Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
MEDAN, KOMPASTV - Polemik kepemilikan empat pulau di perbatasan antara provinsi Aceh dan Sumatera utara terus bergulir.

Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution minta media jangan memantik kekisruhan.

"Kalian jelaskan juga di media skemanya itu. Skema biar bisa dapat kalau katanya Provinsi Sumatera-Utara nyuri. Di mana skema nyurinya? Coba jelaskan. Di media kalian. Di mana skema nyurinya? Nah, itu yang perlu dijelaskan. Kalau kalian bilang ini akan memantik, pemerintah kita memantik. Di mana cara memantiknya? Kalian coba jabarkan," kata Bobby ditemui media usai meresmikan kapal penyeberangan pada Sabtu (14/6/2025).

Bobby menyebut jika pengambilan dan pelepasan suatu wilayah itu merupakan kewenangan pemerintah pusat.

Bobby pun menampik kabar miring jika masuknya empat pulau yang sebelumnya di wilayah aceh tersebut merupakan pemberian atau kado dari Mendagri Tito Karnavian.

Ia pun membeberkan proses keempat pulau tersebut sudah sejak 2007 semasa ia masih di bangku sekolah.

"Di mana proses itu bisa dari tahun dari tahun 2007 Saya masih kuliah, bos. Bukan kuliah, masih SMA. Saya masuk SMA 2009. Nah, tiba-tiba sekarang dari 2007 prosesnya 2025 masuk ke Provinsi Sumatera-Utara dibilang hadiah. Hadiah apa? enggak ada yang tahu dulu pas SMA nikah sama anak Pak Jokowi. Jadi, kalau bilang gitu kalian juga jangan memantiknya," jelas Bobby.

Sebelumnya Gubernur Aceh, Muzakir Manaf angkat bicara soal empat pulau di perairan Aceh yang dipindahkan ke Kawasan Sumatera Utara.

"Empat pulau itu sebenarnya adalah kewenangan Aceh, jadi kami punya alasan kuat, punya bukti kuat, punya data kuat," ujar Muzakir saat ditemui di JCC, Jakarta pada Kamis (12/6/2025).

Video Editor: Vila

#sumaterautara #aceh #boobynasution

Baca Juga Relawan Laporkan Pemilik Akun Tiktok Pengunggah Video Diduga Hina Bobby Nasution ke Polisi di https://www.kompas.tv/regional/599487/relawan-laporkan-pemilik-akun-tiktok-pengunggah-video-diduga-hina-bobby-nasution-ke-polisi



