Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Pascaputusan MK yang menyebut tak ditemukannya ijazah setara SMA Gibran, dampaknya terus memanas.

Sejumlah kalangan masyarakat mendatangi partai-partai agar berani membentuk hak angket, bahkan ada juga mendorong DPR ajukan hak menyatakan pendapat.

Melihat hal tersebut, Jokowi kembali mengulang pernyataannya soal operasi politik untuk menjatuhkan reputasinya dan putranya, Gibran, melalui serangan ijazah. Bahkan Jokowi pastikan polemik ijazah kini ditunggangi penumpang gelap.

Merespons Jokowi, kubu pengadu Gibran tegaskan upaya mereka mendatangi parpol untuk mendesak pemakzulan Gibran hingga melaporkan suket Gibran ke Bareskrim adalah hak konstitusional warga negara.

Pernyataan Jokowi soal serangan politik di balik kasus ijazah dirinya dan Gibran, jauh sebelumnya juga pernah diungkapkan relawannya. Meski tak menyebut nama, namun relawan Jokowi melempar simbol warna sebuah partai.

Meski serangan bertubi-tubi soal ijazah dirinya dan Gibran terus memanas, bahkan sampai ke dorongan pemakzulan lewat DPR, Jokowi tetap enggan menyebut sosok dan mengaku serangan tersebut sebagai hal yang biasa.

Menurut Jokowi, serangan soal ijazah Gibran semakin memanas karena ada penumpang gelap dalam serangan politik ijazah.

Lalu siapa penumpang gelap yang dimaksud? Kita bahas bersama pemohon angket ijazah Gibran, Ray Rangkuti, dan juga ada Waketum Barisan Relawan Nusantara, Ade Darmawan.

Baca Juga Relawan Sarankan Ray Rangkuti Bersurat ke Gibran untuk Lihat Langsung Ijazah di https://www.kompas.tv/nasional/696438/relawan-sarankan-ray-rangkuti-bersurat-ke-gibran-untuk-lihat-langsung-ijazah

#gibran #ijazahgibran #jokowi #wapresgibran

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/696446/full-jokowi-sebut-ada-penumpang-gelap-di-kasus-ijazah-gibran-ade-darmawan-ray-rangkuti-merespons
Transkrip
00:02Saudara Kapolri Jenderal Suyudi Arioseto buka suara soal polemik surat keterangan penyetaraan ijasa Wakil Presiden Gibran di Baras Krim.
00:10Kapolri pastikan laporan soal Suket Gibran masih dalam tahap penyidikan.
00:17Hal ini disampaikan Kapolri Jenderal Suyudi saat berkunjung ke Bursa Efek Indonesia BEI.
00:22Menurut Kapolri, pengaduan soal Suket penyetaraan ijasa Gibran yang dilayangkan Ahmad Kozinuddin masih dalam tahap penyidikan.
00:30Sebelumnya, Kozinuddin melaporkan adanya dugaan pemangsuan dokumen yang digunakan Gibran sebagai syarat pendidikan calon Wakil Presiden di Pilpres 2024 ke
00:41Baras Krim Polri.
00:44Kapolri Jenderal Suyudi terkait laporannya pengacara Kozinuddin, terkait dokumen ijasa Palsu Gibran ini seperti apa?
00:54Oh iya, masih dalam proses penyidikan kita.
00:57Masih dalam proses penyidikan ya Pak?
00:59Ada tindakannya terhadap dokumen ijasa Palsu Gibran?
01:04Oke, terima kasih Pak.
01:06Ini ada operasi politik, kemudian ada penumpang gelap yang menunggangi lagi, jadi menjadi ramai sekali.
01:22Pasca putusan MK yang menyebut tak ditemukannya ijasa setara SMA Gibran, dampaknya terus memanas.
01:29Sejumlah kalangan masyarakat mendatangi partai-partai agar berani membentuk hak angket.
