Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
Pasca Putusan MK, Gibran Dinilai Minim Dukungan Politik akibat Lemahnya posisi Bargaining di Senayan

Link terkait:
https://www.suara.com/news/2026/10/08/192356/gibran-sepi-pembelaan-usai-putusan-mk-dinilai-tak-punya-cantolan-senayan-dan-bargain-lemah

Gelombang kritikan dan sorotan publik terkait keabsahan dokumen pendidikan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka pasca putusan Mahkamah Konstitusi (MK) makin mengemuka.

Namun, di tengah tekanan tersebut, dukungan dari partai politik koalisi pemerintah dinilai seolah menguap.

Pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia (PPI), Adi Prayitno, menilai kondisi sepi pembelaan ini memperlihatkan betapa rapuhnya posisi tawar sang Wapres. Ketiadaan status kader pada partai yang lolos Senayan membuat Gibran terkesan berjuang sendirian tanpa benteng pertahanan politik yang kuat di parlemen.

#gibran #ijazah #mk

Creative/Video Editor: Icha/Reiki
===================================
Homepage: https://www.suara.com
Facebook Fan Page: https://www.facebook.com/suaradotcom
Instagram:https://www.instagram.com/suaradotcom/
Twitter: https://twitter.com/suaradotcom
Transkrip
00:00Pasca putusan MK, Gibran dinilai minim dukungan politik akibat lemahnya posisi bargaining di Senayan.
00:06Isu keabsahan dan delegitimasi posisi Wakil Presiden Gibran Raka Buming Raka
00:11terus bergulir usai munculnya putusan MK terkait persyaratan pendidikan.
00:15Di tengah gencarnya sorotan publik dan gugatan yang mengemuka,
00:19dukungan dari partai politik koalisi pemerintah justru dinilai seolah menguap.
00:23Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno,
00:27menilai kondisi sepi pembelaan ini memperlihatkan betapa rapuhnya posisi sang Wakil Presiden
00:33di lingkar kekuasaan saat menghadapi tekanan politik.
00:36Menurut Adi, gelombang kritikan yang mengarah pada Gibran
00:40terkesan dibiarkan tanpa adanya benteng pertahanan politik yang solid di parlemen.
00:45Secara teoritis, situasi ini bersumber dari kelemahan sistem presidensialisme multipartai di Indonesia,
00:51di mana posisi Wakil Presiden kerap kali tidak memiliki basis dukungan yang kokoh di Senayan.
00:56Akibatnya, Gibran terkesan berjuang sendirian dalam menghadapi persoalan keabsahan ijasa
01:01maupun tuduhan lainnya tanpa adanya partai koalisi yang pasang badan secara politik.
01:07Ketiadaan dukungan parlementer yang signifikan ini bertambah parah lantaran Gibran
01:12tidak menaungi atau menjadi kade resmi dari partai politik manapun yang berhasil menembus parlemen.
01:17Sejauh ini, pembelaan hanya datang dari partai non-parlemen seperti PSI
01:21yang tidak memiliki kursi di Senayan.
01:24Posisi ini semakin diperberat oleh fakta bahwa jabatan Wakil Presiden
01:28tidak memegang kendali eksekutif tertinggi,
01:31sehingga partai koalisi enggan mengambil resiko politik hanya demi membentenginya.
01:36Ade menyimpulkan bahwa posisi tawar politik wapres saat ini
01:40tidak terlampau kuat dan kurang signifikan
01:42untuk mempengaruhi komunikasi politik dengan partai-partai penentu di parlement.
01:54Terima kasih telah menonton!

Dianjurkan