00:04Intro
00:04Saudara pemerintah provinsi DKI Jakarta siagakan fasilitas kesehatan untuk bersiap tangani keluhan gangguan pernafasan warga.
00:13Langkah ini jadi antisipasi meski asap karhutlah dari Kalimantan dan Sumatera kini sudah tidak terdeteksi di atmosfer Jakarta.
00:22Walau asap karhutlah tak lagi terdeteksi, Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno bilang kualitas udara masih buruk.
00:30Pemprov akan melakukan water mist atau menyemprotkan butiran air ke udara dan memodifikasi cuaca untuk menurunkan polusi di Jakarta.
00:41Kita berasap tapi memang tiblum pada masuk atmosfer ke bawah.
00:46Cuma apa yang harus kita lakukan?
00:47Pak Gubernur sudah memerintahkan minimal kita mengantisipasi semua rumah sakit puskesmas harus siap.
00:53Kalau memang terjadi ispa segala macam.
00:55Tapi semalam juga saya mendengar dari BMKG bahwa angin sudah tidak bertiup ke Jawa.
01:00Ini mengindikasikan akan menjadi penurunan.
01:02Cuma mungkin satu kita akan melakukan water mist lagi.
01:06Itu salah satu bukan satu-satunya cara.
01:08Minimal bisa meredam kabut polusi segala macam.
01:13Dan kita tetap melakukan modifikasi cuaca.
01:17Jumat lalu Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika BMKG mendeteksi sebaran asap kebakaran hutan dan lahan memasuki atmosfer Jakarta.
01:27Pantauan citra satelit BMKG menunjukkan ada indikasi sebaran asap di sebagian wilayah Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat dengan indikasi
01:37keberadaannya pada lapisan menengah hingga atas.
01:48Berdasarkan hasil pemantauan citra satelit Mawari 9 pada Jumat 16 Oktober 2026,
01:57teridentifikasi adanya indikasi sebaran asap di sebagian wilayah Banten, DKI Jakarta, dan juga Jawa Barat.
02:04Kondisi ini menunjukkan bahwa asap telah terpantau di atmosfer wilayah Jakarta sejak pagi hari tadi.
02:11Namun perlu dipahami bahwa asap yang terdeteksi melalui citra satelit belum tentu telah mencapai permukaan tanah.
02:18Meski sudah tak terdeteksi di atmosfer Jakarta, tapi karhutlah masih belum padam di Kalimantan dan Sumatera.
02:25Lalu bagaimana warga di Jakarta dan sekitarnya perlu mengantisipasi dampaknya?
02:29Kita bahas bersama pengamat kebencanaan sekaligus Kepala BMKG periode 2017-2025, Prof. Dwi Korita Karnawati.
02:37Selamat malam Prof.
02:40Selamat malam Mas Radi, Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
02:44Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
02:46Prof, meski asap karhutlah ini sudah tidak terdeteksi, kemarin kan sempat terdeteksi oleh BMKG di Jakarta.
02:51Sekarang meski tidak terdeteksi kan ada yang langkah-langkah juga harus diantisipasi.
02:55Dan bagaimana risikonya dalam beberapa waktu ke depan di tengah karhutlah yang belum juga padam dan juga jika kita melihat
03:02pertimbangan arah angin, Prof?
03:05Ya, betul sekali. Jadi arah angin atau dinamika atmosfer ini kan fluktuatif ya, berubah-ubah.
03:14Saat ini kebetulan anginnya menjauh dari wilayah Jawa, Jabodetabek ya.
03:21Namun, karena saat ini kita memasuki wilayah Indonesia sedang memasuki musim pancaroba atau peralian musim ya,
03:31dari musim kemarau menuju musim hujan ya,
03:35Jadi arah angin yang umumnya berasal dari timur tenggara menuju ke arah barat laut itu secara regional.
03:52Namun bisa saja karena ini fluktuasi peralian musim bisa berbalik lagi dari arah barat laut ke tenggara.
04:03Nah, jadi ke arah Jawa, ke arah pulau Jawa lagi bisa.
04:06Jadi masih dimungkinkan adanya dinamika arah angin dan kecepatan angin ataupun pola angin.
04:14Sehingga masih tetap perlu diwaspadai selama hotspot ataupun epicenter karhutlah masih belum dapat ditangani.
