00:00Saudara pengemudi Ojek Online di Palangkaraya, Kelimantan Tengah
00:03tetap harus bekerja di luar ruangan demi kebutuhan sehari-hari.
00:09Jarak pandang yang terbatas dan mengancam kesehatan.
00:13Pengemudi Ojek Online ini tetap memilih bekerja
00:16meski sudah merasakan sesak nafas dampak dari kabut asap.
00:19Bagi para pengendara Ojek Online, meski sudah berdampak pada kesehatan,
00:23namun diam di rumah bukan pilihan untuk mereka.
00:26Melainkan harus keluar untuk mencari nafkah untuk keluarga.
00:31Namun pengemudi Ojek Online tetap berharap pemerintah bergerak cepat
00:34untuk bisa mengatasi karhutlah di Palangkaraya
00:37karena kondisi ini sudah mereka rasakan lebih dari tiga bulan.
00:45Kayak gimana ya rasanya itu sesak banget sih
00:47kalau untuk pernapasan itu kurang ini, kurang lega gitu.
00:52Olehnya kan kita nggak ada oksigen juga apa segala macam.
00:56Gitu aja sih mas.
00:57Soalnya kita udah tiga bulan, empat bulan ini ngerasain kayak gini,
01:00nggak ada ininya juga solusi yang bagus gitu.
01:05Kebakaran hutan dan lahan tak hanya merusak lingkungan,
01:08tapi juga merusak paru-paru warga
01:10yang berbulan-bulan harus menghirup udara yang buruk
01:13dalam bahkan situasi yang berbahaya.
01:16Seberapa besar dampak paparan asap karhutlah dalam jangka panjang
01:19dan bagaimana warga harus dapat melindungi diri ketika tidak ada pilihan
01:23untuk meninggalkan rumah mereka yang terkepung asap.
01:26Kita akan membahasnya bersama Prof. Chandra Yoga Adhitama,
01:30Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia.
01:33Selamat malam Prof. Chandra.
01:35Ya selamat malam Mas Dari.
01:37Langsung saja Prof, kita ingin tahu sebagai masyarakat awam,
01:40terutama mereka-mereka yang berada di wilayah yang dilanda kabut asap parah.
01:44Sebenarnya seberapa berbahaya paru jika berbulan-bulan menghirup asap pekat
01:49yang saat ini terjadi di Palangkaraya tadi,
01:52sudah tiga bulan masyarakat di sana menghirup asap pekat, Prof.
01:56Ya jadi ada tiga hal.
01:57Nomor satu, tidak perlu berbulan-bulan sebenarnya.
01:59Paparan awal saja sudah menimbulkan iritasi pada paru dan seluruh nafas.
02:03Sudah ada keluhan, sudah ada berbagai gejala yang timbul pada waktu paparan awal.
02:08Itu yang pertama.
02:09Yang kedua, ini kan masalahnya bukan hanya berbulan-bulan,
02:12masalahnya juga kadarnya tinggi sekali.
02:13Kita lihat bahwa IQI-nya ada yang bilang sekian ratus,
02:17ada yang melaporkan lebih dari seribu, jadi IQI ini tinggi sekali.
02:20Artinya kadar bahan berbahayanya di dalam udara itu tinggi sekali.
02:26Nah yang ketiga, sebenarnya kalau kadar bahan berbahaya tinggi seperti ini,
02:29anjurannya adalah jangan keluar rumah.
02:31Tapi seperti yang barusan kita ilustrasikan, kan tidak mungkin orang tidak keluar rumah.
02:35Bukan hanya pengembali ojol, tapi juga yang lain juga terpaksa keluar rumah.
02:38Jadi mau tidak mau memang harus menghadapi dampak buruk bagi kesehatan.
02:43Saya tahu nanti ujungnya akan ditanya apa yang bisa dilakukan masyarakat untuk tetap hidup sehat.
02:47Tapi yang paling benar adalah asapnya, kebakarannya harus berhenti.
02:50Itu yang paling utama.
02:52Karena kalau kita gunakan cara-cara tentu, mungkin akan membantu.
02:56Tapi kalau kebakaran masih terus terjadi berbulan-bulan,
02:59maka masyarakat akan terus merasakan dampaknya.
03:01Bukan hanya pada paru, tapi juga berbagai organ tubuh pada dirinya.
03:06Saya tahu pertanyaan ini mungkin terdengar klise begitu ya, Prof. Chandra.
03:12Kan kalau kita menghirup polusi saja sehari-hari,
03:15misalnya di Jakarta atau di daerah-daerah penyangga,
03:18atau ada asap rokok yang mampir di hidung-hidung kita dan terhisap hingga paru-paru,
03:22itu juga cukup berbahaya.
03:23Tapi kita juga ingin tahu sebenarnya, pada level ISPA,
03:27itu kualitas udara yang dikategorikan berbahaya,
03:30berapa lama seseorang itu bisa terpapar sebelum risiko kerusakan paru meningkat signifikan.
03:35Nanti saya tanyakan itu ya, Prof.
03:37Tapi kita harus jeda dulu sejenak.
03:38Kita akan melanjutkan perbincangan setelah jeda di ISPA Indonesia malam.