00:00Aksi demonstrasi sebagai sarana menyampaikan kritik dan aspirasi merupakan sesuatu yang lazim di negara demokrasi namun unjuk rasa juga bisa
00:08menjadi alarm bahwa ada sesuatu yang harus diperbaiki.
00:11Saya masih berdiskusi bersama Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan yang juga mantan aktivis Budiman Sujat Miko dan Wakil Ketua Badan
00:19Eksekutif Maksiswa Universitas Indonesia 2026 Fatima Azahra.
00:23Soal yang tadi disampaikan bahwa ada laporan yang disampaikan kepada Presiden dari para menteri, wakil menteri, perwakilan lembaga terkait atas
00:35kerja-kerja, oke itu satu hal.
00:37Tapi kalau kemudian masih ada pandangan kritis soal ejawantahnya, fakta di lapangan berbeda, maka permasalahannya apakah sebatas komunikasi atau kebijakannya
00:47memang belum matang sepenuhnya?
00:50Mas Bud?
00:51Iya, salah satu alasan, tapi ini tidak berkaitan dengan bencana ya, salah satu alasan Pak Presiden membuat badan baru BP
00:57Taskin, salah satunya BP Taskin ya, dan juga barusan dibentuk badan reformasi agraria, reformasi agraria nasional,
01:05karena memang ada semacam bottleneck, ini disadari Pak Prabowo, ada bottleneck antar kementerian, ada dalam periode-periode pemerintahan administrasi sebelumnya,
01:18bottleneck-battleneck inilah yang kemudian memang diharapkan katalisatornya adalah badan yang baru dibentuk ini,
01:27bukan kementerian yang memang sudah mapan secara birokratis sampai bawah, tapi ada satu institusi yang tidak ada hiranya ke bawah,
01:38tapi punya diskresi dan kemenangan untuk lintas kementerian, bahkan lintas kemenko.
01:44Contohnya BP Taskin, misalnya sudah ratusan triliun nih, lima ratusan triliun nih untuk mengatasi kemiskinan, tapi kok gitu-gitu aja?
01:50Ya, ternyata emang sampai banyak kementerian melakukan program pengatasan kemiskinan sendiri-sendiri, dan nggak nyambung tuh.
01:57Antara yang sudah dientaskan, nanti kemudian akan bekerja di mana, akan dikasih reskillings apa, retraining apa, itu kadang-kadang nggak
02:04nyambung.
02:05Nah, dibutuhkan misalnya kayak BP Taskin untuk bagaimana satu program ini estafetnya lari ke kementerian apa.
02:12Jadi lebih keadministratif, kalau soal komunikasinya?
02:14Lebih pada koordinasi. Kalau komunikasi tentu saja ada bakom, satu resmi, kedua Pak Presiden pernah menyampaikan ke saya langsung,
02:24coba Pak Budiman, apa namanya, coba Pak Budiman kan dekatlah dengan teknologi civil society begitu ya.
02:34Bisa nggak ngobrol dengan mereka, mau mahasiswa, mau kelompok petani, kelompok pesantren, it's okay.
02:38Oke, artinya Pak Presiden juga sadar, Pak Presiden sadar, beliau sering beberapa menterinya atau wakil menterinya yang latar belakangnya aktivis,
02:48entah buruk, entah mahasiswa, entah petani, untuk berdialog dengan komunitas-komunitas itu.
02:52Bukan untuk melakukan kooptasi, bukan ya, bukan untuk melakukan kooptasi, tapi untuk menyediakan dialog terbuka.
02:59Jadi saya senang kalau Fatih Matri mengatakan, forum seperti yang super banyak.
03:02Itulah kenapa saya dulu ke kampus-kampus, saya kan dibubarkan oleh senat mahasiswanya.
03:08Padahal saya sengaja datang, kami datang, untuk terbuka silahkan kritik setajam-tajamnya nggak apa-apa.
