Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 2 menit yang lalu
JAKARTA, KOMPAS TV - Dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming jadi momentum untuk mengevaluasi capaian sekaligus mengidentifikasi tantangan yang masih dihadapi pemerintah.

Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI) Syahganda Nainggolan menyoroti pertumbuhan ekonomi dan kebijakan pemerintah yang diarahkan untuk memperluas manfaat pembangunan.

Syahganda menilai pertumbuhan ekonomi perlu dilihat dari manfaatnya bagi kelompok masyarakat yang selama ini menjadi bagian penting dalam aktivitas produksi, seperti petani, nelayan, dan buruh.

Baca Juga 2 Tahun Prabowo-Gibran, Bagaimana Kinerja Penegakan Hukum? | LAPORAN KHUSUS di https://www.kompas.tv/nasional/697285/2-tahun-prabowo-gibran-bagaimana-kinerja-penegakan-hukum-laporan-khusus



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/697286/2-tahun-prabowo-gibran-capaian-tantangan-dan-evaluasi-kinerja-pemerintah-laporan-khusus
Transkrip
00:00Tapi dalam 2 tahun pemerintahan Prabowo Gibran, sejumlah indikator ekonomi menunjukkan capaian positif.
00:06Sampai kita intip catatannya ya, datanya seperti apa di sini.
00:08Kita coba baca datanya.
00:12Ini yang paling pertama soal pertumbuhan ekonomi ya, Siti.
00:14Betul sekali, pertumbuhan ekonomi konsisten di kisaran 5%,
00:18dimana menembus 5,61% pada kuartal pertama 2026.
00:24Meski demikian, sedikit turun pada kuartal kedua 2026.
00:30Dan selanjutnya, belanja pemerintahan pun melaju kencang.
00:33Konsumsi pemerintah tercatat 21,81% pada awal 2026
00:39atau tumbuh 4 hingga 5 kali lipat dibanding kuartal sebelumnya.
00:44Dan juga yang menjadi catatan, tren angka kemiskinan juga menurun.
00:49September 2024 atau sebulan sebelum dilantik sebagai presiden dan wakil presiden,
00:54jumlah penduduk prasejahtera masih di level 24,06 juta orang.
01:00Permaret 2026 jumlahnya turun jadi 22,93 juta orang.
01:07Itu gambaran secara umum, tapi kita coba lihat untuk sektor-sektor utamanya sekarang.
01:12Kita mulai dari sektor pajak.
01:13Kalau sektor pajak penerimaan tercatat sebesar 1.409 triliun rupiah hingga 31 Agustus lalu,
01:2031 Agustus 2026 angkanya tumbuh 24,1% ketimbang periode sebelumnya.
01:26Dan capaian ini setara hampir 60% dari target APBN tahun 2026.
01:32Nah, di sebelahnya kalau kita lihat ada program suasembada pangan.
01:35Karena pemerintahan Prabowo Subianto Gibra Raka Buming ini juga mencatatkan suasembaga 8 komoditas utama.
01:41Saya sebut saja ada beras, jagung, bawang merah, kemudian cabai besar dan rawit, daging dan telur ayam,
01:48ras serta gula konsumsi.
01:50Yang tak kalah menarik adalah sektor energi dan mineral.
01:54Hadirin sekalian.
01:55Pemerintah menerapkan kebijakan ekspor satu pintu atau ekspor sumber daya alam lewat danantara.
02:00Lalu ada groundbreaking proyek pembangkit listrik tenaga surya dengan target nasional 100 gigawatt peak atau GWP.
02:08Kemudian, ini juga menarik nih, catatan mencolok di sektor pertahanan.
02:12Di era pemerintahan saat ini, era Presiden Prabowo Subianto, Indonesia kedatangan sejumlah alutsista.
02:18Kalau Anda lihat di sini, ada 6 unit pesawat tempur rafel dan 2 unit angkut berat A400M.
02:24Kemudian 2 unit kapal fregat KRI Ibrawijaya dan Prabowo Siliwangi.
02:28Kapal induk heli bekas Italia KRI Sriwijaya.
