Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
PURWAKARTA, KOMPAS.TV - Setelah tiga bulan mengeluhkan adanya ancaman teror, Dea Permata Karisma, warga Desa Jatimekar, Purwakarta, ditemukan tewas pada 12 Agustus, Selasa siang, di rumahnya.

Beberapa bulan sebelum tewas, Dea hidup dalam ketakutan karena rangkaian teror yang dialami, mulai dari panggilan telepon oleh nomor tak dikenal, pesan bernada ancaman pembunuhan, diintai orang tak dikenal ke rumah, hingga rumah dilempari cat.

Nahas, ancaman teror tersebut benar-benar menjadi kenyataan. Dea kehilangan nyawa karena dibunuh.

Sahabat KompasTV, apa pendapat kalian soal kasus ini? Komentar di bawah ya!

Baca Juga ASN Perempuan Ditemukan Tewas di Pantai Tasik Agung Rembang, Polisi Periksa 7 Saksi di https://www.kompas.tv/regional/611524/asn-perempuan-ditemukan-tewas-di-pantai-tasik-agung-rembang-polisi-periksa-7-saksi

#polisi #purwakarta #art

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/611754/kronologi-perempuan-di-purwakarta-tewas-usai-diteror-3-bulan-hingga-lapor-polisi

Kategori

🗞
Berita
Transkrip
00:00Masih berita utama saudara, setelah 3 bulan lamanya menguluhkan ada ancaman teror,
00:05Dea Permata Karisma warga desa Jati Mekar Purwakarta ditemukan tewas pada 12 Agustus selasa siang di rumahnya.
00:14Beberapa bulan sebelum tewas, dia hidup dalam ketakutan sebab rangkaian teror dialami.
00:21Mulai dari panggilan telepon oleh nomor tak dikenal, pesan bernada ancaman pembunuhan,
00:26diintai oleh orang tak dikenal ke rumah, hingga rumah yang dilempari cat.
00:32Naas, ancaman teror tersebut benar-benar menjadi kenyataan.
00:38Dea kehilangan nyawa karena dibunuh.
00:43Suasana selasa siang di desa Jati Mekar hari itu mendadak mencekam.
00:48Pria bernama Ade yang sehari-hari bekerja sebagai asisten rumah tangga di keluarga Dea,
00:54tiba-tiba berteriak histeris keluar rumah.
00:58Dengan gemetaran, Ade bilang kepada tetangga sekitar bahwa majikannya telah dibunuh seseorang.
01:05Seorang warga yang mendengar hal mengejutkan itu langsung mendatangi rumah Dea.
01:11Namun langkahnya terhenti saat akan memasuki rumah karena melihat ada jejak darah berbentuk kaki orang dewasa.
01:18Tetangga tak percaya pada insiden siang itu karena pagi harinya ia masih bertemu Dea saat membeli sayur.
01:27Tadi pembantunya dari atas lari ke sini, oh ibu-ibu, ibu Dea dibunuh.
01:36Ya kita juga kaget, ya kita langsung pada ke atas semua gitu.
01:40Ya saya baru mau nginjak ini pintu, baru gini di depan, di belakangku yang jalur ke dapur.
01:48Ada jejak kaki, udah ada darah gitu. Saya nggak berani, saya ini lagi mundur lagi, takut saya juga.
01:57Saudara keluarga Dea bercerita bahwa sebelum tewas Dea kerap mendapati teror.
02:03Kepada keluarga Dea bilang rumahnya pernah dilempari cat oleh orang tak dikenal.
02:09Bahkan peneror sampai masuk ke dalam rumah meski hingga kini tak pernah terungkap siapa sosok peneror tersebut.
02:17Selain itu Dea juga kerap diteror via telepon oleh nomor tak dikenal.
02:22Dea juga menerima pesan ancaman pembunuhan dengan perintah agar menjauhi seorang pria yang merupakan temannya.
02:32Tapi dari semua ancaman itu, Dea maupun keluarga tak sedikit pun menaruh curiga pada Ade Mulyana,
02:41asisten rumah tangga yang sehari-hari tinggal bersama mereka.
02:45Anak saya itu dapat ancaman, teror-teror, cat-cat itu.
02:54Terus sama anak saya bercerita sih sama ke orang tua.