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/599604/gubernur-sumut-bobby-nasution-minta-media-jangan-memantik-kekisruhan-terkait-sengketa-4-pulau
Transkrip
00:00Dari 2007 prosesnya, 2025 itu masuk ke Provinsi Sumatera Utara, dibilang hadiah.
00:07Hadiah apa? Nggak ada yang tahu, Pak SESMA nikah sama anak Pak Jokowi, nggak ada yang tahu.
00:12Kalian bilang ini memantik-memantik, medianya juga jangan memantik.
00:17Kalau apa yang disampaikan, itu jangan dipotong-potong.
00:24Pemerintah daerah itu nggak ada wewenang sama sekali.
00:27Nggak ada wewenang sama sekali.
00:30Untuk mengambil atau melepaskan wilayah di daerah kami.
00:37Nggak mungkin misalnya contoh tiba-tiba kami melepaskan satu wilayah kami.
00:40Nggak bisa, Pak.
00:42Nggak akan bisa tanpa ada izin dari pemerintah atasan, pemerintah pusat.
00:48Dan pelepasan ataupun pengambilan itu nggak bisa seolah-olah hanya dari satu sisi.
00:54Ada dari dua sisi.
00:56Nah, itu yang kalau kalian bilang ini jadi pemantik dan segala macam, kalian jelaskan juga di media.
01:02Skemanya itu.
01:03Skema biar bisa dapat, oh katanya Provinsi Sumatera-Utara nyuri.
01:07Gimana skema nyurinya? Coba jelaskan.
01:10Di media kalian.
01:12Gimana skema nyurinya?
01:14Nah, itu yang perlu dijelaskan.
01:15Kalau kalian nggak bilang ini akan memantik, Kemendage akan memantik.
01:19Gimana cara memantiknya?
01:22Nah, kalian coba jabarkan.
01:24Gimana proses itu bisa dari tahun, dari tahun 2017.
01:302017, 2007.
01:36Nah, 2007 saya masih kuliah, bos.
01:40Bukan kuliah, masih SMA.
01:42SMA 2009.
01:44Nah, tiba-tiba sekarang dari 2007 prosesnya, 2025.
01:48Itu masuk ke Provinsi Sumatera-Utara, dibilang hadiah.
01:52Nah, hadiah apa?
01:53Nggak ada yang tahu dulu saya, pas SMA nikah sama anak Pak Cepung.
01:56Nggak ada yang tahu.
01:57Ya?
01:59Jadi, kalau bilang itu kalian juga jangan memantik.
02:01Ya, ada.
02:02Nah, 40 itu sebenarnya itu bukan kuih dengan Aceh.
02:28Aceh.
02:29Jadi, kami punya alasan kuat, punya bukti kuat, punya data kuat.
02:35Nah, segini yang dahulu kala, itu memang hak Aceh.
02:38Karena nggak punya Aceh.
02:39Artinya bakal juga ke PTW nih?
02:41Kenapa?
02:41Bakal buat ke PTW.
02:43Ya, seakan membuat.
02:44Itu ke HAHC mulai dulu-dulu.
02:46Siapa ada kebunuh satu di Sepator yang tanya bahwa ini punya hak sejarah Aceh.
02:50Nah, betul-betul.
02:51Oke, betul-betul.
02:52Apa, Buku sekarang?
02:54Memang, ya, energi lebih besar di situ.
02:57Tadi sama Presiden ngobrolin apa, Pak?
02:59Excerency, apa khabar?
03:01Apa khabar?
03:02Yang kemungkinan?
03:03Kita tidak tahu.
03:04Itu adalah hal-hal yang di Jepang.
03:06Maka kita harus menghubungi.
03:08Ya, ya, ya.
03:12Pak, kalau hasil pertemuan sama Mas Bobi kemarin bagaimana, Pak?
03:15Ya, karena kemarin saya ada, ada, apa, ada dera di Melabung.
03:24Dia telah sambut untuk pelatangan di Aceh.
03:28Karena itu saya serahkan kepada, apa, Pemprov Aceh, kepada Firu.
03:32Ya.
03:35Kalau Pemprov Aceh pada tahun 2008 tuh nggak mencatatkan polaunya Pak, Pak, Pemendek.
03:39Maka saya bilang tadi, itu memang hak Aceh.
03:44Jadi saya rasa itu memang betul-betul ada di bagian sini, di apa saja.
03:49Di segi geografi, di segi sejarah, di segi kebatasan, itu memang.
03:53Ini tidak, tidak, tidak, apa, tidak, tidak perlu dikita apalagi.
03:58Wah, itu saja.
03:59Ini alasan yang kuat, bukti yang kuat dan kuat.
04:02Seperti itu.
04:03Oke, tadi ngobrol sama Presiden apa aja, Pak?
04:05Ngobrol sama Presiden ngobrolin apa aja?
04:07Yang betul dia, dia emak juga Aceh.
04:09Karenaige apa?
04:10Saya bilang dalam rangka Healthcare, wanna segera waduk dan jalan 0.
04:13Tapi nggak ngomongin soal pulau, Pak?
04:14Ya?
04:15Nggak ngomongin soal pulau?
04:16Nggak, nggak.
04:17Oke, kalau mau Pak Yusril?
04:18Pak Yusril juga, dia kakak Aceh juga.
04:20Oh kakak Aceh juga.
04:31Nah, program Kompas TV melalui siaran digital, pay TV, dan media streaming.
04:37Kompas TV, independen, terpercaya.
Komentar

Dianjurkan