Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meluas di sejumlah wilayah dan mulai mendekati permukiman warga. Di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, kobaran api yang membesar akibat kencangnya angin membuat warga panik karena api berjarak sekitar 30 meter dari rumah warga di Jalan Bukit Palangka Ujung.

Sebanyak empat unit mobil pemadam dikerahkan untuk memadamkan api. Upaya pemadaman turut dibantu warga sekitar. Sementara itu, tim Satgas gabungan masih berjibaku memadamkan karhutla di Desa Rimbo Panjang, Kabupaten Kampar, Riau. Petugas Brimob Polda Riau harus menggunakan tabung oksigen akibat pekatnya asap kebakaran gambut.

Pemadaman dilakukan tim gabungan Manggala Agni, BPBD, TNI, dan Polri melalui jalur darat dan udara, termasuk dengan mengerahkan helikopter water bombing. Di wilayah Kerumutan, Kabupaten Pelalawan, luas lahan yang terbakar mencapai 700 hektare dan ratusan petugas telah diturunkan untuk memadamkan api.

Imbas karhutla, kabut asap menyelimuti permukiman warga dan Jalan Lintas Barat Sumatera. Warga mengeluhkan batuk dan sesak napas akibat menghirup kabut asap. Di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, paparan kabut asap juga membuat sejumlah warga berobat dengan keluhan sesak napas, batuk, dan flu.

Kasus ISPA di RSUD Ulin Banjarmasin cenderung menurun karena sebagian penanganan telah dilakukan di puskesmas terdekat. Bagaimana penanganan dan kondisi kesehatan warga akibat kabut asap karhutla? Kita bahas bersama Direktur RSD Idaman Banjarbaru sekaligus Sekretaris IDI Kalsel, Dokter Danny Indrawardhana.

#karhutla #kebakaranhutan #kabutasap #palangkaraya #kampar #banjarmasin

Baca Juga Menhut Raja Juli Akhirnya Buka Suara, 42 Kasus Karhutla Diproses Hukum | SAPA MALAM di https://www.kompas.tv/regional/687353/menhut-raja-juli-akhirnya-buka-suara-42-kasus-karhutla-diproses-hukum-sapa-malam

