- 7 months ago
Sejauh mana trend militarisasi berlanjutan dan apa risiko terhadap demokrasi Indonesia? Ikuti diskusi dan analisis protes Indonesia bersama hos Nailah Huda dan penganalisis Virdika Rizky dalam AWANI Global pukul 9 malam ini.
Category
🗞
NewsTranscript
00:00Salam sejahtera ini Awani Global bersama saya Nailah Huda dan tumpuan masih lagi terarah kepada gelombang demonstrasi di Indonesia dengan ribuan penunjuk perasaan menyuarakan bantahan terhadap isu-isu ekonomi dan juga khususnya isu allown wakil rakyat.
00:21Dan protes yang pada awalnya bermula dengan aman, sudah pun bertukar ganas dengan beberapa nyawa sudah pun terkorban dan juga dilihat sebagai cabaran kepada digitalmasi pemerintahan Presiden Prabowo.
00:34Jadi untuk jam ini kita ingin melihat dengan lebih lanjut apa mungkin implikasi protes ini bukan sahaja dalam jangka masa pendek tetapi kepada demokrasi Indonesia secara keseluruhannya dan ke mana arah pentadbiran Presiden Prabowo selepas ini.
00:49Untuk itu kita akan bersama dengan Virdika Rizki Utama, pengarah eksekutif para sindiket yang bersama dengan kami dari Jakarta.
00:56Terima kasih Virdi Sudi bersama kami dalam Awani Global.
01:00Pertama sekali kita ingin melihat perkembangan, update-update terkini tunjuk perasaan ataupun demonstrasi bukan sahaja di Jakarta tetapi di seluruh Indonesia.
01:09Dan kalau kita lihat juga tindakan Presiden Prabowo untuk meneruskan lawatannya ke China ketika ini.
01:16Ya, terima kasih Neila. Kondisi hari ini sejak awal pekan saya rasa situasi di lapangan sudah mulai kondusif.
01:25Saya tentu mengapresiasi keputusan mahasiswa untuk tidak turun ke jalan selama 3 hari belakangan karena mereka sadar demonstrasi mereka bisa disusupi dan ujung-ujungnya mereka yang akan disalahkan.
01:37Maka konsolidasi dan penyusunan tuntutan jadi pilihan strategi saat ini untuk mahasiswa.
01:44Saya juga mau analisis bahwa di media sosial sekarang ramai sekali poster berwarna hijau, pink, dan biru yang muncul dengan tuntutan 17 tambah 8.
01:55Bukan sekadar asetika menurut saya, melainkan juga ini strategi visual yang sadar akan resiko-resiko yang akan dihadapi.
02:01Kenapa? Karena biasanya kita identik dengan demonstrasi itu warna hitam.
02:06Tapi saat ini warna hitam itu terlalu mudah untuk diklaim penyusup.
02:11Termasuk yang diduga dari unsur aparat.
02:13Jadi gerakan ini bergerak bukan hanya di jalan tapi juga di ruang simbolik dan digital.
02:20Jadi itu dalam update yang saya bisa berikan soal demonstrasi.
02:25Kalau konteks Presiden Prabowo ke China kemarin, saya pikir ini keputusan Prabowo untuk tetap berangkat ke Tiongkok,
02:40menghadiri parlimiter saya kira punya bobot simbolik yang lebih besar.
02:44Karena ada dorongan dalam diri Prabowo, saya pikir menunjukkan dia itu punya visibilitas global.
02:52Bahkan ketika di dalam negeri sedang berlangsung krisis kepercayaan.
02:56Jadi rasanya kurang elok atau kurang tepat sebenarnya Prabowo tetap ada di sana hanya untuk mendapatkan visibilitas global.
03:05Sedangkan di dalam negerinya ini masih cukup memanas walaupun sudah mulai surut rusuh-rusuhnya di Jakarta.
03:16Virdy ada menyebut tentang media sosial dan itu tentunya satu elemen yang cukup penting dalam gelombang protes kali ini.
03:24Bukan sahaja di Indonesia tapi kita lihat di seluruh rantau Asia Tenggara dalam komuniti ASEAN ini cukup kuat,
03:31cukup popular antara mesej-mesej yang dikongsikan gerakan di Indonesia ini.
03:38Tetapi apabila kita melihat di media sosial banyak juga pandangan yang berbeza,
03:43banyak juga maklumat, mungkin misinformation dan disinformation juga.
