00:00Intro
00:07Kita lanjut ya Mas Iqbal, tadi kan katanya dari kompas monitoring mayoritas sebenarnya sentimennya negatif nih.
00:13Kalau Anda sebagai perwakilan rakyat di DPR, bagaimana akan menerjemahkan itu?
00:18Ya kami sebagai partai politik terus aja kan terus memantau ya aspirasi-aspirasi yang masuk.
00:24Karena polemik ijazah ini kan bukan pertama ya dari era Pak Jokowi ya.
00:27Tapi kita punya contoh, siapa sih orang yang dituduh gak punya ijazah lalu dia menunjukin ijazah?
00:33Ada, Hakim MK sendiri.
00:35Pak Aslosani ketika dia dituduh gak punya ijazah, dia konferensi pers, dia tunjukin ijazahnya, ini ijazah saya.
00:42Jadi harusnya kayak gitu juga nih?
00:43Selesai.
00:44Saya kira itu juga perlu dilakukan Mas Gibran, Pak Jokowi.
00:47Karena ini kan jadi gak enak banget ya, ayah sama anak dituduh gak punya ijazah.
00:52Jadi kayak membawa beban bagi turunan yang ke depan gitu loh.
00:56Padahal ini kan sesuatu yang simpel sebenarnya.
00:59Dari dulu dibilang masih dicari, ya gak ketemu.
01:03Tapi kan kalau logikanya orang sekolah harusnya ada gitu loh.
01:06Nah tapi kalau gitu apakah kami menyiapkan forum resmi langsung nih DPR biar ditunjukin aja?
01:10Saya kira gak usah nunggu di DPR.
01:13Langsung aja besok pagi buka gelar perkara, ini saya sekolah di sini, ini SMP saya, SD saya.
01:19Ya ini yang dimaksud dengan itu penyetaraan.
01:21Saya kira itu lebih gentleman, lebih negarawan.
01:24Karena Hakim MK sendiri loh yang dituduh gak punya ijazah.
01:27Itu dia melakukan itu.
01:29Dan itu contoh juga seorang negarawan.
01:31Jadi kami melihat ya dalam polemik ini tentu saja masyarakat menilai.
01:36Tergantung algoritma media sosial kita.
01:38Kalau kita buka algoritmanya gak ada ijazah, ya yang keluar gak ada ijazah semua.
01:43Tapi kalau yang keluarnya adalah bahwa ini final end bending tidak ada kelanjutannya.
01:50Tetapi kami terus terang memantau juga di media sosial.
01:54Karena sentimen ini tentu saja juga akan mempengaruhi pikiran kami juga.
02:00Karena kegelisahan masyarakat saat ini tentu saja.
02:03Seperti Ibu Mersi, saya juga bertahu kalau Ibu Mersi ini dia memulainya dari awal.
02:07Melalui komisi informasi ya.
02:10Surat kementeri dulu Pak.
02:11Surat kementerian.
02:12Artinya ini sesuatu yang secara logika ya wajar.
02:15Sebagai orang masyarakat ya bukan yang ujuk-ujuk langsung ke MK gitu ya.
02:20Jadi kalaupun Pak Jokowi menuduh ini ada operasi politik.
02:24Ya itu sah-sah saja.
02:25Sebagai anggota partai politik ya.
02:29Yang sudah lama ternyata gitu kan ternyata beliau juga memandangi politik.
02:34Tetapi ada pepatah Melayu mengatakan tak ada asap kalau tak ada api.
02:39Kalau gitu saya ingin ke Bang Rino.
02:40Bang Rinoan, tadi kan Anda bilang sebenarnya ini juga ada sisi positifnya jadi lebih populer.
02:44Tapi ternyata omongannya negatif.
02:46Ini dari partai politik Anda atau dari partai Golkar gimana dong?
02:49Kalau masalah itu jangan dikaitkan dengan partai Golkar.
02:54DPP partai Golkar tidak berbicara masalah itu.
03:01Itu kan tadi saya bilang pengalaman saya pada saat memimpin partai Golkar di Jawa Timur itu negatif.
03:09Tapi kita tetap maju terus.
03:11Mempertahankan.
03:12Menang kita.
03:13Nah jadi saya minta bahwa Mas Gibran memang tidak perlu untuk harus mundur.
03:20Nanti karena situasi ini ya tadi rakyat kita ini tadi dibilang sama Bu Mersi belum ada media sosial.
03:27Tapi media sosial juga yang merubah nama drama-drama Korea ini.
03:32Tapi Bang Rinoan.
03:33Begitu dramanya sudah dibikin bagus berubah semuanya nanti.
03:36Bang Rinoan tapi ternyata kan data tadi ada gap yang besar antara putusan MK atau ruang hukum dengan apa yang
03:44ada di pikiran dari netizen.
03:45Publik belum menganggapin selesai loh.
