Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
PALANGKA RAYA, KOMPAS.TV - Zakaria harus lebih sering berhenti untuk beristirahat sebab napasnya semakin sesak karena banyak menghirup asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan.

Padahal, dagangan lansia yang berjualan jajanan rambut nenek di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, ini belum juga laku.

Sebatang kara di Palangka Raya, Zakaria tak punya pilihan selain tetap berjualan di tengah kabut asap demi menafkahi keluarganya di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Warga Palangka Raya lainnya juga terus-menerus tidak bisa tidur nyenyak, khawatir api melahap satu-satunya tempat berlindung, seiring kesehatan keluarga terus menurun.

Di Kayong Utara, Kalimantan Barat, paparan asap karhutla merenggut nyawa anak berusia enam tahun.

Ia meninggal setelah dirawat intensif selama sepekan akibat infeksi paru.

Kebakaran hutan dan lahan sudah semakin darurat dan membutuhkan komitmen penanganan yang kuat.

Mau berapa banyak lagi warga terdampak dan nyawa melayang akibat karhutla?

Kita bergabung dengan jurnalis Kompas TV, Zahwa Madjid, serta juru kamera Bimo Wicaksana dan Andhika Pratama, untuk mengetahui situasi terkini kebakaran hutan dan lahan di Palangka Raya, Kalimantan Tengah.

Baca Juga Kebakaran Hutan dan Lahan Dekati Kawasan IKN, Api Sulit Dipadamkan | SAPA MALAM di https://www.kompas.tv/regional/696693/kebakaran-hutan-dan-lahan-dekati-kawasan-ikn-api-sulit-dipadamkan-sapa-malam

