JAKARTA, KOMPAS.TV Wakil Ketua BEM UI 2026, Fathimah Azzahra, mempertanyakan sikap pemerintahan Presiden RI Prabowo Subianto dalam merespons demo mahasiswa pada 28 Oktober 2026 yang menuntut penanganan kasus karhutla.
"sebenarnya Bang Budiman memang jangan-jangan Bang Budiman ini ikut aksi lagi karena salah satu tuntutan kita sebetulnya adalah memang terkait korporasi itu," ujar Wakil Ketua BEM UI 2026, Fathimah Azzahra.
"kita berharap bahwa korporasi itu betul-betul ditindak. Bukan hanya ditunjuk, tapi ditindak," lanjutnya.
Sementara itu, Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan yang juga aktivis 1998, Budiman Sudjatmiko, menyebut pemerintah sendiri belum puas terhadap kinerjanya.
#demo #karhutla #mahasiswa #budimansudjatmiko
Mahasiswa di berbagai daerah bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda menggelar aksi demonstrasi. Mereka meneriakkan sejumlah tuntutan, mulai soal perbaikan ekonomi, pendidikan, hukum hingga demokrasi. Aksi ini dirangkum dalam tagar #IndonesiaSadar.
Apakah tuntutan mahasiswa ini didengar dan diperhatikan pemerintah, sehingga berujung pada perbaikan berbagai kebijakan atau sebaliknya?
Program ROSI mengundang Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan yang juga aktivis 1998, Budiman Sudjatmiko. Juga Wakil Ketua BEM UI 2026, Fathimah Azzahra.
Saksikan dalam #ROSIKompasTV episode "Aksi #IndonesiaSadar: Membaca Aspirasi, Merawat Demokrasi", Kamis, 29 Oktober 2026 pukul 20.30 WIB LIVE di KompasTV!
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/698763/fathimah-pertanyakan-respons-pemerintah-soal-demo-budiman-soroti-korporasi-dalang-karhutla-rosi
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:00Satu tetas cinta pun untuk Indonesia.
00:30Selainnya, bagaimana anggaran kita dikeluarkan, bagaimana alat kita dikelola, bagaimana ruang-ruang sivil kita harus dipertahankan, itu semua bergantung pada
00:41kita seperti hari ini.
00:46Kalau kita lihat dari keuntutan itu, memang ini tidak boleh lepas selama pemerintahan manapun berjalan.
00:54Isu-isunya sama, isu-isu yang memang selama ini terus menjadi perhatian kita, bukan hanya di perode ini, tapi di
01:01perode-perode sebelumnya, isu yang sama yang memang ini masih terus terang menjadi PR kita bersama.
01:08Pemerintah, kami sebagai pelayan masyarakat, kami terus memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas kebijakan dan pelayanan kepada masyarakat.
01:20Kritik-kritik itu memang harus didengarkan.
01:35Selamat malam, Saudara. Program Rosi kembali hadir ke hadapan Anda sebagai ruang opini sumber informasi.
01:41Saya Tifa Soleyesa.
01:42Mahasiswa di berbagai daerah bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda menggelar demonstrasi.
01:48Mereka meneriakan sejumlah tuntutan mulai dari perbaikan ekonomi, pendidikan, hukum sampai demokrasi.
01:55Aksi ini kemudian dirangkum dengan menyebutnya, Indonesia sadar.
02:00Pertanyaannya, apakah tuntutan mahasiswa ini didengar lalu diperhatikan pemerintah sehingga berujung pada perbaikan berbagai kebijakan atau sebaliknya?
02:09Malam ini saya mengundang Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan sekaligus aktivis 1998 Budiman Sujat Miko
02:18dan Wakil Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia 2026 Fatimah Azharas.
02:24Selamat malam semuanya.
02:26Terima kasih.
02:27Semua sudah hadir dan meluangkan waktu berbicara bersama kami.
02:29Nama koalisinya, Fat, dan tema pergerakannya, Indonesia sadar, koalisi sadar.
02:36Emangnya mau nyadarin siapa dalam hal apa?
02:40Sampai memberi kata sadar itu.
02:42Oke, sebetulnya kita ingin ini kepada dua pihak.
02:47Yang pertama, kepada masyarakat sendiri tentunya.
02:50Bahwa mereka, saya yakin banyak yang sudah sadar sebetulnya.
02:54Tapi kita ingin kesadaran ini lebih diperluas lagi.
02:58Bahwa sebetulnya sadar akan apa?