03:47Iya memang karena memang Mas Ahmad dan kawan-kawannya terus.
03:52Berarti gak beres-beres kan?
03:54Gak usah panjang.
03:54Karena publik juga sekarang pintar bang.
03:56Gak usah lihat di semar ini bermain juga dia.
04:00Bermain apa?
04:02Ah biarin aja kan panjang sih.
04:03Nanti kalau 2029-2008 baru dia keluar aslinya kan.
04:08Oh gitu ya.
04:09Dia keluarin semua mau bilang apa?
04:10Berubah namanya rakyat Indonesia milih semuanya nanti.
04:14Nah ini kita lihat dari pandangan saya sebagai seorang politisi.
04:18Tidak ada kaitannya dengan Partai Golkar.
04:20Oke kalau Mbak Mersi melihatnya mayoritas sentimennya negatif.
04:23Apakah ini menurut Anda ini sebenarnya senilai apa se-inline dengan gugatan Anus Medi MK?
04:29Saya kan kesini bukan politikus.
04:32Saya ibu guru, pendidik.
04:35Dan saya menempuh proses itu dari awal.
04:38Jadi kalau ada orang bilang ujuk-ujuk, oh Anda salah.
04:42Karena saya sudah mempertanyakan itu karena saya merasa bahwa pendidikan Indonesia yang sudah begitu terpuruk dengan kasus ini makin hancur.
04:53Waktu saya kuliah Mbak itu warga negara Singapura dan warga negara Malaysia itu sama-sama kuliah di Indonesia.
05:01Sekarang apa yang terjadi?
05:03Jadi menurut saya netizen sekarang itu netizen yang cerdas.
05:07Teman-teman disini netizen gak?
05:09Siapa yang netizen tunjuk tangan?
05:11Tidak ada yang netizen?
05:13Tepuk tangan untuk netizen.
05:14Tepuk tangan untuk netizen.
05:18Artinya netizen itu sudah tidak bisa dibohongin.
05:23Dan satu lagi.
05:24Gaman-gaman ada ya?
05:25Ya kalau gak salah Pak sekarang.
05:27Maaf-maaf aja nih ya.
05:29Proses penurunan foto Mas Gibran itu sudah mulai terjadi.
05:33Atau tidak diturunkan.
05:35Tapi bajunya diganti.
05:37Baju SD.
05:38Sebagai pendidik menurut Ibu gimana itu?
05:40Menurut saya sepanjang Mas Gibran tidak bisa membuktikan ijazahnya itu hak masyarakat.
05:45Nah kira saja.
05:46Nambung Sumar kalau gituin.
05:47Kayak kata Mas Iqbal tadi.
05:49Sebenarnya selesai kalau lebih gentle.
05:51Kalau ditunjukin aja langsung ijazahnya.
05:54Ijazahnya kenapa langsung ditunjukin aja?
05:55Biar-biar sih kata Mas Iqbal tadi gitu loh.
05:57Nah kalau menurut saya sih kan yang mempersoalkan juga siapa gitu.
06:00Kenapa jadi bebannya ke Mas Gibran?
06:03Kan jangan juga akhirnya banyak orang mempersoalkan seseorang ya.
06:08Gak cuma sama Mas Gibran.
06:10Terus orang yang dipersoalkan dibebankan.
06:12Untuk menuntaskan ini.
06:14Kan gak begitu juga.
06:15Semua prosesnya dilalui juga.
06:17Besok kalau misalnya si Ahmad mau kemana boleh.
06:19Ibunya mau kemana boleh gitu.
06:21Mas Gibran tetap kerja dengan baik dia.
06:23Dia tetap urus kepentingan-kepentingan masyarakat dan lain sebagainya.
06:27Kalau soal-soal begini sih menurut saya tidak mempengaruhi fokus kerjanya Mas Gibran.
06:31Tapi dari warganet pengennya ada tindak lanjut Bang.
06:33Tadi kan warganet dari hasil survei ternyata lebih banyak yang pengen tindak lanjut aja.
06:37Biar ada endingnya gitu.
06:38Gak apa-apa dari zaman Pak Jokowi dipersoalkan ijazahnya juga begitu juga warganet.
06:42Biasa saja itu.
06:43Jadi kalau menurut saya begini ya.
06:45Semua proses yang ingin dilalui oleh siapapun silakan juga.
06:48Tapi jangan memaksakan apa yang menjadi pikirannya untuk mengkoptasi pikiran publik untuk mengikut arah yang gak benar.
06:55Silakan publik menilai sendiri gitu.
06:57Termasuk soal-soal yang menurut saya ketika putusan MK keluar terus digiring-giring seakan-akan bahwa Gibran itu memang melanggar
07:05konstitusi dan lain sebagainya.
07:07Nah itu kan sesat juga.
07:08Bahwa misalnya Gibran itu menjadi wakil presiden konstitusional harus diakui juga sebagai warga negara yang baik yang menghargai hukum konstitusi
07:16kita yang sudah diputuskan juga oleh instansi-instansi yang berwenang.