03:48Apabila kita melihat kepada punca apa yang menyebabkan tercetusnya protes ataupun demonstrasi kali ini,
03:56banyak yang mengaitkannya dengan isu ekonomi dan juga khususnya isu allowance perumahan wakil rakyat.
04:05Adakah Virdy melihat ini hanya trigger point atau ada juga masalah-masalah lain yang lebih mendalam?
04:12Ya, saya melihat isu insentif perumahan untuk Dewan Perumahan Rakyat itu bukanlah akar masalah,
04:19melainkan katalis masalahnya yang kemudian ini menjadi meledak adalah karena akumulasi ketidakadulan
04:27yang sudah lama dibiarkan oleh pemerintah.
04:30Menurut saya, publik turun ke jalan bukan hanya karena satu kebijakan,
04:35tapi karena mereka merasa negara terus gagal membaca realitas sosial yang ada di Indonesia hari ini.
04:42Saya pikir di lapangan banyak anak muda yang lulus tanpa kepastian masa depan pekerjaan,
04:48pengangkuran meningkat, ekonomi lesu.
04:51Tetapi narasi resmi tetap dibicara soal pertumbuhan, terutama Presiden Prabowo ya,
04:57sangat aware dengan pertumbuhan-pertumbuhan.
05:01Jadi demokrasi pun menurut saya jadi semakin prosedural dan kehilangan maknanya secara substantif.
05:07DPR saya kira hanya menjadi simbol dari sistem yang sudah tidak lagi dipercaya oleh rakyat Indonesia.
05:14Justru kemarahan publik semakin besar setelah kita lihat cara aparat menangani demonstrasi pada 28 Agustus lalu.
05:22Jadi seorang objek online yang bahkan tidak ikut aksi justru ditabrak oleh mobil barak kudak Brimo.
05:29Bukan hanya ditabrak, tapi juga dilindas.
05:31Saya pikir ini penting untuk catatan bagaimana represif dan sangat berbahayanya aparat keamanan dalam menangani demonstrasi.
05:40Juga kemampuan saya pikir warga hari ini justru sudah bisa mempunyai kemampuan membedakan mana dari ancaman-ancaman tersebut.
05:51Jadi menurut saya demonstrasi itu bukan soal nominal berapa loan DPR atau semacamnya, tapi lebih kepada soal eksistensi politik.
06:02Kerana warga hari ini sedang menolak dipositikan sebagai objek administratif dan hari ini mereka menuntut kembali haknya untuk menentukan makna-makna politiknya.
06:12Virdy ada menyebut tentang bagaimana mahasiswa dilihat dipersalahkan dalam hal ini ataupun ada risikonya perkara itu berlaku.
06:23Dan apabila kita lihat di media sosial juga, saya ada menyebut tentang misinformation, disinformation.
06:29Kita lihat gelombang demonstrasi ini bukan hanya di pusat, di Jakarta tetapi malah di kota-kota lain, di bandar lain juga.
06:37Bagaimana kalau kita nak melihat narasi gelombang protes kali ini dan adakah persepsi masyarakat ataupun persepsi orang ramai di sana konsisten berhubung dengan narasi kebangkitan rakyat ini?
06:55Jadi bukan sekadar single tapi soal persepsi.
06:58Saya pikir hari ini saya menjadi sangat amat salut dengan masyarakat karena masyarakat hari ini sudah bisa membedakan antara demonstran yang benar-benar berdemonstrasi dengan masa-masa perusuh.
07:11Jadi kita harus lihat karakteristik demonstrasi mahasiswa itu biasanya mereka melakukan orasi, menyorak pendapat.
07:19Tapi kemarin terutama di 28 sampai 30 yang ada malah penjarahan-penjarahan dan warga sadar bahwa orang yang melakukan penjarahan bahkan ke rumah menteri keuangan Sri Mulyani ini saya pikir adalah sebuah gerakan yang absurd dan itu bukan gerakan mahasiswa.
07:36Itu bukan ciri gerakan mahasiswa dan masyarakat tahu bahkan pembakaran halte bus yang dilakukan oleh sebagian besar orang.
07:43Sudah teridentifikasi mereka bukan mahasiswa, melainkan masa-masa perusuh yang digerakan oleh organisasi tertentu gitu ya.
07:51Untuk menciptakan persepsi bahwa demonstrasi itu selalu berujung rusuh dan kemudian ricu.