02:31Selain itu, ada pembentukan 6 kodam dan 150 batalion teritorial pembangunan baru.
02:39Soal hubungan luar negeri juga menarik dicermati di sini.
02:42Tercatat Presiden Prabowo Subianto sudah melakukan 49 kali kunjungan bilateral
02:48dengan 28 negara tujuan diplomasi.
02:51Nah, Indonesia juga bergabung dalam blok ekonomi BRICS serta memperoleh kesepakatan tarif dagang 0%
02:58dengan 27 anggota Uni Eropa.
03:02Nah, antara kuartal 4 2024 hingga kuartal 3 tahun 2026,
03:08pemerintah berhasil membukukan realisasi investasi,
03:11angkanya di situ, hampir 4.000 triliun rupiah.
03:15Rinciannya penanaman modal dalam negeri 1.998,7 triliun rupiah.
03:23Dan penanaman modal asing 1.924,5 triliun rupiah.
03:29Dan jumlah tenaga terserap diklaim lebih dari 5,4 juta orang.
03:35Kita kasih tepuk tangan dulu dong, boleh.
03:36Tapi kalau melihat data-data tadi, Bang Ganda, Anda mencermatinya,
03:40capaian-capaian ini sudah sesuai target, sudah sesuai harapan,
03:46atau masih bisa dibus lagi sebetulnya dalam 2 tahun ini.
03:49Tapi di sisi lain, kalau kita lihat pernyataan dari masyarakat sebagian tadi,
03:53masih ada yang merasa belum puas juga sebetulnya.
03:55Gimana tuh menyikapi capaian dan tantangan yang dihadapkan masyarakat, Bang Ganda?
03:59Terima kasih. Jadi sebenarnya yang paling penting kan kita percaya sama data tadi kan.
04:03Itu dulu.
04:05Nah, kalau misalkan beberapa ekonom yang meragukan data 5,6 persen tadi,
04:14ya pemerintah sudah menjelaskan bahwa itu ada front loading,
04:19ya itu memang government spending di awal tahun itu besar-besaran.
04:24Ya sehingga memancing swasta dan lain-lain itu chip in dan itu memang menghasilkan 5,6 persen.
04:34Kalau kita lihat memang grafiknya 10 tahun terakhir,
04:37misalkan 2015 itu kan pertumbuhan itu kan 4,8 persen.
04:41Ya kemudian di akhir pemerintahan Pak Jokowi,
04:44itu 5,05 persen.
04:46Tidak pernah mencapai 5,6 persen.
04:49Jadi kalau rakyat percaya ya sebagai ukuran ekonomi, growth itu terjadi.
04:54Dan ketika ada penurunan sedikit, average growth selama semester 1 itu 5,4 persen.
05:00Itu dulu ya.
05:01Kalau kita bicara sebagai bangsa, tumbuh nggak?
05:03Tumbuh nih ekonominya.
05:04Kedua kita bicara, apakah growth ini, return to capital and return to labor,
05:10itu menguntungkan siapa?
05:11Ya labor ini di sini bisa, kalau di Eropa labor,
05:14kalau di negara-negara seperti kita bisa masuk petani, nelayan, dan lain-lain.
05:18Nah sekarang ini dengan kita melihat misalkan di sektor pertanian,
05:23kita lihat apa ukurannya?
05:24Misalkan kita lihat NTP, nilai tukar petani.
05:28Sekarang 1,3,1.
05:29Yang tadinya 1,2,4.
05:31Artinya memang petani mengalami kenaikan kesejahteraan.
05:34Begitu juga nilai tukar nelayan naik.
05:37Buruh udah jelas, semua buruh sekarang saya sendiri pendiri,
05:41Serikat Buruh, kita puas sekali dengan Presiden,
05:44karena apa?
05:44Karena rata-rata kenaikan upah buruh udah 2 tahun ya,
05:472 tahun 6,5 persen.
05:49Dulu berapa? Rata-rata 1 persen.
05:52Artinya ini ada shifting paradigm,
05:54di mana Bapak Presiden itu pertumbuhan itu harus inklusif.
