Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 19 menit yang lalu
JAKARTA, KOMPASTV - Acara peringatan keagamaan yang digelar warga di kawasan Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, mendapat protes dari sejumlah warga.

Protes muncul setelah penggunaan kembang api hingga larut malam dinilai mengganggu kenyamanan warga sekitar.

Penggunaan kembang api berlangsung pada Minggu (4/10/2026) dini hari dan disebut berlangsung hampir satu jam.

Suara dentuman tersebut dikeluhkan warga, salah satunya Amanda Andono.

"Ini suaranya dentuman seperti suara bom, gak selesai-selasai, di 1 menit pertama 2 menit pertama, dentuman buat anak saya yang cerebal palsy sensitive dengan dentuman hingga kejang," kata Warga Amanda, Senin (5/10/2026).

Amanda mengatakan dirinya sempat memilih untuk bertoleransi. Namun, karena suara kembang api terus berlangsung hingga belasan menit, ia kemudian keluar rumah untuk memprotes.

"Saya toleransi, tapi gak selesai hingga menit ke 5. Saya punya ibu 76 tahun kondisinya sudah tua sampai menit ke 15 enggak berhenti, saya langsung keluar, dan akhirnya lari menuju saya dan menyerang saya. Enggak Cuma 1 orang," lanjutnya.

Amanda mengaku mendapat serangan setelah menyampaikan protes.

Menanggapi persoalan tersebut, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meminta jajarannya membatasi penggunaan petasan dan kembang api, terutama jika berlangsung hingga larut malam.

Pramono mengaku telah mengikuti persoalan tersebut dan meminta jajaran Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengambil langkah agar kegiatan masyarakat tidak mengganggu ketertiban dan kenyamanan warga.

"Karena bagaimanapun tidak eloklah bahwa sudah jam satu malam masih menyembunyikan petasan dan sebagainya. Kebetulan anaknya ibu tadi kan memang sensitive berhadap petasan dan sebagainya," kata Pramono.

Video Editor: Vila

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/694351/viral-kembang-api-di-acara-maulid-ini-respons-gubernur-pramono
Transkrip
00:00Karena bagaimanapun tidak elok lah bahwa udah jam 1 malam masih menyembunyikan petasan dan sebagainya.
00:21Kebetulan saya mengikuti begitu peristiwa terjadi, masyarakat keluarga ibu itu juga.
00:28Kebetulan saya lagi, itu kan hampir jam setengah 1 malam.
00:32Kurang lebih jam 2 saya membaca itu, kemudian saya meminta kepada jajaran pemerintah DKI Jakarta untuk berperang.
00:41Karena bagaimanapun tidak elok lah bahwa udah jam 1 malam masih menyembunyikan petasan dan sebagainya.
00:48Kebetulan anaknya ibu tadi kan memang sensitif berhadap petasan dan sebagainya.
00:56Dan saya minta ini benar-benar tidak terlalu kembali, kemudian hadir dalam kesempatan ini ada wali kota Jakarta Timur dan
01:02wali kota Jakarta Selatan.
01:03Hal yang berkaitan dengan itu kita batasi.
01:06Kalau memang jam masih jam sore monggo aja, tapi jangan kemudian mengganggu ketertiban masyarakat.
01:24Tidur, jadi yang pegang izinnya di sini siapa?
01:26Kalau udah di sini, nanti saja sama mbak kesana aja, please kesana aja.
01:30Kenapa?
01:30Beres-beres.
01:32Silahkan, silahkan beres-beres.
01:34Saya cuma pengen tahu pak izinnya di siapa.
01:36Tapi soalnya bapak yang itu.
01:37Mbak, saya mau tanya, mbak ini siapa?
01:49Dentumannya keras banget.
01:52Dan bukan seperti kembang api biasa.
01:56Ini bukan kembang api yang kita beli stick gitu.
01:59Terus ini enggak, ini benar-benar dentuman dum-dum-dum seperti suara bom gitu.
02:06Dan jujur, ini enggak selesai-selesai.
02:10Dimulai di satu menit pertama, dua menit pertama, dentuman itu membuat anak saya yang kebetulan, dia kebutuhan khusus, dia serebral
02:20palsi sehingga sensitif dengan suara, sensitif dengan dentuman.
02:26Dia sampai kaget dan kejang gitu.
02:30Tapi yaudah, saya masih toleransi lah.
02:34Tapi ini enggak selesai-selesai di menit kelima.
02:37Masih dua, dua, dua, dua, dua.
02:39Saya punya ibu, usia 76 tahun.
02:43Kondisinya sudah, ya sudah ini ya, udah tua gitu loh.
02:50Sampai di menit kelima belas, belum juga berhenti.
02:55Jadi akhirnya saya langsung keluar tuh.
02:58Saya langsung keluar, saya enggak peduli ini mau gimana-pengimana, tapi ini enggak benar.
03:03Akhirnya, malah lari menuju saya dan menyerang saya.
03:08Enggak cuma satu orang.
03:11Banyak.
03:12Itu saya sampai jatuh ke got.
03:16Gotnya untungnya kering dan ada beberapa tumpukan-tumpukan semen atau batu gitu.
03:21Sehingga saya enggak benar-benar terjerembab.
03:24Saya ini lagi, saya ditarik, saya didorong dan ditarik.
03:29Dan saya ingat banget itu saya ditarik kayak mau ditampar atau digampar.
03:33Tapi ditahan sama anak saya.
03:35Anak saya sampai karena dia nahan, dia sampai kena cakaran tangannya, ada bekasnya.
03:40Di jam setengah satu, itu saya kesel lagi jujur.
03:45Karena ada suara kembang api, petasan yang dar-dar-dar kayak gitu.
03:51Saya kaget banget.
03:53Itu saya kesel dan saya mau nyamperin sebetulnya.
03:58Cuma ditahan sama teman saya.
03:59Karena teman saya tahu saya lagi emosi banget nih, belum reda gitu.
04:03Katanya, udah kamu di dalam aja dulu.
04:06Nanti takutnya kamu keluar di apa-apain lagi sama mereka gitu.
04:13Cara baru nonton di Smart TV.
04:16Nonton live streaming dan ribuan tayangan Kompas Gramedia langsung dari Smart TV kamu.
04:22Cara installnya, buka Google Play Store di Smart TV kamu.
04:26Cari Kompas TV melalui pencarian.
04:29Pilih aplikasi, lalu install.
04:32Selesai, kamu bisa menonton video pilihan editorial Kompas TV.
04:37Download Kompas TV apps di TV kamu sekarang juga.
04:41Reca chat.
04:42Economi.
04:42Salt.
04:42Lalu install.
04:43Zeman.
04:43Persuong bisa Tax.

Dianjurkan