00:00Amerika Serikat dan Iran sama-sama mengakui ada kemajuan dalam negosiasi damai.
00:06Kita akan langsung bahas bersama dengan pakar geopolitik dan keamanan nasional Wibawanto Nugro Hoidodo.
00:13Selamat malam Pak Wibawanto, apa kabar?
00:17Selamat malam, apa kabar? Baik, Pak.
00:19Semoga kabar baik selalu bersama Anda dan juga keluarga Pak Wibawanto.
00:23Ini bukan klaim yang pertama kali yang diutarakan oleh Trump
00:27karena berkali-kali katanya akan segera sepakat tapi tidak tercapai juga sampai detik ini kita berdialog.
00:33Nah, bagaimana malam ini dengan pernyataan Trump yang terakhir menurut pandangan Anda?
00:40Ya, jadi yang pertama itu kita melihat dari perspektif Amerika, Teheran, dan Tel Aviv
00:47untuk melihat fenomena ini, Pak Wibawanto.
00:50Dari perspektif ketiganya, deeskalasi itu mungkin terjadi.
00:55Tetapi deeskalasi itu mungkin menjadi tidak terjadi.
00:59Bukan karena masalah perang.
01:01Bukan lagi karena masalah ideologi.
01:04Tetapi karena pertanyaan tentang apakah Iran itu diperbolehkan memiliki kemampuan pengayaan nuklir.
01:15Ya, walaupun boleh, skalanya sebesar apa?
01:20Dan siapa yang mengawasi?
01:23Kan gitu ya Mbak?
01:24Itu poinnya tuh.
01:26Nah, pertanyaan itu menjadi concern semua pihak.
01:31Itu poin satu.
01:32Poin kedua, sejak tahun 1968,
01:36itu tidak ada lagi negara yang bisa dikatakan akan mempunyai senjata nuklir.
01:42Karena lima kekuatan di PBB yang memegang hak veto PBB itu bisa dikatakan memiliki senjata nuklir sebagai efek langsung dari
01:52selesainya Perang Dunia II.
01:53Yang berikutnya disusul oleh empat negara selanjutnya, yaitu Pakistan dan India,
01:59yang disebabkan karena turunnya kemampuan Inggris sebagai great power yang disalib oleh rising power Amerika saat itu.
02:06Sehingga muncul acelah-celah di dalam sistem keamanan internasional pasca Perang Dunia II yang memungkinkan akhirnya
02:13Pakistan dan India sebagai commonwealth dari Inggris akhirnya memiliki senjata nuklir.
02:19Tahun 1948, karena trauma holocaust, Israel juga memiliki senjata nuklir.
02:27Dan juga akhirnya Korea Utara yang terakhirnya.
02:30Nah sejak itu, tahun 1968, dunia sepakat untuk tidak lagi ada negara yang bisa memiliki senjata nuklir.
02:37Sehingga kondisi di dunia itu dijaga dengan balance of power yang ada,
02:42dan pendekatan kerjasama, pendekatan multi-institucionalisme di dalam tingkat global,
02:48dan juga bagaimana interaksi antar negara dan aktor non-negara itu bisa memunculkan
02:57yang namanya kesamaan identitas, kesamaan interest, dan compatibility dalam behavior.
03:04Nah sehingga tidak diperlukan lagi senjata nuklir untuk mencegah terjadi peperangan.
03:10Itu poin satu itu.
03:12Nah yang poin yang kita perlu garis bawah di sini, bagi Washington, Mbak ya,
03:17isu ini tuh bukan hanya masalah formus, atau masalah ICBM, Intercontinental Ballistic Missiles.
03:23Kalau damai saja, deeskalasi dan damai cepat itu bisa dicapai.
03:27Tapi damai yang langgang, damai yang sustainable itu bergantung dari apakah Iran masih ingin memiliki senjata nuklir.
03:36Nah, itu yang juga kami pertanyakan pasti ya, karena dalam kesepakatan yang diklaim Trump,
03:44ini sudah menemui ada pendekatan bahwa perdamaian ini akan terlaksana,
03:50tapi di sisi lain, Iran menyebut bahwa terkait dengan pembahasan nuklir itu tidak disatukan dengan negosiasi kali ini.
