Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 10 jam yang lalu
Abraham Samad menilai hukuman mati bukan satu-satunya cara untuk memberikan efek jera kepada koruptor.
Transkrip
00:01Saya melihat begini bahwa ada ambigia di tengah-tengah pemerintahan sekarang.
00:08Di lain pihak seolah-olah seperti hero mau menggunakan hukuman mati agar memberi efek jerat.
00:16Tapi di lain pihak dia terus memproduksi aturan-aturan yang memberi privilege.
00:20Ini kan tidak konsisten menurut saya.
00:22Oleh karena itu, saya selalu menyatakan begini.
00:24Bukan soal setuju atau tidak setuju hukuman mati.
00:26Saya ingin pemerintahan ini kalau betul-betul punya political will, punya good will terhadap pemerintahan korupsi.
00:32Ingin membedakan deterrent efek.
00:34Kan hukuman mati itu tujuannya untuk memberikan deterrent efek supaya orang lain tidak melakukan korupsi.
00:39Itu kan tujuannya.
00:40Ya enggak usahlah hukuman mati.
00:41Berikan orang-orang ini penjerahan yang betul-betul sehingga dia merasakan efek dari perbuatannya.
00:47Misalnya dia dihukum kalau 20 tahun, ya betul-betul 20 tahun gitu.
00:51Jangan diberikan remisi sehingga apa?
00:53Itu membuat dia jerah gitu.
00:54Kalau desakan masa yang meminta hukuman mati itu, gimana menurut Anda?
00:58Ya sama aja kan.
00:58Misalnya kalau Anda difonis 20 tahun, terus Anda enggak diberikan privilege.
01:02Itu kan juga membuat deterrent efek bagi si pelaku.
01:06Saya ingin memberi contoh.
01:07Ini kan semua orang ini omongnya aja gede bilang hukuman mati.
01:11Kalau saya, saya sudah membuktikan ketika saya jadi ketua KPK.
01:15Kasus Akhil Mukhtar, Prof, itu kita tuntut seumur hidup.
01:18Ada enggak, saya mau tanya Anda, ada enggak KPK sebelum-sebelumnya menuntut orang seumur hidup?
01:25Dan itu difonis oleh makam agung tetap seumur hidup.
01:27Jadi saya enggak, maksud saya gini, enggak perlu kita bicara terlalu berlebih-lebih.
01:31Tapi begini, penghukuman itu tidak hanya untuk tujuan deterrent efek.
01:36Deterrent efek itu kesadaran.
01:38Lalu dia mau punya efek yang tidak jerah, tidak mau lagi.
01:41Oke, keadilan.
01:44Jadi kehukuman mati juga keadilan.
01:46Semua itu mencoba keadilan.
01:47Tidak hanya keadilan untuk tidak berbuat lagi.
01:51Tapi yang keadilannya memang orang yang kejam, sadis untuk di luar korupsi ini.
01:57Di hukum mati.
01:59Mengingat tidak ada batasan lagi.
02:03Orang disayat-sayat mutilasi, itu enggak kejam.
02:07Kalau mutilasi sudah mati, meninggal.
02:09Tapi orang hidup yang dianihaya di luar korupsi ini.
02:14Tau juga mati juga.
02:15Jadi artinya bagi saya adalah hukuman tidak berjuangnya deterrent efek saja.
02:22Tapi juga ada keadilan di situ.
02:24Ada kemanfaatan.
02:25Dan hukuman mati itu masih pantas menurut Anda diberikan.
02:27Tentu, karena undang-undang masih mengatur.
02:30Kecuali undangan di patas Indonesia tidak mengenai hukuman mati.
02:32Negara hukum.
02:33Ya buatkan utusan itu.
02:35Buatkan undang-undang itu.
02:36Pak Mahfud dan Pak Jimli masih mengatakan relevan.
02:40Dua kali di uji di dua periode itu.
02:43Oke.
02:44Jadi, saya tetap menganggap bahwa karena dalam undang-undang tindak pidana korupsi kita memang mengakomodir hukuman mati.
02:51Ya silakan saja.
02:52Tapi menurut saya begini.
02:53Bahwa hukuman mati itu bukanlah obat paling mujarab untuk memberikan deterrent efek.
02:57Itu catatan saya.
02:58Deterrent efek juga.
02:59Cetatan saya tidak satu-satunya tujuan dari hukuman.
03:01Karena begini, kalau Anda mengecek negara-negara yang IPK-nya indeks persepsi korupsinya bagus, itu adalah negara-negara yang tidak
03:10selalu menggunakan hukuman mati.
03:12Georgia tahun 2003 sebelumnya adalah negara paling korup di Eropa.
03:16Negara ini kecil.
03:16Tapi ketika 2004 terpilih presiden yang namanya Mikael Sakarsif, itu dia melakukan apa?
03:23Dia melakukan reformasi besar-besaran di institusi aparat penegak hukum.
03:27Dan dia menerapkan itu tadi.
03:29Perampasan aset dengan konsep illicit enhancement.
03:33Dia tidak menggunakan hukuman mati.
03:34Tapi coba Anda cek sekarang, Georgia termasuk 50 negara terbersih di dunia.
03:41Bayangkan.
03:41Dia tidak menggunakan hukuman mati, tapi dia menggunakan cara-cara yang ekstri.
03:44Tidak bisa merujuk satu sosok hanya presiden.
03:49Saya cuma ingin mencontohkan bahwa ternyata ada jalan lain yang bisa menurunkan tingkat korupsi tidak selalu dengan hukuman mati.
03:57Bukan berarti saya mempersoalkan hukuman mati.
03:59Satu contoh Georgia, saya cuma pelajari itu dia mengimport hakim juga saya tahu.
04:04Mengimport dia untuk memberi keadilan.
04:07Itu hanya Georgia-Eropa, bukan Georgianya-nya Amerika.
04:10Georgia negara kecil di Eropa.
04:11Di Eropa.
04:12Waktu tahun 2003, dia menjadi negara terkorup.
04:16Tapi ketika tahun 2004, dia merubah pola pemberantasan korupsinya.
04:20Sekarang Anda mengecek, dia menjadi 50 negara terkorupi.
04:23Tapi apa itu satu-satunya negara yang harus diikuti oleh banyak negara lainnya?
04:27Saya bukan bilang mengikuti, tapi maksud saya, kita bisa mengambil contoh bahwa ternyata negara-negara yang sukses dalam pemberantasan korupsi.
04:33Sistem itu negara lain juga ada, tapi juga korupsi.
04:35Dan kita bisa lihat bahwa negara-negara yang IPK-nya bagus, bukanlah negara-negara yang menerapkan korupsi.
04:41Saya ada percaya percaya pada bidang masing-masing.
04:43Dan percaya juga kepada saya, karena kita harus jadah sebentar.
04:47Tetap di Kompas TV.
Komentar

Dianjurkan