Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump membuka peluang untuk membantu Arab Saudi melawan Houthi di Yaman, menyusul rentetan serangan di Bandara Riyadh. Trump sebut serangan itu mengerikan.

Serangan Houthi menghantam Bandara Internasional King Khalid, Riyadh, Arab Saudi, Sabtu (10/10/2026).

13 orang tewas, dan 300 orang terluka akibat serangan, termasuk jemaah umrah.

Rentetan serangan Houthi ke Bandara Riyadh terjadi sepekan terakhir.

Juru Bicara Militer Houthi, Yahya Saree mengaku bertanggung jawab atas rentetan serangan di bandara dan fasilitas minyak di Arab Saudi.

Houthi juga memperingatkan penerbangan menuju Saudi tidak aman, kecuali bandara di kota suci Mekkah dan Madinah.

Pasca serangan, pemerintah Arab Saudi memerintahkan perawatan penuh terhadap korban dan menanggung seluruh biaya pengobatan.

Perang saudara di Yaman kembali berkobar, Juli lalu dan meluas ke Arab Saudi.

Konflik memanas usai pasukan pemerintah meluncurkan operasi militer Fajar Yaman, demi merebut kembali wilayah yang dikuasai Houthi.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, buka kemungkinan Amerika Serikat ikut membantu Arab Saudi memerangi Houthi di Yaman, setelah eskalasi serangan ke Saudi meningkat.

Untuk membahasnya, sudah bersama kami, Peneliti Senior Indo Pacific Strategic Intelligence, Aisha Kusumasomantri.

Baca Juga Serangan Houthi ke Provinsi Taiz hingga Jemaah Umrah di Bandara Riyadh Jadi Korban | BERUT di https://www.kompas.tv/internasional/695590/serangan-houthi-ke-provinsi-taiz-hingga-jemaah-umrah-di-bandara-riyadh-jadi-korban-berut

#trump #arabsaudi #houthi

_

Sahabat KompasTV, apa pendapat kalian soal berita ini? Komentar di bawah ya!