01:35Bahkan, ada juga yang mendorong DPR ajukan hak menyatakan pendapat.
01:40Melihat hal tersebut, Jokowi kembali mengulang pernyataannya soal operasi politik untuk menjatuhkan reputasinya dan putranya Gibran melalui serangan ijasa.
01:50Bahkan Jokowi pastikan, polemik ijasa kini ditunggangi penumpang gelap.
01:56Ya, kan sudah saya sampaikan sejak awal, ini ada operasi politik, kemudian ada penumpang gelap yang menunggangi lagi, jadi menjadi
02:07ramai sekali.
02:09Jadi, bisa saja memang sekali lagi operasi politik untuk mendowngrade reputasi politik seseorang.
02:20Bapak atau Mas Gibran kita maju?
02:22Ya, dua-duanya bisa.
02:25Merespons Jokowi, Kupu Pengadu Gibran tegaskan, upaya mereka mendatangi parpol untuk mendesak pemakzulan Gibran hingga melaporkan suket Gibran ke Bareskrim
02:35adalah hak konstitusional warga negara.
02:39Reputasi itu ada, manakala memang pihak-pihak yang terkait itu memiliki reputasi.
02:44Nah, dua orang ini kan memang ada masalah.
02:47Jokowi dengan ijasa yang diduga palsu dari UGM, sementara Gibran dengan suket yang tidak ada objek untuk disetarakan, baik itu
02:53dalam bentuk sertifikat, ijasa maupun diploma.
02:57Karena itu proses yang kami lakukan untuk meminta agar DPR melakukan proses pemajulan adalah proses konstitusional.
03:04Hirupik di beberapa hari ini, itu bukan serangan politik.
03:09Langkah ke DPR itu adalah langkah untuk membuka pintu agar perkara ini tidak menjadi bola liar di publik,
03:20sehingga kemudian publik mendapat kepastian bahwa saudara wakil presiden memiliki ijasa setingkat SLTA atau tidak.
03:32Pernyataan Jokowi soal serangan politik dibalik kasus ijasa dirinya dan Gibran, jauh sebelumnya juga pernah diungkapkan relawannya.
03:40Meski tak menyebut nama, namun relawan Jokowi melempar simbol warna sebuah partai.
03:47Seluruh Indonesia sudah melihat tampilan saya hari ini, saya berbaju apa gitu.
03:51Ya kan? Nah, sisa men-challenge saja, mencari pemikiran sendiri, berpikir masyarakat sendiri.
03:57Bahwa siapa sih kira-kira dalangnya gitu.
03:59Nah, saat ini saya berbaju apa?
04:01Nah, itu mungkin salah satu kulu yang bisa saya sampaikan.
04:07Meski serangan bertubi-tubi soal ijasa dirinya dan Gibran terus memanas,
04:12bahkan sampai kedorongan pemakzulan lewat DPR, Jokowi tetap enggan menyebut sosok.
04:18Ia mengaku serangan tersebut sebagai hal yang biasa.
04:22Tim Liputan Kompas TV
04:30Saudara Presiden ketujuh RI Jokowi Dodo akhirnya buka suara setelah ramai desakan sejumlah kalangan ke DPR
04:36agar segera membentuk pansus ijasa Gibran.
04:40Menurut Jokowi, serangan soal ijasa Gibran semakin panas karena ada penumpang gelap dalam serangan politik ijasa.
04:47Lalu siapa penumpang gelap yang dimaksud?
04:50Kita bahas sore hari ini bersama pemohon angket ijasa Gibran.
04:53Rai Rangkuti, Bang Rai, selamat sore.
04:57Dan hadir juga ada Wakil Ketua Umum Barisan Relawan Nusantara, Ade Darmawan, Bang Ade. Selamat sore.
05:03Selamat sore.
05:04Bang Ade, ini lagi-lagi Pak Jokowi menyebut polemik ijasa merupakan serangan politik.