05:58Harus diarahkan kepada orang-orang yang di lapisan bawah.
06:03Nah kemudian memang ada yang tadi,
06:05yang saya lihat di TV tadi,
06:07beberapa keluhan, ya wajar.
06:08Karena setiap kebijakan yang diambil oleh pemerintah itu,
06:12memang selalu ada sedikit orang yang belum tersentuh.
06:15Makanya kelas menengah kita,
06:17upper middle class kita,
06:18itu turun sekitar 11 juta,
06:20yang menjadi lower middle class.
06:22Nah ini memang akan menjadi konsentrasi tahun depan,
06:24ketika kita masuk kepada sektor pertumbuhan yang labor intensive.
06:29Misalkan apa, otomotif.
06:31Presiden akan masuk ke industri otomotif,
06:33mengambil aliteks mako,
06:35tahun depan 2027,
06:36itu pasti penyerapan tenaga kerja untuk kelas menengah tadi yang komplain.
06:39Nah itu yang sebenarnya kita harus tahu,
06:41bahwa secara overall,
06:43ya ini memang Presiden telah berhasil ya,
06:46untuk melakukan,
06:47ya satu yang disebut pertumbuhan inklusif,
06:50dan memastikan rakyat kita itu,
06:52ya itu ikut tumbuh dalam pertumbuhan itu.
06:55Kami tangkap Bang Ganda.
06:56Saya coba melempar pertanyaan ini,
06:58ke Mbak Esther,
06:59Mbak Esther,
07:00kalau dilihat government spending saat ini,
07:02apakah memang naik berlipat-lipat,
07:05seperti data yang ada,
07:06atau seperti yang disampaikan oleh Bang Ganda?
07:08Ya.
07:09Benar-benar dirasakan sampai ke bawah, tidak?
07:11Ya.
07:12Kalau kita lihat tadi ya,
07:14memang belanja pemerintah,
07:16itu government spending,
07:18itu di awal itu memang curjuran ya,
07:21pada saat Menteri Keuangannya Pak Purbaya.
07:23Dan itu adalah cara pemerintah untuk mendorong konsumsi,
07:27gitu, dari rumah tangga.
07:30Nah, namun tidak hanya itu,
07:32tidak hanya konsumsi rumah tangga,
07:33tetapi juga konsumsi pemerintah, gitu,
07:36dan konsumsi dari lembaga-lembaga lain,
07:40yang BUMN dan seterusnya.
07:42Nah, sehingga itu,
07:44saya tidak heran,
07:45dengan government spending yang curjurannya di awal,
07:50itu akan mendorong pertumbuhan ekonomi,
07:53tetapi dari sisi konsumsi.
07:55Nah, kalau dilihat dari peta ya,
07:58tadi grafiknya ya,
07:59pertumbuhan ekonomi,
08:00itu kita perlu apresiasi ya,
08:04bahwa bisa bertahan 5 persen.
08:07Namun, yang kita harus garis bawahi adalah,
08:10bagaimana pertumbuhan ekonomi itu,
08:12tidak hanya sekedar tinggi,
08:14tetapi mampu menciptakan ya,
08:18kesejahteraan bagi masyarakat.
08:20Artinya pertumbuhan ekonomi yang berkualitas,
08:22tidak hanya pertumbuhan ekonomi tinggi.
08:25Itu yang pertama.
08:26Terus yang kedua,
08:27tadi Pak Saganda ceritakan,
08:30bahwa ini adalah,
08:31adanya pertumbuhan 5,6 persen,
08:35itu karena capaian pemerintah.
08:37Saya sepakat,
08:38tetapi yang perlu diketahui oleh publik,
08:41ada perubahan metode,
08:44dari penghitungan pertumbuhan ekonomi.
08:46Nah, seharusnya kalau perubahan metode itu,
08:51diimplementasikan,
08:52harusnya ada kalibrasi.
08:54Artinya,
08:56pertumbuhan sebelum pemerintahan Prabowo dengan metode A,
08:59harus sama dengan pertumbuhan ekonomi,
09:01setelah pemerintahan Prabowo dengan metode A.
09:05Demikian Mbak Sintia.
