00:00Habis kebakaran langsung jadi lahan perkebunan dalam waktu yang sangat singkat.
00:08Jadi ini benar-benar kesengajaan dan apakah ini rakyat atau ini korporasi.
00:16Tapi turun diselidiki terus dan saya minta segera nama-nama korporasi itu sampai ke saya.
00:25Yang 8 maupun yang 18 dan nanti akan saya minta mungkin Menteri Kehutanan, ATR dan juga Satgas PKH untuk menilai.
00:47Ini kalau perlu kita segera cabut semuanya itu, semua izin-izinnya kita cabut HGO-nya dan sebagainya.
01:01Ini sudah keriwatan dan juga saya ingin tahu benar-benar korporasi itu milik siapa.
01:17Presiden Prabowo Suwanto ingin tahu korporasi ini milik siapa dan sebaiknya dicabut saja izinnya.
01:24Ada 18 plus 8 artinya ada 26 perusahaan yang pada saat itu diproses oleh pihak yang berwajib bertanggung jawab atas
01:31kejadian kebakaran hutan dan lahan.
01:34Nah September lalu, saya ke Bung Daniel, Menhut Raja Juliantoni menetapkan 3 perusahaan, alih-alih 26 hanya 3 perusahaan saja
01:43yang disebut sebagai pembakar lahan.
01:45Yang pertama PT Puji Sempurna Raharjak di Kabupaten Merau, dikenai teguran tertulis dan paksaan pemulihan.
01:53PT Diva Perdana Pesona Kabupaten Kutai Timur dalam proses pembekuan izin saat ini.
01:58PT Inhutani Satu Tanah Grogot Kabupaten Pasir dalam proses pembekuan izin juga.
02:03Nah DPR tahu soal ini, soal penetapan 3 perusahaan ini dan apakah ini akan berhenti di 3 perusahaan saja atau
02:10DPR akan mendorong perusahaan-perusahaan yang tadi sebenarnya disebut oleh Pak Prabowo ada 26 totalnya.
02:15Tentu kita akan mendorong karena itu ya problemnya dari tahun ke tahun, dari 15 tahun yang lalu kita mau ngulang
02:23hal yang sama.
02:26Bahkan ya pas 2015 terjadi kebesaran, itu kan penegakan hukum dilakukan.
02:33Sudah sampai ada yang inkrah kan, tapi gak bisa di eksekusi, 15 triliun setahu saya, gak bisa di eksekusi.
02:42Seakan-akan negara tidak berdaya.
02:45Nah sekarang kita mau bicara penegakan yang lagi berlanjut dengan kondisi 2015, hal yang sudah inkrah tidak bisa dilaksanakan.
02:56Gimana masyarakat bisa berharap, itu satu hal.
02:59Kedua, proses penegakan hukum itu mengeluarkan sisi penderitaan yang rakyat rasakan.
03:09Mereka hanya persoalan teknis, memang menjaga, bukan yang salah.
03:13Tetapi bagaimana hak masyarakat yang diambil sehingga napasnya mereka kesulitan, ekonominya hancur.
03:23Masyarakat tidak merasakan dampaknya, termasuk pemulihan.
03:27Dan lingkungan ekologis gambut yang rusak pun tidak menjadi lebih baik.
03:32Jadi, kalau data gampang, sekarang ada geospasial.
03:39Walhi, teman-teman di lapangan itu sudah punya 54 perusahaan itu, langsung semua orang bisa akses.
03:48Tapi yang penting adalah penegakan hukum yang benar, yang tegas, sesuai dengan undang-undang dan peraturan.
03:55Bukan juga dikorbankan, tetapi benar-benar berdasarkan fakta dan harus dieksekusi seluruh hasil pengadilan.
04:03Bung Danda juga tahu soal tiga perusahaan ini, pemain-pemain besar atau masuk pemain-pemain besar atau pemain kecil.
04:08Dan kira-kira sebenarnya ada nggak perusahaan yang lebih bertanggung jawab dari tiga perusahaan tadi?
04:14Banyak sebenarnya. Jadi, kita bulan lalu ke sekretariat negara kita harus sampaikan.
04:19Setelah Presiden menyampaikan itu, kita sudah sampaikan nama-nama perusahaan itu.
04:22Kita berharap itu bisa ditindaklanjuti secepatnya ya.
04:27Kalau hitungan kita itu lebih dari 100 perusahaan sebenarnya.
04:30Yang dikonsesinya itu banyak kebakaran hutan dan lahan gitu ya.
04:35Bahkan 9 perusahaan itu PMA.
04:38Ada yang dari India, Hongkong, Singapur, dan lain-lainnya.
04:42Itu banyak dari luar. Dan ini juga harus dipikirkan cara menindaknya gitu.
04:45Dan data kita itu juga menunjukkan ada 66 perusahaan terafiliasi dengan Singapura
04:50dan 27 perusahaan terafiliasi dengan Malaysia.
04:56Di luar itu perusahaan-perusahaan lokal dan milik negara yang ada di Merauke.
05:01Jadi, semua ini harus dilakukan penindakan.
05:03Dan kalau kita teliti tadi baru kami launching,
05:05hari ini bahkan ada beberapa, ada 5-6 orang yang memang dekat dengan kekuasaan pemilik dari perusahaan ini.
05:13Dan ikut dalam...
05:14Justru yang besar itu yang tidak dimensin itu yang dekat dengan kekuasaan.
05:18Ya, sebenarnya.
05:19Siapa itu?
05:20Siapa itu, Bang Daniel yang nanya?
