Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengatakan 25 kapal, termasuk kapal tanker minyak, kapal kontainer, dan kapal komersial, telah melintasi Selat Hormuz dalam 24 jam terakhir di bawah koordinasi dan perlindungan pasukan mereka.

Amerika Serikat dan Iran sama-sama mengakui adanya kemajuan dalam negosiasi damai.

Kami akan membahas hal tersebut bersama pakar geopolitik dan keamanan nasional, Wibawanto Nugroho Widodo.

#amerikaserikat #kapal #selathormuz

Baca Juga Mendagri Tito Ungkap Pemerintah Targetkan Pemulihan Pascabencana Sumatera Rampung 2028 di https://www.kompas.tv/nasional/670987/mendagri-tito-ungkap-pemerintah-targetkan-pemulihan-pascabencana-sumatera-rampung-2028



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/670994/full-as-iran-bahas-finalisasi-kesepakatan-akankah-damai-tercapai-ini-kata-pakar-kompas-malam
Transkrip
00:00Amerika Serikat dan Iran sama-sama mengakui ada kemajuan dalam negosiasi damai.
00:06Kita akan langsung bahas bersama dengan pakar geopolitik dan keamanan nasional Wibawanto Nugro Hoidodo.
00:13Selamat malam Pak Wibawanto, apa kabar?
00:17Selamat malam, apa kabar? Baik, Pak.
00:19Semoga kabar baik selalu bersama Anda dan juga keluarga Pak Wibawanto.
00:23Ini bukan klaim yang pertama kali yang diutarakan oleh Trump
00:27karena berkali-kali katanya akan segera sepakat tapi tidak tercapai juga sampai detik ini kita berdialog.
00:33Nah, bagaimana malam ini dengan pernyataan Trump yang terakhir menurut pandangan Anda?
00:40Ya, jadi yang pertama itu kita melihat dari perspektif Amerika, Teheran, dan Tel Aviv
00:47untuk melihat fenomena ini, Pak Wibawanto.
00:50Dari perspektif ketiganya, deeskalasi itu mungkin terjadi.
00:55Tetapi deeskalasi itu mungkin menjadi tidak terjadi.
00:59Bukan karena masalah perang.
01:01Bukan lagi karena masalah ideologi.
01:04Tetapi karena pertanyaan tentang apakah Iran itu diperbolehkan memiliki kemampuan pengayaan nuklir.
01:15Ya, walaupun boleh, skalanya sebesar apa?
01:20Dan siapa yang mengawasi?
01:23Kan gitu ya Mbak?
01:24Itu poinnya tuh.
01:26Nah, pertanyaan itu menjadi concern semua pihak.
01:31Itu poin satu.
01:32Poin kedua, sejak tahun 1968,
01:36itu tidak ada lagi negara yang bisa dikatakan akan mempunyai senjata nuklir.
01:42Karena lima kekuatan di PBB yang memegang hak veto PBB itu bisa dikatakan memiliki senjata nuklir sebagai efek langsung dari
01:52selesainya Perang Dunia II.
01:53Yang berikutnya disusul oleh empat negara selanjutnya, yaitu Pakistan dan India,
01:59yang disebabkan karena turunnya kemampuan Inggris sebagai great power yang disalib oleh rising power Amerika saat itu.
02:06Sehingga muncul acelah-celah di dalam sistem keamanan internasional pasca Perang Dunia II yang memungkinkan akhirnya
02:13Pakistan dan India sebagai commonwealth dari Inggris akhirnya memiliki senjata nuklir.
02:19Tahun 1948, karena trauma holocaust, Israel juga memiliki senjata nuklir.
02:27Dan juga akhirnya Korea Utara yang terakhirnya.
02:30Nah sejak itu, tahun 1968, dunia sepakat untuk tidak lagi ada negara yang bisa memiliki senjata nuklir.
02:37Sehingga kondisi di dunia itu dijaga dengan balance of power yang ada,
02:42dan pendekatan kerjasama, pendekatan multi-institucionalisme di dalam tingkat global,
02:48dan juga bagaimana interaksi antar negara dan aktor non-negara itu bisa memunculkan
02:57yang namanya kesamaan identitas, kesamaan interest, dan compatibility dalam behavior.
03:04Nah sehingga tidak diperlukan lagi senjata nuklir untuk mencegah terjadi peperangan.
03:10Itu poin satu itu.
03:12Nah yang poin yang kita perlu garis bawah di sini, bagi Washington, Mbak ya,
