Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan, Budiman Sudjatmiko, menyebut target penciptaan 19 juta lapangan kerja tidak mungkin tercapai jika dimaknai sebagai pekerjaan dalam pengertian konvensional.

Menurut Budiman, pemerintah perlu mengembangkan konsep pekerjaan dan kesejahteraan melalui pendekatan baru, seperti pendapatan dasar universal, layanan dasar universal, hingga aset dasar universal.

Budiman Sudjatmiko menjelaskan, perubahan konsep lapangan kerja diperlukan untuk menjawab tantangan mekanisasi dan digitalisasi yang terus berkembang.

Ia menilai, kesejahteraan masyarakat tidak semata-mata bergantung pada penciptaan pekerjaan fisik seperti yang selama ini dipahami secara tradisional.

Wakil Ketua BEM UI 2026, Fathimah Azzahra menilai, pengakuan pemerintah terhadap hal-hal yang belum tercapai merupakan bagian dari tuntutan mahasiswa. Ia berharap, sikap terbuka untuk mengakui kekurangan juga diterapkan dalam evaluasi program pemerintah lainnya, termasuk Makan Bergizi Gratis atau MBG.

Fathimah juga mempertanyakan apakah target penghapusan stunting dalam lima tahun pemerintahan realistis dengan besarnya anggaran dan pola pelaksanaan program yang ada saat ini.

Ia berharap pemerintah tidak hanya menetapkan target, tetapi juga terbuka mengevaluasi kemungkinan pencapaiannya.

Sementara itu, Budiman menegaskan pemerintah perlu mengubah cara pandang bahwa penciptaan lapangan kerja merupakan satu-satunya jalan menuju kesejahteraan.

Bagaimana menurut Anda? Tuliskan di kolom komentar.

Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/sFstPhIYbyM

Baca Juga BEM UI Fathimah Pertanyakan Penanganan Bencana: Ada Apa dengan Laporan Menteri? | ROSI di https://www.kompas.tv/talkshow/698988/bem-ui-fathimah-pertanyakan-penanganan-bencana-ada-apa-dengan-laporan-menteri-rosi

