Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KENDARI, KOMPAS.TV - Beberapa tahun belakangan, ada satu pemandangan yang makin akrab di jalanan Kota Kendari, yakni adanya penjual kopi keliling.

Penjual kopi keliling kini menjadi usaha yang tren bagi para anak muda di Kota Lulo, Kendari.

Tren ini meledak dan berhasil menarik perhatian para pencinta kopi dengan menawarkan pengalaman ngopi yang unik dan praktis.

Mereka menjajakan kopi dengan menggunakan motor listrik, vespa, hingga mobil jadul di sejumlah lokasi keramaian.

Seperti kawasan Tugu Religi Kota Kendari yang setiap sorenya mereka mangkal berjualan, karena ramai dipadati warga yang berolahraga dan nongkrong.

Sejumlah varian kopi mereka tawarkan seperti kopi susu, kopi aren, dan pandan.

Dengan konsep sederhana, kopi keliling telah membuktikan inovasi dalam bisnis mampu menciptakan tren baru yang diterima baik masyarakat.

Salah seorang penikmat kopi, Deswita mengaku, sebelumnya kerap nongkrong di kafe. Namun, usai marak kopi keliling, dirinya lebih memilih membeli kopi dari penjual kopi keliling.

Selain karena mudah dijangkau, kopi yang dijual pun murah.

Fenomena ini tidak hanya menjadi peluang usaha yang menjanjikan, tetapi juga membawa warna baru bagi pecinta kopi di Kota Kendari.

Dengan konsep sederhana namun kreatif, kopi keliling telah membuktikan inovasi dalam bisnis mampu menciptakan tren baru yang diterima baik masyarakat.

Baca Juga Fenomena Bisnis Jastip di Jakarta Fair: Jastiper Antre Sejak Pagi Bawa Koper di https://www.kompas.tv/regional/602176/fenomena-bisnis-jastip-di-jakarta-fair-jastiper-antre-sejak-pagi-bawa-koper

#kopi #kopikeliling #tren

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/regional/602182/tren-kopi-keliling-marak-di-kendari-inovasi-anak-muda-tarik-minat-pecinta-kopi
Transkrip
00:00Ya, saya bersama Ipron dan juga saudara, ada dua, ada enam.
00:08Kita bertemu.
00:12Usaha yang keren di dalam anak hidup di Tuhan-Handari.
00:15Mereka mencetakan kopi dengan menggunakan motor listrik,
00:19S-Fact, 3 mobil zaman dulu, studio melalokasi teramanya.
00:23Beberapa tahun belakangan, ada satu pemandangan yang makin akrab di jalanan kota Kendari,
00:34yakni adanya penjual kopi keliling.
00:36Penjual kopi keliling kini menjadi usaha yang tren bagi para anak muda di kota Lulokendari.
00:43Tren ini meledak dan berhasil menarik perhatian para pecinta kopi
00:46dengan menawarkan pengalaman kopi yang unik dan praktis.
00:50Mereka menjajakan kopi dengan menggunakan motor listrik,
00:54Vespa, hingga mobil jadul di sejumlah lokasi keramaian.
00:59Seperti kawasan Tugu Religi Kota Kendari,
01:01yang setiap sorenya mereka mangkal berjualan
01:04karena ramai dipadati warga yang berolahraga dan nongkrong.
01:09Sejumlah varian kopi mereka tawarkan,
01:11seperti kopi susu, kopi aren, dan pandan.
01:14Dengan konsep sederhana, kopi keliling telah membuktikan inovasi dalam bisnis,
01:19mampu menciptakan tren baru yang diterima baik masyarakat.
01:24Karena di NTQ juga kita bisa lihat juga banyak juga yang nongkrong di pinggir jalan.
01:29Jadi kita yang sebagai kopi street, kita menjual kopi di pinggir jalan.
01:34Salah seorang penikmat kopi, Deswita, mengaku sebelumnya kerap nongkrong di kafe.
01:40Namun usai marah kopi keliling,
01:42dirinya lebih memilih membeli kopi dari penjual kopi keliling.
01:45Selain karena mudah dijangkau, kopi yang dijual pun murah.
01:48Biasa kita nongkrong di kafe-kafe sekitar sini,
01:54cuman harganya lumayan,
01:55dari Rp25.000 sampai Rp50.000 biasa paling tinggi.
02:00Cuman pas ini ada efek-feksi,
02:04terus banyak pedagang kopi keliling,
02:07dengan rasa yang sama, harga ekonomis, dan lebih terjangkau.
02:10Jadi sekarang kita lebih pilih nongkrong di sini.
02:14Biasa malam, cuman ini karena baru balik kerja, jadi sehingga ngopi dulu.
02:19Fenomena ini tidak hanya menjadi peluang usaha yang menjanjikan,
02:23tetapi juga membawa warna baru bagi pecinta kopi di kota kendari.
02:27Dengan konsep sederhana namun kreatif,
02:30kopi keliling telah membuktikan inovasi dalam bisnis
02:33mampu menciptakan tren baru yang diterima baik masyarakat.
02:37Silvian Sakya, Kompas TV Kendari, Sulawesi Tenggara
Komentar

Dianjurkan