03:17isu ini tuh bukan hanya masalah formus, atau masalah ICBM, Intercontinental Ballistic Missiles.
03:23Kalau damai saja, deeskalasi dan damai cepat itu bisa dicapai.
03:27Tapi damai yang langgang, damai yang sustainable itu bergantung dari apakah Iran masih ingin memiliki senjata nuklir.
03:36Nah, itu yang juga kami pertanyakan pasti ya, karena dalam kesepakatan yang diklaim Trump,
03:44ini sudah menemui ada pendekatan bahwa perdamaian ini akan terlaksana,
03:50tapi di sisi lain, Iran menyebut bahwa terkait dengan pembahasan nuklir itu tidak disatukan dengan negosiasi kali ini.
03:59Nah, jadi titik temu mana yang berpengaruh bahwa perdamaian ini akan segera terwujud oleh kedua negara, Pak Wibawanto?
04:07Ya, jadi kan gini Mbak, ya sejak tahun 18 itu kan dengan adanya Non-Nuklear Proliferation Treaty on Nuclear Proliferation,
04:15ya tidak boleh ada lagi yang punya senjata nuklir, itu semua negara itu tidak ada yang boleh punya senjata nuklir
04:21lagi.
04:21Itu poin satu, Amerika memegang posisi keras itu.
04:24Nah, bukan hanya Amerika, bahkan juga negara P-5 line, termasuk China dan Rusia.
04:29Nah, tetapi bagi Iran, kemampuan untuk membangun kekuatan nuklir,
04:38walaupun belum tentu menjadi senjata nuklir, itu adalah hak sovereignty.
04:43Bahwa itu adalah kekuatan negara, kekuatan bangsa untuk mewujudkan leverage di dalam posisi Iran,
04:51bernegosiasi dengan negara manapun di dunia internasional.
04:54Tetapi di sini ada permasalahan berikutnya, Mbak Valen.
04:58Permasalahan berikutnya adalah tidak adanya kesamaan identitas, interest,
05:05tidak adanya kesamaan norma, identitas, interest, dan juga behavior antara Iran yang mau menjadi revisionist.
05:13Artinya Iran beranggapan bahwa regional security complex di Timur Tengah itu harus dirubah.
05:18Nah, itu fundamental gitu.
05:19Ini bertentangan secara eksistensial dengan Israel dan juga dengan negara Sudi Arab, GCC.
05:25Itu poin yang Mbak Valen.
05:26Jadi, saya gambarkan ya, dengan analogi konstruktifis.
05:31Amerika itu tidak akan takut jika Kanada itu memiliki senjata nuklir.
05:35Kenapa?
05:36Karena Kanada itu memiliki norma, identitas, interest, dan behavior yang kompetibel.
05:42Gitu loh, Mbak.
05:42Makanya dulu jamannya sah Iran itu, Iran pun juga didukung kemampuan nuklirnya oleh Amerika dan Israel.
05:49Kenapa?
05:50Karena mereka mempunyai kesamaan di dalam norma, identitas, interest, dan juga behavior yang kompetibel.
05:56Nah, makanya di sini tidak mungkin akan ada yang namanya kesepakatan yang sustainable
06:02jika Iran tidak mau meninggalkan kemampuan pengayaan nuklirnya.
06:07Apalagi Iran juga tidak mau menyerahkan uranium yang tersisa.
06:12Gitu loh, Mbak.
06:13Tapi apakah dengan pengaruh ekonomi, dampak ekonomi yang dirasakan oleh kedua negara,
06:20ini tidak bisa jadi salah satu pancingan bahwa dua-duanya ini harus saling berkompromi untuk menghentikan peran ini?
06:30Ya, jadi gini Mbak harus melihatnya, Mbak.
06:32Gini, gini.
06:33Cara melihatnya gini.
06:34Jadi, ini kan ada yang namanya super power Amerika.
06:38Super power manapun ya.
06:40Super power Amerika.
06:41Nah, di dalam dunia yang tidak sempurna ordernya.
06:43Ada kekuatan icing power namanya China dan Russia.
06:47Mereka hadir untuk membalance keadaan.
06:49Jadi merevisi, mengkoreksi setiap keadaan.
06:52Oke, itu perlu di dalam kehidupan sosial, di dalam internasional politik.
06:57Nah, masalahnya di sini, Iran itu mengambil posisi revisionist.
07:03Harus mempunyai sejata nuklir dan harus melenyapkan Israel.
07:08Dan harus mengubah secara fundamental struktur regional security complex di Timur Tengah.
07:13Ini yang tidak ketemu.
07:15Makanya, Presiden Amerika sejak tahun 1979 sampai tahun 2026 mempunyai satu strategi goal yang sama.