07:20Yang harus kita akui.
07:22Kalau memang itu dianggap instansi bermasalah, dikoreksi.
07:25Kan gitu ya.
07:26Instansinya bermasalah ya dilakukan perbaikan-perbaikan gitu loh.
07:30Bukan juga akhirnya ketika semua proses konstitusi sudah dilewati, kita balik lagi membicarakan soal tahapan-tahapan yang sebenarnya sudah jauh
07:38lewat.
07:38Nah ini menurut saya yang gak bijak ya di tengah persoalan-persoalan bangsa yang menurut saya jauh lebih banyak fokus
07:43ya.
07:44Kalau buat kami ya, buat Pak Jokowi, buat Mas Gibran, silakan.
07:47Pak Jokowi tidak pernah mempersoalkan siapapun yang mempersoalkan dirinya dan Mas Gibran, termasuk Mas Gibran.
07:53Jadi silakan aja persoalkan, karena saya setuju juga kayaknya nambah populer juga Mas Gibran.
07:58Kan kemana-mana orang jadi tahu Mas Gibran, kalau persoalan polesannya nanti banyak bukan poles kan.
08:02Mas Santa, makasih Bang Amat.
08:05Oke saya mau nanya Mas Santa, Mas Santa sebenarnya kalau menurut Anda sebenarnya dari hasil ini kan mayoritasnya sentimennya negatif.
08:11Tapi apakah ini bisa dibaca juga sebenarnya bentuk pertarungan dalam tanda kutip antara Pak Prabowo dengan Pak Jokowi dengan kondisi
08:18Pak Jokowi semakin terpojok dengan sentimen negatif makin besar?
08:21Ya bisa jadi, karena politik itu kan realnya begitu, pertarungan politik.
08:26Dan ketika ke publik itu persepsi publik.
08:28Dan siapa kalau bicara politik elektoral yang bisa memenangkan persepsi publik, maka dia pemenang dalam pertarungan politik.
08:35Nah soal persepsi nanti masing-masing kubu akan bertarung dengan strateginya masing-masing.
08:39Tapi yang menarik menurut saya ya, ada paradoks dalam kekuasaan kita hari ini.
08:44Di satu sisi, WAPRES, tentu ada Pak Jokowi di belakangnya, itu sedang mengalami tekanan politik.
08:49Di saat yang sama, Presiden itu semakin leluasa untuk melakukan konsolidasi politik tanpa harus dengan melakukan kompromi yang cukup keras.
08:58Dengan komprontatif berhadapan.
08:59Itu yang menarik menurut saya.
09:01Nah kemudian kalau kita lihat juga catatan saya yang pertama adalah Prabowo melakukan konsolidasi ini tanpa ketegangan.
09:08Ini yang menarik. Tidak harus berhadapan. Tadinya dalam pikiran kita harus berhadapan dengan Pak Jokowi, bagaimana ketergantungan yang cukup tinggi.
09:17Dan sekarang relasinya saling membutuhkan.
09:20Dan realitas hari ini, per hari ini kondisinya di luar itu bisa berbalik.
09:24Sekarang kondisinya hari ini ya, Pak Jokowi lebih membutuhkan Pak Prabowo untuk paling tidak memberi lampu merah.
09:29Jangan sampai ada proses pemakzulan tadi.
09:32Nah yang ketiga, Pak Prabowo itu bisa menjaga jarak sebenarnya.
09:36Saya bicara dalam politik realistis. Menjaga jarak dengan konflik polemik ini.
09:40Ini bukan konflik saya.
09:41Di saat yang sama, Pak Prabowo bisa dengan fokus melakukan agenda-agenda pemerintahannya tentunya dengan takaran.
09:48Tetap dapat terkendali dan seterusnya.
09:50Nah lalu konsolidasi ini, pertanyaan sendiri itu betul soal apa.
09:54Endingnya gimana?
09:55Ya endingnya itu, tidak ada endingnya.
09:57Yang mungkin akan dipelihara oleh kekuatan-kekuatan politik dengan berbagai macam strateginya masing-masing.
10:04Karena sekali lagi, masing-masing punya pinjakan kan debat.
10:07Beliau begini, kemudian sebelah sini juga punya sini.
10:10Pak Prabowo kan bukan mendengar hanya salah satu, mendengar kedua-duanya.
10:14Nah di luar itu semua, di luar perdebatan, di antara dua yang berdebat, yang bertarung,
10:20biasanya ada yang sedang tersenyum-senyum.
10:22Oke kalau gitu dengan perbelahan antara pendukung skenario pemakzulan, skenario mundur,
10:26maupun skenario Gibran Wapresah, adakah jalan lain yang lebih konstruktif?
10:30Kita akan bahas di segmen selanjutnya.
10:31Terima kasih.