00:00Saudara seorang anak penyandang disabilitas di Surabaya meninggal, diduga dianiaya oleh sesama bocah yang merupakan tetangganya sendiri.
00:10Tragis, pilu, bercampur jadi satu. Seorang anak ditindas dan disiksa hingga tewas, apalagi pelakunya juga anak-anak.
00:20Entah sudah berapa kali kabar perundungan menimpa anak-anak kita, mengapa ini bisa terus berulang terjadi?
00:33Satu pagi 12 September lalu jadi kelabu bagi selaras Abdul Wahid dan juga istri.
00:39Teras rumah yang biasa jadi tempat paling nyaman bermain anaknya, berubah jadi pemandangan yang menyayat hati.
00:48Sang ibu yang baru pulang dari pasar menemukan anaknya sudah tergeletak dengan tubuh membiru.
00:55Ayah korban terkejut melihat kondisi anaknya terbujur kaku.
01:00Ditemukan bekas jeratan tali sepatu di leher.
01:14Aktivitas di hari kematian korban terekam kamera pemantau di sekitar rumah korban.
01:19Dari CCTV terlihat gerak-gerik seorang anak laki-laki mondar mandir masuk rumah korban hingga akhirnya ia pulang ke rumahnya.
01:31Peristiwa itu berlangsung sekitar setengah jam.
01:34Ayah korban bilang, anak itu sebelumnya datang bersama seorang temannya yang lain, yang juga tinggal berdekatan dengan korban.
01:52CCTV jalan menunjukkan jam 8.15 anak dua ini masuk ke rumah saya.
01:59Keluarnya jam 8.32 keluar berdua bersama.
02:05Setelah jam 8.32 keluar bersama, habis gitu masuk lagi jam 1 anak yang inisialnya Kak tadi masuk ke dalam
02:17rumah saya sendiri jam 8.37.
02:20Sampai jam 8.47 dia keluar pulang ke rumahnya.
02:26Artinya selama 12 menit di dalam itu kemungkinan adik Zed ini tinggalkan Pak ya?
02:32Ya menurut apa gelar perkara ataupun reka adegan itu dilakukan penyiksaan itu.
02:41Peristiwa bermula pada Sabtu 12 September lalu.
02:45Sang ibu yang sehari-hari berjualan susu sehari kedelai di pasar berpamitan kepada suami dan anaknya pada pukul setengah 8
02:53pagi.
02:54Sementara sang ayah yang sedang sakit tertidur di dalam kamar setelah meminum obat.
03:00Korban ditinggal seorang diri di teras rumahnya.
03:09Tak lama seusai sang ibu pergi, dua anak laki-laki masuk ke dalam rumah korban.
03:1515 menit kemudian keduanya keluar dari rumah korban.
03:19Tapi tak lama berselang salah satu anak terlihat kembali lagi ke rumah korban sekitar 10 menit tidak lama setelah itu.
03:2810 menit berada di rumah korban, sang anak kemudian keluar dari rumah korban.
03:34Diduga pelaku datang lagi ke rumah korban untuk memeriksa kondisi korban.
03:43Hampir satu jam berlalu, akhirnya sang ibu korban pulang dari pasar sekitar hampir pukul setengah 10 pagi.
03:52Ia terkejut, mendapati putranya sudah tergeletak.
03:55Teriakan historis sang istri membangunkan sang suami yang sedang tertidur di dalam kamar.
04:02Saat suami keluar rumah, terkejut melihat anaknya sudah membiru dengan tali yang menjerat leher anaknya.
04:11Keduanya pun meminta pertolongan warga agar diantar ke rumah sakit.
04:18Teriak-teriak ambulan CCTV, ambulan CCTV.
04:21Habis itu, kok tidak ada respon dari orang-orang cuma terpaku.
04:26Akhirnya saya keluar ke jalan untuk mencari pertolongan.
04:31Ternyata ada orang lewat.
04:32Saya minta itu tolong.
04:34Bapak tolong antarkan anak saya dan istri saya ke rumah sakit terdekat.
04:38Terus habis itu dinyatakan anak saya itu meninggal dunia.
04:45Merasa anaknya tewas dengan kondisi tidak wajar, keduanya melapor polisi.
04:50Polisi pun mengotopsi korban.
04:52Dan hasil otopsi rumah sakit Bayangkara, Surabaya menunjukkan ada cairan sabun di lambung korban.
05:03Hasil otopsinya itu, kata istri saya cuma dibilangin kalau dalam perutnya itu ada cairan sabun.
05:13Setelah melakukan penyelidikan dengan memeriksa sejumlah saksi,
05:17polisi menetapkan satu terduga pelaku berstatus anak berhadapan dengan hukum.
05:23Polisi bilang anak yang berhadapan dengan hukum menjalani pembinaan selama 6 bulan di rumah perubahan milik pemerintah kota Surabaya.
05:33Sementara satu anak lainnya masih berstatus saksi.
05:40Terhadap anak, bahwa dalam perkara ini disepakati WPHDRF dan disaksikan para saksi,
05:50yaitu pengambil perutusan agar dilakukan pembinaan kepada anak.
06:00Dalam hal ini anak ragu di rumah perubahan di bawah pengalaman pemerintah kota Surabaya selama kurun waktu 6 bulan.
06:18Orang tua korban menuntut keadilan.
06:21Mereka berharap kedua anak yang diduga terlibat penganyayaan tak begitu saja dibebaskan.
06:27Tapi dibina agar bisa memberi efek jerah tak mengulangi kejadian yang sama di masa depan.
06:38Memang saya, saya ingin keadilan untuk anak saya.
06:42Kedua anak ini jangan dibebaskan.
06:46Pengennya saya ini dibina.
06:48Supaya ke depannya itu anak ini bisa menjadi anak yang baik dan ngerti mana yang hak, mana yang batin.
06:55Setelah dia bisa berpikir dewasa, silakan dia tahu mana yang baik, mana yang jelek.
07:01Silakan dikembalikan lagi ke masyarakat.
07:05Selain pembinaan, Komisi Perlindungan Anak Indonesia juga merekomendasikan tindakan terhadap anak yang berhadapan dengan hukum.
07:14Komisioner KPAI, Dia Puspitarini bilang,
07:18Orang tua anak yang berhadapan dengan hukum juga perlu bertanggung jawab dengan menjalani proses hukum.
07:27Jalan tengahnya adalah di pasal 21 Undang-Undang Perlindungan Anak itu kan penyelesaian kan pilihannya ada dua kalau di bawah
07:3412 tahun.
07:35Satu, dikembalikan ke orang tua, dua matregal atau tindakan.
07:39Mungkin saya juga mengusulkan matregal, Mbak.
07:41Jadi tetap dilakukan pembinaan, masa uji juga kan bisa berapa bulan gitu.
07:49Kemudian orang tua, kayak di Pemalang itu juga orang tua saya minta di ini diberikan sanksi lapor ke Bapas dan
07:57Puspaga, Mbak.
07:58Mungkin orang tua tetap juga harus menjalani proses hukum.
08:03Anaknya dibina, kemudian orang tua juga dibina.
08:10Maraknya kasus anak terlibat dalam kasus perundungan hingga mengakibatkan hilangnya nyawa.
08:16Jadi alarm keras orang tua, sekolah, lingkungan masyarakat, dan negara bertanggung jawab memutus rantai kekerasan pada anak.
08:26Jangan lagi ada kekerasan dengan alasan apapun hingga menghilangkan nyawa.
08:33Terima kasih.