00:00Kita akan kasih kesempatan teman-teman mahasiswa untuk memberikan pendapatnya.
00:04Tadi sempat saya lihat, boleh ngacung dulu di mana.
00:07Oh, di situ. Oke, silahkan.
00:09Mau pertanyaan, pendapat, silahkan.
00:12Saya Hilmi Hafiz Muhammad, saya dari Universitas Indonesia.
00:16Saya ingin mungkin sedikit mengutarakan sekaligus bridging untuk pertanyaannya.
00:19Karena saya rasa saya punya keresahan tentang ruang ini dan juga tentang 2 tahun Prabowo Gibran.
00:26Di mana sepertinya pemerintah itu banyak melihat kondisi masyarakat melalui data yang saya rasa sifatnya lebih ke arah statis daripada
00:35dinamis.
00:35Artinya tidak memperlihatkan arti di lapangan sungguhnya.
00:38Dibilang kalau misalkan petani sudah makmur, tapi di sisi lain saya sempat bertemu dengan teman-teman di Serikat Petani Indonesia.
00:45Yang ternyata ada 27,8 juta petani yang tanahnya itu dari 27 juta lebih petani tadi,
00:5180 persen lebih, 81 persen lebih itu justru tanahnya jika melihat dari BBKMP itu tidak layak disebut sebagai tanah yang
01:02layak untuk pertanian.
01:03Jika menggunakan standar itu.
01:06Kemudian di sisanya tentang penegakan hukum dan demokrasi.
01:09Kalau bisa bicara demokrasi mungkin baik, saya rasa dengan melihat kasus Harik Azhar dan juga mungkin kakak tingkat saya yang
01:18mungkin teman-teman tahu
01:19yaitu Bang Bapis yang kemarin sempat kena juga.
01:22Saya rasa meskipun saya tidak bisa langsung ngecap Bang Bapis itu yang ulahnya pasti pemerintah,
01:27tapi saya rasa itu bisa memperhatikan kepada kita bahwa ruang demokrasi di kita ini masih belum bisa dibilang aman.
01:35Jadi mungkin kembali lagi kepada pertanyaan utamanya gitu.
01:38Oke.
01:40Bahwa dari semua dinamika itu dan datanya dibilang ternyata bilangnya oke-oke aja, baik-baik aja,
01:50bagaimana sebenarnya pemerintah itu memandang kondisi rakyat dan rakyat itu sendiri.
01:55Seperti itu.
01:55Oke. Terima kasih.
01:57Ilmi, Mbak Faridah, mungkin bisa merespons masalah data itu tadi dan kebawahnya itu gimana program-program itu?
02:04Satu yang pasti kalau terkait dengan Koperasi Desa Merah Putih muncul di beberapa titik spot bangunan yang tidak sesuai,
02:12memang kita temukan, kita akui itu tetemukan, tapi terus kemudian kita melakukan evaluasi.
02:16Dan kita temukan juga beberapa titik yang menurut masyarakat itu terpenciri tidak strategis untuk suatu bisnis,
02:24ternyata kepala desanya memberikan statement, memang kita meletakkan bangunan Koperasi Desa Merah Putih ini di penggunungan.
02:31Kenapa? Karena kita mau menjadikan Koperasi Desa Merah Putih ini sebagai off-taker sayur-sayuran dan buah-buahan yang ada
02:36di situ.
02:36Dan memang secara regulasi penentuan titik Koperasi Desa Merah Putih untuk bangunannya itu diserahkan kepada komunikasi antara pengurus Koperasi Desa
02:46Merah Putih,
02:47kepala desa dan juga agrinas yang melakukan pembangunan itu.
02:50Itu regulasi dan itu sudah dilakukan.
02:53Kalaupun ada beberapa yang kemudian di luar standar strategis dan kemudian jauh dari pemukiman, kita temukan dan memang kita evaluasi.
03:02Kami, atas saran Pak Presiden Prabowo juga bahwasannya, apapun yang kita lakukan seperti yang tadi saya sampaikan di awal,
03:10proses pembangunan Koperasi Desa Merah Putih beserta dengan operasionalisasinya sampai angka 80 ribu yang kemudian Pak Presiden memberikan perintah baru,
03:1830 ribu untuk tahun ini, itu adalah bentuk bahwasannya kami sangat terbuka terhadap masukan dari masyarakat.
03:25Terkait dengan data yang disampaikan itu tadi, kami merasakan bahwasannya data yang diberikan kepada kami,
03:32data titik-titik itu, ada yang memang misdata, ada yang memang faktual.
03:38Tadi tidak bisa dipukul rata bahwasannya ada falasi data.
03:42Tidak semuanya juga begitu.
03:43Yang pasti adalah kami terus berbenah dan kami mendengarkan apa yang menjadi masukan dari masyarakat termasuk,
03:51yang kemarin terakhir penempatan manajer Koperasi Desa Merah Putih.