05:09Kalau dulu di tahun lalu nih, ijasahnya Pak Jokowi dibilang ada toko besar.
05:14Bahkan ada juga sempat menyuarakan warna lambang buat partai politik biru.
05:20Nah sekarang di ijasahnya Gibran, lagi-lagi kali ini Pak Jokowi bilang ada penumpang gelapnya.
05:25Jadi siapa yang dimaksud orangnya sama atau enggak?
05:27Ya penumpang gelap maksudnya itu adalah ada beberapa pihak yang masuk kerana pidana.
05:33Itu tentunya pasti itu, ya kan?
05:35Siapa itu, Bang?
05:36Kan tadinya ini hanya persoalan sidan MK, kemudian berkembang menjadi keterangan palsu suket, dan lain sebagainya.
05:46Ya itulah mungkin artinya semakin rame orang menarik, masuk ke dalam persoalan hanya karena adanya putusan MK dalam pertimbangan.
05:55Maksudnya ini Bang Kosinudin?
05:57Ya tentunya seperti itu kan.
05:58Kan ini artinya putusan dari MK ini kan sebenarnya kan sudah jelas amarnya ada.
06:05Nah hanya karena pertimbangan ini, ini kemudian terjadi goreng-menggoreng untuk masuk kerana yang lebih dianggap bahwa ini adalah penegakan
06:16hukum.
06:17Padahal sebenarnya kalau dikatakan palsu, kalau kita berbicara palsu, keterangan palsu di dalam satu surat, ya kan?
06:23Itu bukan institusi yang mengeluarkan.
06:27Nah ini institusi dan otoritas.
06:30Bagaimana bisa dikatakan palsu dan sudah dijelaskan di dalam pertimbangan itu.
06:33Jadi kalau balik lagi ke pertanyaan saya sebelumnya, ada operasi politik apa dan siapa penumpang gelap yang dimaksud Pak Jokowi?
06:39Ya itulah tadi, bahwa itulah penumpang gelap kalau terkait operasi politik, ya kan?
06:44Tentunya Pak Jokowi itu memahamin tuh.
06:47Bahwa operasi politik itu selalu ada di Republik ini.
06:50Tidak mungkin tidak ada operasi politik.
06:52Karena ini saja sudah bahasanya Bang Rey juga membahasakan bahwa ini adalah harus ada keputusan politik terkait persoalan ini.
07:02Berarti memang sudah politik kan?
07:04Sudah ada politik.
07:04Kalau berbicara siapa, ya.
07:07Oke, berarti artinya kalau penumpang gelap selain tadi Abang bilang adalah Bang Kauz Indonesia termasuk juga Bang Rey Rangkuti yang
07:14belakangan getol nih ke fraksi-fraksi di DPR.
07:17Ya, siapa tahu.
07:20Oke, saya tanya kalau gitu ke Bang Rey.
07:22Bang Rey, beberapa hari lalu Anda getol datang ke fraksi-fraksi di DPR.
07:26Apakah yang dimaksudnya itu adalah berkaitan dengan operasi politik yang saat ini sedang dilakukan dengan kawan-kawan?
07:35Ya, nggak tahu saya ditanyakan pada Kauz Indonesia.
07:38Tapi diduganya seperti itu kata Bang Ade.
07:43Ya, terserah.
07:44Mau disebut, mau disebut apa, terserah saja.
07:48Oke, tapi kalau gitu sanggahan Anda, apakah ketika tadi Pak Jokowi mengatakan ada operasi politik dan penumpang gelap di ijazahnya
07:55Gibran?
08:00Ya, ini kan bukan kali pertama Pak Jokowi mengungkapkan itu dan saya kira sudah berulang-ulang dan tidak pernah terang.
08:07Oleh karena itu bagi saya, saya anggap angin lalu saja lah yang begitu-begituan.