03:13Oke, menurut Anda Fatih Matri lebih pada konteks komunikasi, masalah kebijakannya atau administrasinya?
03:19Kalau kita tuh sebenarnya melihatnya sederhana sih Bang, kita oke pemerintah mau membenahi dari segi administrasinya,
03:26mau bikin badan baru, mau bikin apa, yang kita lihat tuh pada akhirnya adalah apakah semua hal-hal baru ini
03:32akhirnya dirasakan oleh masyarakat dampaknya atau tidak gitu.
03:35Pada akhirnya itu, karena masyarakat tuh akhir-akhir ini juga kita rasa, saya rasa kita semua tahu ya bahwa
03:40banyak sekali kritik bahwa Pak Prabowo ini membuat banyak hal-hal baru, tapi belum jelas nih konsepnya seperti apa,
03:49terus nanti pelaksanannya seperti apa, dan pada akhirnya masyarakat akan merasakan apa nih dari program ini gitu.
03:55Karena pada trial and error itu, kalau terlalu lama gitu ya gapnya, waktunya dan sebagainya, sumber daya sudah terlanjur keluar
04:03disitu,
04:04tapi masyarakat nggak mendapatkan hasil apa-apa, lima tahun ini akan menjadi sangat sia-sia gitu kan.
04:09Di antaranya, mungkin saya ingin juga sedikit menanyakan gitu, mungkin ada salah satu ijab kabul juga yang sudah di ucapkan
04:19gitu ya,
04:19oleh Pak Gibran pada saat itu, terkait 19 juta lapangan pekerjaan yang harusnya itu berkaitan dengan pengantasan kemiskinan juga ya.
04:26Dan kita tuh sejauh ini sebagai masyarakat ya, belum melihat ada progres ke arah sana yang cukup signifikan dan mutahir
04:34gitu ya,
04:34sesuatu yang oke, bukan hanya sekedar menyediakan lapangan pekerjaan orang-orang yang akhirnya oke, dia nggak bekerja sama sekali,
04:43akhirnya dia bekerja kasar aja, tapi kita sebetulnya sebagai Gen Z mungkin, berharap bahwa lapangan pekerjaan yang baru ini juga
04:49lapangan pekerjaan yang mampu berdaya saing global di kedepannya gitu.
04:54Sehingga sederhananya bukan masalah komunikasi saja disini?
04:56Bukan hanya komunikasi, tapi bagaimana dampak itu dari seakan masyarakat, bagaimana konsep itu jelas,
05:00kita mengetahui, oh program ini tuh seperti ini, untuk ini, dasar-dasarnya ini, sudah ada hasil kalau seandainya itu butuh
05:07penelitian,
05:08kaji etik atau apapun itu sudah ada semua, kita jadi tenang gitu, oh ya ini pemerintah mau mencoba satu hal
05:13yang baru,
05:14tapi semuanya sudah jelas, semuanya sudah dicoba, persoalannya, selama ini itu semua kan tidak ada ya,
05:19selalu ada program baru tapi kita tidak tahu itu untuk apa, mungkin untuk apa ending pointnya kita tahu,
05:25tapi bagaimana dilaksanakannya dan sebagainya itu kita masih belum tahu gitu.
05:30Bagus pertanyaan dari pernyataan, dari gini, soal konsepnya apa sih?
05:34Jadi teman-temannya kayak ngeliat Pak Prabowo nanam pohon baru, tapi arsitektur hutannya seperti apa,
05:41lanskap hutannya seperti apa, sehingga bisa melihat dari kacamata eagle ya.
05:46Dan jenis pohonnya juga kan?
05:48Ya mungkin jenis pohon bisa, tapi nggak mungkin gue ngapalin satu juta pohon gitu kan,
05:52sebenarnya di hutan apa? Hutan tropis, hutan subtropis, atau cuma savana begitu ya.