07:58Jadi saya pikir itu yang harus ditekankan bagaimana hari ini masyarakat sudah bisa membedakan dan itu sangat berbeda dengan tahun 98 ketika itu kita belum bisa,
08:10masyarakat masih belum bisa mana perusuh, mana demonstran dan kemudian ada banyak korban jiwa di tahun 98 itu.
08:17Sedangkan hari ini bahkan masyarakat bahkan juga mahasiswanya sudah memberikan informasi hati-hati provokasi pihak-pihak tertentu yang ingin menginginkan rusuh.
08:26Demonstrasi tidak pernah sekalipun ingin rusuh atau bahkan memaksudkan presiden itu tidak pernah.
08:31Yang dia inginkan, yang mereka inginkan adalah bagaimana suara ini didengar dan Prabowo, Presiden Prabowo Subianto tidak hidup di dalam bubble-bubblenya.
08:40Dia harus lihat langsung di masyarakat bagaimana susahnya dan juga penanganannya juga harus secara menyeluruh, komprehensif dengan pendekatan yang sangat humanis, bukan pendekatan security.
08:52Kita bercakap tentang soal narasi itu dari sudut mahasiswa, itu dari sudut gerakan.
08:59Tapi kalau kita lihat narasi dari pihak pemerintah pula, saya ingin mengupas lebih lanjut artikel yang Virdika tuliskan yang dikeluarkan di Tempo baru-baru ini.
09:10Katanya Presiden Prabowo dilihat memilih narasi bahawa demonstrasi telah mengarah pada tindakan melawan hukum dan terorisme dan Prabowo juga dikatakan memilih jalan pendisiplinen.
09:24Boleh terangkan apa yang dimaksudkan di sini dengan pendisiplinan dan apa mungkin implikasi daripada narasi, naratif yang daripada pemerintah ini melihat ataupun menggambarkan demonstrasi ini sebagai sesatu yang dikaitkan dengan terorisme yang cukup ganas sekali?
09:41Ya, sebenarnya masyarakat sipil kaget tidak kaget ya melihat Prabowo malah memilih pendekatannya security gitu karena kita tahu Prabowo juga hidup di era Orde Badu, dia adalah menantunya Presiden Suharto saat itu.
09:58Dan saya kira narasi makar dan terorisme yang dilakukan, yang dikeluarkan oleh pemerintah itu bukan sekedar respon hukum, melainkan strategi gitu yang seperti saya tulis juga
10:10untuk mendisiplinkan warga secara simbolik. Jadi ini bukan soal kemanan, tapi soal siapa yang dianggap sah berbicara dan siapa yang harus dibungkam.
10:20Saya melihat pola ini mengingatkan kami tentu yang tadi saya sebut, ini merenakan era Orde Badu, Suharto.
10:25Jadi pendekatan tersebut tidak muncul begitu saja tentunya. Saya pikir ada jejak gaya Suharto yang terlihat jelas dalam cara negara, dalam hal ini pemerintah,
10:36merespon protes dengan logika kontrol, bukan dialog. Jadi saya pikir Prabowo tampaknya sedang membangun ulang rangka kekuasaan yang akrab
10:46bagi generasi yang pernah hidup di bawah otoritarianisme Orde Baru. Jadi kalau ini implikasinya jelas, implikasinya adalah demokrasi kita semakin terkikis, ruang publik semakin terkikis.
10:58yang paling parah kemudian adalah bagaimana milik termasuk dalam ruang ranah-ranah sipil yang seharusnya dalam negara demokrasi.
11:05Itu adalah pemisahan yang jelas. Dan kalau cara ini dipakai terus tentu demokrasi kita berubah menjadi prosedur administratif yang kehilangan makna politiknya.
11:17Kalau kita lihat lagi respons daripada pemerintah tindak balas susulan daripada demonstrasi ini, kita lihat pada satu sisi membuat konsesi kepada gerakan,
11:31kepada demonstrasi ini dengan memotong allowance DPR. Tetapi pada sisi yang lain, mengarahkan juga aparat supaya mengambil tindakan yang keras
11:39ataupun mendisipinkan seperti yang Bira katakan tadi. Bagaimana Bira melihat tindak balas ini? Adakah itu konsesi yang mencukupi buat waktu ini?
11:49Saya fikir respon pemerintah tentu menunjukkan paradoks yang sangat tajam. Di satu sisi, mereka memotong insentif DPR sebagai bentuk konsesi.