08:11Tidak akan menyurutkan kita untuk mendesak supaya angket itu dilakukan.
08:16Bukannya adalah sebuah tuduhan yang sangat serius Bang Rey?
08:19Ya, bagi saya sih tidak serius karena saya sudah tahu Pak Jokowi.
08:25Memang suka mengubah kata-kata yang begitu yang beliau sendiri tidak bisa tunjukin.
08:31Jadi bagaimana beliau menunjukkan, menunjukkan ijazah saja beliau sampai sekarang belum bisa.
08:38Oke, ketika tadi juga Pak Jokowi menambahkan mau mendownbred reputasinya Pak Jokowi dan Mas Gibran, tanggapan Anda?
08:46Ya, kan sebenarnya saya sepele ya. Tinggal ditunjukkan saja kan.
08:51Kan awalnya sudah ada sidang mahkamah konstitusi.
08:54Ijazah itu tidak dibawa.
08:56Sekarang muncul alasan karena tidak dibinta oleh hakim mahkamah konstitusi.
09:01Padahal para pemohon sebetulnya kan meminta itu tidak dihadirkan.
09:04Bahkan Gibran-nya sendiri diminta supaya dihadirkan.
09:08Tapi pada saat itu para pendukung Gibran menolak supaya Gibran itu hadir ke sidang mahkamah konstitusi.
09:16Nah sekarang muncullah semacam argumen baru.
09:20Kenapa Gibran tidak diundang?
09:22Nah kan sudah berapa kali diundang.
09:23Kenapa dokumen itu tidak diminta?
09:25Kan sudah berapa kali diminta oleh hakim mahkamah konstitusi kan.
09:28Lalu kemudian sekarang...
09:30Lalu luruskan dulu nih Bang Rey.
09:31Tidak ditemukan belum tentu tidak ada.
09:35Makanya saya mengajukan sekarang oke deh kita akhiri lagi polemik yang tidak menuju ini.
09:40Ayo sama-sama kita dukung angket supaya...
09:44Biar terang.
09:44Ya ijazah itu bisa dihirikan di forum angket.
09:48Terang benderang gitu.
09:49Nah sekarang ketika kita mengusung supaya angket...
09:51Yang kita harapkan sebetulnya itu memudahkan Pak Jokowi untuk mengungkap kebenaran secara bermartabat dan juga terhormat juga ditolak.
10:05Dituduh kita mau ditunggangi.
10:08Kalau mau ditunggangi kayaknya saya ditunggangi oleh Pak Jokowi deh.
10:13Kenapa gitu?
10:14Ya karena sebetulnya forum angket itu memfasilitasi Pak Jokowi untuk mengungkap kebenaran yang ada pada dirinya.
10:21Gitu kira-kira itu.
10:23Oke.
10:23Kalau gitu kalau misalnya tadi dibilang Bang Rey sebenarnya kalau penggunaan hak angket adalah untuk memfasilitasi ya...
10:29Untuk keluarganya Pak Jokowi termasuk ijazahnya Mas Kibar.
10:31Dan pertanyaannya ke Mas Ade adalah...
10:33Kenapa dianggap oleh Pak Jokowi adalah serangan operasi politik dan ada penumpang gelapnya?
10:40Jadi begini, ya kalau kita berbicara terkait hak angket, kan tujuannya pemaksulan.
10:46Nah sebenarnya yang diinginkan teman-teman ini pemaksulankah?
10:52Bentar, oke saya tanya sebentar.
10:55Emang tujuannya pemaksulan Bang?
10:57Ujungnya nih dengan meminta hak angket.
10:59Tentang genderan, baru saja Bung Ade mendengar saya ucapkan.
11:04Salah satu tujuan angket itu memfasilitasi Pak Jokowi untuk mengungkap kebenaran adanya...
11:12Oke, saya jawab.
11:13Saya langsung aja jawab Bang Rey.
11:14Bang Rey, kalau menggunakan...
