00:00Dan tadi saya melakukan rapat koordinasi dengan pimpinan DPR, ada Pak Dasko, kemudian Pak Rosan,
00:11misalnya Pak Gementeri Investasi, ada Pak Doni, Kepala BP BUMN, ada Pak Kapolri, Pak Suyudi, dan teman-teman dari Pertamina,
00:27ada Pak Kabin. Rapatnya sifatnya koordinasi aja biasa. Dalam rangka nilai tambah dan bagaimana bisa meningkatkan PNBP
00:45dan meningkatkan devisa kita di era kondisi global yang tidak menentu. Saya meminta dukungan dari mereka semua,
00:53dari abang-abang saya, dari tim semua, agar ini bisa kita lakukan termasuk dengan urusan ketahanan energi
01:00dan transisi energi. Ya baik, tadi saya juga mendapat laporan dari Pertamina, secara stok nasional kita,
01:10BBM itu di 16 sampai 18 hari. Jadi stok BBM nasional insya Allah itu aman.
01:21Yang Pertamina laporkan ke saya tadi adalah distribusi dari daerah Jawa Timur ke Bali dan beberapa tempat
01:35yang terkait dengan kapal. Saya tadi memerintahkan untuk mereka untuk segera menggandakan kapal
01:45agar tidak terjadi kondisi yang tidak diinginkan di daerah-daerah.
01:52Sekarang kan nililisasi itu kan yang kita inginkan adalah endingnya nilai tambah 100% di sini.
01:57Tapi di industri sekarang smelter masih ada produk sasaran antara 60%-50%.
02:05Nah yang menghasilkan produk yang turunannya baru 50-60% ini, ini mungkin setelah nanti kajian dulu ya,
02:14kalau memang kita ini sudah terjadi over supply di nikel itu.
02:17Terjadi over supply 2,5 juta antara konsumsi dunia dengan produksi.
02:24Nah ke depan kita akan dorong adalah industri-industri hilirnya,
02:29supaya bahan baku setengah jadi ini tidak semuanya dibawa ke luar negeri.
02:34Itu yang dimaksudkan.
02:36Di Makassar itu contohkan mobil-mobil bagus, Pak Jero.
02:39Tapi kan mereka membuat tanki di belakang kan,
02:42sampai menampung 700 liter sampai 1000 liter.
02:47Itu artinya apa mereka menampungkan kemudian dijual lagi, itu yang maksudnya.
02:52Ya kalau begini, pasalnya ya, udah jelas itu aparat peningkat hukum yang mengerti pasalnya ya.
02:59Saya bukan menteri hukum ini, bahaya.
03:02Bisa kami sampaikan memang di Bali ini sampai detik ini memang masih terjadi antrean di SBBU-SBBU.
03:12Oleh karena itu kemudian ombudsman tentu meminta agar ini sebenarnya diselesaikan.
03:17Kami juga menemukan di Bali bahwa rupanya di beberapa SBBU-SBBU yang itu relatif di jalan-jalan yang sepi,
03:27di pinggiran kota, itu ternyata ada stok-stok yang masih ada dan dia mendapatkan pengiriman secara normal.
03:39Oleh karena itu, saya meminta kepada Pertamina Patraniaga untuk segera melakukan mitigasi dan menyampaikan kepada masyarakat
03:47di mana SBBU-SBBU yang saat ini stoknya ada dan di mana kemudian stok SBBU yang sudah kosong.
03:56Informasi seperti ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat di Bali,
04:01sehingga kemudian mereka tidak perlu sampai tidur di SBBU kalau informasinya disampaikan dengan baik.
04:06Ya tentu dugaan-dugaan itu akan menyeruah secara otomatis.
04:12Tetapi pastinya tentu nanti akan kami sampaikan kepada media kami,
04:19dalam waktu dekat juga akan melakukan sidak-sidak di lapangan untuk bisa memastikan
04:23apa sebenarnya persoalan-persoalan selain kemudian kebijakan-kebijakan di pemerintah pusat,
04:30selain itu juga kemudian kami ingin memastikan juga bahwa pemerintah daerah juga mencari
04:35jalan dan merumuskan dengan berbagai macam upaya yang ada agar persoalan ini juga bisa teratasi.
04:44Kami mengapresiasi apa yang sudah dilakukan oleh pemerintah Bali dengan melakukan WFH atau work from room
04:50dan kemudian ini rencananya kan kemudian kalau misalnya tiga hari ini tidak terselesaikan,
04:56tentu kami juga bisa mendorong agar itu dilakukan WFH, tambahan WFH.