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/687397/full-sekretaris-idi-kalsel-soroti-karhutla-kabut-asap-picu-keluhan-pernapasan-warga-kompas-malam
Transkrip
00:01Sederhana kebakaran hutan dan lahan di Palangka Raya meluas sehingga mendekati permukiman warga.
00:06Warga yang panik berupaya membantu upaya pemadaman api.
00:14Kejangnya angin membuat kobaran api dari kebakaran hutan dan lahan di Palangka Raya mebesar.
00:19Kondisi ini membuat warga panik karena api telah mendekati permukiman,
00:23bahkan berjarak sekitar 30 meter dari rumah warga di jalan bukit Palangka Ujung,
00:30dan empat unit mobil pemadam juga dikerahkan untuk memadamkan api.
00:34Upaya pemadaman turut dibantu warga sekitar.
00:42Jadi malam sempat redak, jadi pagi tadi jam, tau jam berapa pagi tadi itu mulai ano lagi?
00:51Apa? Eh, apinya besar. Nah, biarku kita biar siap aja lagi.
00:58Nah, itu.
01:00Kira-kira berapa meter nih Pak, jaraknya dari api sampai ke rumah nih Pak?
01:04Ini dari ini 40 meter.
01:10Sementara itu tim Satgas Gabungan Karhutlah masih berjibah kumadamkan kebakaran hutan dan lahan di desa Rimbo Panjang, Kabupaten Kampar Riau.
01:19Pemadaman dilakukan untuk memutus penyebaran api agar tidak meluas.
01:23Bahkan karena pekatnya asap, petugas menggunakan tabuk oksigen saat melakukan pemadaman.
01:46Tim Satgas Gabungan, Manggala Agni, BPBD, TNI, dan Polri terus berjibaku memadamkan kebakaran hutan dan lahan di desa Rimbo Panjang,
01:55Kabupaten Kampar Riau.
01:55Upaya pemadaman dilakukan melalui darat dan udara dengan mengerahkan helikopter waterbombing.
02:02Ibas karhutlah, kabut asap menyelimuti permukiman warga dan jalan lintas barat Sumatera.
02:08Paparan kabut asap dikeluhkan warga karena mengganggu kesehatan.
02:12Warga mengaku mengalami batuk dan sesak nafas akibat menghirup kabut asap.
02:35Di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, paparan kabut asap pekat imbas karhutlah membuat sejumlah warga harus berobat ke fasilitas kesehatan.
02:43Warga mengeluhkan gejala sesak nafas, batuk, dan flu.
03:04Kasus penyakit ispa di Rumah Sakit Umum daerah Ulin, Banjarmasin cenderung menurun.
03:08Karena penanganannya sebagian sudah ditangani di puskesmas terdekat.
03:12Kasus-kasus ispa biasanya sudah ditangani di Rumah Sakit Daerah.
03:17Baik itu di puskesmas juga, kemudian di klinik, dan di Rumah Sakit baik tipe D, tipe C.
03:24Nah biasanya di Rumah Sakit tersebut, kasus ispa sudah tertangani dengan baik.
03:28Kalau ada kondisi yang memberat, biasanya dirujuk ke Rumah Sakit Ulin salah satunya.
03:33Tapi saat ini kasus ispa di Rumah Sakit Ulin kondisinya cenderung menurun.
03:41Kabut asap imbas karhutlah menjadi ancaman bagi warga di daerah terdampak.
03:45Warga diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan dan selalu menggunakan masker kesehatan
03:50demi menjaga diri dari paparan kabut asap.
03:52Tim Liputan Kompas TV
03:59Bagaimana penanganan dan kondisi kesehatan warga imbas kabut asap karhutlah?
04:03Kita bahas bersama Direktur RSD Idaman Banjarbaru yang juga Sekretaris IDI Kalsel, Dr. Dhani Indra Wardana.
04:12Selamat malam, Dr. Dhani.
04:14Selamat malam, Mas Gali.
04:16Dokter, sampai malam ini bagaimana kondisi kesehatan warga di Kalsel terutama?
04:22Baik, secara prinsip sih memang kayaknya data itu menunjukkan puncaknya itu kayaknya minggu kemarin ya, Mas Gali ya.
04:30Terutama kalau di rumah sakit saya, kenaikannya itu di minggu kemarin, cut off-nya di hari Sabtu kemarin,
04:37dan saat ini sih memang mulai ada penurunan untuk kasus terutama di anusanya ispa.
04:42Memang dari data yang Dr. Dhani terima ini ada berapa kasus di Kalsel?
04:48Secara prinsip sih kalau di rumah sakit saya ya, Mas Gali ya, di rumah sakit saya itu kasusnya meningkat sampai
04:5576 kasus begitu.
04:57Dan minggu ini mulai menurun sekitar 56 kasus yang masuk ke rumah sakit.
05:02Untuk data di Kalsel mungkin ribuan ya, Mas ya, yang akan terdampak soal ini.
05:08Di RSD Idaman Banjarbaru ini, Dr. Dhani yang menceritakan ini, rata-rata mereka pasien itu apa yang dirasakan?
05:17Kebanyakan sama dengan yang disampaikan tadi, kebanyakan batuk, kemudian kadang-kadang terasa sesak dan flu.
05:25Begitu, Mas.
05:26Sesak, batuk, dan flu. Mereka mayoritas anak-anak, dewasa, atau seperti apa, Dok?
05:31Ya, kalau di data kami, di rumah sakit kami, itu tiga terbesar adalah yang pertama adalah anak umur 1-4
05:41tahun, itu sekitar 27,3 persen.