05:57Oke, kebetulan BP Taskin salah satu tugas pertama menurut Pak Prabowo adalah merancang rencana induk pengatasan kemiskinan.
06:07Yang menarik adalah, Pak Prabowo mengatakan kita ini seolah-olah mengatakan orang miskin kurang uang,
06:13padahal kurang akses dan kurang aset.
06:15Oke satu, saya terjemah kayak gini, berarti selama ini pengatasan kemiskinan hanya ngasih tempat berteduh orang miskin supaya nggak kehujanan.
06:22Masalahnya bukan sekedar menambahkan opi di halaman rumah, tapi mengerombak interior arsitektur rumah itu
06:29agar menyediakan meja permanen, kursi permanen, bahkan kamar permanen bagi orang-orang miskin yang kehujanan di luar.
06:35Bukan sekedar kita kasih tenda darurat, huntara, bukan hundian sementara, tapi tetap.
06:40Artinya apa?
06:41Pengatasan kemiskinan nggak terlepas dari perombakan arsitektur ekonomi, sistem ekonomi.
06:45Oke?
06:46Jadi ini saya mengatakan, saya terus terang aja, Pak Prabowo saya mengatakan pasal 33,
06:52kalau dari perspektif teori sosiologi, dan ekonomi politik, ini sosialistis.
06:58Ketika bicara ekonomi sosialistis, memang, memang banyak intektual kita yang sekarang juga bingung,
07:08karena sudah pulang tahun kita tidak ada diajar oleh itu, padahal pasal 33 U45 mengamanatkan itu.
07:14Sehingga, konsep bagaimana turunannya, kerja, kerja seperti apa?
07:21Belum kita sempat mengenalkan kembali konsep lama Indonesia,
07:27kedua, kita dapat tantangan baru nih, ada robotisasi, mekanisasi, digitalisasi.
07:32Itu bisa cancelling soalapan kerja tuh.
07:34Ini bisa cancelling soalapan kerja.
07:36Ya, benar, bahwa bukan sekedar ngasih pekerjaan manual, rutin, pada orang yang nganggur,
07:43bukan sekedar itu di era hari ini, tapi ada reskilling tidak, ada retraining tidak,
07:49pelatihan ketelan-ketelan baru yang nggak pernah ada.
07:52Sehingga kalau ditagi masalah 19 juta lapangan kerja itu, memungkinkan nggak untuk segera dilakukan?
07:56Lapangan pekerja dalam pengertian tradisional, impossible.
08:01Yang harus dilakukan, dan kami sadari itu, adalah lapangan kerja dalam pengertian-pengertian baru.
08:08Makanya di satu, kedua.
08:10Terus ada lihat, ada satu fenomen lagi baru nih.
08:12Yang ini bicara kemakmuran, tapi nggak ada hubungan dengan lapangan kerja.
08:15Apa tuh? Singkat aja.
08:18Pendapatan dasar universal, layanan dasar universal, dan aset dasar universal.
08:23Oke. Fatima?
08:25Ini satu tema sendiri saya kira, saya kira pas Fatima dan teman-teman bisa berdiskusi satu saat,
08:30kapan-kapan mau ke di kampus.
08:31Oke, Fatima gimana teman-teman seperti itu?
08:33Karena ada tantangan di situ.
08:34Kejataan tidak ada hubungan dengan lapangan kerja sekedar ngukir, sekedar marut, sekedar watong kayu, enggak.
08:40Ada tantangan di situ, Fatima.
08:41Ada tantangan mekanisasi, digitalisasi. Itu yang harus kita jawab juga.
08:45Bisa diterima nggak alasan itu?
08:46Terima kasih Bang Budiman, sebetulnya ini salah satu tuntutan kita di aksi yang,
08:51saya sampai lupa ya aksi yang mana saking banyaknya, kita sudah menuntut.
