00:00Masih berita utama saudara, setelah 3 bulan lamanya menguluhkan ada ancaman teror,
00:05Dea Permata Karisma warga desa Jati Mekar Purwakarta ditemukan tewas pada 12 Agustus selasa siang di rumahnya.
00:14Beberapa bulan sebelum tewas, dia hidup dalam ketakutan sebab rangkaian teror dialami.
00:21Mulai dari panggilan telepon oleh nomor tak dikenal, pesan bernada ancaman pembunuhan,
00:26diintai oleh orang tak dikenal ke rumah, hingga rumah yang dilempari cat.
00:32Naas, ancaman teror tersebut benar-benar menjadi kenyataan.
00:38Dea kehilangan nyawa karena dibunuh.
00:43Suasana selasa siang di desa Jati Mekar hari itu mendadak mencekam.
00:48Pria bernama Ade yang sehari-hari bekerja sebagai asisten rumah tangga di keluarga Dea,
00:54tiba-tiba berteriak histeris keluar rumah.
00:58Dengan gemetaran, Ade bilang kepada tetangga sekitar bahwa majikannya telah dibunuh seseorang.
01:05Seorang warga yang mendengar hal mengejutkan itu langsung mendatangi rumah Dea.
01:11Namun langkahnya terhenti saat akan memasuki rumah karena melihat ada jejak darah berbentuk kaki orang dewasa.
01:18Tetangga tak percaya pada insiden siang itu karena pagi harinya ia masih bertemu Dea saat membeli sayur.
01:27Tadi pembantunya dari atas lari ke sini, oh ibu-ibu, ibu Dea dibunuh.
01:36Ya kita juga kaget, ya kita langsung pada ke atas semua gitu.
01:40Ya saya baru mau nginjak ini pintu, baru gini di depan, di belakangku yang jalur ke dapur.
01:48Ada jejak kaki, udah ada darah gitu. Saya nggak berani, saya ini lagi mundur lagi, takut saya juga.
01:57Saudara keluarga Dea bercerita bahwa sebelum tewas Dea kerap mendapati teror.
02:03Kepada keluarga Dea bilang rumahnya pernah dilempari cat oleh orang tak dikenal.
02:09Bahkan peneror sampai masuk ke dalam rumah meski hingga kini tak pernah terungkap siapa sosok peneror tersebut.
02:17Selain itu Dea juga kerap diteror via telepon oleh nomor tak dikenal.
02:22Dea juga menerima pesan ancaman pembunuhan dengan perintah agar menjauhi seorang pria yang merupakan temannya.
02:32Tapi dari semua ancaman itu, Dea maupun keluarga tak sedikit pun menaruh curiga pada Ade Mulyana,
02:41asisten rumah tangga yang sehari-hari tinggal bersama mereka.
02:45Anak saya itu dapat ancaman, teror-teror, cat-cat itu.
02:54Terus sama anak saya bercerita sih sama ke orang tua.
02:59Saya bilang sampai sempat pengintai katanya, posisinya pengintainya di belakang situ sama di sini.
03:06Ada dua atau tiga orang pakai masker, itu selalu terus.
03:11Tapi cat itu terus, ini apa itu, mengancam anak saya sampai terakhir.
03:16Dia mengancam, rumahnya sudah dipantau.
03:19Kalau dia tidak mau menjauhin.
03:23Itu yang teman yang katanya yang di itu, dia akan dibunuh, diancam dibunuh mau di rumah maupun di jalan.
03:39Setelah rangkaian teror yang dialami, keluarga bilang Dea dan suami sudah mencoba lapor ke polisi
03:45yang bertugas sebagai bayangkara pembina keamanan dan ketertiban masyarakat
03:50atau Babin Kantipmas di daerah tempat tinggal mereka.
03:53Namun, hingga Dea kehilangan nyawa, tak satupun aparat yang datang ke rumah Dea
04:00untuk memeriksa kondisi keamanan.
04:03Hingga akhirnya, Dea dan suami mengambil langkah preventif memasang kamera pengawas.
04:09Meski kamera pengawas pun nyatanya tak mampu mencegah pembunuhan yang dialami Dea.
04:18Menyalangan untuk lapor polisi, lapor polisi katanya sih sudah laporan Babin Sa yang di sini
04:23laporan konsep di sini, katanya nggak ada yang datang.
04:28Katanya, saya sudah seringkali lapor polisi, lapor polisi, akhirnya masang CCTV.
04:32Cuman, masang CCTV-nya kenapa pendek begini, ya gampang di ini-ini gitu.
04:39Sementara itu, saudara, polisi menyangkal tidak menindak lanjuti laporan terkait ancaman yang dialami Dea.
04:45Polisi bilang, belum ada laporan resmi dari korban maupun keluarga soal ancaman pembunuhan yang diterima Dea.
04:55Kasih Humas Polres Purwakarta bilang, suami korban memang sempat berkonsultasi dengan petugas Babin Kamtipmas
05:02soal apa yang harus dilakukan jika menerima ancaman lewat pesan elektronik.
05:07Namun Dea dan suaminya belum pernah datang ke Polsek Jatiluhur maupun Polres Purwakarta untuk membuat laporan resmi.
05:18Laporan ancaman pembunuhan sebenarnya sampai detik ini pihak Polres Purwakarta belum menerima laporan secara resmi
05:26terkait aduan daripada masalah pengancaman tersebut.
05:31Tapi yang terjadi bahwa suami korban pada bulan Juli itu pernah bertemu dengan Babin Kabdipmas kami
05:38dari Polsek Jatiluhur dan menyampaikan.