02:59Saya bilang sampai sempat pengintai katanya, posisinya pengintainya di belakang situ sama di sini.
03:06Ada dua atau tiga orang pakai masker, itu selalu terus.
03:11Tapi cat itu terus, ini apa itu, mengancam anak saya sampai terakhir.
03:16Dia mengancam, rumahnya sudah dipantau.
03:19Kalau dia tidak mau menjauhin.
03:23Itu yang teman yang katanya yang di itu, dia akan dibunuh, diancam dibunuh mau di rumah maupun di jalan.
03:39Setelah rangkaian teror yang dialami, keluarga bilang Dea dan suami sudah mencoba lapor ke polisi
03:45yang bertugas sebagai bayangkara pembina keamanan dan ketertiban masyarakat
03:50atau Babin Kantipmas di daerah tempat tinggal mereka.
03:53Namun, hingga Dea kehilangan nyawa, tak satupun aparat yang datang ke rumah Dea
04:00untuk memeriksa kondisi keamanan.
04:03Hingga akhirnya, Dea dan suami mengambil langkah preventif memasang kamera pengawas.
04:09Meski kamera pengawas pun nyatanya tak mampu mencegah pembunuhan yang dialami Dea.
04:18Menyalangan untuk lapor polisi, lapor polisi katanya sih sudah laporan Babin Sa yang di sini
04:23laporan konsep di sini, katanya nggak ada yang datang.
04:28Katanya, saya sudah seringkali lapor polisi, lapor polisi, akhirnya masang CCTV.
04:32Cuman, masang CCTV-nya kenapa pendek begini, ya gampang di ini-ini gitu.
04:39Sementara itu, saudara, polisi menyangkal tidak menindak lanjuti laporan terkait ancaman yang dialami Dea.
04:45Polisi bilang, belum ada laporan resmi dari korban maupun keluarga soal ancaman pembunuhan yang diterima Dea.
04:55Kasih Humas Polres Purwakarta bilang, suami korban memang sempat berkonsultasi dengan petugas Babin Kamtipmas
05:02soal apa yang harus dilakukan jika menerima ancaman lewat pesan elektronik.
05:07Namun Dea dan suaminya belum pernah datang ke Polsek Jatiluhur maupun Polres Purwakarta untuk membuat laporan resmi.
05:18Laporan ancaman pembunuhan sebenarnya sampai detik ini pihak Polres Purwakarta belum menerima laporan secara resmi
05:26terkait aduan daripada masalah pengancaman tersebut.
05:31Tapi yang terjadi bahwa suami korban pada bulan Juli itu pernah bertemu dengan Babin Kabdipmas kami
05:38dari Polsek Jatiluhur dan menyampaikan.
05:42Jadi seolah-olah, bukan seolah-olah ya, jadi suami korban itu konsultasi sifatnya.
05:47Sifatnya konsultasi dengan Babin kami terkait bagaimana caranya
05:51apabila ada peristiwa pengancaman melalui media sosial dalam hal ini WA
05:57apa yang harus dilakukan intinya begitu.
06:01Jadi suami korban itu konsultasi dengan Babin kami.
06:04Jadi belum sempat membuat laporan.
06:08Dea Permata Karisma yang masih berusia 27 tahun
06:11dikenang sebagai sosok yang periang dan berhati baik.
06:16Sang ibu bilang Dea bukan orang yang mudah menaruh curiga pada orang lain.
06:20Dea juga dikenal sebagai sosok yang hangat dan sayang keluarga.
06:25Hal itu tercermin dari keseharian Dea yang telaten mengurus urusan rumah tangga.
06:31Sebagai istri, Dea menyiapkan segala keperluan suami.
06:35Selain itu, ia juga pekerja keras.
06:38Karena di tengah rutinitasnya sebagai ibu rumah tangga,
06:42Dea juga tetap produktif bekerja dengan berjualan makanan di kampus dekat rumahnya.
06:48Kepergian Dea tentu jadi pukulan keras bagi keluarga.
06:54Sebab Dea merupakan anak perempuan satu-satunya dari lima bersaudara.
06:58Sehari-hariannya ya ibu rumah tangga,
07:05terus ada kegiatan dia punya usaha,
07:09usaha makanan.