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/internasional/695602/full-analisis-peneliti-senior-isi-soal-alasan-trump-buka-opsi-bantu-arab-saudi-perangi-houthi
Transkrip
00:00Presiden Amerika Serikat Donald Trump buka kemungkinan Amerika Serikat ikut membantu Arab Saudi memerangi Houthi di Yaman setelah eskalasi serangan
00:07ke Saudi meningkat.
00:09Untuk membahasnya saudara, sudah bersama kami, peliti senior Indo-Pacific Strategic Intelligence Aisyah Kusuma Sumantri.
00:15Selamat malam Mbak Aisyah, apa kabar?
00:19Selamat malam Mbak Sgali, kabar baik.
00:21Mbak dari eskalasi terbaru ini, Anda membacanya apa alasan Trump buka peluang untuk turut menyerang Houthi?
00:29Ya, saya kira di sini kita harus mempertanyakan ulang apakah memungkinkan atau tidak dan apakah Amerika Serikat sudah memiliki gambaran
00:37yang jelas mengenai tujuan akhirnya bagaimana.
00:40Karena sejauh ini yang kita lihat Amerika Serikat, dia memiliki kesulitan di dalam melanjutkan peperangan di Iran.
00:47Nah, sekarang kita melihat bahwa kondisinya Kongres ini telah berusaha untuk menahan Department of War untuk kembali melanjutkan perperangan yang
00:57ada di Asia Barat.
00:58Yang pertama kita lihat, terakhir Hexed mengajukan anggaran sekitar 1,5 triliun USD dan itu sampai sekarang masih belum di
01:05-approve oleh Kongres.
01:06Belum lagi kita berbicara tentang kemungkinan besar pemilu selah nanti di bulan November yang mana Republikan ini akan bertarung habis
01:14-habisan.
01:14Dan apabila misalnya Republikan ini sampai kalah dari Demokrat, di saat itu juga maka kemudian Donald Trump ini akan menjadi
01:20salah satu presiden yang mungkin saja kemudian pertama di-impeach,
01:24yang kedua akan menjadi presiden yang tidak punya power sama sekali di gedung putih.
01:28Nah, saat ini terjadi, saya kira Donald Trump ini harus memikirkan ulang resiko-resiko yang mungkin akan muncul ketika Amerika
01:35Serikat ini turut membantu Saudi.
01:36Apalagi perang yang ada di Yemen ini bukan merupakan perang yang secara status ya, ini mempengaruhi existential threat dari Amerika
01:46Serikat di sana.
01:47Ini adalah kepentingan dari Saudi.
01:49Nah, sementara Arab Saudi sendiri sekarang ini juga sudah mulai melakukan strategi hedging,
01:54di mana kemudian Arab Saudi juga meragukan sebenarnya kemampuan Amerika Serikat untuk berdiri sebagai hegemon.
01:59Jadi, meskipun di sini Trump mengatakan bahwa apa yang terjadi itu memprihatinkan, ini mengerikan,
02:05tetapi saya rasa sebenarnya tidak ada komitmen 100% bahwa Amerika Serikat nanti akan membantu Arab Saudi di dalam menanggulangi
02:12krisis yang diakibatkan oleh serangan-serangan dari Asyarallah.
02:15Jadi, menurut Anda, Mbak Esa, apa dampak potensial jika Amerika Serikat ini benar-benar bergabung membantu Arab Saudi untuk menyerah
02:21Houthi?
02:23Ya, kalau misalnya seandainya dampak potensialnya muncul, saya kira di sini kita bisa bagi menjadi dua.
02:28Yang pertama adalah dampak dari segi domestik politik Amerika Serikat.
02:32Sudah jelas di sini, dari segi Kongres, ini akan kemudian secara terang-terangan dia menentang keputusan dari Gedung Putih.
02:40Karena apa? Karena saat ini, Kongres ini memiliki concern secara kemudian politik dalam negeri.
02:46Dalam artian apa? Masih ada krisis-krisis dari harga-harga minyak, lalu kemudian bahan pangan, lalu kemudian supply chain yang
02:54harus dipenuhi oleh Amerika Serikat di level domestik.
02:56Nah, selain itu, yang kedua, saya kira di sini masih ada tarik-menarik secara anggaran.
03:01Jadi, di satu sisi sebenarnya Kongres ini menahan anggaran untuk melanjutkan peperangan.
03:05Di sisi lain, sebenarnya, dari segi IPAC sendiri, terutama perusahaan-perusahaan yang menjadi sponsor utama dari kampanye Donald Trump,
03:15di sini kita bisa melihat bahwa mereka juga menahan anggaran apabila Donald Trump ini tidak melanjutkan perang untuk membantu Israel.
03:21Nah, jadi sekarang kita lihat bahwa ini ada dua belah kubu yang saling tarik-menarik di dalam pemilu selah Amerika
03:28Serikat.
03:28Jadi, saya rasa sebenarnya ini akan menjadi salah satu isu yang sangat bermasalah ketika Donald Trump memutuskan untuk kembali berperang
03:36sebelum pemilu selah nanti di bulan November.
03:38Yang kedua adalah ini dari segi internasional.
03:42Kalau dari segi internasional, kita bisa melihat bahwa Amerika Serikat ini akan menegaskan sebenarnya posisinya dalam membangun aliansi bersama dengan
03:52Arab Saudi.
03:53Tetapi, ini juga menunjukkan bahwa Amerika Serikat itu tidak memegang komitmennya sebelumnya,
03:59di mana Amerika Serikat ini sudah membangun sebenarnya back channel transaksi dengan kelompok Ansharullah sendiri,
04:05yang menyatakan bahwa Amerika ini akan tetap melakukan serangan kepada Iran,
04:10akan melakukan konflik kepada Iran.
04:12Tetapi, di saat yang bersamaan, Ansharullah juga berkomitmen bahwa mereka tidak akan mengganggu aset-aset militer dari Amerika Serikat yang
04:20ada di kawasan.
04:20Ini kan cukup menarik.
04:22Nah, pertama itu, jadi Amerika Serikat tidak akan melanjutkan kemudian back channel transaksi dengan Ansharullah.
04:30Tapi, yang kedua, kita melihat bahwa ini kembalinya lagi tatanan yang sebenarnya klasik yang kita ketahui selama ini,