09:06Oke, baik.
09:07Kalau kita melihat,
09:08ataupun mencerna apa yang disampaikan oleh Mbak Esther,
09:11mungkin kita harus melihat data dari kepuasan publik itu sendiri.
09:14Kita tampilkan datanya.
09:15Ini tren yang kita tangkap dari momen Lidbang Kompas
09:18menangkap kepuasan dari responden
09:21di saat 100 hari pertama pemerintahan
09:23Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran,
09:25Raka Buming,
09:26hingga data terbaru.
09:27Apa yang bisa kita baca di sini, Sintia?
09:29Kami merangkum tingkat kepuasan publik
09:30dari sejumlah lembaga survei,
09:32dari periode 100 hari pemerintahan Prabowo Gibran,
09:35hingga jelang 2 tahun pemerintahan Prabowo Gibran.
09:38Meski tidak apple to apple ya,
09:40kita membandikannya,
09:41karena seperti tadi,
09:42dalam metodenya juga berbeda,
09:44pengumpulan data juga berbeda,
09:45dan olah sampelnya juga berbeda,
09:46tetapi meski berkesinambungan,
09:49hasil survei menunjukkan pola tren kepuasan
09:51yang cenderung menurun.
09:53Kemudian, Lidbang Kompas mencatat tingkat kepuasan
09:56terhadap Prabowo Gibran
09:58pada 100 hari pertama pemerintahan,
10:00mencapai hampir 81 persen.
10:03Antara periode 1 tahun hingga Mei 2026,
10:08dua lembaga survei lain,
10:10Pol Tracking dan Indikator Politik Indonesia,
10:12mencatat tingkat kepuasan masih di atas level 70 persen.
10:16Nah, ada perbedaan di sini,
10:18kalau kita lihat di pertengahan 2026,
10:21itu di bulan Juli 2026 yang berwarna hijau,
10:23kalau Anda bisa lihat juga,
10:24saudara,
10:25tiga lembaga survei mencatatkan tingkat kepuasan
10:27di bawah level sebelumnya.
10:29Survei SMRC periode Juli mencatatkan tingkat kepuasan 51,1 persen.
10:34Berselang kemudian,
10:35Tempo Data Science mencatat tingkat kepuasan
10:37di level 37 persen untuk periode akhir Agustus
10:40hingga awal September tahun 2026.
10:43Sementara,
10:44Pol Tracking mencatat tingkat kepuasan 55,1 persen
10:47pada periode pertengahan Agustus 2026
10:50atau terjun 17 persen
10:52ketimbang survei Pol Tracking pada Mei 2026 lalu.
10:56Dan selanjutnya,
10:56ada yang lebih mutakhir lagi datanya ya, Sintia?
10:58Nah, kalau kita mau lihat yang mutakhir nih,
11:00tiga lembaga survei merilis survei terbaru
11:03tingkat kepuasan publik terhadap kinerja pemerintah.
11:06Survei SMRC pada pertengahan 1 hingga 10 Oktober 2026
11:10memperlihatkan tingkat kepuasan terhadap kinerja pemerintah
11:14tercatat sebesar 44,5 persen.
11:17Kemudian,
11:18Survei Parameter Politik Indonesia
11:19periode 26 September hingga 6 Oktober mencatat
11:23tingkat kepuasan terhadap pemerintah 65,4 persen.
11:28Sedangkan,
11:29Pol Tracking Indonesia periode 30 September hingga 17 Oktober 2026
11:35mencapai tingkat kepuasan berada di level 55,3 persen.
11:40Oke, nah satu pertanyaannya menarik juga di sini Mas Hanta,
11:43kalau dari Pol Tracking sendiri,
11:44yang saya baca dari data yang hasil survei terbaru,
11:47itu ada 5 poin pemicu trend turun
11:49dari berbagai sektor ekonomi, politik, dan banyak lagi.
11:53Tapi kalau membaca polanya sebetulnya,
11:55trend turun ini dipicu lebih banyak atau dominan karena apa sebetulnya?
12:00Iya, sebelumnya kalau sampai dengan bulan Agustus itu trendnya turun.
