Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 5 menit yang lalu
JAKARTA, KOMPAS.TV - KPK bergerak agresif membongkar konstruksi perkara kasus OTT di lingkungan Kementerian ATR/BPN. Dalam satu hari, pada Jumat lalu, KPK menggeledah 3 lokasi sekaligus.

Salah satunya adalah rumah anak buah Menteri Nusron, Dirjen Pengendalian dan Penertiban Tanah dan Ruang Kementerian ATR/BPN, yang sudah ditetapkan sebagai tersangka.

Mulai dari kantor PT Summarecon Agung Tbk di Jakarta Timur, Kantor Pertanahan Kabupaten Bogor I di Cibinong, hingga rumah Lampri, salah satu tersangka yang merupakan Dirjen Pengendalian dan Penertiban Tanah dan Ruang Kementerian ATR/BPN di Bekasi, Jawa Barat.

Juru bicara KPK bilang penggeledahan ini untuk mencari keterkaitan hubungan antar pihak dan apakah masih ada pihak lain yang punya peran krusial dalam konstruksi kasus ini.

Mantan Menko Polhukam, Mahfud MD, menilai secara manajerial dan logika hukum, keterlibatan pejabat eselon satu serta lingkaran dalam menteri hampir mustahil luput dari pengawasan sang pimpinan tertinggi.

Senada dengan hal tersebut, pakar hukum tindak pidana pencucian uang, Yenti Garnasih, mengkhawatirkan adanya praktik korupsi sistemik yang terstruktur.

Di mana modus rotasi dan promosi jabatan diduga kuat sengaja digunakan sebagai instrumen untuk memuluskan atau menutupi kejahatan.

Soal kasus korupsi yang menimpa kementeriannya, Nusron Wahid mengaku menghormati proses hukum yang dijalankan KPK. Ia juga menegaskan Kementerian ATR/BPN akan mengikuti dan membantu proses penyidikan.

Hingga saat ini, KPK belum memeriksa Nusron Wahid sebagai saksi dalam perkara ini.

KPK juga menyatakan penyidikan masih berjalan untuk mengetahui konstruksi perkara dan keterkaitan antar pihak.

KPK menyebut dari 8 tersangka, 4 di antaranya adalah orang kepercayaan Menteri ATR/BPN Nusron Wahid.

Pernyataan KPK ini harus dilanjutkan dengan pemeriksaan Menteri ATR/BPN Nusron Wahid.

Pemeriksaan Menteri ATR/BPN Nusron Wahid justru menjadi awal pengungkapan dugaan kasus suap di Kementerian ATR/BPN.