05:44Kemudian usia 5-9 tahun itu di angka 21,2 persen.
05:50Dan usia produktif di 20-44 tahun itu 19,9 persen.
05:55Dok, sampai saat ini kan kondisi karhutlah ini kebakarannya kan masih semakin parah dan kabut asap ini juga terus menyebar
06:04di permukuman warga.
06:05Bagaimana sebetulnya penanganan atau mitigasi dari IDI?
06:10Ya, kalau IDI, kita secara komprehensif mulai dari PBID, kemudian kami di wilayah, dan melibatkan juga di IDI Cabang.
06:19Selain kemudian kita juga memberikan bantuan, ya, Mas, ya, rencananya nanti dari PBID akan ada mendropping beberapa alat bantuan.
06:27Kemudian kita dari wilayah dan di Cabang juga mencoba memobilisasi, begitu.
06:34Di antaranya ada beberapa kita mapping keperluan-keperluan, begitu, Mas, terutama untuk warga dan relawan khususnya.
06:41Salah satunya kami juga akan support kerelawan, ya, Mas, ya, kerelawan ke petugas yang memadamkan api.
06:47Di antaranya mereka sudah tidak bisa lagi menggunakan masker medis, jadi harus pakai masker yang respirator, begitu.
06:56Kemudian mereka juga ternyata perlu oksigen tabung kecil, begitu, Mas, terutama di TKP, kemudian vitamin juga, serta sepatu bud, begitu.
07:06Dokter, jika melihat kondisinya seperti itu, dampak yang paling parah itu akan seperti apa, sih, dok?
07:14Ya, kalau misalnya kasusnya, terutama di rumah sakit, yang paling mungkin nanti akan ada kasus pernafasan, ya, Mas, ya, khususnya
07:23radang paru atau pneumonia.
07:25Sampai detik ini, sih, kemarin terlaporkan ke kami bahwa kasusnya memang kebanyakan anak, ya, yang masuk ke rumah sakit kami.
07:32Dan kebanyakan juga karena memang punya penyakit penyertama, salah satunya asma, begitu.
07:38Jadi, yang masuk ke kebanyakan seperti itu yang mengalami pemberatan akibat kabut asapnya.
07:44Dengan kondisi kabut asap yang masih menyelimuti permukiman warga, apakah ada langkah-langkah ataupun imboan dari,
07:51ataupun anjuran dari IDI untuk membatasi aktivitas warga, terutama aktivitas sekolah, dok?
07:58Baik. Yang jelas, kita tetap akan lihat situasi dan kondisinya, ya, Mas, ya.
08:03Memang apabila kabutnya masih seperti ini, terutama di beberapa titik, contohnya kalau di Banjar Baru itu,
08:10di Landa Selulin dan Yang Anggang, mungkin akan baiknya tetap menggunakan masker.
08:15Kemudian untuk waktu-waktu tertentu, terutama pagi hari, itu diusahakan apabila memang cukup parah asapnya,
08:24mungkin akan ada penundaan terkait dengan masuknya anak-anak ke sekolah, begitu.
08:29Kemudian jangan lupa untuk edukasi mereka untuk menggunakan masker,
08:33kemudian cuci tangan yang sifatnya memang menjaga supaya endurance tetap terjaga, begitu.
08:38Dan apabila ini semakin lama, semakin memberat, mungkin perlu dipikirkan untuk sekolah secara online, begitu, Mas,
08:46mungkin untuk bisa supaya pembelajari tetap jalan, namun kondisi masyarakat bisa tetap teratasi, begitu.
08:54Dengan kondisi kabut asap yang mungkin kita belum bisa memprediksi kapan akan berhenti,
09:00karena memang karhutlah ini masih, proses pemadamannya masih terus dilakukan.
09:05Apakah cukup hanya dengan menggunakan masker untuk aktivitas sehari-hari, dok?
09:12Tidaknya itu ya, Mas, ya tentunya masker itu adalah bentuk perlindungan,
09:16namun juga menjaga endurance, kemudian kebersihan tubuh, vitamin, support vitamin,
09:22kemudian menjaga kesehatan itu juga sangat penting.
09:25Kemudian jangan lupa juga pada pasien-pasien yang memang punya gejala ikutan,
09:29seperti asma, kemudian pasien-pasien mungkin yang punya gangguan sudah terlebih dahulu itu juga perlu memperhatikan.
09:37Kalau saya sih secara pribadi menyampaikan, kalau tidak perlu keluar rumah, ya mari kita lakukan itu, Mas, begitu.
09:44Tapi kalau misalnya dengan kondisi permukiman yang mungkin diselimuti kabut asap,
09:50apakah harus mengungsi atau ibuannya seperti apa?
09:56Sejauh ini sih mungkin sambil lihat situasi dan kondisi ya, Mas, ya.
09:59Terutama kalau memang, kalau kayak di Banja Baru ada wilayah-wilayah tertentu memang yang memang rapat sekali,
10:05mungkin jaraknya beberapa meter saja dari pusat api, ya saya pikir mungkin pilihannya adalah mengungsi, Mas, begitu.
10:12Tapi tetap kita akan lihat situasi dan kondisinya ya, Mas, ya, begitu.
10:15Baik, terima kasih Dr. Dhani Indrawardana, Direktur RSD Idaman Bajar Baru,
10:21yang juga Sekretaris IDI Kalseltera bergabung bersama kami di Kompas Malam.
10:25Terima kasih, dok.
10:27Terima kasih, Mas Gali.
Komentar

Dianjurkan