07:13Oh periang, anakku periang ramah.
07:16Dan nggak ada punya rasa jelek ke orang.
07:19Anakku itu nggak ada punya berasangka buruk ke orang gitu, nggak.
07:23Hilangnya nyawa Dea, dipicu kekesalan pelaku yang tak lain adalah asisten rumah tangga korban.
07:33Yakni, Ade Mulyana yang permintaan upahnya tadi gubris korban saat menagi upah kerja sebesar 500 ribu rupiah.
07:41Korban tak menanggapi.
07:43Pelaku yang tersinggung dan gelap mata langsung menganiaya korban dengan benda tumpul hingga tewas.
07:49Panik, pelaku pun langsung membuang barang bukti seperti ponsel korban dan palu ke bawah jembatan Cinangka Raina Sewaduk Jatiluhur.
08:02Kurang dari 24 jam pas Cadea ditemukan tewas, polisi langsung menangkap Ade Mulyana, pelaku pembunuhan yang merupakan orang dekat korban.
08:12Polisi sebut motif pembunuhan karena pelaku kesal gaji tak dibayar.
08:17Selain motif sakit hati, polisi menyebut masih menyelidiki kemungkinan motif lain, pelaku membunuh korban.
08:25Namun, polisi mengklaim hingga kini belum menemukan indikasi pembunuhan berencana.
08:30Tersangka, yaitu dengan inisial AM, umur 25 tahun, ada pun motif dari pelaku berdasarkan hasil penyidikan yang kami temukan,
08:52yaitu tersangka kesal dan sakit hati oleh korban karena gaji tidak dibayarkan.
09:02Dan apabila ada motif-motif lain, masih dalam pendalaman.
09:05Tak pernah terlintas di benak keluarga bahwa orang yang menghabisi nyawa anaknya adalah orang dekat yang selama ini dipercaya menjaga korban.
09:17Ibu korban heran karena pelaku masih sanggup bersandiwara, seolah dialah yang paling kehilangan atas kematian anaknya yang mengenaskan.
09:27Padahal, ART yang sudah dianggap seperti keluarga itulah yang tega-teganya membunuh Dea.
09:33Tidak menyangka sih, kan ternyata dia itu kan orang yang selama ini dekat dengan anak saya, maksudnya bekerja dengan anak saya.
09:52Bekerja mengikut anak saya, tidak menyangka.
09:55Karena pada saat kejadian itu, justru yang paling histeris dia.
10:03Yang paling histeris itu dia.
10:06Seolah-olah dia yang merasa kehilangan.
10:09Suami korban mengonfirmasi soal ancaman yang selama ini diterima istrinya.
10:16Ferry bilang selama ini pelaku sering mengatakan rumahnya kerap diteror orang asing, namun tak pernah terbukti kebenarannya.
10:25Pelaku juga selalu membangun narasi seolah-olah Dea berselingkuh dengan temannya.
10:30Sebab ada pesan dengan nada ancaman kepada Dea agar menjauhi seseorang.
10:35Ferry menyesal karena tak menaruh curiga apapun pada ART-nya tersebut.
10:41Ia malah kerap meminta pelaku menemani istrinya saat pergi bekerja ke luar kota.
10:47Belakangan, Ferry tersadar bahwa ancaman terhadap istrinya selama ini adalah skenario fiktif yang dibuat Ade Mulyana.
10:56Kalau curiga terhadap pelaku justru tidak ada.
11:08Jadi curiga itu karena ketakutan kita sebagai suami terhadap istrinya takut kalau ada orang yang ancam.
11:18Nah ketika ada pengancaman-pengancaman yang dibuat skenario oleh pelaku, kita makin percaya oleh pelaku untuk menjaga sang istri.
11:24Dalam kasus ini saudara, kita belajar jika sejak awal aparat mau menindaklanjuti keluhan warga soal adanya potensi ancaman,
11:35barangkali nasib tragis tak akan di alam Dea.
11:39Kasus ini juga mengingatkan kita agar selalu bawas diri kepada orang dekat sekalipun.
11:44Sebab kejahatan tak melihat rupa dan selalu punya celah jika diberi kesempatan.
Komentar

Dianjurkan