03:00Sadar bahwa kita berhak atas semua hal yang selama ini kita tuntut, kita harapkan, kita inginkan.
03:06Kita berhak setelah kita sudah memilih pemimpin-pemimpin negara.
03:11Kita berhak untuk mendapatkan return-nya setelah dipilih.
03:14Maka bagaimana? Apakah kehidupan masyarakat akan berubah atau tidak?
03:18Dan yang kedua, kita ingin menyadarkan pemerintah juga.
03:22Pemerintah, pemimpin, baik dari pemimpin negara presiden-wakil presiden sampai pemimpin daerah semuanya.
03:28Bahwa mereka harus menyadari mandat mereka diberikan oleh rakyat.
03:32Dan mereka harus mengembalikannya juga gitu.
03:35Dengan kebijakan-kebijakan dan langkah-langkah yang tepat untuk masyarakat seperti itu.
03:39Tapi sampai dua kali menggelar aksi, kenapa harus dilakukan sampai segitunya?
03:44Karena begini, kalau melihat poin tuntutannya teman-teman.
03:46Saya menangkap ada konteks yang sama soal perbaikan ekonomi, soal bencana ekologis,
03:52spesifik soal karhutlah.
03:53Itu disuarakan tidak hanya di aksi tanggal 28 Oktober.
03:5620 Oktober juga sama.
03:58Tapi kenapa harus dua kali menekankan itu dalam bentuk yang sama?
04:01Unjuk rasa.
04:02Pertama-tama saya yang menjawabnya dengan mengembalikan dulu kepada pemerintah.
04:06Kenapa kita sampai harus dua kali?
04:08Sebetulnya ya, karena kalau seandainya hal itu bisa ditangani secara cepat,
04:13bisa di, at least setidaknya, dijawab dengan tepat, dijawab dengan benar, dengan respect, fully.
04:18Kita harusnya mungkin tidak sampai berkali-kali aksi gitu kan.
04:21Tapi sebetulnya dari kita sendiri memang sebenarnya merancang bahwa aksi itu memang dua kali sejak awal.
04:26Itu ada di tanggal 20 dan di tanggal 28 juga.
04:29Di mana tanggal 20 itu kalau kita lihat skalanya memang lebih kecil ya dibanding yang 28,
04:33di mana kita semua memang sudah bersama-sama seperti itu.
04:36Tidak direspon untuk lima tuntutan itu atau dalam konteks lain sebetulnya yang diharapkan respons dari pemerintah itu?
04:41Kurang lebih tuntutan kita bunyinya sama fundamentalnya.
04:44Bahwa kita ingin sebetulnya perihal-perihal karhutlah, bagaimana anggaran kita digunakan, dan sebagainya.
04:49Itu bisa betul-betul terjawab gitu.
04:51Nah sementara jawaban-jawaban itu mungkin, oke mungkin dari pemerintah merasa sudah menjawab nih.
04:55Oke kita menjawab bahwa sebenarnya nggak gitu kok, ini semua udah beres.
04:59Tapi sebenarnya yang kita harapkan sebagai masyarakat tentunya adalah keresahan kita tuh diterima gitu.
05:04Bahwa oke, mungkin pemerintah dari sisinya merasa bahwa sudah ada hal yang dilakukan.
05:08Tapi dari masyarakat di sisi lain merasa ada hal-hal yang masih perlu diperbaiki,
05:12maka fokuslah pada hal yang sebetulnya memang masih bisa diperbaiki lagi.
05:15Mas Bud, sebetulnya Presiden sudah tahu atau sudah mengetahui suara aspirasi dari teman-teman mahasiswa ini.
05:22Karena kan sebetulnya tidak hanya tanggal 20 atau tuangan 28, 29 Oktober hari ini saja mahasiswa teri sakti juga menggelar
05:29aksi yang sama.
05:30Poinnya kurang lebih sama, menuntut perbaikan ekonomi dan karhutlah.
05:33Apakah Presiden juga mengetahui tuntutan mahasiswa ini sebetulnya?
05:36Ya, perjalanan perjalanan memperbaiki ekonomi, tuntutan itu saya kira itu jenrik ya.
05:42Di setiap pemerintahan, di setiap jaman, selalu akan ada seperti itu ya.
05:47Itu saya kira jenrik.
05:50Tentu Presiden paham, dan apa yang dilakukan Presiden,
05:53sebagai yang tertuang dalam program-program yang membuat beliau terpilih,
05:57dan beliau punya tanggung jawab konstitusional untuk menjalankannya,
06:01itulah dalam raka perbaikan ekonomi, dalam raka perbaikan ekonomi.
