa nanti basisnya ini.
00:37Padahal enggak nih, 15 ketemu 10 dulu.
00:39Yang jelas-jelas beda.
00:42Saya pikir titik temu yang pertama adalah ketika percayaan negosiasi, ini dua-duanya sama-sama pengen damai.
00:49Itu dulu, jadi ada poin bahwa...
00:51Sama-sama pengen damai karena sama-sama kewalahan.
00:54Enggak kewalahan, tapi yaudah, kalau kita bisa break dulu atas nama perdamaian, enggak ada masalah.
01:01Bahwa besok-besok kita bisa saling perang lagi.
01:04Jadi poin pertama, kan itu kan jadi syaratnya itu.
01:07Berhenti dulu serangannya.
01:09Karena kan Iran sudah menunjukkan, kalau saya tidak diserang, saya enggak akan melakukan peserangan.
01:13Saya itu enggak pernah melakukan preemptif dalam sejarahnya Iran terhadap Israel.
01:16Jadi saya itu selalu bilangnya adalah retaliasi.
01:18Jadi itu kan syarat pertama.
01:21Jadi damai dulu.
01:22Jadi bisa jadi itu.
01:24Walaupun bagi saya kemudian setidaknya nanti ada tiga poin yang kemudian nanti bisa jadi cukup krusial.
01:35Yang pertama adalah terkait perang regional.
01:39Karena bagi Israel ini bakal dipisah.
01:42Oke nanti jangan-jangan yang bagian Hezbollah disetujuin, Hamas yang diserang.
01:46Lah kan enggak bicara nih ke tadi, kan kemana Lebaran lu ngomong.
01:49Sekarang Gaza kan enggak ada urusan ya.
01:51Dia bilang gitu, bisa jadi tanah kan kayak gitu.
01:53Namanya juga Israel.
01:55Ya kan?
01:56Satu.
01:56Kedua, nanti yang bisa bicara juga adalah tentang nuklir.
02:00Karena kan kemudian, apa namanya, Trump udah bilang tuh.
02:04Ketika dia sudah bilang, yang itu bisa dibicarakan, tiba-tiba kan enggak lama dia ditelepon.
02:11Kepada sama Netanyahu.
02:12Kok kayak gitu?
02:13Makanya kemudian Trump kemudian keluarin status baru.
02:16Enggak ada itu cerita tentang nuklir.
02:18Gitu.
02:19Itu yang kedua.
02:21Tapi dua itu bagi saya cukup kulit.
02:23Tapi yang mungkin bisa dinegosiasikan adalah terkait Selat Hormuz.
02:29Karena dari Iran sendiri kan bilang, ini sudah negara saya sudah dihancurkan.
02:34Ini butuh duit.
02:35Untuk perbaikan.
02:38Pilihannya cuma dua.
02:39Anda membayar atau izinkan saya mencari uang sendiri.
02:44Bagi saya kemungkinannya pilihan adalah mencari uang sendiri.
02:48Itulah kenapa kemudian ada proposal yang Hormuz itu lebih rinci dari sepuluh itu.
02:52Bahwa ini ada biaya lintas.
02:56Lalu kemudian ini nanti akan sharing sama Oman.
02:59Tapi duitnya adalah untuk kemudian membangun kembali Iran.
03:03Walaupun kemudian kenapa saya bilang bahwa poin Hormuz kemungkinan yang bisa jadi kemudian.
03:08Selain dari perdamaian tadi ya.
03:10Kita damai dulu sejenak.
03:11Abis itu ada Hormuz.
03:12Kenapa?
03:12Karena kemudian Iran pasca dari punggungan gencatan sejata sudah bilang.
03:17Jangan lewat jalur lama.
03:19Saya sudah tanamin ranjau.
03:21Kalau mau aman lewat jalur alternatif.
03:24Dia sudah bilang begitu.
03:26Artinya apa?
03:27Ketika dia bilang jalur alternatif itu lebih mendekat ke Iran.
03:31Ketika itu direalisasikan itu yang namanya Iran menang dalam konteks ini.
03:36Karena selama ini tadinya Iran itu cuma ibarat kata kalau pereman jatah parkir.
03:42Dia cuma ngeliat yang penting jangan ganggu.
03:44Ntar kalau gitu gue ganggu.
03:45Tapi kali ini dia menunjukkan eksistensinya.
03:48Ketika orang lewat Hormuz, lewat jalur alternatif.
03:52Itu kan dia bilang bahwa semua nanti yang lewat Hormuz harus koordinasi sama tentara Iran.