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/691714/ott-atr-bpn-ujian-keberanian-dan-independensi-kpk-akankah-nusron-wahid-segera-diperiksa
Transkrip
00:07Terima kasih Anda masih menyaksikan Kompas Petang Saudara KPK bergerak cepat dalam mengusut kasus korupsi di lingkungan Kementerian ATR BPN
00:16Saudara.
00:17Dalam satu hari KPK menggeledah tiga lokasi sekaligus termasuk rumah dari salah satu dirjen yang merupakan anak buah Menteri ATR
00:28BPN, Nusron Wahid.
00:29Selengkapnya Saudara dalam ulasan Kompas TV bersama Sintia Rompas.
00:34Ya betul Yasir, saat ini Komisi Pemberantasan Korupsi KPK masih terus menelusuri dan mendalami pihak-pihak yang ikut terlibat dalam
00:45kasus dugaan korupsi yang menjerat Kementerian ATR BPN.
00:50Selengkapnya dalam catatan Kompas TV.
00:59Apakah masih ada pihak-pihak lain yang punya peran krusial dalam konstruksi perkara tersebut?
01:07Kami juga akan mengikuti dan kami akan membantu proses yang ada di sini.
01:28Dalam waktu satu hari, Jumat 18 September 2026, tim penyidik KPK melakukan penggeledahan di tiga lokasi strategis secara maraton
01:38demi membongkar konstruksi perkara kasus korupsi di lingkungan Kementerian ATR BPN.
01:45Mulai dari kantor PT Sumarekon Agung TBK di Jakarta Timur, kantor pertanahan Kabupaten Bogor I di Cibinong,
01:53hingga rumah Lampri, salah satu tersangka yang merupakan dirjen pengendalian dan penertiban tanah dan ruang di Kementerian ATR BPN yang
02:02berada di Bekasi, Jawa Barat.
02:04Jubir KPK bilang, penggeledahan ini untuk mencari keterkaitan hubungan antar pihak
02:11dan apakah masih ada pihak lain yang punya peran krusial dalam konstruksi kasus ini.
02:19Termasuk untuk mencari keterkaitan, untuk mencari hubungan antar pihak
02:25dan juga apakah masih ada pihak-pihak lain yang punya peran krusial dalam konstruksi perkara tersebut.
02:35Mantan Menkopol Hukam, Mahfud MD menilai, secara manajerial dan logika hukum,
02:41keterlibatan pejabat esolon satu serta lingkaran dalam menteri
02:46hampir mustahil luput dari pengawasan sang pemimpin tertinggi.
02:53Menurut saya, hampir mustahil untuk tidak tahu.
02:58Sampai pejabat-pejabat setikat esolon satu terlibat itu,
03:04apalagi sampai ada tiga orang,
03:07empat semuanya yang dianggap orang dekat,
03:10itu menurut saya agak terstruktur kegiatannya.
03:14Tapi kita lihat saja perkembangannya nanti.
03:17Terstruktur ke artinya memang yang paling atasnya sangat diduga kuat,
03:23sehawa itu tahu.
03:26Senara dengan hal tersebut,
03:28Pakar Hukum Tindak Pidana Pencucian Uang Yen Tiga Narsi mengkhawatirkan
03:32adanya praktik korupsi sistemik yang terstruktur,
03:35di mana modus rotasi dan promosi jabatan diduga kuat sengaja digunakan
03:41sebagai instrumen untuk memuluskan atau menutupi kejahatan.
03:46Apa iya, tiga dirjen lho terlibat dan selain bukan hanya Sumarekon,
03:51terlalu kecil kalau kita bicara Sumarekon,
03:53ternyata juga mengatakan tentang bahwa ini berkaitan dengan jual beli,
03:59apa ya, jual beli pengaruh mungkin ya,
04:02berkaitan nanti ada promosi jabatan, rotasi,
04:06dan juga ada mutasi itu kan,
04:10itu kan pasti untuk apa?
04:12Saya mah khawatir gini ya,
04:13aduh ini terstruktur sekali ya,
04:15sehingga mungkin sebelum ini dipromosikan dulu
04:18seseorang dirotasi ke sini
04:20atau ada mutasi jabatan ini
04:23untuk memuluskan niat yang dari luar struktur kementerian itu,
04:28disebutkan juga bahwa ada orang-orang dekat menteri,
04:32tapi justru bukan di dalam,
04:34pada dalam hal ini adalah pihak swasta.
04:37Soal kasus korupsi yang menimpa kementeriannya,
04:40Nusron Wahid mengaku menghormati proses hukum yang dijalankan KPK.
04:45Ia juga menegaskan,