05:42Jadi seolah-olah, bukan seolah-olah ya, jadi suami korban itu konsultasi sifatnya.
05:47Sifatnya konsultasi dengan Babin kami terkait bagaimana caranya
05:51apabila ada peristiwa pengancaman melalui media sosial dalam hal ini WA
05:57apa yang harus dilakukan intinya begitu.
06:01Jadi suami korban itu konsultasi dengan Babin kami.
06:04Jadi belum sempat membuat laporan.
06:08Dea Permata Karisma yang masih berusia 27 tahun
06:11dikenang sebagai sosok yang periang dan berhati baik.
06:16Sang ibu bilang Dea bukan orang yang mudah menaruh curiga pada orang lain.
06:20Dea juga dikenal sebagai sosok yang hangat dan sayang keluarga.
06:25Hal itu tercermin dari keseharian Dea yang telaten mengurus urusan rumah tangga.
06:31Sebagai istri, Dea menyiapkan segala keperluan suami.
06:35Selain itu, ia juga pekerja keras.
06:38Karena di tengah rutinitasnya sebagai ibu rumah tangga,
06:42Dea juga tetap produktif bekerja dengan berjualan makanan di kampus dekat rumahnya.
06:48Kepergian Dea tentu jadi pukulan keras bagi keluarga.
06:54Sebab Dea merupakan anak perempuan satu-satunya dari lima bersaudara.
06:58Sehari-hariannya ya ibu rumah tangga,
07:05terus ada kegiatan dia punya usaha,
07:09usaha makanan.
07:13Oh periang, anakku periang ramah.
07:16Dan nggak ada punya rasa jelek ke orang.
07:19Anakku itu nggak ada punya berasangka buruk ke orang gitu, nggak.
07:23Hilangnya nyawa Dea, dipicu kekesalan pelaku yang tak lain adalah asisten rumah tangga korban.
07:33Yakni, Ade Mulyana yang permintaan upahnya tadi gubris korban saat menagi upah kerja sebesar 500 ribu rupiah.
07:41Korban tak menanggapi.
07:43Pelaku yang tersinggung dan gelap mata langsung menganiaya korban dengan benda tumpul hingga tewas.
07:49Panik, pelaku pun langsung membuang barang bukti seperti ponsel korban dan palu ke bawah jembatan Cinangka Raina Sewaduk Jatiluhur.
08:02Kurang dari 24 jam pas Cadea ditemukan tewas, polisi langsung menangkap Ade Mulyana, pelaku pembunuhan yang merupakan orang dekat korban.
08:12Polisi sebut motif pembunuhan karena pelaku kesal gaji tak dibayar.
08:17Selain motif sakit hati, polisi menyebut masih menyelidiki kemungkinan motif lain, pelaku membunuh korban.
08:25Namun, polisi mengklaim hingga kini belum menemukan indikasi pembunuhan berencana.
08:30Tersangka, yaitu dengan inisial AM, umur 25 tahun, ada pun motif dari pelaku berdasarkan hasil penyidikan yang kami temukan,
08:52yaitu tersangka kesal dan sakit hati oleh korban karena gaji tidak dibayarkan.
09:02Dan apabila ada motif-motif lain, masih dalam pendalaman.
09:05Tak pernah terlintas di benak keluarga bahwa orang yang menghabisi nyawa anaknya adalah orang dekat yang selama ini dipercaya menjaga korban.
09:17Ibu korban heran karena pelaku masih sanggup bersandiwara, seolah dialah yang paling kehilangan atas kematian anaknya yang mengenaskan.
09:27Padahal, ART yang sudah dianggap seperti keluarga itulah yang tega-teganya membunuh Dea.
09:33Tidak menyangka sih, kan ternyata dia itu kan orang yang selama ini dekat dengan anak saya, maksudnya bekerja dengan anak saya.
09:52Bekerja mengikut anak saya, tidak menyangka.
09:55Karena pada saat kejadian itu, justru yang paling histeris dia.
10:03Yang paling histeris itu dia.
10:06Seolah-olah dia yang merasa kehilangan.
10:09Suami korban mengonfirmasi soal ancaman yang selama ini diterima istrinya.
10:16Ferry bilang selama ini pelaku sering mengatakan rumahnya kerap diteror orang asing, namun tak pernah terbukti kebenarannya.
10:25Pelaku juga selalu membangun narasi seolah-olah Dea berselingkuh dengan temannya.
10:30Sebab ada pesan dengan nada ancaman kepada Dea agar menjauhi seseorang.
10:35Ferry menyesal karena tak menaruh curiga apapun pada ART-nya tersebut.
10:41Ia malah kerap meminta pelaku menemani istrinya saat pergi bekerja ke luar kota.
10:47Belakangan, Ferry tersadar bahwa ancaman terhadap istrinya selama ini adalah skenario fiktif yang dibuat Ade Mulyana.
10:56Kalau curiga terhadap pelaku justru tidak ada.
11:08Jadi curiga itu karena ketakutan kita sebagai suami terhadap istrinya takut kalau ada orang yang ancam.
11:18Nah ketika ada pengancaman-pengancaman yang dibuat skenario oleh pelaku, kita makin percaya oleh pelaku untuk menjaga sang istri.
11:24Dalam kasus ini saudara, kita belajar jika sejak awal aparat mau menindaklanjuti keluhan warga soal adanya potensi ancaman,
11:35barangkali nasib tragis tak akan di alam Dea.
11:39Kasus ini juga mengingatkan kita agar selalu bawas diri kepada orang dekat sekalipun.
11:44Sebab kejahatan tak melihat rupa dan selalu punya celah jika diberi kesempatan.
Komentar