06:06Bahwa kemudian teman-teman mahasiswa, adik-adik mahasiswa melihat,
06:10tidak seperti itu deh Pak.
06:13Misalnya begitu ya, kira-kira begitu.
06:15Bukan ini deh Pak, harusnya prioritas ini.
06:18Tentu saja, itu adalah soal cara pandang.
06:22Soal cara pandang.
06:23Soal melihat apa sih yang paling urgent dan paling ketinggalan di Indonesia untuk dibenahin.
06:29Yang paling dibenahin.
06:30Karena kita juga tidak mau mempertentakan antara satu hal yang baik yang ditutup oleh teman-teman mahasiswa,
06:37dan juga satu hal baik lain,
06:40yang kami yakini kebenarannya,
06:42yang secara konstitusional kami terikat untuk menjalankannya,
06:46karena itulah yang Pak Prabowo-Dohan Pak Gibran sampaikan ke KPU.
06:51Itu kan kebenaran yang sudah, dalam terkutipnya,
06:54bukan digadehkan ya,
06:56yang sudah diijabkan.
06:57Oke.
06:57Jadi ijabnya nih, ada banyak kebenaran, ada banyak kebaikan.
07:01Yang diijabkan, Pak Prabowo dan Pak Gibran,
07:03ngijabnya nih,
07:05maskawinya,
07:06makan bergizi.
07:06Tapi kalau kemudian disebut bahwa tidak direspon, itu gimana?
07:10Dalam pengertian misalnya Pak,
07:11contohnya Karhutlah.
07:12Misalnya contoh Karhutlah,
07:13tentu saja pemberitaan melakukan,
07:14dan ya,
07:16saya kira keprihatinan apa yang disampaikan oleh teman-teman mahasiswa,
07:19sama lah ya.
07:20Kita juga tidak mau ada kebakar ini,
07:22dan kita tahu bahwa ini sesuatu yang sudah lama sekali berterjadi,
07:24cuma memang rasa-rasanya baru Pak Prabowo ini,
07:29yang kemudian secara tegas menunjuk hidung,
07:33bahwa penyebabnya adalah,
07:35tentu saja,
07:36memang ada tradisi pembakaran hutan,
07:38Pak Prabowo sempat marah dapat laporan bahwa,
07:42beberapa masyarakat,
07:43kepala daerah misalnya,
07:44membiarkan untuk pembakaran hutan itu.
07:46Tapi di dalam pihak juga ada korporasi-korporasi,
07:48ada oknum-oknum pejabat pemerintah yang korup,
07:51bukan cuma di daerah,
07:53di pemerintahan pusat juga,
07:54di pemerintahan juga.
07:55Sadar bahwa itu terjadi,
07:57bahwa ada yang korup di pusat,
07:59ada yang korup di daerah,
08:02dan yang jangan dilupakan,
08:05hari ini menarik,
08:07bahwa pemerintah posisinya jelas,
08:09bukan cuma birokrat yang korup,
08:11bukan cuma public officials yang korup,
08:13ada juga sektor korporasi,
08:16sektor korporasi besar,
08:17dan kita lihat,
08:18itu berkelindan dengan kepentingan ekonomi negara luar.
08:23Sederhananya bahwa tindak lanjutnya,
08:25sudah ada ditunjukkan oleh pemerintah,
08:26begitu menurut Anda?
08:27Teh, setartanya sudah,
08:28apakah memuaskan?
08:30Pasti tidak,
08:30oh kami aja gak puas,
08:31kami aja gak puas,
08:32kami aja gak puas.
08:33Sudah ada buktinya loh mbak,
08:34apalagi yang Anda ragukan.
08:35Bukan, bukan, bukan ada buktinya.
08:36Gimana?
08:37Bekerja,
08:38buktinya gak belum,
08:40ya belum selesai.
08:41Tapi kan setidaknya ada tindak lanjut,
08:42kalau dikatakan kita belum bekerja,
08:45tidak juga.
08:46Bahwa itu sudah memuaskan,
08:48kami aja gak puas.
08:49Pemerintah aja gak puas,
08:50presiden aja belum,
08:51belum puas.
08:52Kira-kira gitu.
08:53Ya sebenarnya,
08:54Bang Budiman memang,
08:55jangan-jangan Bang Budiman ini ikut aksi lagi,
08:57karena salah satu tuntutan kita,
08:58sebetulnya adalah memang,
08:59terkait korporasi itu Bang.