07:24Mengubah orientasi geopolitik Iran.
07:26Supaya Iran itu bisa hidup kompetibel dengan Yahudi Arab bersama dengan Persian, orang Iran.
07:33Nah, ini adalah peninggalan dari Perang Dunia Kedua.
07:37Dimana saat Perang Dunia Kedua terjadi, Inggris lah itu sebenarnya super power-nya.
07:42Tapi setelah Inggris itu turun kemampuannya, atau Perang Dunia Satu lah, saya mundur sedikit ya.
07:49Akhirnya negara-negara Timur Tengah ini kan menjadi apa?
07:51Menjadi yang tadinya itu British Mandat bekas Ottoman Empire.
07:57Dalam tanda putih diserahkan kepada Amerika dan juga Perancis untuk dikelola dengan baik.
08:02Sehingga Timur Tengah ini bisa menjadi region yang produktif dan kompetibel serta stable dan peace gitu itu, Mbak.
08:08Iya kan?
08:09Nah, isunya waktu itu tidak seperti sekarang.
08:12Isunya waktu itu rising power-nya Amerika itu mempunyai kesamaan budaya dengan Inggris.
08:18Karena mereka berasal dari budaya yang sama.
08:20Orang Amerika adalah orang Inggris yang imigrant.
08:22Nah, sekarang beda, Mbak.
08:24Sekarang Amerika grand power-nya, nomor duanya rising power-nya yang mengejar itu passing power-nya itu adalah China.
08:30Ya, nomor dua GDP terbesar.
08:32Calon great power selanjutnya.
08:34Nah, ini perbedaan kulturnya sangat kontras sebenarnya antara Barat dan Timur gitu.
08:40Ditambah lagi Persian yang belum bisa menerima sistem struktur regional security kompleks Timur Tengah yang menurut Iran harus terus dikoreksi.
08:51Nah, untuk mengkoreksinya itu Iran harus mempunyai yang namanya strategic autonomy atau strategic resistance.
08:59Karena pengalaman Iran yang juga mempunyai trauma dengan Barat gitu loh.
09:03Dan Barat juga mempunyai trauma dengan Iran.
09:06Jadi ini ada yang namanya trust deficit yang sangat besar, Mbak.
09:09Nah, jadi skenarionya menjawab pertanyaan Mbak Fallen tadi ya, yang paling worse adalah akan ada peperangan lagi ya, dimana Israel
09:20dan Amerika akan menyerang Iran.
09:23Itu yang paling worse.
09:23Yang ideal adalah limit bill yang tadi Mbak bilang gitu.
09:29Bahwa akhirnya diizinkanlah Iran untuk membangun kemampuan pengayaan nuklir sampai skala tertentu.
09:38Diawasi secara ketat, kan gitu ya.
09:40Dan sanksi yang ada itu dirilif oleh Amerika dan Barat gitu.
09:44Dan terjadi yang namanya normalisasi di Hormuz gitu.
09:48Dan jadi perangnya adalah perang ideologi saja.
09:50Tetapi ini ya, juga sulit Mbak.
09:54Karena Israel sendiri ya, melihat bahwa saat ini eksistensial gitu loh, rejim sekarang, rejim Iran ini.
10:06Rejimnya bukan Iran ya Mbak ya.
10:08Nah, sementara yang paling mungkin terjadi ya, terus terang aja adalah kembali seperti ini.
10:20Kedua negara seperti Mbak Valen tadi bilang, karena banyak faktor yang dipertimbangkan,
10:25pertimbangkan mereka tidak mau terlibat perang ideologi, bukan Mbak.
10:29Tetapi mereka juga tidak bisa menyelesaikan isu fundamental.
10:31Akhirnya kembali kepada special operation and low intensity conflict.
10:34Kembali lagi kepada kursif diplomasi, Amerika terus menekan.
10:38Begitu ada ruang diplomasi, diplomasi lagi, tekan lagi diplomasi, tekan lagi diplomasi.
10:42Sampai, sambil special operation dilakukan untuk mengubah orientasi geopolitik Iran gitu.
10:47Ya, itu yang akan kita nantikan bersama.
10:49Pak Wibawanto, apakah damai itu kemudian tercapai?
10:53Ya, kita akan berikan kesempatan, kita akan tunggu bagaimana finalisasi kesepakatan
10:56antara yang dibuat oleh Amerika Serikat dan juga Iran.
11:00Terima kasih sudah berbagi analisa anda pada kami di Kompas Malam Kompas TV.
11:04Pakar geopolitik dan keamanan nasional, Pak Wibawanto Nugroho.
11:06Salam sehat selalu, Pak.
Komentar

Dianjurkan