11:17Apa kurang terang itu?
11:18Kalau mengenai hak angket, kita kan tidak perlu repot-repot juga hak angket dengan sesuatu yang tidak urgensi.
11:24Apa urgensinya?
11:26Memfasilitasi katanya.
11:27Sebenarnya, apa urgensinya anggota Dewan untuk mengungkap itu?
11:31Sederhananya begini, saya challenge Bang Rey sekarang.
11:35Kalau memang Bang Rey hanya ingin menanyakan bahwa mana yang setara ijazah SMA itu, ya sederhana sekali Bang Rey.
11:43Kalau menurut saya ya, kalau kita ini berpikir kita, walaupun kita berseberangan, tetapi kita berpikir kita coba deh melihat solusinya.
11:49Sederhana, Bang Rey menyurat sebagai lingkar madani ke Istana Wapres, beraudensi, mana?
11:57Coba saya lihat, yang mana dikatakan ijazah setara itu.
12:02Sederhana Bang Rey, karena kalau kita memang mau tidak bikin gaduh, atau mau melihat bahwa ini tidak ada tendensi politik
12:12melalui impej, tentunya sebagainah bangsa.
12:16Karena kan ini tidak keseluruhan juga, hanya grupnya Bang Rey saja kan?
12:19Nah tentunya saya meyakini bahwa Mas Gibran juga akan menerima Bang Rey dan menunjukkan kok, ingat tanggal 20, tanggal November,
12:26November 2023.
12:28Artinya ada jaminan ketika misalnya Bang Rey menerima Mas Gibran datang?
12:32Iya dong, paling tidak seperti itu kan?
12:34Masukkan surat, ajukan bahwa kami sebagai rakyat Indonesia, wah ya kan?
12:41Ingin melihat ijazah tersebut dalam polemik dan lain sebagainya.
12:44Ingat, itu yang pertama. Yang kedua adalah Bang Rey, perlu saya sampaikan, pada November 2023, Mas Gibran di Surakarta sudah
12:54memperlihatkan itu.
12:55Jadi kalau kita berbicara hanya karena mau mengetahui, mau melihat, adakah ijazah setara atau tidak?
13:02Dan bagaimana? Kalau perlu didampingin dengan ahli pendidikan luar negeri.
13:05Kayaknya waktu itu yang diperlihatkan, Isatul dah mah?
13:08Ya artinya yang suket atau penyakit?
13:11Ya saya rasa, saya rasa itu sudah pernah diperlihatkan.
13:14Ya November 2023 di Surakarta.
13:18Nah kalau Bang Rey yang belum giliran melihat secara jelas, ya silahkan audience, itu kan wakil presiden kita bersama gitu
13:25loh.
13:25Silahkan monggo saja. Jadi jangan juga, gini, kenapa kita katakan bahwa ini menarik secara politik hal ini?
13:33Karena dibawa ke DPR, sementara DPR itu, ya kan, politik kenegaraan.
13:37Politik negara itu hal yang urgensi, bukan persoalan remeh-temeh yang hanya suket gitu loh, mau disidang paripurnakan.
13:45Berapa biaya negara untuk kali itu?
13:47Hal ijasa ini soal remeh-temeh, gak ada yang harus dipersoalkan, kalau mau datang aja kirim surat ke WAPES, DPR.
13:54Anda mau gak kayak gitu Bang Rey, usah aja deh tetap bersama kami di Kompas Tetang.
14:08Bang Rey, tadi ditawarin sebelumnya oleh Bang Ade, kenapa gak kirim surat aja ke wakil presiden,
14:13nanti wakil presiden akan membuka audiensi dan bisa jadi nanti dipersilahkan untuk melihat surat penyetaraan dari ijazahnya Mas Gibran?
14:25Ya karena Bang Ade menganggap ini adalah persoalan pribadi saya.