05:21Tapi sebenarnya itu ada yang sudah berulang kali perusahaan-perusahaan besar itu.
05:26Wilmar juga berulang kali terafiliasi di Papua dan di mana-mana perusahaan-perusahaan besar.
05:30Ada yang sudah pernah dihukum yang di Sumatera Selatan,
05:34seperti Pak Daniel bilang kemarin itu.
05:38Sekarang kebakaran lagi sebenarnya di konsesinya.
05:41Karena itu tadi kita gugat dan akhirnya gugatan kita untuk kemulihan itu
05:48diturunkan grade-nya saat dimenangkan gugatan kita.
05:51Sebagian yang sudah menang tidak di eksekusi juga sampai hari ini.
05:56Dan ada yang dieksekusi itu masuknya ke PNBP, pendapatan negara bukan pajak.
06:01Tadi tidak ada jaminan uang yang dirampas dari korporasi yang ditegakkan hukumnya itu
06:05untuk pemulihan, untuk hak masyarakat.
06:08Tidak ada juga sampai hari ini.
06:09Dan itu terjadi di pemerintahan Jokowi Dodo periode lalu.
06:13Nah sekarang ini apakah berulang lagi?
06:14Kita coba lihat nanti.
06:16Jadi kalau menurut Wahli, biar sejara-jara-jara-nya apa yang harus dikasih?
06:20Ya memang penindakan hukum itu tidak hanya pidana tapi pemulihan.
06:25Dan itu harus dilakukan transparan.
06:27Kalau itu tidak dilakukan di periode ini, itu akan terulang terus
06:30dan trust masyarakat terhadap pemerintah dalam hal ini itu akan terus berkurang.
06:36Jadi tidak akan ada percaya lagi kepada pemerintah.
06:39Nah tadi Bung Dana saat mention atau mengatakan merauke,
06:44sempat melirik ke Pak Victor.
06:45Saya tahu karena merauke saat ini menjadi titik hotspot baru Pak.
06:49Dan ini menjadi kerepotan baru tentu saja untuk BNPB.
06:52Selasa kemarin ada laporan titik panas ditemukan di Papua.
06:55Sidaknya ada 6 ribu lebih ya Pak ya.
06:56Koreksi kalau saya salah.
06:58Kira-kira pemadaman dan penanganan sulit yang ada saat ini
07:03dengan letak geografis kita yang juga besar begitu ya.
07:07Belum selesai di Kalimantan, belum selesai di Sumatera, muncul di Papua.
07:11Bagaimana Anda memanage ini supaya benar-benar terselesaikan semuanya?
07:16Ya memang ini sesuatu yang kompleksitas tinggi ya.
07:19Akhirnya ketika di situ pun bahkan di Minahasa Utara itu termasuk lahan di luar dari 6 provinsi ini
07:25yang menjadi lahan yang cukup terbesar sekitar 500 hektare yang terbakar.
07:30Dan kemudian sekarang ditambah lagi di Papua.
07:32Upaya untuk memanage itu sudah tentu kita ingin melihat dari Spartannya BMKG
07:39untuk melihat bagaimana posisi yang sebaiknya harus dilakukan
07:42dan kemudian sudah dilakukan kemarin dalam rapor pimpinan juga
07:46untuk bagaimana segera menindaklanjuti.
07:48Bisa jadi dengan tindakan-tindakan yang seperti yang dilakukan di Kalimantan dan Sumatera.
07:56Tetapi memang pada saat ini ketika titik, ini kita bicara,
08:00hotspot dengan firespot itu kan dua hal yang berbeda.
08:04Tetapi asapnya lagi-lagi kita lihat.
08:06Asapnya itu yang sekarang bahkan sudah sampai ke Maluku.
08:09Kemarin penerbangan ke Ambon juga kata-kata.
08:11Ya, betul.
08:13Jadi artinya memang sedang dilakukan upaya yang sama.
08:17Paling tidak yang sudah dilakukan secara langsung itu adalah
08:21bagaimana kita melakukan pemadaman melalui darat.
08:24Tetapi medan yang begitu berat itu tidak mudah.
08:28Sehingga harus juga melalui udara.
08:30Dan lagi-lagi kalau yang di-mention Bung Dana tadi,
08:33bahwa Merauke ini juga terafiliasi dengan perusahaan-perusahaan yang ada di belakang kekuasaan.
08:41Yang ini yang harus juga diperhatikan.
08:43Baik pengelolaannya atau yang membuka langitnya.
08:45Seharusnya kalau kita bicara itu TJSL saja itu paling tidak hal yang harus dilakukan oleh perusahaan tersebut.
08:51Tidak tanggung jawab sosial lingkungan itu harus dilakukan.
08:54Karena dia yang dalam tanda kutip, ini kalau bahasanya Pak Sutopo almarhum itu,
09:00habis terbakar terbitlah sawit.
09:03Oke.
09:04Ini nanti setelah jeda kita akan duduk bersama lagi.
09:09Bagaimana juga benar-benar merumuskan diskusi kita malam hari ini menjadi sebuah diskusi yang konstruktif.
09:17Sehingga benarkah hukuman atau sanksi yang diberikan kepada sejumlah pihak yang menjadi penyebab pembakaran lain ini
09:21tidak benar-benar memberikan efek jerah.
09:23Ini yang harus diberikan.
09:24Sehingga karhutlah masih akan terjadi.
09:26Dan kita rasakan dampak di kemudian hari.
09:28Jangan sampai.
09:29Satu meja deforum kembali sesat lagi.