03:56Jadi bagi saya kemungkinan yang salah satu walaupun itu nanti akan sulit.
04:01Karena apakah iya nanti 2 juta USD per kapal.
04:05Lumayan juga nih.
04:06Jadi kalau ada berapa banyak gitu ya kan.
04:08Nah kemungkinan soal dana ini yang akan negosiable yang mungkin.
04:12Selebihnya ini akan jadi berat.
04:14Baik.
04:14Saya ngeliatnya sih itu.
04:15Baik.
04:15Saya kira Pak Mahfuz.
04:16Pak Mahfuz.
04:17Apakah kemungkinan ada mungkin sekitar 1-2 poin yang bisa dinegosiasikan.
04:21Sehingga mengkompensasi poin-poin lain yang mungkin sulit dinegosiasikan.
04:26Sehingga perundingan bisa jalan.
04:27Iya.
04:28Dari 10 plus 15 poin yang nanti diletakkan di meja perundingan ya.
04:33Walaupun ini perundingan ini kan gak langsung nih kan.
04:35Iya.
04:36Kalau kita bertanya mana yang paling mungkin untuk disepakati.
04:40Indikatornya adalah yang menyangkut kepentingan lebih banyak pihak.
04:45Itulah yang paling mungkin untuk bisa disepakati lebih awal.
04:48Dalam hal ini Hormuz?
04:49Dalam hal ini adalah pembukaan Selat Hormuz.
04:51Oke.
04:52Bukan saja pembukaan.
04:53Tapi manajemen pengelolaan Selat Hormuz.
04:57Dan manajemen pengelolaan ini kan dari berbagai aspek.
04:59Termasuk aspek ekonomi dan security-nya.
05:01Dan yang menarik adalah Iran telah memberikan proposal awalnya.
05:06Bahwa pengelolaan itu nanti akan dilakukan secara bersama-sama antara Iran dengan Oman.
05:13Dan kenapa itu disebutkan oleh Iran?
05:16Karena Iran tahu Oman ini adalah bagian dari sekutunya Amerika di kawasan teluk itu.
05:24Kalau tadi istilah uang jago, uang parkir gitu ya.
05:27Kira-kira begini.
05:28Amerika bisa nitip dong uang bagian parkir itu ke Oman kan gitu.
05:33Artinya karena ini menyakut kepentingan lebih banyak orang, lebih banyak pihak.
05:37Ini yang paling mungkin untuk bisa disepakati di awal.
05:41Itu yang pertama.
05:43Yang kedua adalah penghentian perang berskala regional ini.
05:48Berskala kawasan.
05:49Dan kalau misalnya negara-negara teluk nitip pesan ke Pakistan atau ke Amerika.
05:56Bahwa Iran tidak lagi menyerang semua instalasi militer di wilayah teluk.
06:02Instalasi militer Amerika di wilayah teluk masuk infrastruktur sipil.
06:06Maka inilah yang akan dibartor oleh Iran.
06:08Oke.
06:09Saya tidak akan serang wilayah negara-negara teluk.
06:12Tapi juga Amerika dan Israel tidak boleh menyerang semua sekutu Iran yang ada di Yaman.
06:19Yang ada di Irak maupun yang ada di Libanon.
06:24Ini besar kemungkinan untuk bisa disepakati sepanjang Amerika bisa menutup mulutnya Israel.
06:31Tapi masalahnya plasternya ini lemnya tidak kuat.
06:36Sudah ditutup tiba-tiba jebol.
06:38Nah itu yang saya katakan faktor yang tidak bisa dikontrol penuh oleh Amerika dalam menciptakan apapun kesepakatan di kawasan ini
06:46adalah Israel.
06:47Kenapa Israel?
06:48Karena aktor yang paling punya kepentingan terbesar dalam semua situasi dinamika dan konflik ini di kawasan itu adalah Israel.
06:58Cuma kan Israel tidak ikut dalam perundingan itu.
07:01Nah itu dia karena Israel tidak ikut negosiasi.
07:05Rosy apakah memang tanpa melibatkan Israel apakah mungkin perundingan bisa berjalan dengan demikian tanpa Israel?
07:19Bisa, bisa, bisa.
07:21Dan Pak Israel, artinya kalau Israel tidak terlalu mengganggu ya.
07:25Tapi kayaknya juga sulit.
07:26Tapi saya mencoba untuk menanggapi dari Mas Anton dan Pak Mas Musati.