11:58Tapi di sisi lain, aparat diperintahkan untuk bertindak keras bahkan terhadap warga yang tidak ikut aksi.
12:03Bahkan kemarin, tengah malam, tentara dan juga polisi melakukan sweeping dan menembakkan gas air mata ke beberapa kampus di Bandung, Jawa Barat.
12:13Jadi menurut saya ini bukan sekadar inkonsistensi, tapi cerminan bagaimana logika kekuasaan yang tidak percaya pada dialog.
12:21Negara dalam hal ini pemerintah nampaknya lebih nyaman dengan kontrol daripada dengan negosiasi.
12:26Jadi ketika konsesi dilakukan tanpa adanya perubahan struktur, ia hanya menjadi kosmetik dalam politik.
12:34Jadi saya melihat ini sebagai bentuk kekuasaan yang ingin terlihat responsif, tapi sebenarnya sedang memperkuat logika pendisiplinan masyarakat.
12:44Maka bukan hanya kebijakan sebenarnya yang harus dikritisi, tapi juga cara negara memahami konflik sosial yang ada, permasalahan sosial yang ada.
12:52Mereka tidak pernah mau menyentuh akan masalahnya, selalu menyalahkannya adalah mahasiswa, demonstrasi dan segala macam.
12:59Padahal mahasiswa, demonstrasi itu karena penyebabnya pasti ada, dan penyebabnya adalah dari pemerintah sendiri yang mereka tidak menghargai evidence-based dalam membuat kebijakan,
13:14dan perkoncoan, tidak ada meritokrasi, nepotism masih ada di mana-mana.
13:19Jadi saya pikir permasalahannya justru hadir dari pemerintah dan bagaimana pemerintah tidak melihat itu sebagai masalah, justru menyalahkan orang lain yang melakukan demonstrasi.
13:29Mereka Virdie melihat ini satu masalah individu melihat kepada isu kepimpinan ataupun ini sebenarnya isu sistemik yang melangkaui Presiden Prabowo dan juga ahli-ahli DPR
13:44dan sebenarnya memerlukan dan menuntut penyelesaian yang lebih mendalam, lebih jangka masa panjang mungkin?
13:51Iya, tentu kita ya sebagai masyarakat sipil ingin pemerintah itu kuat dan juga menunjukkan state capacity-nya
14:00dengan penguatan teknokrasi-teknokrasi dalam menghadapi, sorry, penguatan teknokrasi yang kemudian dapat menghadapi atau menjauh permasalahan-permasalahan yang ada di masyarakat.
14:10Tapi nyatanya mereka, saya kira pemerintah juga DPR tidak begitu peduli dengan hal itu.
14:16Mereka hanya lebih peduli dengan sesamanya, mereka berdiskusi, berkonsesi, kemudian juga melakukan mungkin lobby-lobby di antara keduanya ya.
14:27Jadi saya pikir mereka tidak pernah sebagai wakil rakyat yang seharusnya mewakili rakyat atau karyawannya rakyat
14:36justru mereka hidupnya lebih mewah dari rakyat itu sendiri dan itu menjadi masalah bagi masyarakat
14:42ditambah lagi tidak adanya kepekaan sosial yang dimiliki oleh wakil-wakil rakyatnya.
14:47Jadi kalau misalnya masalah struktural, oke kita harus permasalahan ini, selesaikan ini adalah secara struktural.
14:54Bagaimana caranya? Yang pertama dilakukan adalah mereformasi partai politik.
14:59Karena hari ini partai politik diisi oleh orang-orang yang hanya memendingan uang saja gitu.
15:05Dia mencalonkan diri dengan mengeluarkan uang puluhan miliar untuk menjadi DPR.
15:09Kemudian mereka juga ingin kembalikan modal dan dia ingin dijadikan pejabat gitu, bukan pelayan rakyat.
15:15Ini saya pikir logika-logikanya yang bermasalah dan kalau kita harus mulai dari mana reformasinya,
15:22pengubahannya adalah mereformasi partai politik itu sendiri.
15:27Tentunya ini bukan masalah yang khusus, yang eksklusif buat Indonesia.
15:31Tetapi saya kira agak relatable untuk masyarakat di seluruh Asia Tenggara kan.
15:35Tapi kalau kita bercakap tentang penyelesaian yang lebih struktural, yang lebih sistemik,
15:42tentunya bukan mudah.