12:05Cuma kalau kita bandingkan terakhir, Agustus-Oktober itu stagnan ya.
12:09Stagnan tidak naik, tetapi juga relatif stabil.
12:13Karena tidak turun juga kalau dua bulan terakhir.
12:16Tapi kalau dibandingkan satu tahun terakhir,
12:19itu mengalami penurunan signifikan.
12:22Nah, dari temuan data kami itu menunjukkan beberapa faktor.
12:25Satu, faktor yang paling determinan, yang paling utama itu adalah faktor bidang ekonomi.
12:31Betul, ada apresiasi di bidang misalnya pendidikan, kesehatan, sosial budaya,
12:37kemudian pertahanan keamanan itu di atas 60%.
12:39Tapi khusus ekonomi dan hukum, pemberantasan korupsi itu di bawah 50%.
12:44Bahkan untuk ekonomi di bawah 40%.
12:47Nah, ini catatannya, betul tadi kita mengapresiasi ada capaian di bidang pertumbuhan ekonomi,
12:53kemudian juga penurunan angka kemiskinan tadi.
12:57Tetapi itu sepertinya belum paralel atau berkorelasi dengan persepsi rumah tangga.
13:03Kesejahteraan rumah tangga, makroekonomi tadi,
13:06ternyata tidak sejalan dengan persepsi di mikroekonominya rumah tangga.
13:10Soal daya beli, kebutuhan masyarakat, daya tahan ekonomi rumah tangga,
13:15itu problem pertama.
13:16Yang kedua, ada persepsi terhadap penegakan hukum dan pemberantasan korupsi,
13:21ini juga menyumbang.
13:23Jadi mungkin nanti Mas Edy akan menyampaikan tentang capaian,
13:26berapa tersangka, berapa aset yang bisa diinikan,
13:29berapa proses hukum yang sudah dilakukan.
13:31Tetapi dalam persepsi publik juga itu terkam soal keadilan,
13:35soal proses hukum dan seterusnya.
13:37Jadi persepsi ini juga menyumbang penurunan di satu tahun terakhir.
13:41Itu mungkin masukkan catatan kritis untuk pemerintah.
13:43Yang ketiga, ini ada yang menarik adalah catatan tentang program prioritas pemerintah.
13:49Program prioritas pemerintah ini awalnya, misalnya kita katakan MBG,
13:53itu memiliki tingkat prioritas yang tinggi.
13:56Direspon oleh publik cukup tinggi, cukup baik.
13:58Tetapi dalam implementasi, dalam catatan kritis kita,
14:01ada terbelahnya publik antara yang puas dan yang tidak puas,
14:05termasuk soal keberlanjutan.
14:08Sehingga ini juga memberikan dampak.
14:09Karena itu salah satu cara untuk memicu, memacu, naiknya.
14:13Kita balik.
14:13Adalah persoalan ekonomi, tadi kesejahteraan yang harus ditingkatkan.
14:16Kemudian program prioritas harus diopulasi tuntas dalam kualitas dan implementasinya,
14:23serta juga persepsi hukum dan penyiasat.
14:25Baik, boleh kita berikan tepuk tangan.
14:26Kalau begitu, apa yang menjadi catatan dari Mas Anta tadi,
14:30mungkin bisa disampaikan oleh Ibu Wamen dan juga Prof. Edy gitu, Pak Wamen.
14:36Apakah memang betul peningkatan dari kepercayaan publik terhadap hukum Indonesia
14:41memang saat ini berkait dengan baik?
14:44Dan juga untuk Wamenkop, bagaimana Anda melihat ini?
14:48Apakah memang pencapaian dari ekonomi makro ini sudah berbeda dengan rumah tangga?
14:54Silakan mungkin dari Ibu Wamen dulu.
14:56Oke, terima kasih.
14:57Terkait dengan KDKMP, tentu saja tadi yang sudah dibahas tentang pertumbuhan ekonomi.
15:02Pak Saganda sudah menyampaikan, Pak Presiden ingin pertumbuhan ekonomi ini bersifat inklusif
15:08sehingga tidak hanya berkonsentrasi di titik-titik tertentu.