14:30Ini persoalan yang diungkap oleh Mahkamah Konstitusi, bahwa Sudara Gibran itu tidak memiliki ijazah.
14:37Nah oleh sebetulnya kebutuhan untuk menjelaskannya bukanlah kepada saya, tapi kepada Mahkamah Konstitusi.
14:44Dan kepada bangsa ini tentu saya secara menyeluruh, itu satu.
14:48Yang kedua, oke lah misalnya saya berkirim surat kepada Gibran.
14:52Gibran memperlihatkannya kepada saya.
14:54Emang Mbak percaya nanti apa yang saya ungkapkan?
14:58Emang Mbak percaya bahwa ijazah itu ada?
15:01Atau ijazah itu tidak ada?
15:03Kalau dibuktikan kalau Mas Gibran yang kasih lihat?
15:04Ya ini nih, ini yang menjadi persoalan Bang Reh.
15:08Saya pulang dari sana, saya ungkapkan.
15:10Mbak Jep percaya nggak bahwa ternyata saya sudah melihat?
15:14Atau saya tidak melihat?
15:17Terus bedanya kalau...
15:19Kan tujuannya melihat.
15:21Masa nggak diperlihatkan?
15:22Kan begitu Bang Reh.
15:23Jadi gini maksud saya, kalau Bang Reh mengatakan bahwa...
15:27Adek, tunggu dulu.
15:29Tunggu dulu Bang Adek.
15:30Dengar penjelasan saya.
15:31Kalau saya nanti ketemu Bung Gibran, dia perlihatkan ijazah itu.
15:36Lalu saya sampaikan ke host kita.
15:38Ditanya host, apakah Anda sudah melihat?
15:41Sudah.
15:42Apakah sudah Anda melihat?
15:44Tidak.
15:45Apa host kita percaya?
15:46Apa yang menyelesaikan masalah kita?
15:50Tenggak gitu maksud saya.
15:52Kan pemohonnya Bang Reh.
15:55Oleh karena itulah, datang aja ke DPR, supaya secara legal, secara terhormat, secara bermoral diselesaikan kasus ini.
16:07Sebab kalau nggak ini seperti kasus Pak Jokowi, mau diperlihatkan bagaimanapun, mungkin nggak menerima.
16:14Dan masih menjadi tanda tanya misteri, meskipun saat ini sudah disidang juga ya.
16:18Bukan hanya misteri, bukan hanya misteri, sudah diperlihatkan itu ijazah.
16:25Tapi publiknya tetap nggak percaya.
16:27Makanya, akan membuka forum yang tidak diselesaikan dengan forum kopi.
16:32Oke, sebelum saya nanya ke Bang Ade nih.
16:35Ya kayak begini, tiba-tiba kalau tiba-tiba Gibrant memperlihatkan, itu kan sama dengan Gibrant perlihatkan kepada mayoritas publik melalui
16:43pengumuman, ini loh jasa saya gitu.
16:46Tapi sebenarnya, dengan saya datang untuk melihat.
16:48Oke, kan beberapa waktu lalu Anda juga datang ke DPR nih, nemuin fraksi ke PKB termasuk ke Golkar juga.
16:54Nah hari ini kan harusnya ada audiensi juga yang Anda ingin gerakan juga untuk bertemu dengan Partai Demokrat.
17:00Nah, kenapa hal ini ditunda Bang?
17:05Bang Rey?
17:10Oke, sebelum nanti Bang Rey menjawab adalah, saya mau balik lagi ke Mas Bang Ade.
17:16Oke, Bang Rey mau dijawab dulu?
17:18Sorry, saya seringkan sekarang kalau jumlah hilang-hilang ini.
17:21Hilang-hilang apa namanya, hilang-hilang ada apa ya dengan saya ini?
17:26Oke, kalau gitu saya ulangi pertanyaannya lagi.
17:29Makanya gemari aja Bang Rey.
17:31Iya, coba.