03:59Nah, jadi titik temu mana yang berpengaruh bahwa perdamaian ini akan segera terwujud oleh kedua negara, Pak Wibawanto?
04:07Ya, jadi kan gini Mbak, ya sejak tahun 18 itu kan dengan adanya Non-Nuklear Proliferation Treaty on Nuclear Proliferation,
04:15ya tidak boleh ada lagi yang punya senjata nuklir, itu semua negara itu tidak ada yang boleh punya senjata nuklir
04:21lagi.
04:21Itu poin satu, Amerika memegang posisi keras itu.
04:24Nah, bukan hanya Amerika, bahkan juga negara P-5 line, termasuk China dan Rusia.
04:29Nah, tetapi bagi Iran, kemampuan untuk membangun kekuatan nuklir,
04:38walaupun belum tentu menjadi senjata nuklir, itu adalah hak sovereignty.
04:43Bahwa itu adalah kekuatan negara, kekuatan bangsa untuk mewujudkan leverage di dalam posisi Iran,
04:51bernegosiasi dengan negara manapun di dunia internasional.
04:54Tetapi di sini ada permasalahan berikutnya, Mbak Valen.
04:58Permasalahan berikutnya adalah tidak adanya kesamaan identitas, interest,
05:05tidak adanya kesamaan norma, identitas, interest, dan juga behavior antara Iran yang mau menjadi revisionist.
05:13Artinya Iran beranggapan bahwa regional security complex di Timur Tengah itu harus dirubah.
05:18Nah, itu fundamental gitu.
05:19Ini bertentangan secara eksistensial dengan Israel dan juga dengan negara Sudi Arab, GCC.
05:25Itu poin yang Mbak Valen.
05:26Jadi, saya gambarkan ya, dengan analogi konstruktifis.
05:31Amerika itu tidak akan takut jika Kanada itu memiliki senjata nuklir.
05:35Kenapa?
05:36Karena Kanada itu memiliki norma, identitas, interest, dan behavior yang kompetibel.
05:42Gitu loh, Mbak.
05:42Makanya dulu jamannya sah Iran itu, Iran pun juga didukung kemampuan nuklirnya oleh Amerika dan Israel.
05:49Kenapa?
05:50Karena mereka mempunyai kesamaan di dalam norma, identitas, interest, dan juga behavior yang kompetibel.
05:56Nah, makanya di sini tidak mungkin akan ada yang namanya kesepakatan yang sustainable
06:02jika Iran tidak mau meninggalkan kemampuan pengayaan nuklirnya.
06:07Apalagi Iran juga tidak mau menyerahkan uranium yang tersisa.
06:12Gitu loh, Mbak.
06:13Tapi apakah dengan pengaruh ekonomi, dampak ekonomi yang dirasakan oleh kedua negara,
06:20ini tidak bisa jadi salah satu pancingan bahwa dua-duanya ini harus saling berkompromi untuk menghentikan peran ini?
06:30Ya, jadi gini Mbak harus melihatnya, Mbak.
06:32Gini, gini.
06:33Cara melihatnya gini.
06:34Jadi, ini kan ada yang namanya super power Amerika.
06:38Super power manapun ya.
06:40Super power Amerika.
06:41Nah, di dalam dunia yang tidak sempurna ordernya.
06:43Ada kekuatan icing power namanya China dan Russia.
06:47Mereka hadir untuk membalance keadaan.
06:49Jadi merevisi, mengkoreksi setiap keadaan.
06:52Oke, itu perlu di dalam kehidupan sosial, di dalam internasional politik.
06:57Nah, masalahnya di sini, Iran itu mengambil posisi revisionist.
07:03Harus mempunyai sejata nuklir dan harus melenyapkan Israel.
07:08Dan harus mengubah secara fundamental struktur regional security complex di Timur Tengah.
07:13Ini yang tidak ketemu.
07:15Makanya, Presiden Amerika sejak tahun 1979 sampai tahun 2026 mempunyai satu strategi goal yang sama.
07:24Mengubah orientasi geopolitik Iran.
07:26Supaya Iran itu bisa hidup kompetibel dengan Yahudi Arab bersama dengan Persian, orang Iran.
07:33Nah, ini adalah peninggalan dari Perang Dunia Kedua.
07:37Dimana saat Perang Dunia Kedua terjadi, Inggris lah itu sebenarnya super power-nya.
