00:00Presiden Amerika Serikat Donald Trump buka kemungkinan Amerika Serikat ikut membantu Arab Saudi memerangi Houthi di Yaman setelah eskalasi serangan
00:07ke Saudi meningkat.
00:09Untuk membahasnya saudara, sudah bersama kami, peliti senior Indo-Pacific Strategic Intelligence Aisyah Kusuma Sumantri.
00:15Selamat malam Mbak Aisyah, apa kabar?
00:19Selamat malam Mbak Sgali, kabar baik.
00:21Mbak dari eskalasi terbaru ini, Anda membacanya apa alasan Trump buka peluang untuk turut menyerang Houthi?
00:29Ya, saya kira di sini kita harus mempertanyakan ulang apakah memungkinkan atau tidak dan apakah Amerika Serikat sudah memiliki gambaran
00:37yang jelas mengenai tujuan akhirnya bagaimana.
00:40Karena sejauh ini yang kita lihat Amerika Serikat, dia memiliki kesulitan di dalam melanjutkan peperangan di Iran.
00:47Nah, sekarang kita melihat bahwa kondisinya Kongres ini telah berusaha untuk menahan Department of War untuk kembali melanjutkan perperangan yang
00:57ada di Asia Barat.
00:58Yang pertama kita lihat, terakhir Hexed mengajukan anggaran sekitar 1,5 triliun USD dan itu sampai sekarang masih belum di
01:05-approve oleh Kongres.
01:06Belum lagi kita berbicara tentang kemungkinan besar pemilu selah nanti di bulan November yang mana Republikan ini akan bertarung habis
01:14-habisan.
01:14Dan apabila misalnya Republikan ini sampai kalah dari Demokrat, di saat itu juga maka kemudian Donald Trump ini akan menjadi
01:20salah satu presiden yang mungkin saja kemudian pertama di-impeach,
01:24yang kedua akan menjadi presiden yang tidak punya power sama sekali di gedung putih.
01:28Nah, saat ini terjadi, saya kira Donald Trump ini harus memikirkan ulang resiko-resiko yang mungkin akan muncul ketika Amerika
01:35Serikat ini turut membantu Saudi.
01:36Apalagi perang yang ada di Yemen ini bukan merupakan perang yang secara status ya, ini mempengaruhi existential threat dari Amerika
01:46Serikat di sana.
01:47Ini adalah kepentingan dari Saudi.
01:49Nah, sementara Arab Saudi sendiri sekarang ini juga sudah mulai melakukan strategi hedging,
01:54di mana kemudian Arab Saudi juga meragukan sebenarnya kemampuan Amerika Serikat untuk berdiri sebagai hegemon.
01:59Jadi, meskipun di sini Trump mengatakan bahwa apa yang terjadi itu memprihatinkan, ini mengerikan,
02:05tetapi saya rasa sebenarnya tidak ada komitmen 100% bahwa Amerika Serikat nanti akan membantu Arab Saudi di dalam menanggulangi
02:12krisis yang diakibatkan oleh serangan-serangan dari Asyarallah.
02:15Jadi, menurut Anda, Mbak Esa, apa dampak potensial jika Amerika Serikat ini benar-benar bergabung membantu Arab Saudi untuk menyerah
02:21Houthi?
02:23Ya, kalau misalnya seandainya dampak potensialnya muncul, saya kira di sini kita bisa bagi menjadi dua.
02:28Yang pertama adalah dampak dari segi domestik politik Amerika Serikat.
02:32Sudah jelas di sini, dari segi Kongres, ini akan kemudian secara terang-terangan dia menentang keputusan dari Gedung Putih.
02:40Karena apa? Karena saat ini, Kongres ini memiliki concern secara kemudian politik dalam negeri.
02:46Dalam artian apa? Masih ada krisis-krisis dari harga-harga minyak, lalu kemudian bahan pangan, lalu kemudian supply chain yang
02:54harus dipenuhi oleh Amerika Serikat di level domestik.
02:56Nah, selain itu, yang kedua, saya kira di sini masih ada tarik-menarik secara anggaran.
03:01Jadi, di satu sisi sebenarnya Kongres ini menahan anggaran untuk melanjutkan peperangan.