09:00Jadi kita berharap bahwa korporasi itu,
09:02betul-betul ditindak,
09:03bukan hanya ditunjuk,
09:04tapi ditindak.
09:05Karena sepertinya,
09:06tapi correct me if I'm wrong ya Bang.
09:08Kita juga,
09:09kadang kesel Bang,
09:10kalau seandainya,
09:11korporasi-korporasi ini,
09:12kita lihat rasanya sudah berkali-kali ditunjuk-tunjuk hidungnya,
09:16dari zaman presiden manapun sama.
09:18Generik.
09:19Jadi mungkin tuntutan mahasiswa generik,
09:21saat ini.
09:21Tapi tuntutan,
09:22tapi perlakuan pemerintah pada korporasi juga generik.
09:25Selalu hanya menunjuk-nunjuk,
09:27tapi kemudian,
09:28tidak ada satu hal konkret yang betul-betul terjadinya.
09:30Sebenarnya ini sih yang kita harapkan,
09:31apakah di zaman Pak Prabowo ini,
09:33akan terjadi Bang,
09:34yang betul-betul ditindak Bang?
09:35Saya sepakat.
09:36Saya kira,
09:38menarik sekali apa dikatakan Fatima ya,
09:40dan mudah-mudahan ini,
09:42di-share oleh teman-teman Fatima yang lain.
09:46Sorry, saya mau katakan agak politis dan agak personal.
09:50Ke arah mana tuh?
09:51Arah pada soal korporasi itu.
09:53Dan saya perhatikan begini,
09:55saya kira Pak Prabowo adalah presiden pertama,
09:58di era reformasi lah ya,
09:59yang saya katakan,
10:00tujuan utama pemerintahnya ini,
10:02ingin merombak,
10:04mendistrupsi elit korporasi.
10:06Kalau Pak Jokowi lebih banyak mengacak-acak elit politik,
10:11Pak Prabowo,
10:12itu memang,
10:14ijabnya,
10:15ijab kabul yang utama adalah,
10:17memang ingin merombak korporasi itu.
10:19Dan saya pikir,
10:19tidak sekali dua kali,
10:21Pak Prabowo,
10:23mungkin bersama-sama dia belum memuaskan,
10:25tapi bahwa ada korporasi di balik,
10:29banyak kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat,
10:32tidak berpihak pada ekologi,
10:34selain penjabat yang korup ya,
10:35juga korporasi yang berlindung di balik,
10:38bahwa ini adalah bisnis.
10:41Bahwa kami tidak menggunakan uang pajak,
10:43kami tidak menggunakan uang APBN,
10:46kami tidak menggunakan uang rakyat,
10:48kira-kira begitu ya.
10:49Ya, sudah lama memang betul dikatakan Fatima,
10:52sudah lama dunia ini ada tidak transparan.
10:55Alasnya apa?
10:56Dunia privat.
10:58Sempatlah kita tahu,
11:00saya senang kalau ada tutupan korporasi,
11:02karena tahu, berarti sudah,
11:03sebetulnya teman-teman mahasiswa sudah membidik
11:04satu soal yang sangat peka.
11:07Kalau pemerintah,
11:09itu jelas kok,
11:10jadwal giliran berkuasanya itu jelas.
11:13Lima tahun sekali.
11:15Orang berkuasa itu,
11:17jadwal giliran berkuasa itu jelas.
11:19Yang tidak pernah ada di Indonesia,
11:21atau di dunia barangkali,
11:23jadwal giliran kayanya tidak pernah jelas.
11:25Nah, artinya ketika menghujam satu entitas
11:30yang tidak jelas giliran kayanya,
11:33ya karena itu itu saja.
11:34Oke.
11:35Kompokrasi giliran bisa ganti ya,
11:36Bupati bisa ganti ya.
11:37Ini saya kira,
11:38satu entry point yang baik,
11:40teman-teman kata sudah membidik korporasi,
11:43saya berharap,
11:45students protest ini menjadi student movement,
11:47yang real.
11:48Yang sekarang apa?
11:50Yang ada kata?
11:52Tadinya saya mengira,
11:53ini sekedar student protest,
11:54tapi ketika Fatima berbicara korporasi,
11:57oh,
11:58berarti,
11:59ini sudah ada embryo,
12:01untuk menjadi real student movement.
12:03Gerakan mahasiswa ya,
12:04bukan sekedar protes mahasiswa.
12:06Kalau bisa protes kan hanya kepada pemerintah nih.