05:01Namun demikian kami melihat bahwa layanan publik di sana, layanan-layanan dasar tentu dengan adanya WFH ini jangan sampai kemudian
05:10terkurangi.
05:10Dari pantauan ombudsman di daerah kami melihat bahwa seperti ambulans, misalnya itu juga ikut antri berjam-jam,
05:20seperti anggota umum ikut antri juga berjam-jam.
05:23Nah khusus yang terkait dengan kepentingan masyarakat seperti ini,
05:27maka harus ada pengecualian dan kita memberikan satu solusi,
05:33kemudian ini disamakan dengan yang lain dan yang terkait dengan kepentingan pabrik.
05:37Selain itu juga mungkin perlu juga saya mendengar ada istilah dari pemerintah Bali juga
05:44bahwa ini akan dilakukan mekanisme ganjir-genak sebagaimana juga pernah dilakukan di Provinsi Sulawesi Selatan,
05:52yaitu di Kota Makassar.
05:53Saya kira ini ada satu ide yang bagus, tetapi yang lebih penting dari itu adalah
05:56Pertamina Patraniaga harus melakukan mitigasi ulang dan memastikan distribusi itu tersampaikan dengan baik.
06:05Karena kami melihat dan mendapat laporan bahwa di beberapa SBBU yang sepi, justru dia pasukannya ada.
06:12Nah oleh karena itu, ini harus kemudian dilakukan mitigasi,
06:16kemudian titik-titik rawan antrian yang itu kemudian dipastikan pasukannya itu ada,
06:21sehingga kemudian masyarakat terlain dengan baik, tidak perlu kemudian masyarakat sampai berkilo-kilo,
06:26terus kemudian juga tidak perlu juga masyarakat itu kemudian sampai tidur di Pompengsin.
06:31Di dalam dunia digital saat ini tentu informasi itu disampaikan secara terbuka oleh Pertamina Patraniaga,
06:38diumumkan dengan transparan di mana SBBU yang masih ada dan kemudian SBBU yang sudah lagi kosong BBM-nya di mana,
06:47sehingga masyarakat tidak bingung harus mengantri di mana.
06:51Untuk kesekian kalinya juga saya menyampaikan perumahan maaf kepada warga masyarakat,
06:57dan tentunya kepeseruan dari sebuah pihak, kami juga dari Pertamina Pertamina Patraniaga Dalam Hap ini,
07:07langkah-langkah yang sudah kita lakukan tadi sudah disampaikan Bapak Gubernur, sudah sangat lengkap,
07:11yaitu pertama adalah tentunya peningkatan pasokan, pengiriman dari kapal-kapal yang sudah ada,
07:18setelah agenda ini kami akan melakukan kunjungan ke tempat tanker-tengker kesandar,
07:25yang kedua adalah percepatan untuk distribusi dari depot-depot menuju ke SBBU.
07:29Selain itu, tentunya peningkatan pelayanan SBBU menjadi 24 jam,
07:38tadi sudah disampaikan untuk Denpasar dan Badung.
07:43Batasan saya berlakukan, karena banyaknya antrian yang panjang,
07:47jadi untuk menghindari supaya kecepatan, tidak terlalu lama dia mengisi,
07:53jadi saya batasi, untuk mobil saya kasih Rp150.000, maksimal Rp150.000,
08:00untuk sepeda motor maksimal hanya Rp50.000,
08:04jadi antriannya lebih cepat dan semua masyarakat mendapatkan BPR.
08:09Rp150.000, Pak.
08:11Hanya Rp150.000 maksimal?
08:12Ya.
08:12Terus ini dalam perjalanan, beli kemana nih?
08:15Saya mempertahankan pasar sekarang, Pak.
08:16Dengan pemadasan Rp150.000 cukup nggak beli?
08:19Ya, berani cukup, Pak. Ini kan sisanya masih gitu.
08:26Cara baru nonton di Smart TV.
08:29Nonton live streaming dan ribuan tayangan Kompas Gramedia langsung dari Smart TV kamu.
08:35Cara installnya, buka Google Play Store di Smart TV kamu.
08:40Cari Kompas TV melalui pencarian.
08:43Pilih aplikasi, lalu install.
08:45Selesai, kamu bisa menonton video pilihan editorial Kompas TV.
08:50Download Kompas TV apps di TV kamu sekarang juga.