15:44Tetapi adakah isu-isu ini dibincangkan secara besar-besaran dalam kalangan mahasiswa,
15:52dalam kalangan anak muda?
15:54kerana kalau kita lihat, berbalik kepada soal misinformation, disinformation,
15:58ramai yang hanya menumpukan kepada soal allowance wakil rakyat.
16:02Tetapi ia lebih daripada itu.
16:04Dan apabila adanya media sosial, adakah isu ini dibincangkan dengan lebih terbuka?
16:10Ya, tentu dalam tuntutan 17 plus 8, itu saya pikir cukup komprehensif tuntutannya.
16:15Mereka bukan hanya sekadar, katakanlah, mereformasi polisi yang anarkis juga ingin militer kembali ke barak,
16:25jangan masuk rana sipil.
16:26Begitu juga di DPR, mereka ingin adanya reformasi kebijakan dan reformasi secara menyeluruh, gitu ya,
16:33dalam sistem perpolitikan dan pembuat kebijakan di Indonesia.
16:38Tapi, nyatanya, di mahasiswa itu kencang sekali diskusi-diskusi itu.
16:41Tapi, masalahnya, lagi-lagi mereka, sistem politik Indonesia tidak memungkinkan, gitu ya,
16:48saluran rakyat itu hanya masuk di wakil rakyat, di DPR.
16:52Tapi, DPR-nya, lagi-lagi itu sudah terbeli, bukan terbeli.
16:56Jadi, memang tidak punya kepedulian.
16:59Mereka hanya peduli kepada kita, rakyat.
17:02Itu hanya lima tahun sekali.
17:03Kita menjadi objek politik.
17:05Dan, tentu saja, mereka adalah perternak-perternak politik, gitu.
17:09Yang hanya ingin menginginkan suara kita dalam lima tahun.
17:12Setelah itu, kita benar-benar ditinggal.
17:14Bahkan, untuk berkunjung ke DPR untuk menyuarakan pendapat pun, itu sangat amat sulit.
17:19Banyak sekali prosedur-prosedur.
17:21Jadi, saya pikir, ini benar-benar serius, gitu.
17:26Masalahnya, ini cancer yang mau tidak mau,
17:30kalaupun harus reformasi, kita harus reformasi banyak hal.
17:33Dan, itu sudah tertuang dalam tuntutan-tuntutan masyarakat, gitu ya.
17:37tadi, yang 17 prosedelapan.
17:40Saya ingin berbalik kepada soal individu Presiden Prabowo.
17:45Peranan yang dimainkan oleh Presiden Prabowo di sini.
17:48Apabila kita bercakap tentang pilihan, tentang demokrasi,
17:51tentang kuasa yang diberikan kepada rakyat,
17:54walaupun sekali, hanya sekali dalam lima tahun itu.
17:57Kalau kita ingin melihat gerakan ataupun demonstrasi ini,
18:01adakah ini cukup untuk menjadi satu krisis legitimasi
18:05bagi pemerintahan Presiden Prabowo ketika ini?
18:09Ya, saya pikir,
18:11kalau menilai legitimasi pemerintahan Prabowo,
18:15ya memang rapuh sejak awal.
18:16Dari pencalonan Gibran sebagai wakil Presiden,
18:19yang menabrak mahkamah konstitusi,
18:20hingga pembagian jabatan berbasis kerekoncoan,
18:24semua itu menunjukkan bahwa kekuasaan
18:26tidak dibangun atas kepercayaan publik,
18:28melalui aliansi politik.
18:32Di sekitar Presiden,
18:33saya melihat pola asal Bapak Senang,
18:35begitu dominan,
18:36banyak kebijakan lebih diadakan
18:37untuk menyenangkan pusat kekuasaan
18:40ketimbang menjawab prioritas.
18:41Misalnya,
18:42soal pertumbuhan ekonomi yang dimumumkan BPS,
18:46bulan lalu,
18:47kita 5,12 persen pertumbuhannya.
18:49dimana ada media,
18:53Tempo sebutlah,
18:54melakukan investasi menunjukkan
18:56adanya kejanggalan dalam penyusunan data.
18:58Jadi data ini agar terlihat lebih positif,
19:01di otak atik sedemikian rupa
19:03untuk Prabowo Senang.