15:11Sehingga dilahirkanlah Kooperasi Desa Merah Putih yang harapannya
15:14pertumbuhan ekonomi ini melibatkan seluruh lapisan masyarakat yang ada di desa.
15:19Nah, hari ini Kooperasi Desa Merah Putih, seperti yang kemarin kita sudah lakukan pemantauan,
15:24kita terus melakukan pembangunan.
15:27Tentu saja dari 2025, Kooperasi Desa Merah Putih menjadi program prioritas ini
15:32diawali dengan pembentukan kelembagaan, terus kemudian pembangunan fisik sebagai fasilitasi
15:37untuk lokomotif ekonomi yang ada di desa, terus hari ini adalah tahapan operasionalisasi.
15:42Dengan harapan pertumbuhan ekonomi di setiap desa ini bisa menyumbang
15:47atau ambil peran dalam rangka pertumbuhan ekonomi secara nasional.
15:51Dan ini menjadi cita-citanya Bapak Presiden Prabowo
15:53untuk menghadirkan pertumbuhan ekonomi yang inklusif itu tadi.
15:56Dan kita yakin kalau hari ini mungkin, tadi masih banyak beberapa memberikan harapan,
16:03ada yang mesdagnan, ada yang kecewa.
16:06Tentu kalau dari program prioritas KDKMP yang hari ini baru beroperasi,
16:12sedang persiapan operasionalisasi, harapannya dan kemarin kita kunjungan langsung ke Magelang,
16:19ke enam titik, saya langsung ketemu dengan Kepala Desa Bangsa Ganda,
16:22kepada pengurus, manajer, kepada masyarakat, harapan mereka cukup optimis
16:27agar Koperasi Desa Merah Putih ini selain memberikan atau melayani kebutuhan pangan sehari-hari
16:34dengan harga murah dan terjangkau, kemudian menjamin rantai pasok atas kebutuhan pangan tersebut,
16:39dan yang ketiga menjadi off-taker dari produksi-produksi yang dilakukan di desa-desa.
16:44Sehingga harapannya, kalau tadi dibilang tujuannya salah satunya adalah suasembada pangan,
16:50ini tidak hanya produksi yang diperbesar, tetapi rantai pasoknya juga dibangun.
16:54Jadi mulai atas sampai bawah, dari bawah sampai atas, kira-kira begitu.
16:59Menghubungkan antara produsen sampai ke industri, dan barang-barang dari industri masuk ke desa lewat Kepala Desa Merah Putih.
17:08Tadi progresnya masih terus berjalan sampai sekarang.
17:10Tapi soal persepsi korupsi ini, Prof. Edy, hal apa yang rasanya masih belum banyak orang paham bahwa
17:15ada upaya pemerintah untuk meningkatkan persepsi korupsi itu bisa menjadi lebih baik lagi ke depannya.
17:19Kalau melihat dari realita yang kita lihat tadi, ada pernyataan bahwa masalah penegakan hukum masih dipertanyakan.
17:25Hal apa yang rasanya masih, padahal ada loh perkembangan, dan apa yang perlu diyakinkan oleh masyarakat kita ini
17:32bahwa penegakan hukum kita ini masih jalan on the track loh sebetulnya.
17:36Ya, saya mau mengatakan begini, hati-hati ketika melakukan survei terhadap penegakan hukum.
17:42Apalagi kalau yang mau diukur adalah kinerja pemerintah.
17:45Kalau pandangan perspektif masyarakat itu pada satu proses peradilan, pada suatu putusan pengadilan,
17:53maka itu untouchable oleh pemerintah.
17:56Yudikatif itu adalah kekuasaan yang merdeka dan tidak dapat dipengaruhi oleh siapapun.
18:00Berarti itu bukan kinerja pemerintah.
18:02Nah, itu adalah yudikatif sesuatu yang, jangkankan pemerintah, presiden pun tidak bisa berintervensi
18:09suatu perkara yang sampai ke pengadilan, karena dia kekuasaan yang mendiri.
18:13Itu menjadi otoritatif dari Mahkamah Agung.