#pedagang #palangkaraya #kabutasap #karhutla

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/regional/696698/penjual-jajanan-rambut-nenek-tetap-mengais-rezeki-di-tengah-kabut-asap-palangka-raya-sapa-malam
Transkrip
00:04Langkah Zakaria semakin berat, ia harus lebih sering berhenti untuk beristirahat sebab napasnya semakin sesak karena banyak menghirup asap pekat
00:13akibat kebakaran hutan dan lahan.
00:15Padahal dagangan lansia yang berjualan jajanan rambut nenek di Palangkaraya, Kalimantan Tengah ini belum juga laku.
00:22Sebatang kara di Palangkaraya, Zakaria tak punya pilihan selain tetap berjualan di tengah kabut asap demi menafkahi keluarganya di Lombok,
00:30Nusa Tenggara Barat.
00:31Bukan untuk sendiri saja, kalau hasilnya memang untuk anak istri di kampung.
00:36Lebih-lebih sekarang ada cucu kan.
00:39Ya karena kita kan keadaan ekonomi kita terpaksa, kita merantuh pun di sini, mau bayar warak, mau makan pun.
00:45Kalau kita nggak jualan, habis bagaimana?
00:47Tapi sekarang kita carinya cuma cukup untuk barak makan saja.
00:53Warga Palangkaraya lainnya juga terus-menerus tak bisa tidur nyenyak.
00:57Khawatir api melahap satu-satunya tempat berlindung, siiring kesehatan keluarga terus menurun.
01:02Cuma satu ini aja rumah, jadi mengungsi mau kemana.
01:06Memang terganggu rasanya sih asap seperti ini.
01:09Keponakan ini aja sekarang ada keponakan yang kecil sekarang dirawat di rumah sakit doris.
01:13Karena kita memang sudah kepekaran kan di atas itu, jadi asapnya selalu seperti ini hari-harinya.
01:22Di Kayong Utara, Kalimantan Barat, paparan asap karhutlah merenggut nyawa anak berusia 6 tahun.
01:27Ia meninggal setelah dirawat intensif selama sepekan akibat infeksi paru-paru.
01:32Di ronsen dan dinyatakan si anak saya itu infeksi paru-paru.
01:37Tapi setelah hamil juga dia yang mau meninggal kebang, itu batuk dia itu benar-benar.
01:43Sudah kaya susah, tak bisa dia...
01:44Tak akutlah.
01:45Karena ini kan sudah terbilang sangat darurat dalam masalah ini beberapa kali.
01:52Saya berharap itu penanganan dari pemerintah, dinas, kesehatan, dari semuanya lah ini.
02:01Saya minta ada kayak vitamin dari gizi anak, itu harus diperhatikan bang.
02:08Karena yang saat ini kemungkinan yang paling parah ini imun tubuh anak itu bang mudah sakit.
02:17Kebakaran hutan dan lahan sudah semakin darurat dan membutuhkan komitmen penanganan yang kuat.
02:23Mau berapa banyak lagi warga terdampak dan nyawa melayang akibat karhutlah?
02:28Tim Liputan Kompas TV
02:29Dan kini kita bergabung dengan jurnalis Kompas TV Zahwa Majid
02:37serta juru kamera Bimo Icaksana dan Anika Pratama
02:40untuk mengetahui kondisi terkini paling akhir kebakaran hutan dan lahan di Palangka Raya, Kalimantan Tengah.
02:44Zahwa, bagaimana sejauh ini penanggulangan terkini karhutlah di sana?
02:50Dan seberapa banyak angka ispa akibat peparan asap?
02:59Hingga saat ini tentu kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah masih diselimuti oleh asap akibat dari karhutlah.
03:07Dan kendati terus dilakukan upaya pemadaman begitu.
03:11Namun, sejak kemarin kami selalu saja menemukan ada titik-titik api baru begitu.
03:16Karena memang selain dari karakteristik tanah gambut ini yang mudah terbakar,
03:23tapi juga dari kemarau panjang dan juga angin yang sangat kencang,
03:27ini juga menjadi perpaduan yang membuat lahan-lahan gambut ini terus terbakar dan sulit sekali untuk dipadamkan.
03:34Dan upaya yang dilakukan oleh, baik oleh relawan dan juga aparat gabungan itu
03:40terus dilakukan di berbagai titik yang ada di kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah,
03:45dan juga bagian kota lainnya di Kalimantan Tengah.
03:54Salah satunya adalah dengan melakukan penyiraman secara langsung ke titik-titik di lahan gambut
04:02dan juga melakukan inovasi seperti membuat busa buatan seperti itu.
04:07Busa buatan ini dibuat dari campuran dari tepung tapioca yang juga dapat digunakan di lahan ini,
04:15tak hanya dapat memadamkan secara lebih cepat, namun juga dapat menggunakan debit air yang cukup sedikit gitu,
04:23dibandingkan hanya dengan air saja.
04:25Karena tadi inilah salah satu dari berbagai tantangan yang dihadapi oleh para relawan
04:30dalam berusaha memadamkan api yang ada di lahan dan hutan di sekitar Kalimantan Tengah.
04:38Maka dari itu, tak hanya dengan inovasi-inovasi tersebut, juga untuk lahan-lahan yang berada di sekitar pemukiman warga,
04:47dijelaskan oleh relawan bahwa air yang digunakan itu berasal dari sumur warga seperti itu.
04:53Dan untuk angka ispa yang berada di kota Palangka Raya sendiri,
04:58hingga saat ini, angka terus dinamis begitu.
05:02Namun, berdasarkan data terakhir yang dihimpun dari Pemkot, Kota Palangka Raya, dan BPDB juga,
05:12mencapai 121 angka ispa dari 8 puskesmas ini, angka terakhir dari 17 Oktober.
05:21Dan ini terus meningkat dari sebelumnya di 16 Oktober itu.
05:27kasus sebelumnya pada 16 Oktober maksud saya terakhir dari 16 Oktober.
05:42Oke baik, Zahwa tadi sempat terputus tapi kemudian kami tangkap bahwa kasus ispa juga masih terus terjadi dan cenderung meningkat.
05:50Dan tadi Anda mengatakan setiap hari di Palangka Raya bahkan menemukan titik api baru begitu.
05:55Nah secara khusus tadi di Palangka Raya, namun lebih luas lagi bagaimana kondisi karhutlah di titik lainnya di Kalimantan Tengah?
06:07Ya, berdasarkan data dari yang diterima hingga 17 Oktober pukul 6 sore kemarin,
06:13titik hotspot di Kalimantan Tengah ini mencapai 317.325 titik panas dengan 6.573 kejadian karhutlah begitu.
06:24Dan upaya pemadaman ini terus dilakukan, ada pun personil yang tercatat dalam upaya pemadaman ini mencapai 16.000,
06:34lalu juga menggunakan upaya-upaya lain seperti menggunakan helikopter, helikopter yang dikerahkan mencapai 7,
06:41lalu juga dengan satu pesawat OMC.
06:44OMC dan dengan begitu besarnya kejadian karhutlah di seluruh Kalimantan Tengah tercatat juga kasus ISPA di seluruh Kalimantan Tengah mencapai
06:53115.304 kasus,
06:57dan juga kasus diare mencapai 26.864.
07:02Baik, kasus yang masih cukup tinggi gitu ya angkanya di Kalimantan Tengah,
07:09dan saya dapat melihat Anda tadi melaporkan dalam kondisi nafas yang cukup terengah-engah
07:15dan sepertinya tidak hanya menyesakkan nafas tapi juga memerihkan mata ya Zahwa.
07:20Kalau saya tadi lihat Anda sempat mengusap air mata dan saya hanya bisa katakan tetap jaga kesehatan Anda dan juga
07:27rekan-rekan tim liputan di sana,
07:29Juru Kamera Bimbo Ucaksana dan Andika Pratama serta Jurnalis Kompas TV Zahwa Majid.
07:34Tetap jaga kesehatan rekan-rekan.
07:36Selamat malam, terima kasih.

Dianjurkan