04:47Kementerian ATR BPN akan mengikuti dan membantu proses penyidikan.
04:52Kami juga akan mengikuti dan kami akan membantu proses yang ada di sini.
05:03Semoga dengan kejadian ini,
05:05ada proses percepatan perbaikan pelayanan di internal kantor ATR BPN.
05:12Kita ikuti prosesnya ini dan kami serahkan sepenuhnya kepada KPK sebagai APH.
05:22Hingga saat ini KPK belum memeriksa Nusron Wahid sebagai saksi dalam perkara ini.
05:27KPK juga menyatakan penyidikan masih berjalan untuk mengetahui konstruksi perkara dan keterkaitan antar pihak.
05:34Tim Liputan, Kompas TV
05:40Operasi tangkap tangan OTT Komisi Pemberantasan Korupsi KPK pada 14 September
05:47terkait dugaan suap pengurusan izin hak guna bangunan atau HGB
05:51di lingkungan Kementerian Agraria dan Tata Ruang Badan Pertanahan Nasional
05:56menjadi ujian keberanian sekaligus independensi KPK.
06:08Penetapan delapan tersangka dengan barang bukti lebih dari 100 miliar rupiah
06:14harus menjadi awal pengusutan korupsi di lingkungan ATR BPN
06:19dan tidak berhenti sampai level pejabat eselon 1.
06:23KPK menyebut dari delapan tersangka.
06:27Empat diantaranya adalah orang kepercayaan Menteri ATR BPN Nusron Wahid.
06:32Pernyataan KPK harus dilanjutkan dengan pemeriksaan Menteri ATR BPN Nusron Wahid.
06:39Pemeriksaan Menteri ATR BPN Nusron Wahid
06:41justru menjadi awal pengungkapan dugaan kasus suap
06:45pengurusan izin hak guna bangunan HGB di Kementerian ATR BPN.
07:05KPK harus segera merespon sorotan publik terkait penetapan tersangka
07:11empat nama yang disebut sebagai orang kepercayaan Menteri Nusron Wahid.
07:16Apalagi barang bukti uang senilai 100 miliar rupiah lebih
07:21sudah di tangan KPK sehingga perlu kejelasan soal kepemilikan
07:27dan pemberi perintah terkait uang suap.
07:30KPK dalam waktu cepat harus bisa memetakan siapa aktor kunci,
07:35penelusuran aliran dana hingga level pembuat kebijakan puncak
07:40dalam dugaan suap pengurusan izin HGB di Kementerian ATR BPN.
07:45KPK harus bisa menjawab keraguan publik atas adanya dugaan intervensi politik
07:52pada kasus dugaan suap izin hak guna bangunan dengan barang bukti ratusan miliar rupiah.
07:59Kasus korupsi dengan melibatkan pejabat, kementerian, dan sosok politik sentral
08:04selalu rentan intervensi dan tekanan politik untuk menyelamatkan pihak tertentu dari ceratan hukum.
08:12Demi menjaga kepercayaan publik sekaligus marwah KPK,
08:17transparansi proses penyidikan termasuk segera memanggil Menteri Nusron Wahid
08:23harus segera dilakukan KPK.
08:32Apresiasi atas pernyataan istana yang tidak akan ikut campur dalam kasus hukum
08:38dugaan suap izin pengurusan HGB yang melibatkan Menteri Nusron Wahid
08:44sembari permintaan kepada semua pihak untuk tetap mengedepankan asas praduga tak bersalah.
08:51Pernyataan istana menjadi penting karena integritas Kabinet Prabowo-Gibran
08:58sangat dipengaruhi oleh integritas masing-masing menterinya.
09:02Jika para menteri yang diduga terlibat kasus hukum dibiarkan bebas tak tersentuh
09:09apalagi dilindungi secara politik,
09:12maka semakin sulit membangun kepercayaan publik atas pemerintahan Prabowo-Gibran.
09:18Dengan alasan menjaga kepercayaan publik,
09:21hak prerogatif Presiden menjadi penting dimaksimalkan.
09:25Khususnya dalam memberhentikan menteri dari jabatannya.
09:29Secara lebih luas perlu ada pembendahan sistemik
09:33dalam pengurusan hak atas tanah dan tata ruang.
09:45Celah penyalahgunaan kewenangan yang seringkali merugikan publik
09:50harus dipersempit.
09:52Karena di balik kewenangan besar selalu ada potensi kesewenangan.
09:57Baik itu memperkaya diri sendiri dan kelompoknya.
10:01Demikian catatan Kompas TV pekan ini.
10:07Terima kasih telah menonton!
Komentar

Dianjurkan