04:26Jadi apa yang dilakukan oleh pemerintah daerah di sekitar wilayah yang akan terdampak atau termasuk di DKI itu sangat tepat,
04:36tetap harus waspada mengantisipasi, memonitor perkembangan informasi dinamika cuaca,
04:43terutama arah dan kecepatan angin, pola angin yang disampaikan BMKG,
04:49dan juga kualitas udara yang disampaikan oleh BMKG ataupun melalui berbagai aplikasi yang ada di masyarakat.
04:57Jadi demikian.
04:58Baik.
04:59Nah lalu Prof, sebesar apa kemungkinannya asap karhutlah ini akan kembali menyentuh atmosfer bawah
05:03seperti yang terjadi di Kuala Lumpur dan juga Singapura beberapa waktu lalu.
05:08Kita tahu dua negara tetangga ini juga diselimuti kabut asem, mampir di sana.
05:12Tapi jangan dijawab dulu ya Prof, kami akan bahas itu, akan tanyakan itu nanti sesaat lagi di Sapa Indonesia Malam.
05:16Tetap apa bersama kami.
05:26Masih berbincang bersama pengamat kebencanaan sekaligus sekolah BMKG Periode 2017-2025,
05:33Ibu Dwi Korita Karnawati.
05:35Prof, tadi saya bertanya sebelum jeda,
05:38sebesar apa kira-kira kemungkinannya asap karhutlah akan menyentuh atmosfer bawah?
05:42Tadi kan sudah dikatakan oleh Ibu Dwi Korita bahwa...
05:46Akan ada juga ya nanti saat ini atmosfer yang di atas,
05:51tapi ada juga nanti karhutlah ini akan menyentuh atmosfer bawah.
05:55Seperti yang terjadi di Kuala Lumpur dan Singapura.
05:57Kira-kira bagaimana ini, Prof?
06:09Bu Dwi Korita, sepertinya ada kendala komunikasi yang dialami.
06:15Dan tadi kami sempat berbincang soal bagaimana risiko dalam beberapa waktu ke depan,
06:21di tengah karhutlah yang belum juga padam.
06:24Apakah arah angin juga bisa menentukan asap karhutlah atau kabut asap ini bisa kembali ke wilayah Jabodetabek
06:31setelah sebelumnya BMKG mendeteksi hal itu pada Jumat pekan lalu?
06:36Ya, Bu Dwi Korita, dengar suara saya ya.
06:40Halo.
06:42Saya ulang pertanyaannya, Bu.
06:43Tadi ada sedikit kendala teknis.
06:45Seberapa besar kemungkinan asap karhutlah ini akan menyentuh atmosfer bawah, Bu?
06:50Seperti yang terjadi di Kuala Lumpur dan juga Singapura.
06:58Bu Dwi Korita, bisa dengar suara saya?
07:04Baik, kami coba kembali perbaiki sambungan komunikasi dengan pengamat kebencanaan
07:13sekaligus Kepala BMKG periode 2017-2025, Bu Dwi Korita Karnawati.
07:19Bu Dwi Korita, sudah mendengar suara saya ya?
07:22Saya mendengar.
07:23Baik, baik.
07:23Saya mendengar suara saya.
07:24Baik, sudah. Sudah terdengar jelas. Terima kasih.
07:27Saya ulangi pertanyaannya, Prof ya.
07:29Seberapa besar kemungkinannya asap karhutlah ini akan menyentuh atmosfer bawah?
07:32Seperti yang Anda jelaskan sebelumnya tadi.
07:34Seperti yang terjadi di Kuala Lumpur dan Singapura sebelumnya.
07:38Jadi apabila lapisan atmosfer yang ada di tengah dan atas
07:43itu mengalami dinamika kecepatan angin,
07:49artinya angin melambat,
07:51itu berarti pergerakan,
07:54apabila perlambatan itu tepat berada saat melintasi Jawa
07:59atau melintasi wilayah Jabodetabek,
08:02maka perlambatan kecepatan angin ini
08:05akan mengakibatkan gerak aliran vertikal
08:10dari lapisan atas ke lapisan tengah, ya, menengah,
08:15dan bisa berlanjut ke tembus ke lapisan di bawah tempat kita menghirup udara.
08:21Jadi itu sangat tergantung pada arah, ya,
08:26kalau mengarah ke Jawa atau Jabodetabek,
08:28dan juga kecepatan anginnya.
08:30Apabila kecepatan tetap tinggi,
08:32itu tidak, insya Allah tidak terjadi.