19:05Padahal kenyataan di lapangan yang tadi saya bilang,
19:07cari pekerjaan sangat sulit,
19:09daya beli menurun,
19:11kemudian juga banyak layoff di mana-mana.
19:13Jadi saya pikir,
19:15kalau kita balik ke reverse tadi ya,
19:16saya pikir,
19:18soal Prabowo gitu,
19:21ini melihat bahwa teknokrasi gitu,
19:24sangat lemah
19:25dalam pemerintahan Prabowo,
19:27dan juga kritiknya diabaikan.
19:28Jadi kapasitas negara,
19:30kalau dua hal itu sudah diabaikan,
19:32otomatis ikut terkikis.
19:33Dalam kondisi ini,
19:35saya pikir,
19:35bukan hanya legitimasi yang tercancam,
19:38tapi juga kemampuan negara
19:39untuk bertindak efektif,
19:41dan itu yang lebih parah
19:42daripada sekadar legitimasi
19:43orang per orang.
19:45Dalam kita melihat krisis ini,
19:48kita lihat ada juga munculnya,
19:51wujudnya semangat kemenusiaan,
19:53seperti yang saya katakan tadi,
19:55isu-isu yang Virdi sebut itu,
19:57isu tentang reformasi,
19:58tentang barah kanser
20:00yang ada dalam landscape politik ini,
20:03bukan hanya eksklusif kan,
20:04di Indonesia,
20:05malah di Asia Tenggara,
20:06cukup relatable,
20:07kisah-kisah ini.
20:09Dan kita lihat,
20:10apabila tersebarnya,
20:13mesej-mesej gerakan ini
20:14di media sosial,
20:15cukup popular dalam kalangan
20:18masyarakat Asia Tenggara,
20:21ataupun masyarakat ASEAN,
20:22menunjukkan solidariti di media sosial,
20:24dengan warna-warna hijau,
20:27dan pink, dan sebagainya.
20:29Ada juga gerakan kempen,
20:31untuk mengulurkan bantuan,
20:33di aplikasi PH Link,
20:34dan sebagainya.
20:34bagaimana Virdi melihat,
20:36penyatuan masyarakat,
20:39mungkin dalam hal ini?
20:41Ya, saya melihat,
20:43solidaritas ASEAN ini,
20:45muncul bukan sekadar,
20:46empati dari lintas batas,
20:48sebaiknya kan,
20:49tadi,
20:50bentuk dari politik,
20:52sorry,
20:53bentuk politik dari luka bersama.
20:55Jadi tadi,
20:55Naila bilang bahawa,
20:57ini relate di semua Asia Tenggara,
20:59jadi kita punya luka yang sama,
21:01pengalaman politik-politik yang sama,
21:02yang kita hanya dijadikan,
21:04objek dalam politik,
21:06dan kemudian tidak didengar sama sekali.
21:08Jadi,
21:09ya,
21:09di banyak negara Asia Tenggara,
21:11saya pikir warga tahu,
21:12bagaimana rasanya diabaikan,
21:13dan dibuka.
21:14Maka,
21:15ketika negara gagal mendengar,
21:17masyarakat saling menemukan satu sama lain,
21:19saling membantu satu sama lain.
21:20Jadi,
21:21kampanye bantuan,
21:22melalui aplikasi PH Link,
21:24ataupun,
21:25startup,
21:26such as Gojek,
21:27dan DREP,
21:28misalnya,
21:28itu tidak hanya soal kebaikan hati,
21:31tapi juga bagaimana soal perlawanan terhadap isolasi yang dilembagakan.
21:36Saya pikir ketika seseorang,
21:37seorang, sorry,
21:38tukang ojek ditabrak,
21:40dan dilindas oleh mobil baru kuda Brimob,
21:43dan negara lebih memilih diam bersama para jenderalnya,
21:46dan pendekatan-pendekatan yang sangat militaristik itu,
21:49justru menimbulkan simpati dan keseleraan kolektif,
21:54bahwa kekuasaan sedang hilang arah.
21:57Jadi, soliditas ini,
21:58dia hadir dari institusi,
22:00melainkan dari keberanian,
22:02dan menurut saya,
22:03keberanian ini tumbuh dari pengalaman hidup,
22:06dan keinginan untuk saling menjaga,
22:08dan kekuatan seperti ini sulit,
22:09tekan begitu saja oleh pihak manapun,
22:12bahkan termasuk oleh pemerintah negara itu sendiri.