17:33Oke Bang Rey, ini kan beberapa waktu lalu Anda juga datang ke fraksi di DPR.
17:36Ada Golkar, ada PKB.
17:38Nah hari ini harusnya Anda juga audiensi dengan Partai Demokrat ya.
17:42Tapi kemudian, tiba-tiba ditunda.
17:44Kenapa Bang?
17:48Saya tidak tahu persisnya, tentu mungkin orang Demokrat yang bagusnya itu menjawab, khususnya Ketua Dewan Pakar.
17:55Karena rencana kita kan diskusi dengan Ketua Dewan Pakar.
17:58Ada hubungannya dengan pernyataan Pak Jokowi hari ini?
18:00Apakah mereka ada kegiatan baru?
18:03Saya tidak tahu.
18:04Tetapi ya kalau dilihat sebelumnya kan masih oke.
18:08Tiba-tiba keluarlah pernyataan itu.
18:10Lalu tadi pagi kita mendapatkan kabar bahwa sementara ditunda dulu, nanti akan dijadwal ulang.
18:17Kalau kita sih fain-fain amat, enggak seperti yang dipikirkan oleh Bung Ade, bahwa seolah-olah digenting apa gitu, bahwa
18:24kita ini-ini enggak, santai aja.
18:27Karena apa istilahnya itu?
18:29Kalau Gibran tidak memperlihatkannya juga oke aja, tapi kan ditanggung sendiri nanti akibat politiknya.
18:36Apa itu?
18:36Ya itu soal ijazah itu ada apa enggak?
18:39Itu pertanyaan publik terus-menerus.
18:42Pertanyaan saya Bung Ade itu pertanyaan publik.
18:45Oke, kalau gitu ketika kemarin Anda bertemu dengan fraksi di PKB, PKS, Golkar juga termasuk.
18:51Nah hari ini harusnya ketemu dengan Demokrat, tapi kemudian ditunda untuk sementara waktu.
18:54Pertanyaannya, kalau dari Anda datangi ke fraksi, beberapa parpol, apakah ada niat begitu kalau akan menggunakan haknya?
19:07Partai-partai ini?
19:09Ya, yang sudah Anda kunjungi kemarin.
19:15Saya sudah berulang kali menyebut, saya sudah melihat ada nuansa 60 persen mereka tertarik untuk menggunakan hak angket.
19:25Kenapa gitu?
19:25Ya karena dibutuhkan kejelasan soal ijazah itu, lalu itu juga menindaklanjuti pertimbangan Mahkamah Konstitusi,
19:34lalu juga mempersoalkan soal apakah ada pasal penyeludupan, lalu juga mempersoalkan kenapa ada satu warga negara yang bisa mendapatkan suket
19:43begitu cepat,
19:45hanya hitungan tidak sampai 24 jam, begitu ya.
19:48Lalu juga terdapat di dalamnya itu adalah suasana yang apa istilahnya itu ya,
19:54dipertanyakan oleh publik soal, ya itu situasi perkembangan terakhir ini yang menyebut bahwa Gibran itu punya ijazah gitu.
20:02Jadi setidaknya ada lima hal yang perlu dijawab di dalam hak angket itu.
20:07Tidak melulu soal ijazah itu, tapi ada itu tadi, ada soal pasal penyeludupan, ada soal suket yang bisa satu orang
20:15di publik ini bisa mendapatkan dengan sangat mudah,
20:18itu yang namanya suket gitu ya, dan seterusnya-seterusnya gitu.
20:22Nah kalau saya baca, secara umum partai-partai politik itu sudah diangkai 60 persen, tinggal 40 persennya, 40 persennya datang
20:30dari istana.
20:30Itu di runtuhkan sama siapa tuh Bang?
20:31Nah kalau istana miring sedikit.
20:33Oke istana berarti 40 persen ya sisanya ya?