03:05Di sisi lain, sebenarnya, dari segi IPAC sendiri, terutama perusahaan-perusahaan yang menjadi sponsor utama dari kampanye Donald Trump,
03:15di sini kita bisa melihat bahwa mereka juga menahan anggaran apabila Donald Trump ini tidak melanjutkan perang untuk membantu Israel.
03:21Nah, jadi sekarang kita lihat bahwa ini ada dua belah kubu yang saling tarik-menarik di dalam pemilu selah Amerika
03:28Serikat.
03:28Jadi, saya rasa sebenarnya ini akan menjadi salah satu isu yang sangat bermasalah ketika Donald Trump memutuskan untuk kembali berperang
03:36sebelum pemilu selah nanti di bulan November.
03:38Yang kedua adalah ini dari segi internasional.
03:42Kalau dari segi internasional, kita bisa melihat bahwa Amerika Serikat ini akan menegaskan sebenarnya posisinya dalam membangun aliansi bersama dengan
03:52Arab Saudi.
03:53Tetapi, ini juga menunjukkan bahwa Amerika Serikat itu tidak memegang komitmennya sebelumnya,
03:59di mana Amerika Serikat ini sudah membangun sebenarnya back channel transaksi dengan kelompok Ansharullah sendiri,
04:05yang menyatakan bahwa Amerika ini akan tetap melakukan serangan kepada Iran,
04:10akan melakukan konflik kepada Iran.
04:12Tetapi, di saat yang bersamaan, Ansharullah juga berkomitmen bahwa mereka tidak akan mengganggu aset-aset militer dari Amerika Serikat yang
04:20ada di kawasan.
04:20Ini kan cukup menarik.
04:22Nah, pertama itu, jadi Amerika Serikat tidak akan melanjutkan kemudian back channel transaksi dengan Ansharullah.
04:30Tapi, yang kedua, kita melihat bahwa ini kembalinya lagi tatanan yang sebenarnya klasik yang kita ketahui selama ini,
04:35bahwa negara-negara Arab teluk ini menggantukan kekuatannya.
04:38Tetapi, permasalahannya ini kan permasalahan wacana apakah turun atau tidak versus kemudian memungkinkan atau tidak.
04:46Saya rasa sebenarnya pertimbangan dari segi domestik ini akan selalu mendominasi.
04:50Karena ketika kemudian Presiden ini melakukan keputusan untuk pergi berperang tanpa adanya dukungan dari Kongres,
04:57maka ini akan menjadi salah satu perang yang pada akhirnya tidak konstitusional bagi Donald Trump sendiri.
05:01Jadi, artinya menurut Anda bahwa dampaknya itu akan kembali lagi kepada Donald Trump atau ke regional mereka.
05:09Namun, menurut Anda, Mbak Aisyah, apakah Donald Trump ini punya kekuasaan atau keputusan yang meyakinkan akan tetap melanjutkan langkah untuk
05:17membela Arab Saudi?
05:19Ya, ini yang sebenarnya masih kita pertanyakan.
05:23Yang pertama, saya kira sebenarnya Donald Trump ini terkenal sebagai Presiden yang memiliki keputusan-keputusan yang sifatnya impulsif.
05:31Terkadang keputusannya ini juga bertentangan dengan faksi-faksi politik yang ada di Amerika Serikat sendiri.
05:37Terutama Kongres.
05:38Yang kita tahu bahwa sekarang ini menjadi check and balance poinnya dari suara di gedung putih.
05:43Jadi, saya kira di sini sebenarnya kalau ditanya apakah memungkinkan atau tidak, jawabannya adalah memungkinkan.
05:49Tetapi, to what extent ini akan membantu?
05:53Nah, saya kira sekarang yang paling memungkinkan bagi Amerika Serikat,
05:57dia tetap menyediakan dukungan pertama secara politik melalui forum-forum internasional seperti PBB, Dewan Keamanan.
06:05Lalu, kemudian juga dia memberikan misalnya support melalui Board of Peace misalnya.