07:31Kalau kemudian tadi awal ditanyakan soal poin yang bisa dinegosiasikan, kalau poin yang dinegosiasikan adalah hormus dan dibuka seperti itu,
07:41seperti yang tadi saya awal sampaikan, itu akan bikin masalah baru lagi sebenarnya.
07:47Mengapa bikin masalah baru lagi?
07:49Karena Iran memberi syarat bahwa nanti yang mengelola dia, meskipun dengan negosiasi bareng Oman.
07:55Tapi Oman kan sebenarnya juga sudah menolak.
07:58Banyak negara sebenarnya juga sudah menolak.
08:02Tetangga kita Singapura, Menlu Balagrishnan, Vivian Balagrishnan kan sebenarnya juga sudah tidak mau menerima itu.
08:09Karena kalau poin itu disepakati, itu akan menjadi presiden bagi selat-selat yang lain.
08:16Ini kan freedom of navigation-nya itu yang, ini kan akan bertentangan dengan apa namanya, on class.
08:23Itu nanti, itu jadi-jadi rame memang.
08:26Apakah nanti itu akan disepakati oleh dua pihak?
08:29Mungkin saja.
08:30Kalau melihat bahwa kemudian ini adalah win-win solution atau sama-sama dapat hadiah dari perang itu.
08:37Tetapi itu akan memunculkan provokasi.
08:39Satu atau semua poin harus disepakati sehingga perundingan bisa berjalan?
08:45Kalau saya sebenarnya melihat poin-poin itu sulit untuk disepakati bareng-bareng.
08:49Mustahil?
08:50Ya mungkin, mungkin adalah pencabutan apa namanya, sanksi ya.
08:57Tapi itu kan, kalau saya melihat yang 10 yang mulai ditawarkan oleh Iran itu kan, sebagian besar sebenarnya berbeda dari
09:07dua negosiasi sebelumnya.
09:09Dua negosiasi sebelumnya itu umumnya berapa, utamanya itu persoalan nuklir, rudal balistik, dan senjata.
09:17Tapi sekarang melebar sebenarnya ke isu ekonomi.
09:20Oke, kalau Pak Budi melihatnya bagaimana? Apakah mungkin nanti satu dua poin akan disepakati?
09:23Kalau misalnya Trump bisa menganalisa, Mustafa bisa menganalisa, kemudian si Netanyahu juga menganalisa, kita di sini semua berhak dong menganalisa.
09:33Analisa kan sah-sah saja, ya enggak?
09:36Kita kan bisa bertindak saja, Pak.
09:38Iya, misalkan sah-sah saja.
09:40Dengan aturan logic or not logic.
09:43Nah kita lihat simptomnya sekarang.
09:46Simptom dari hormus ini, meskipun itu belong to Iran gitu,
09:49Tapi kan dia sudah melibatkan big power, melibatkan Cina, melibatkan Amerika, melibatkan Rusia sekalipun.
09:59Biasanya simptom yang kayak gitu itu, kalau melibatkan negara-negara besar yang much more powerful than Israel and than Iran,
10:07Nah baru dia bisa membargaining position-kan.
10:10Sehingga saya setuju kalau seandainya hormus ini, what to call it the most point that really negotiable untuk hormus.
10:20Nah, simptom dari yang unbargainable, yang tidak bisa, udah mau sampai kapanpun juga tidak akan bisa di-bargainable.
10:27Saya bilang tadi, Trisulanya Iran tadi, the power of Siah, jadi yang namanya proxy war, yang merupakan multi frontnya Iran,
10:35Ini bukan hanya segedar saling gandengan tangan, or political will, or let's say because of power of Chuan, not only
10:44that.
10:45Tapi ini adalah sphere of influence daripada Siah power.
10:49Mereka kan memang diperkuat, diikat binding, itu kan karena kesiahan.
10:54Kan tadi misalnya yang Trisulah, nuklir, kemudian Siah, kemudian minyak.
10:58Nah, kemudian yang unbargainable, the second one, itu adalah nuklir.
11:02Nuklir akan nasional interestnya Iran.
11:04Nggak mungkin dia akan bisa melepaskan orang perjalanannya sampai IAIE bertahun-tahun,
11:11dia nggak bisa dapatkan bukti dan memang tidak terbukti.
11:14Kan berdarah-darah Iran untuk memperjuangkan nuklirnya.
11:17Kita lanjutkan lagi nanti, Pak Budi tetap bersama kami saudara di Bola Liar.
11:24Terima kasih.
Komentar

Dianjurkan