#demomahasiswa #bemui #budimansudjatmiko

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/698989/bem-ui-fathimah-soroti-19-juta-lapangan-kerja-budiman-bukan-satu-satunya-solusi-rosi
Transkrip
00:00Bagus pertanyaan dari pernyataan, dari gini.
00:02Soal konsepnya apa sih?
00:04Jadi teman-temannya kayak ngeliat Pak Prabowo nanam pohon baru,
00:08tapi arsitektur hutannya seperti apa?
00:11Landskap hutannya seperti apa?
00:13Sehingga bisa melihat dari kacamata eagle ya.
00:16Dan jenis pohonnya juga kan?
00:17Ya, mungkin jenis pohon bisa, tapi gak mungkin gue ngapalin satu juga pohon gitu kan.
00:22Sebenarnya di hutan apa?
00:23Hutan tropis, hutan subtropis, atau cuma savana begitu ya.
00:27Oke, kebetulan BP Taskin salah satu tugas pertama menurut Pak Prabowo adalah
00:33merancang rencana induk pengatasan kemiskinan.
00:36Yang menarik adalah, Pak Prabowo mengatakan kita ini seolah-olah mengatakan orang miskin kurang uang,
00:43padahal kurang akses dan kurang aset.
00:45Kayak satu, saya terjemah kayak gini.
00:47Berarti selama ini pengatasan kemiskinan hanya ngasih tempat berteduh orang miskin supaya gak kehujanan.
00:53Masalahnya bukan sekedar nambahkan opi di halaman rumah,
00:55tapi merombak interior arsitektur rumah itu agar menyediakan meja permanen,
01:01kursi permanen, bahkan kamar permanen bagi orang-orang miskin yang kehujanan di luar.
01:05Bukan sekedar kita kasih tenda darurat, huntara, bukan hundian sementara, tapi tetap.
01:10Artinya apa?
01:11Pengatasan kemiskinan gak terlepas dari perombakan arsitektur ekonomi, sistem ekonomi.
01:15Oke?
01:15Jadi ini saya mengatakan, saya terus terang aja, Pak Prabowo saya mengatakan pasal 33,
01:22kalau dari perspektif teori sosiologi, dan ekonomi politik, ini sosialistis.
01:28Ketika bicara ekonomi sosialistis, memang, memang banyak intektual kita yang sekarang juga bingung,
01:38karena sudah pulang tahun kita tidak ada diajal oleh itu, padahal pasal 33 U45 mengamanatkan itu.
01:44Sehingga, konsep bagaimana turunannya?
01:47Kerja.
01:49Kerja seperti apa?
01:51Belum kita sempat mengenalkan kembali konsep lama Indonesia,
01:57kedua, kita dapat tantangan baru nih.
01:59Ada robotisasi, mekanisasi, digitalisasi.
02:02Itu bisa cancelling soalapan kerja tuh.
02:04Ini bisa cancelling soalapan kerja.
02:06Benar, bahwa bukan sekedar ngasih pekerjaan manual, rutin, pada orang yang nganggur,
02:13bukan sekedar itu di era hari ini.
02:14Tapi ada reskilling tidak.
02:17Ada retraining tidak.
02:19Pelatihan ketampilan-ketampilan baru yang nggak pernah ada.
02:22Sehingga kalau ditagi masalah 19 juta lapangan kerja itu,
02:24memungkinkan nggak untuk segera dilakukan?
02:26Lapangan pekerja dalam pengertian tradisional,
02:30impossible.
02:30Yang harus dilakukan, dan kami sadari itu,
02:34adalah lapangan kerja dalam pengertian-pengertian baru.
02:38Makanya di satu-satunya, kedua.
02:40Terus ada lihat, ada satu fenomen lagi baru nih.
02:42Yang ini bicara kemakmuran,
02:44tapi nggak ada hubungan dengan lapangan kerja.
02:45Apa tuh?
02:46Singkat aja.
02:48Pendapatan dasar universal,
02:50layanan dasar universal,
02:52dan aset dasar universal.
02:53Oke.
02:54Fatima.
02:54Ini satu tema sendiri, saya kira.
02:57Saya kira pas Fatima dan teman-teman bisa berdiskusi satu saat,
03:00kapan-kapan mau ke di kampus.
03:01Oke.
03:01Fatima, bagaimana teman-teman itu?
03:02Karena ada tantangan di situ.
03:04Kejataan tidak ada hubungan dengan lapangan kerja sekedar ngukir,
03:07sekedar marut,
03:08sekedar watong kayu.
03:10Enggak.
03:10Ada tantangan di situ, Fatima.
03:11Ada tantangan mekanisasi digitalisasi.
03:13Itu yang kita jawab juga.
03:15Bisa diterima nggak alasan itu?
03:16Terima kasih Bang Budiman.
03:18Sebetulnya ini salah satu tuntutan kita di aksi yang,
03:21saya sampai lupa ya aksi yang mana saking banyaknya.
03:23Kita sudah menuntut, meskipun belum terlalu ada hasilnya,
03:26tapi kita pernah menuntut Pak Prabowo untuk mengakui,
03:30apa sih hal-hal yang masih kurang.
03:31Dan di sini menurut saya Bang Budiman sudah mulai mencontohkan
03:35bagaimana cara mengindahkan tuntutan kita itu.
03:37Itu mengakui ada beberapa hal yang belum sempurna.
03:39Misalnya bahwa masih banyak kebingungan,
03:41misalnya tentang pasal 33 itu seperti apa,
03:43implementasi rutinnya gitu ya.
03:46Kemudian bagaimana bahwa 19 juta lapangan pekerjaan itu
03:49tidak mungkin kalau secara letterless,
03:51lapangan pekerjaan manual seperti pengertian konservatif
03:54biasanya tercapai, itu tidak mungkin.
03:57Dan harus ada penyesuaian dan sebagainya.
03:59Ini kan satu langkah maju yang menurut saya
04:02ada harapan nih bahwa pemerintah itu bisa mengakui hal-hal
04:04seperti ini.
04:05Dan sebetulnya ini adalah harapan kita juga untuk program lain.
04:08Seperti MBG misalnya.
04:09Apakah mungkin untuk menghilangkan stunting
04:12misalnya dalam kurun waktu 5 tahun kepresidenan ini
04:15dengan anggaran sebegitu besarnya,
04:17dengan pelaksanaan seperti ini dan sebagainya.
04:18Apakah realistis? Apakah dimungkinkan? Dan sebagainya.
04:21Jadi sebetulnya hal-hal seperti itu sih yang kita tuntut
04:24dan semoga itu bisa diimplementasikan pada hal-hal lain.
04:28Tidak cukup pasti 31 jam ini.
04:30Jelaskan.
04:31Pasti tidak karena...
04:35Kalau obsesi pemerintah ini hanya sekedar melakukan sesuatu dengan benar
04:41bisa diselesaikan teknis.
04:44Tapi masalahnya
04:47pemerintah ini ingin melakukan sesuatu yang benar.
04:49Bukan sekedar melakukan sesuatu dengan benar.
04:50Ada hal-hal yang salah tapi dilakukan dengan benar kan.
04:54Masalahnya yang mau dilakukan adalah melakukan sesuatu yang benar.
04:56Bukan sekedar dengan benar.
04:57Saya ingin mengatakan begini.
04:59Soal 33.
05:00Kami sebenarnya sudah merumuskan
05:01bagaimana sih pasal 33 diterjemahkan
05:04dalam merahkan pengetesan kemiskinan.
05:05Mungkin sesuatu-sat bisa diskusi sesuatu.
05:07Soalnya di faktis ekonomi UI.
05:08Penerjemahnya bagaimana sih?
05:10Terus tadi saya singgung.
05:12Pendapatan dasar universal.
05:13Dalam bahasa Inggrisnya orang lebih kenal mungkin malah.
05:15Universal Basic Income.
05:17Layanan dasar universal.
05:18Universal Basic Service.
05:20Makanya berkisi sekolah reed, sekolah unggulan geruda,
05:23perguruan tinggi gratis.
05:25Itu adalah bagian dari Universal Basic Services.
05:28Nantinya Universal Basic Asset.
05:30Reforma Agraria, perumahan.
05:34Ini kenapa sih orang harus...
05:36Nanti kemudian kita akan menghadapi bisnis buah situasi
05:38dan itu enggak lama.
05:39Dan saya kira itu generasi Fatima akan ngerasakan betul.
05:43Orang sejahtera itu bahkan enggak perlu kerja.
05:46Orang sejahtera itu enggak perlu kerja fisik.
05:49Enggak perlu kerja.
05:51Jadi kita juga harus mulai keluar dari kerangka
05:54bahwa kerjaan atau job creation is the only solution for welfare.
06:00Sehingga upaya teman-teman setelah kita berdiskusi saat ini
06:03dengan semangat untuk menggerakkan agar sadar itu
06:06sudah terjawab sepenuhnya atau masih belum.
06:08Terima kasih telah menonton!

Dianjurkan