18:16Kedua, kalau dilihat dari jumlah kasus, ini sebetulnya bertentangan dengan perspektif sistem peradilan pidana modern.
18:25Di dunia manapun, keberhasilan sistem peradilan pidana itu bukan berapa banyak kasus yang diungkap,
18:30tetapi bagaimana prevensi untuk tidak terjadinya kejahatan itu.
18:35Dan itu dilakukan oleh pemerintah.
18:38Contoh ya, misalnya dalam KUHAP yang baru.
18:40Bagaimana supaya suatu peradilan itu transparan.
18:43Kita memperkenalkan sistem peradilan pidana berbasis teknologi informasi.
18:47Dan perpresnya itu sudah ditangani oleh presiden.
18:50Kemudian misalnya, kita menutup loophole untuk perilaku yang koruptif.
18:56Misalnya kita dalam pengadaan barang dan jasa ada e-katalog.
18:59Kemudian e-governance.
19:01Yang kemudian itu mencegah untuk orang bisa bertemu dengan orang,
19:05tapi semua dengan menggunakan teknologi informasi.
19:09Itu sebagai salah satu upaya pemberantasan korupsi.
19:12Dan satu hal lagi yang akan kita pastikan,
19:15bahwa sebelum 15 Desember, pemerintah dan DPR berkomitmen untuk menyelesaikan undang-undang perampasan aset.
19:22Oke.
19:22Tapi kalau melihat lagi dari apa yang sudah kita cermati dari apa dilakukan oleh pemerintah, Bung Denny,
19:30kemudian masih ada persepsi publik dengan penilaian yang sudah kita lihat di awal tadi.
19:34Anda masih punya pendapat yang sama dengan Bung Hanta,
19:36bahwa catatan-catatan soal ekonomi politik dan hukum itu masih punya gap
19:40yang membentuk persepsi masih seperti sekarang?
19:42Ya, SMRC melakukan survei OPD publik terakhir pada Oktober
19:47dan hasilnya kurang lebih konsisten ya dengan apa yang disampaikan Mas Hanta
19:51di mana terjadi penurunan approval rating kepuasan terhadap pemerintah yang begitu besar
19:58dalam setahun terakhir dari 81% di akhir November tahun lalu,
20:03sekarang hanya sekitar 44,5%
20:05dan kami lebih jauh menganalisis apa kira-kira yang berhubungan dengan approval rating terhadap presiden tersebut.
20:13Kami menemukan ada pola hubungan yang sangat kuat penilaian tersebut dengan evaluasi terhadap berbagai kondisi makro,
20:20termasuk ekonomi.
20:22Dan kalau lebih jauh lagi, kita di sana juga mengukur apa sebenarnya masalah yang paling mendesak,
20:29yang harus diselesaikan oleh pemerintah.
20:31Dan itu lagi-lagi konsisten yang disebut oleh masyarakat sangat sederhana.
20:36Apa itu?
20:38Harga-harga kebutuhan pokok yang sangat mahal.
20:41Sangat sederhana masyarakat.
20:43Dan kalau kita mau lebih jauh meneliti data yang sudah dikumpulkan oleh pemerintah,
20:50misalnya dari Pusat Informasi Harga Pangan Nasional,
20:55saya menemukan suatu konsistensi yang sangat kuat.
20:58Harga-harga kebutuhan pokok, cabai rawit misalnya, naik lebih dari 84% dalam satu tahun.
21:06Begitu juga dengan beberapa komunitas-komunitas yang lain yang sangat dengat dengan masyarakat.
21:12Cabai merah naik sampai 24%, minyak goreng hampir 10%, daging sapi 8,5% dan seterusnya.
21:21Jadi itu angka yang jauh sekali dari angka inflasi yang hanya sekitar 3%.
21:26Rupanya mungkin inflasi yang mungkin tidak dinyatakan cukup terkendali,
21:33itu karena gabungan dari berbagai komoditas.
21:37Tapi komoditas yang sangat dekat dengan masyarakat ternyata tidak terkendali.
21:40Baik, jika besok sudah memasuki tahun ketiga,

Dianjurkan