07:42Tapi setelah Inggris itu turun kemampuannya, atau Perang Dunia Satu lah, saya mundur sedikit ya.
07:49Akhirnya negara-negara Timur Tengah ini kan menjadi apa?
07:51Menjadi yang tadinya itu British Mandat bekas Ottoman Empire.
07:57Dalam tanda putih diserahkan kepada Amerika dan juga Perancis untuk dikelola dengan baik.
08:02Sehingga Timur Tengah ini bisa menjadi region yang produktif dan kompetibel serta stable dan peace gitu itu, Mbak.
08:08Iya kan?
08:09Nah, isunya waktu itu tidak seperti sekarang.
08:12Isunya waktu itu rising power-nya Amerika itu mempunyai kesamaan budaya dengan Inggris.
08:18Karena mereka berasal dari budaya yang sama.
08:20Orang Amerika adalah orang Inggris yang imigrant.
08:22Nah, sekarang beda, Mbak.
08:24Sekarang Amerika grand power-nya, nomor duanya rising power-nya yang mengejar itu passing power-nya itu adalah China.
08:30Ya, nomor dua GDP terbesar.
08:32Calon great power selanjutnya.
08:34Nah, ini perbedaan kulturnya sangat kontras sebenarnya antara Barat dan Timur gitu.
08:40Ditambah lagi Persian yang belum bisa menerima sistem struktur regional security kompleks Timur Tengah yang menurut Iran harus terus dikoreksi.
08:51Nah, untuk mengkoreksinya itu Iran harus mempunyai yang namanya strategic autonomy atau strategic resistance.
08:59Karena pengalaman Iran yang juga mempunyai trauma dengan Barat gitu loh.
09:03Dan Barat juga mempunyai trauma dengan Iran.
09:06Jadi ini ada yang namanya trust deficit yang sangat besar, Mbak.
09:09Nah, jadi skenarionya menjawab pertanyaan Mbak Fallen tadi ya, yang paling worse adalah akan ada peperangan lagi ya, dimana Israel
09:20dan Amerika akan menyerang Iran.
09:23Itu yang paling worse.
09:23Yang ideal adalah limit bill yang tadi Mbak bilang gitu.
09:29Bahwa akhirnya diizinkanlah Iran untuk membangun kemampuan pengayaan nuklir sampai skala tertentu.
09:38Diawasi secara ketat, kan gitu ya.
09:40Dan sanksi yang ada itu dirilif oleh Amerika dan Barat gitu.
09:44Dan terjadi yang namanya normalisasi di Hormuz gitu.
09:48Dan jadi perangnya adalah perang ideologi saja.
09:50Tetapi ini ya, juga sulit Mbak.
09:54Karena Israel sendiri ya, melihat bahwa saat ini eksistensial gitu loh, rejim sekarang, rejim Iran ini.
10:06Rejimnya bukan Iran ya Mbak ya.
10:08Nah, sementara yang paling mungkin terjadi ya, terus terang aja adalah kembali seperti ini.
10:20Kedua negara seperti Mbak Valen tadi bilang, karena banyak faktor yang dipertimbangkan,
10:25pertimbangkan mereka tidak mau terlibat perang ideologi, bukan Mbak.
10:29Tetapi mereka juga tidak bisa menyelesaikan isu fundamental.
10:31Akhirnya kembali kepada special operation and low intensity conflict.
10:34Kembali lagi kepada kursif diplomasi, Amerika terus menekan.
10:38Begitu ada ruang diplomasi, diplomasi lagi, tekan lagi diplomasi, tekan lagi diplomasi.
10:42Sampai, sambil special operation dilakukan untuk mengubah orientasi geopolitik Iran gitu.
10:47Ya, itu yang akan kita nantikan bersama.
10:49Pak Wibawanto, apakah damai itu kemudian tercapai?
10:53Ya, kita akan berikan kesempatan, kita akan tunggu bagaimana finalisasi kesepakatan
10:56antara yang dibuat oleh Amerika Serikat dan juga Iran.
11:00Terima kasih sudah berbagi analisa anda pada kami di Kompas Malam Kompas TV.
11:04Pakar geopolitik dan keamanan nasional, Pak Wibawanto Nugroho.
11:06Salam sehat selalu, Pak.
Komentar