22:17Ya,
22:17Virdi, akhir sekali,
22:20jangkaan ataupun prediksi Virdi
22:22untuk jangka masa terdekat,
22:24hari-hari ataupun minggu akan datang,
22:27bagaimana perkembangan gerakan
22:29ataupun gelombang demonstrasi ini akan
22:31masih berterusan,
22:34dan bagaimana juga kalau kita mengambil kira
22:36tindakan Presiden Prabowo,
22:38seperti yang Virdi katakan,
22:39mungkin tidak berapa tepat
22:41untuk meneruskan lawatannya ke China,
22:43untuk memberi lebih banyak tumpuan
22:45kepada visibility globalnya,
22:47tetapi kurang untuk dalam negara sendiri,
22:50jangkaan Virdi untuk hari-hari akan datang
22:52selepas ini.
22:54Ya, saya pikir demonstrasi akan tetap ada,
22:57mereka masih melakukan konsolidasi
22:58dan juga
22:59meremuskan ya,
23:01cara-cara baru,
23:02metode-metode baru
23:03dalam menyampaikan demonstrasi
23:05dan juga
23:05tuntutan-tuntutan ini juga,
23:10mereka sudah,
23:11kalau tidak salah,
23:1317 pas 8 itu memberikan deadline
23:15tanggal 5 September
23:17untuk pemerintah melakukan
23:19realisasi tuntutan dalam jangka pendeknya.
23:23Jadi, yang saya khawatirkan justru
23:25adalah penanganan demonstrasinya
23:28yang masih berlanjut dengan pengerakan security.
23:31Jadi,
23:32menurut saya,
23:33kalau tren militarisasi ini
23:35terus berlanjut,
23:36yang terancam bukan hanya kebebasan sipil,
23:39tapi juga
23:40struktur dari demokrasi itu sendiri.
23:43Ketika aparat
23:44menjadi wajah utama negara,
23:46ruang publik berubah menjadi arena kontrol,
23:49bukan dialog,
23:50demokrasi hilang,
23:51spolitas hilang,
23:52beranian hilang.
23:52Jadi, saya merasa
23:54sudah stop lah,
23:55harusnya Prabowo untuk menggunakan
23:57pendekatan militaristik itu,
24:00karena kita tahu itu
24:01sudah tidak zaman lagi
24:03untuk hari ini,
24:04sebagaimana tadi kita diskusikan juga,
24:06bahwa solidaritas
24:07tidak hanya dalam negeri,
24:08tapi justru dari luar negeri juga
24:10tumbuh.
24:11Dan,
24:12kalau Prabowo memang punya niat baik
24:14dengan konstitusi,
24:15dan juga dengan demokrasi,
24:17walaupun Prabowo pernah menyatakan
24:19bahwa demokrasi itu mahal sekali,
24:22tidak akan lebih mahal
24:24kalau nyawa
24:25yang banyak
24:27semakin,
24:28sorry,
24:29akan banyak,
24:30akan semakin mati
24:31yang meninggal
24:32karena
24:33menyampaikan
24:36aspirasinya.
24:37Dan saya pikir
24:38Prabowo harus menjadi
24:40seorang negarawan
24:40dengan mementikan
24:41kepentingan umum
24:42daripada
24:43kepentingan tertentu,
24:46terutama
24:46pendekatan-pendekatan
24:48militaristik
24:49yang saya sebutkan tadi.
24:51Jadi,
24:52ini saya pikir
24:54war dan juga
24:56tes bagi Prabowo
24:57bagaimana dia
24:59tes kepemimpinan
25:00dan juga tes
25:00sebagai seorang
25:01demokrat
25:02dan juga tes
25:03sebagai manusia.
25:05Okey, baik.
25:05Terima kasih, Virdy,
25:06untuk perkongsian itu.
25:08Itu saja masa kita ada
25:09untuk Awani Global jam ini.
25:10Terima kasih itu tadi,
25:11Virdy Karizki,
25:12utama pengarah eksekutif
25:13para sindiket.
25:14Itu saja untuk Awani Global
25:16pada minggu ini.
25:16Kita kejumpa lagi.
25:17Salam hormat.
25:18Terima kasih.
25:19selamat menikmati.
25:21Terima kasih.
25:22selamat menikmati.
25:24Terima kasih.
25:26selamat menikmati.
25:27Terima kasih.
25:29selamat menikmati.
25:31Terima kasih.
25:33Terima kasih.
Comments