03:55Yang dari awal memang kita merekrut tidak berdasarkan lokasinya,
04:00tetapi memang berdasarkan tes secara nasional, kemampuan akademik dan juga...
04:05Dan tentunya ini menjadi evaluasi dan akan terus ada perbaikan.
04:09Yang pasti itu.
04:10Dan tentunya nanti dari Indef juga akan memberikan perspektifnya, usai jeda tetap bersama kami.
04:17Oke, saya kasih kesempatan satu mahasiswa lagi sebelum Mbak Esther memberikan respons ya tadi atas pertanyaan dari teman UI tadi.
04:23Ada yang mau bertanya tadi sebelah sini ya? Oke, silakan.
04:27Oke, selamat malam Bapak Ibu Narasumber.
04:30Perkenalkan saya Yuliani dari Universitas Katolik Indonesia Atmajaya.
04:37Di sini saya ingin bertanya kepada Bapak Naenggolan dan Ibu Farida mengenai topik program MBG.
04:47Jadi kalau kita lihat dua tahun kebelakangan ini, program MBG itu berjalan dan di situ kita melihat niat baiknya jelas
04:57yaitu memastikan seluruh anak-anak Indonesia mendapatkan asupan gizi yang layak.
05:04Tapi kalau kita melihat lagi dalam program MBG ini banyak sekali catatan-catatan misalnya di daerah 3T itu ada banyak
05:16sekali anak-anak yang terkena keracunan MBG.
05:19Terus soal tata kelola, terus ada beberapa dapur yang ditutup sementara, lalu ada beberapa, lalu dari saya melihat juga data
05:36dari BGN itu kalau tidak salah ada sekitar 4.581 SPPG itu dihentikan sementara.
05:46Karena untuk meningkatkan kualitas mereka.
05:51Dan terlebih lagi kita melihat bahwa program MBG ini memakai uang rakyat yang sangat besar.
06:00Oke pertanyaannya.
06:01Jadi di sini saya bertanya, apa pembendahan nyata yang sudah dilakukan pemerintah mengingat program MBG ini memakai anggaran APBN yang
06:12sangat besar.
06:13Terima kasih.
06:14Terima kasih ya.
06:14Sudah memberikan pertanyaan.
06:15Saya kasih kesempatan ke Mbak Esther, janji kami tadi masalah data tadi dan bagaimana implementasi ke bawahnya itu untuk program
06:23-program prioritas terutama Mbak Esther.
06:24Ya terima kasih ini pertanyaannya yang sangat menarik ya buat publik ya.
06:30Bahwa kalau kita bicara tentang program-program prioritas ya tentu ini harusnya untuk program MBG ataupun Koperasi Desa Merah Putih
06:43itu harus ada pilot projectnya dulu dan jangan nasib dulu gitu kan.
06:48Nah karena apa di beberapa pilot project kalau kita bisa melihat oh ini apa nih hambatannya, apa nih peluangnya, apa
07:01yang bisa diperbaiki.
07:03Nah kalau sudah baru kita, kalau ini berhasil baru dimasifkan gitu.
07:10Nah masalahnya kan kalau saya lihat grand design dari MBG dengan implementasi itu memang jauh sekali gitu ya.
07:19Di awal program ini dimasifkan untuk mendorong konsumsi, nah kemudian juga untuk mengabsorb ya jadi hasil bumi dari petani untuk
07:33diberikan ya diolah menjadi menu MBG.
07:38Namun demikian disini kita lihat lagi ya bahwa ternyata pasokan-pasokan pangan itu tidak berasal dari petani setempat gitu.
07:50Nah itu yang perlu digarisbawahi sehingga adanya yang tadinya niat baik untuk membantu petani ternyata belum tercapai.
07:58Nah yang kedua kalau kita lihat ini kajian in-depth ya kami bekerja sama dengan UN, itu kami melakukan analisis
08:08dengan OLG model, overlapping generation model.
08:12Nah kalau menu MBG itu benar itu manfaatnya baru akan terasa setelah 6 tahun, itu paling cepat.
08:20Nah sehingga menu MBG ini memang harus dievaluasi ya secara berkala gitu.
08:27Nah kenapa? Ya karena disitu ada kepenuhan gisi apa enggak ya, kepenuhan gisi apa tidak atau tidak, atau sudah gitu.
08:37Nah kemudian yang ketiga kalau dari sisi governance-nya, tata kelolanya, itu kan seharusnya program MBG itu bisa tidak membentuk
08:49SPPG-SPPG,
08:50tetapi bisa disandingkan dengan dana BOS atau yang bisa cash transfer ke sekolah.
09:01Sehingga gampang sekali tracing-nya gitu kan, auditnya seperti itu.