04:35bahwa negara-negara Arab teluk ini menggantukan kekuatannya.
04:38Tetapi, permasalahannya ini kan permasalahan wacana apakah turun atau tidak versus kemudian memungkinkan atau tidak.
04:46Saya rasa sebenarnya pertimbangan dari segi domestik ini akan selalu mendominasi.
04:50Karena ketika kemudian Presiden ini melakukan keputusan untuk pergi berperang tanpa adanya dukungan dari Kongres,
04:57maka ini akan menjadi salah satu perang yang pada akhirnya tidak konstitusional bagi Donald Trump sendiri.
05:01Jadi, artinya menurut Anda bahwa dampaknya itu akan kembali lagi kepada Donald Trump atau ke regional mereka.
05:09Namun, menurut Anda, Mbak Aisyah, apakah Donald Trump ini punya kekuasaan atau keputusan yang meyakinkan akan tetap melanjutkan langkah untuk
05:17membela Arab Saudi?
05:19Ya, ini yang sebenarnya masih kita pertanyakan.
05:23Yang pertama, saya kira sebenarnya Donald Trump ini terkenal sebagai Presiden yang memiliki keputusan-keputusan yang sifatnya impulsif.
05:31Terkadang keputusannya ini juga bertentangan dengan faksi-faksi politik yang ada di Amerika Serikat sendiri.
05:37Terutama Kongres.
05:38Yang kita tahu bahwa sekarang ini menjadi check and balance poinnya dari suara di gedung putih.
05:43Jadi, saya kira di sini sebenarnya kalau ditanya apakah memungkinkan atau tidak, jawabannya adalah memungkinkan.
05:49Tetapi, to what extent ini akan membantu?
05:53Nah, saya kira sekarang yang paling memungkinkan bagi Amerika Serikat,
05:57dia tetap menyediakan dukungan pertama secara politik melalui forum-forum internasional seperti PBB, Dewan Keamanan.
06:05Lalu, kemudian juga dia memberikan misalnya support melalui Board of Peace misalnya.
06:09Lalu, yang kedua ini adalah dukungan-dukungan bawah tangan seperti misalnya intelijen, lalu kemudian logistik,
06:16lalu kemudian ini dukungan secara finansial dan lain-lain untuk bisa memerangi putih.
06:21Tetapi permasalahannya kalau kita melihat ke depannya ya, apakah memungkinkan untuk melakukan military operation,
06:29saya kira ini beban politiknya terlalu besar.
06:31Karena tadi, penurunan sebuah aktivitas militer, ya baik itu kemudian hanya sebatas serangan udara maupun kemudian gontrups,
06:41itu akan memuat sebenarnya sebuah beban politik yang sangat besar.
06:43Yang mengartikan bahwa Amerika Serikat itu menjadi beligeran atau pihak yang bertempur di dalam sebuah perang tersebut.
06:50Dan saya kira ini akan menjadi momok yang luar biasa di dalam pemilu selak nanti,
06:55yang akan berpotensi menjadi gangguan bagi Republikan untuk bisa mempertahankan suaranya.
07:01Bagaimana dengan posisi Arab Saudi, Mbak Ishajika, AS memutuskan melakukan operasi militer bersama?
07:06Anda melihat bahwa Arab Saudi ini memang membutuhkan bantuan militer dari Washington, Mbak?
07:13Arab Saudi sekarang terdisolasi.
07:16Karena pertama kita melihat bahwa security garantornya, Amerika Serikat itu sudah tidak bisa diandalkan.
07:22Tadi kita sudah membahas mengenai kondisi politik domestiknya,
07:25tapi kita juga harus mengingat bahwa Amerika Serikat ini masih terlibat di dalam perang dengan Iran.
07:30Jadi, kita melihat bahwa tidak ada ruang gerak bagi Amerika Serikat untuk turut membantu Arab Saudi.
07:36Di sisi lain, Arab Saudi sendiri menyadari betul hal ini,
07:40dan mereka berusaha untuk membangun fakta Mekah sebenarnya kemarin dengan Turki dan Pakistan.
07:44Nah, sementara kita melihat bahwa dari Asyarullah mengatakan kalau Turki dan Pakistan ini sampai berusaha untuk membantu Arab Saudi di
07:52dalam peperangan melawan Asyarullah,
07:54maka kemudian mereka akan dianggap sebagai musuh dan Asyarullah tidak akan segan dalam kemudian melakukan serangan-serangan kepada dua negara
08:01tersebut.
08:02Nah, masalahnya fakta Mekah juga memang sampai di hari ini itu belum memiliki mekanisme yang jelas terkait pelaksanaannya.
08:09Jadi, belum ada kemudian hitam di atas putih terkait bagaimana ini akan dilaksanakan.
08:13Jadi, secara kemudian diplomatik ya, Arab Saudi ini bingung mau kemana.
08:17Nah, satu-satunya harapan sebenarnya kita bisa melihat bahwa sekarang Arab Saudi ini berusaha untuk melakukan lobby dengan pemerintah mullah
08:25di Iran.
08:25Jadi, mereka berusaha untuk melakukan normalisasi hubungan ya, terutama kemudian back channel diplomacy dengan kemudian pemerintah Iran.
08:35Nah, untuk bisa meredakan situasi di sana dengan harapan bahwa Iran ini bisa menjadi salah satu aktor yang bisa membujuk
08:43Houthi untuk menghentikan serangannya.
08:46Permasalahannya, kita seringkali lupa bahwa yang namanya Houthi dengan kemudian pemerintah Iran ini bukan merupakan hubungan vertikal.
08:56Jadi, bukan hubungan vertikal komando.
08:58Tetapi, sesuatu yang sifatnya memang mereka tergabung di dalam access of resistance.
09:02Tetapi, mereka sebenarnya kepentingannya berbeda.
09:05Sehingga ini juga merupakan strategi yang cukup menarik dan gambling juga dari Arab Saudi.
09:11Cukup menarik dan gambling bagi Arab Saudi.
09:12Terima kasih Mbak Esa Kusuma-Sumantri, peneliti senior Indo-Pacific Strategic Intelligence telah bergabung bersama kami di Kompas Malam.
09:19Dengan senang hati, selamat malam Mas.

Dianjurkan