12:09Kalau movement itu kan,
12:10ya pemerintah yang tidak benar,
12:11juga bisa protes,
12:13korporasi yang tidak benar di protes.
12:14Kalau perlu,
12:16profesor yang tidak benar,
12:17yang sudah berhenti baca,
12:19di jaman AI,
12:20bukunya masih itu saja,
12:22itu sudah protes.
12:22Fatima memang niatnya untuk membuat gerakan itu,
12:25tapi ekspektasinya sampai sebesar apa sebetulnya,
12:26dengan beberapa kali melakukan unjuk rasa ini?
12:29Kita sebetulnya,
12:30Bang, mungkin Bang Budiman sebagai yang dulu,
12:33sudah lebih pro lah ya,
12:35dalam,
12:37berunjuk rasa.
12:37Saya cuma sudah lahir lebih dulu saja.
12:40Ya, oke.
12:41Tapi kita semua melihat bagaimana dulu,
12:43Bang Budiman Sujat Miko videonya,
12:45kita masih melihat sampai hari ini Bang,
12:46seperti itulah jejak digital bekerja ya Bang.
12:49Kita sendiri sebetulnya,
12:51saat ini,
12:52merasa bahwa aksi,
12:53unjuk rasa,
12:53dan sebagainya itu adalah,
12:54salah satu cara agar kita bisa,
12:56raise awareness sebesar mungkin.
12:58Tapi pada akhirnya,
12:59kita juga menyadari bahwa,
13:00perlu ada political will,
13:02dari orang-orang yang mampu untuk mengubah,
13:04kebijakan itu.
13:05Nah,
13:05dari kita sendiri,
13:06selain political will,
13:07kita berharap,
13:08ada pressure,
13:09kepada pemerintah,
13:10kita juga berharap,
13:11ada ruang-ruang seperti ini sebetulnya,
13:13di mana kita bisa berdiskusi langsung,
13:14yang mungkin kalau,
13:15tidak melalui forum terbuka seperti ini sulit,
13:18kalau forum-forum tertutup,
13:19tiba-tiba pembahasannya kurang jelas gitu ya.
13:21Jadi kita sebenarnya mengharapkan,
13:22hal seperti ini.
13:23Namun sebetulnya,
13:23paling kita harapkan,
13:24ekspektasi kita adalah,
13:25setelah kita sudah berkali-kali aksi,
13:27bahkan mungkin aksi kali ini,
13:29kita mengajak teman-teman yang lain ya,
13:31masyarakat sipil juga,
13:32bahkan berbagai kampus,
13:33untuk turun bersama,
13:35kita berharap,
13:35perbincangan seperti kita hari ini tuh,
13:37tidak hanya berhenti di sini Bang Budiman.
13:39Siap.
13:39Orang-orang seperti Bang Budiman,
13:41itu bisa menyampaikan kepada Pak Presiden,
13:42sehingga setelah ini,
13:43betul-betul ada langkah nyata.
13:44Karena sebetulnya,
13:45menurut saya pribadi ya,
13:47abang-abang,
13:48yang sedang kita tunggu di sini tuh,
13:51bukan,
13:51apa hasil dari gerakan mahasiswa pada mahasiswa,
13:54tapi pada pemerintah.
13:55Bagaimana pemerintah rezim saat ini,
13:57ingin menunjukkan dirinya gitu,
13:58apakah mereka adalah pemerintahan yang sama saja,
14:00seperti sebelum-sebelumnya,
14:02dari zaman Bang Budiman berdemonstrasi,
14:03sampai hari ini mereka masih sama,
14:05atau mereka betul-betul ingin berubah?
14:07Apakah mereka betul-betul berpihak penyakit?
14:08Yang belum berubah apanya?
14:09Ya, oke.
14:10Menurut Anda?
14:10Bagaimana mereka menghadapi
14:11aksi demonstrasi mahasiswa,
14:13bagaimana mereka mendengar tuntutan rakyat,
14:15bagaimana mereka menjawab tuntutan rakyat,
14:17apakah masih sama,
14:18apakah mereka hanya formalitas,
14:21diskusi, dan sebagainya,
14:22atau mereka betul-betul mengubah hal-hal
14:23sampai pada fundamentalnya?
14:25Oke, Anda saya beri kesempatan menjawab,
14:27tapi setelah jadah berikut ini.
14:28Jangan kemana-mana.
14:28Terima kasih.
14:31Terima kasih.
14:32Terima kasih.
Komentar