06:09Lalu, yang kedua ini adalah dukungan-dukungan bawah tangan seperti misalnya intelijen, lalu kemudian logistik,
06:16lalu kemudian ini dukungan secara finansial dan lain-lain untuk bisa memerangi putih.
06:21Tetapi permasalahannya kalau kita melihat ke depannya ya, apakah memungkinkan untuk melakukan military operation,
06:29saya kira ini beban politiknya terlalu besar.
06:31Karena tadi, penurunan sebuah aktivitas militer, ya baik itu kemudian hanya sebatas serangan udara maupun kemudian gontrups,
06:41itu akan memuat sebenarnya sebuah beban politik yang sangat besar.
06:43Yang mengartikan bahwa Amerika Serikat itu menjadi beligeran atau pihak yang bertempur di dalam sebuah perang tersebut.
06:50Dan saya kira ini akan menjadi momok yang luar biasa di dalam pemilu selak nanti,
06:55yang akan berpotensi menjadi gangguan bagi Republikan untuk bisa mempertahankan suaranya.
07:01Bagaimana dengan posisi Arab Saudi, Mbak Ishajika, AS memutuskan melakukan operasi militer bersama?
07:06Anda melihat bahwa Arab Saudi ini memang membutuhkan bantuan militer dari Washington, Mbak?
07:13Arab Saudi sekarang terdisolasi.
07:16Karena pertama kita melihat bahwa security garantornya, Amerika Serikat itu sudah tidak bisa diandalkan.
07:22Tadi kita sudah membahas mengenai kondisi politik domestiknya,
07:25tapi kita juga harus mengingat bahwa Amerika Serikat ini masih terlibat di dalam perang dengan Iran.
07:30Jadi, kita melihat bahwa tidak ada ruang gerak bagi Amerika Serikat untuk turut membantu Arab Saudi.
07:36Di sisi lain, Arab Saudi sendiri menyadari betul hal ini,
07:40dan mereka berusaha untuk membangun fakta Mekah sebenarnya kemarin dengan Turki dan Pakistan.
07:44Nah, sementara kita melihat bahwa dari Asyarullah mengatakan kalau Turki dan Pakistan ini sampai berusaha untuk membantu Arab Saudi di
07:52dalam peperangan melawan Asyarullah,
07:54maka kemudian mereka akan dianggap sebagai musuh dan Asyarullah tidak akan segan dalam kemudian melakukan serangan-serangan kepada dua negara
08:01tersebut.
08:02Nah, masalahnya fakta Mekah juga memang sampai di hari ini itu belum memiliki mekanisme yang jelas terkait pelaksanaannya.
08:09Jadi, belum ada kemudian hitam di atas putih terkait bagaimana ini akan dilaksanakan.
08:13Jadi, secara kemudian diplomatik ya, Arab Saudi ini bingung mau kemana.
08:17Nah, satu-satunya harapan sebenarnya kita bisa melihat bahwa sekarang Arab Saudi ini berusaha untuk melakukan lobby dengan pemerintah mullah
08:25di Iran.
08:25Jadi, mereka berusaha untuk melakukan normalisasi hubungan ya, terutama kemudian back channel diplomacy dengan kemudian pemerintah Iran.
08:35Nah, untuk bisa meredakan situasi di sana dengan harapan bahwa Iran ini bisa menjadi salah satu aktor yang bisa membujuk
08:43Houthi untuk menghentikan serangannya.
08:46Permasalahannya, kita seringkali lupa bahwa yang namanya Houthi dengan kemudian pemerintah Iran ini bukan merupakan hubungan vertikal.
08:56Jadi, bukan hubungan vertikal komando.
08:58Tetapi, sesuatu yang sifatnya memang mereka tergabung di dalam access of resistance.
09:02Tetapi, mereka sebenarnya kepentingannya berbeda.
09:05Sehingga ini juga merupakan strategi yang cukup menarik dan gambling juga dari Arab Saudi.
09:11Cukup menarik dan gambling bagi Arab Saudi.
09:12Terima kasih Mbak Esa Kusuma-Sumantri, peneliti senior Indo-Pacific Strategic Intelligence telah bergabung bersama kami di Kompas Malam.
09:19Dengan senang hati, selamat malam Mas.