08:34Tapi apabila terjadi perlambatan,
08:37dikhawatirkan dapat terjadi hal itu.
08:39Maka disarankan tetap terus memontol,
08:43memonitor perkembangan dinamika informasi cuaca,
08:46kecepatan, dan arah angin yang disampaikan oleh BMKG,
08:50dan juga kualitas udara yang diakibatkan dari masuknya,
08:55itu tadi, partikel-partikel ke lapisan di bawah, ya,
08:59di permukaan. Demikian.
09:01Itu yang harus dipelajari juga oleh masyarakat,
09:03khususnya di Jakarta, ya,
09:04karena ibu kota ini sehari-hari juga sudah ada polusinya.
09:07Jadi, kalau memang ada tambahan polusi lain,
09:10karhutlah, itu yang harus diperhatikan.
09:13Pertanyaan lain soal ini, Bu Dwi Karita.
09:15Beberapa hari lalu, NASA sempat,
09:18peta satelit NASA,
09:19ini sempat melalui perform ice on the earth,
09:22menampilkan visualisasi sebaran konsentrasi gas karbon monoksida,
09:26atau CO di langit Indonesia,
09:28termasuk juga di wilayah ibu kota.
09:30Apakah itu kebenarannya bisa dipertanggungjawabkan,
09:34Prof, yang disebutkan NASA tadi,
09:36dan bagaimana dampaknya untuk kita di ibu kota
09:40dan kesehatan warga di ibu kota, Prof?
09:43Ya, itu data yang otentik, ya.
09:45Oke.
09:46Itu data satelit, ya.
09:47Jadi, itu kita percaya, ya.
09:50Kebenaran ilmiahnya.
09:51Lalu, bagaimana efeknya?
09:53Itu kan?
09:55Nah, itu tadi.
09:57Kalau seandainya tadi,
10:00itu kan masih di lapisan menengah dan atas, ya.
10:04Ya, 18 ribu kaki, tempatnya.
10:05Iya, itu sangat tinggi, kan?
10:08Atas, ya.
10:08Betul.
10:09Jadi, tidak dekat permukaan.
10:10Namun, efeknya dikhawatirkan karena sangat tebal,
10:14itu dikhawatirkan bisa menghambat daya tembus radiasi matahari.
10:20Oke.
10:21Itu.
10:21Nah, kalau mataharinya sulit tembus yang memacu atau memicu evaporasi pembentukan awan-awan itu adalah sinar matahari, penguapan.
10:35Sehingga dikhawatirkan juga akan menghambat, semakin menghambat pembentukan awan-awan hujan yang saat ini sebagian wilayah Indonesia masih berada di
10:47musim kemarau dan sebagian lagi berada di musim transisi, musim kemarau ke musim hujan.
10:56Nah, kalau itu terhambat, kan akan mengurangi ini, memperlambat apa, curah hujan tadi.
11:02Ya, makin lama waktu kemarau-nya ya, Prof?
11:05Ya.
11:06Oke.
11:06Ya, pencucian udara menjadi terhambat juga.
11:09Dan itu kalau sampai turun ke bawah, ada yang tadi bocor ke bawah, maksudnya ya tadi melintas itu, kan bisa
11:16mengganggu partikelnya itu, mengganggu pernafasan ya.
11:20Sampai ada yang bergerak vertikal ke lapisan bawah, itu bisa mengganggu kesehatan, pernafasan ya, dan juga lingkungan demikian.
11:28Baik, tadi berarti sudah dikonfirmasi oleh Bu Dukurita bahwa data satelit itu betul dari NASA dan bukan hanya dampak kesehatan,
11:36tapi CO tadi atau karbon monoksida tadi bisa menghambat pembentukan awan-awan hujan yang artinya,
11:42musim kemarau kalau tidak diantisipasi karhutlanya dan karbon monoksidanya masih tetap ada, itu akan tambah panjang begitu.
11:48Ini menyulitkan pembentukan awan-awan hujan yang bisa sebenarnya memulihkan kita dari polusi dan kabut asap.
11:54Terima kasih informasi yang saya sangat berharga dari Ibu Dukurita Karnawati, pengamat kebencana sekaligus Kepala BMKG Periode 2017-2025.
12:03Selamat malam, sampai jumpa lagi Ibu.
12:04Selamat malam.
12:06Selamat malam.
12:08Saudara antrean warga untuk mengisi BBM di SPBU saat ini masih terjadi di wilayah Kabupaten Gianyar, Bali.