08:54Meskipun belum terlalu ada hasilnya, tapi kita pernah menuntut Pak Prabowo untuk mengakui gitu,
09:00apa sih hal-hal yang masih kurang gitu.
09:02Dan di sini menurut saya Bang Budiman sudah mulai mencontohkan bagaimana cara mengindahkan tuntutan kita itu.
09:08Itu mengakui ada beberapa hal yang belum sempurna.
09:09Misalnya bahwa masih banyak kebingungan, misalnya tentang pasal 33 itu seperti apa, implementasi rutinnya gitu ya.
09:16Kemudian bagaimana bahwa 19 juta lapangan pekerjaan itu tidak mungkin kalau secara letterless lapangan pekerjaan manual
09:22seperti pengertian konservatif biasanya tercapai, itu tidak mungkin.
09:27Dan harus ada penyesuaian dan sebagainya.
09:29Ini kan satu langkah maju yang menurut saya ada harapan nih bahwa pemerintah itu bisa mengakui hal-hal seperti ini.
09:35Dan sebetulnya ini adalah harapan kita juga untuk program lain, seperti MBG misalnya.
09:39Apakah mungkin untuk menghilangkan stunting misalnya dalam kurun waktu 5 tahun kepresidenan ini
09:45dengan anggaran sebegitu besarnya, dengan pelaksanaan yang seperti ini dan sebagainya.
09:49Apakah realistis? Apakah dimungkinkan? Dan sebagainya.
09:52Jadi sebetulnya hal-hal seperti itu sih yang kita tuntut dan semoga itu bisa diimplementasikan pada hal-hal lain.
09:58Gak cukup pasti 31 jam ini. Jelaskan.
10:01Pasti gak karena, kalau obsesi pemerintah ini hanya sekedar melakukan sesuatu dengan benar,
10:12bisa diselesaikan teknis.
10:14Tapi masalahnya, pemerintah ini ingin melakukan sesuatu yang benar.
10:19Bukan sekedar melakukan sesuatu dengan benar.
10:21Ada hal-hal yang salah tapi dilakukan dengan benar kan.
10:24Masalah yang mau dilakukan adalah melakukan sesuatu yang benar, bukan sekedar dengan benar.
10:27Saya ingin mengatakan begini, soal 33.
10:30Kami sebenarnya sudah merumuskan bagaimana sih pasal 33 diterjemahkan dalam mereka pengetesan kemiskinan.
10:35Mungkin kesuatu-satu bisa diskusi suatu, sedifaktif ekonomi UI.
10:39Penerjemahnya bagaimana sih?
10:41Terus tadi saya singgung, pendapatan dasar universal.
10:43Dalam bahasa Inggrisnya orang lebih kenal mungkin malah.
10:46Universal Basic Income.
10:47Layanan dasar universal.
10:49Universal Basic Service.
10:51Maka berkisi sekolah-regulah perguruan tinggi gratis.
10:55Itu adalah bagian dari Universal Basic Services.
10:58Nantinya Universal Basic Asset.
11:00Reforma Agraria, Perumahan.
11:04Ini kenapa sih orang harus, nanti kemudian kita akan menghadapi bisnis-bisnis dan itu nggak lama.
11:09Dan saya kira itu generasi Fatima akan ngerasakan betul.
11:13Orang sejahtera itu bahkan nggak perlu kerja.
11:16Orang sejahtera itu nggak perlu kerja fisik.
11:19Nggak perlu kerja.
11:21Jadi kita juga harus mulai keluar dari kerangka bahwa kerjaan atau job creation is the only solution for welfare.
11:30Sehingga upaya teman-teman setelah kita berdiskusi saat ini dengan semangat untuk menggerakkan agar sadar itu sudah terjawab sepenuhnya.
11:37Atau masih belum?
11:38Kalaupun belum, dalam bentuk apa lagi upaya teman-teman mahasiswa untuk membuat sadar itu tadi?
11:43Terima kasih.