09:06Baik kami tangkap. Mungkin dari Bang Syaganda bisa menjelaskan ini dari pertanyaan mahasiswa Universitas Katolik Atma Jaya soal pertanggung jawaban
09:15uang pajak rakyat yang untuk MBG
09:17dan juga memastikan bahwa tata kelola MBG ini juga berjalan dengan baik.
09:21Dan mungkin nanti juga dilengkapi juga nih oleh profet.
09:23Tapi saya boleh enggak? Saya juga penasaran dengan yang dari UI tadi.
09:26Oh iya boleh, nanti silahkan.
09:27Oh yang ruang demokrasi ya.
09:29Jadi ruang demokrasi ini coba bandingkan.
09:31Ini kan kita bicara relatif, jangan main absolut.
09:33Saya tahun 2020 mengkritik Undang-Undang Omnibus Law.
09:40Langsung ditangkap di penjara, tuntutan 6 tahun, saya di penjara 10 bulan.
09:46Saksi alih saya di situ, Profesor Ahmad Suparji.
09:50Iya kan?
09:51Sekarang orang kritik teman-teman, satu hari karena kerusuhan besar tahun 2025,
09:58Del Pedro dan kawan-kawan ditangkap.
10:01Saya menghadap Presiden.
10:03Bulan Januari, Pak, kenapa Del Pedro, tokoh mahasiswa paling legendaris di era dia,
10:09waktu itu dia ketua BEM-nya ini, Trisakti,
10:13dan kemudian masuk Lokataru dan lain-lain,
10:15kenapa dia ditangkap?
10:16Wah itu bawa maulotop.
10:18Mungkin Bapak harus lidikin lagi.
10:20Dia itu murni, Pak. Perjuangan murni.
10:22Langsung dibebaskan oleh Presiden.
10:25Semua itu.
10:26Artinya apa?
10:27Itu artinya Presiden kita itu menghormati ruang publik, kebebasan dan lain-lain.
10:32Yang memang kita dalam demokrasi ini kan yang kita bahaya itu,
10:36kalau misalkan kita terjebak pada permainan-permainan yang kasar,
10:41seperti menggunakan medsos dan lain-lain, menghina-hina orang.
10:45Ya kan? Yang kita itu baru TikTok.
10:50Yang berhasil sama kita itu kerjasama untuk setiap akun dia mempunyai satu nick.
10:56Meta, nggak mau.
10:57Yang lain-lain nggak mau.
10:59Nah ini memang tantangan buat kita.
11:01Tapi ruang publik, saya jamin,
11:03ya masih uang mahasiswa demonstrasi itu,
11:05itu bebas-bebas-bebasnya.
11:06Bahwa ada deviasi kadang-kadang terjadi di lapangan,
11:10konflik dengan aparat, itu adalah peristiwa di lapangan.
11:14Nah kedua soal MBG ini.
11:15MBG ini kan sekarang sudah mencapai 57,8 juta jiwa jangkauannya.
11:20Itu kemudian di-adjust terus.
11:23Yang ibu dari Indef tadi,
11:25Indef ini adalah penggagas awal,
11:27orang awal kalau nggak salah saya,
11:29yang membuat percontohan di Sukabumi bersama Pak Buruan Abdullah kalau nggak salah saya.
11:33Sebenarnya kan Presiden mendengar tadi maksud saya,
11:36dia kemudian meng-adjust.
11:37Satu soal kebersihan.
11:39Sekarang digunakan pendingin-pendingin untuk menyimpan barang-barang,
11:42jangan sampai barang-barang ayam apa segala itu bisa basi,
11:46sehingga didistribusikan sudah basi.
11:47Yang kedua, itu yang namanya sistem CCTV saya sebut tadi.
11:53Yang ketiga ini yang paling penting,
11:55adalah merubah pola yang tadinya 6 juta,
11:57diberikan uang per SPPG untuk melayani 2 ribu.
12:00Sekarang tidak gitu lagi.
12:02Sekarang perporsi makanan.
12:03Jadi dengan itu, maka 2 ribu perak dikasih perporsi.
12:07Itu selisihnya yang dijadikan makanan itu makin besar sekarang.
12:12Artinya ada komitmen dari pemerintah bahwa tidak akan ada lagi keracunan,
12:17tidak akan ada lagi masalah di tahun ketiga nanti ya.
12:20Kalau pakai skema jalan seperti bebek pelan-pelan-pelan,
12:24itu kita nanti tahun 2050 baru itu terjadi.
12:27Oke, maka sisa perjalanan 3 tahun berikutnya untuk Kabinet Merah Putih
12:31akan harus capaian seperti apa,
12:33dan perlu perbaikan seperti apa.
12:34Kita akan bahas sebentar lagi.
12:35Jangan kemana-mana.
12:36Terima kasih.