20:36Kalau istana ya tentu lingkungan presiden ya, kalau sekiranya lingkungan presiden ini miring sedikit ke arah kecenderungan untuk angket, jalan
20:46ini cepat sekali jalannya.
20:47Oke kalau tadi kita sampaikan ya Bung Ade, angket itu dalam sejarah di Indonesia.
20:55Oke saya ke Bang Ade dulu bentar ya Bang Ray ya.
20:58Hak angket itu Bung Ade, dalam sejarah di Indonesia ya, itu belum pernah ke hak menyatakan pendapat.
21:06Oke.
21:07Nah makanya enggak soal takut Bung Ade, bang angket bulok misalnya dulu.
21:12Oke baik-baik, kalau gitu saya ke Bang Ade dulu ya Bang Ray ya.
21:15Angket Bang Senturi, enggak kepenyatakan pendapat.
21:18Oke enggak usah.
21:18Dan tenang aja, sampaikan kepada Pak Jokowi, tenang Pak Jokowi.
21:21Angket ini sebetulnya adalah tempat di mana Pak Jokowi membersihkan diri gitu loh.
21:26Iya, iya.
21:26Oke termasuk membersihkan nama Wakil Presiden Gibran.
21:28Jadi tenang aja Bang Ade, enggak usah deg-degan.
21:32Enggak ada yang deg-degan dan tidak ada yang khawatir.
21:35Selama itu dijalankan secara konstitusional.
21:38Itu yang pertama.
21:39Yang kedua, enggak pendek-degan.
21:41Orang Mas Gibran ini enggak ngapa-ngapain kok.
21:44Kalau gitu langsung aja.
21:46Urgensinya apa?
21:47Loh, kan yang menentukan adalah DPR.
21:50Katanya sudah 60% silahkan saja.
21:51Monggo saja kalau memang mau dilakukan oleh DPR.
21:56Tetapi ingat bahwa tidak ada urgensi di dalam hal ini.
22:01Apa urgensinya untuk bangsa ini?
22:03Apakah ketika kemudian ijazah ini ada?
22:05Tadi untuk memiliki kepastian kepada masyarakat.
22:06Apakah kemudian ijazah ini akan mengurangi kebakaran hutan?
22:15Tidak akan menjadi gempa ketika ijazah ini nanti dibahas oleh Angket.
22:21Iya kan?
22:22Harus dibahas.
22:23Kalau enggak, gempa nih.
22:24Nah, jadi urgensi.
22:25Jadi begini.
22:26Politik negara, politik kenegaraan yang dilakukan oleh DPR tentunya urgensi.
22:35Jangan jadi lucu-lucuan.
22:37Jadi tidak ada kekhawatiran.
22:39Tidak ada kekhawatiran karena ini tidak urgensi.
22:41Itu yang pertama.
22:42Yang kedua, bahwa kalau Bang Reh memang mau melihat bangsa ini,
22:47ngapain sih kita mau impet-impet, ya kan?
22:50Ya, minta aja kalau memang ketenang tidak lihat gitu loh.
22:54Datang aja gitu loh Bang Reh.
22:56Iya kan?
22:56Itu baru politik kebangsaan.
22:59Artinya semuanya jadi adem gitu loh.
23:01Saya meminta pelanjutnya agar ijazah itu diperlihatkan kepada publik.
23:07Oke, baik.
23:09Terima kasih Bang Reh Rangkota.
23:11Terima kasih Bang Adi Darmawan.
23:12Itu bukan ijazahnya Bung Adi.
23:14Terima kasih.
23:16Nah DPR untuk menimpa Sudara Gibran.
23:21Lihatkan ijazahnya kepada publik.
23:23Saya tidak memiliki kepentingan itu.
23:25Terima kasih Bapak-Bapak semuanya.
23:27Terima kasih Bapak-Bapak semuanya.
23:28Tentu bersama kami di Kompas Potang.
23:30Kami masih akan segera kembali.
23:31Terima kasih.

Dianjurkan