00:03Intro
00:11Gempa bumi berkekuatan magnitulu 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur pada Sabtu pagi
00:16menyecahkan duka bagi penyintas gempa.
00:19Dukungan mendesak mulai dari kebutuhan dasar dan perlindungan selama masa tanggap darurat.
00:24Salah satu lokasi terdampak yakni pesisir Kampung Ronting, Kabupaten Manggarai Timur.
00:29Warga mengungsi ke tempat yang lebih aman.
00:32Yang memilukan, di tengah kondisi terbatas, polisi bersama warga mengevakuasi seorang ibu
00:37yang hendak melahirkan menggunakan kursi plastik.
00:40Bantuan tenaga medis, obat-obatan, makanan, air bersih, serta perlengkapan pengungsian
00:45sangat diputuhkan warga.
00:48Di Kabupaten Sika, Nusa Tenggara Timur, seorang ibu bersama 10 anggota keluarganya
00:52juga mengungsi ke halaman kantor bupati.
00:55Mereka takut kembali ke rumah karena khawatir gempa susulan.
00:58Selain obat-obatan, penyintas gempa juga membutuhkan bantuan makanan.
01:04Pas terjadinya gempa, kami langsung keluar dari rumah, lari sampai di kantor bupati.
01:08Mengungsi dengan keluarga, dengan orang tua satu tangan.
01:11Berapa orang ibu yang mengungsi anggota keluarga?
01:14Ada 10 orang.
01:17Tadi mengungsi hanya bawa pakaian saja?
01:18Atau ada perlengkapan lain yang dibawa?
01:20Kami hanya lari pakaian di badan, hari pagi.
01:23Kami beritahu kawan.
01:24Bantukan nasi bungkus, satu-satu orang untuk satu-satu bungkus juga baik.
01:28Karena dari tadi pagi kami dengan anak kecil.
01:31Perempuan, anak-anak, dan bayi hingga lanjut usia menjadi kelompok paling rentan.
01:36Diperkirakan korban gempa disika berasal dari sejumlah wilayah
01:39di antaranya kelurahan Kota Uneng, Wuring, Wulomarang, dan Nangawure.
01:46Status siaganya telah dicampur dan kami kembali ke rumah.
01:48Tetapi tadi di siang hari terjadi lagi guncangan yang memang mengharuskan kami untuk mengungsi disini.
01:56Belum mendapatkan bantuan apapun dari pemerintah, hanya mendata saja.
02:00Dan kami mengharapkan pemerintah memperhatikan kami juga yang mengungsi disini.
02:05Pemerintah mendorong percepatan penanganan pasca gempa bumi
02:09di sejumlah wilayah terdampak di Provinsi Nusitenggara Timur.
02:12Di antaranya mengirimkan 27 ton logistik menggunakan pesawat Hercules.
02:15Sementara Polri mengirimkan tim Sar Polri serta 10 ekor anjiki nain menggunakan pesawat CN milik korps Polairun.
02:23Citos Natun, Kompas TV, Nusa Tenggara Timur.
02:33Saudara penanganan korban gempa NTT mendesak sejumlah penyintas memerlukan kebutuhan dasar.
02:39Selengkapnya kita akan sapa warga dari Nagekeo NTT, Bung Arkadius Togo.
02:46Bung Arto, betul ya, biasa disapa Bung Arto.
02:50Bung Arto, seperti apa kondisi Bung Arto saat ini dan juga bagaimana dengan kondisi warga di sana, Bung Arto?
02:59Baik, selamat sore Ibu Sintia.
03:03Kami di Kompatan Nagekeo, khususnya di Tisa Airamo, kecamatan Nagekeo saat ini dalam kondisi warga semua pada trauma dengan kejadian
03:15gempa kemarin, Bu.
03:16Nah, saat ini sebagian warga sedang tinggalkan semua kediamannya, mereka sedang di tempat yang tinggi.
03:26Sekarang semua sudah mengungsi di daerah lereng maupun di daerah yang lebih tinggi.
03:33Ketika mengungsi di perbukitan atau di tempat-tempat dengan lokasi yang lebih tinggi, apakah ini menggunakan tenda atau seperti apa
03:43lokasinya, Bung Arto?
03:46Ada sebagian warga yang menggunakan tenda darurat, menggunakan alat sekadarnya, terpal, maupun pakai daun-daun gebang, daun-daun kering untuk
04:00bisa mereka mendiami itu, Bu.
04:02Ada berapa kurang lebih warga yang menempati lokasi di tempat-tempat dataran tinggi ini, Bung Arto?
04:10Nah, saat datas ini kurang lebih dua ratusan warga yang mendiami di perbukitan.
04:20Adakah lansia ataupun anak-anak dan juga balita, Bung Arto, di sana?
04:28Kalau datas sementara, lansianya ada, bayinya ada.
04:35Apakah sudah mendapatkan bantuan baik dari petugas maupun Pemda setempat untuk di titik Anda mengungsi bersama warga lainnya?
04:45Baik, terima kasih. Untuk sementara, bantuan dari pemerintah Kabupaten Egeo belum semuanya menyalur ke titik-titik pengungsi.
04:56Hanya namun ada beberapa dari pihak swasta maupun para politisi maupun ini sudah memberikan bantuan berupa makan ringan, air minum,
05:08dan pakaian seadanya.
05:13Apakah ada kebutuhan warga berupa obat-obatan ataupun bagaimana dengan kondisi kesehatan teman-teman di sana, Bung Arto?
05:21Baik, Ibu. Untuk sementara memang masyarakat mengharapkan itu soal tenda, terpal, penerangan, obat-obatan.
05:34Nah, ini yang mungkin perlu diperhatikan oleh pemerintah Kabupaten Egeo untuk bisa melihat kondisi ini.
05:42Karena memang saat ini masyarakat lagi membutuhkan makan dan minum.
05:48Soal obat-obatan itu tuh sementara belum juga diberi bantuan dan penerangan, Ibu.
05:56Penerangan memang agak sulit.
05:58Apalagi dengan komunikasi hari ini di Kabupaten Egeo, khususnya di Desa Eramo.
06:04Jaringan yang agak teramat, Ibu. Terputus-putus.
06:06Sehingga komunikasinya agak susah.
06:09Artinya di tempat warga mengungsi di perbukitan dan juga dataran tinggi ini tidak tersalurkan listrik ya?
06:16Jadi tidak bisa memenuhi kebutuhan elektrikal ataupun kebutuhan kelistrikan seperti mengisi ataupun mencharge ponsel ya, Bung Arto?
06:26Ya, betul-betul. Seperti itu.
06:29Untuk obat-obatan, saat ini belum ada juga yang mensuplai, Bung Arto?
06:34Belum ada, belum ada, Bung.
06:36Tapi secara keseluruhan, kondisi kesehatan warga apakah masih dalam kondisi baik, kondisi aman, Bung Arto?
06:45Kalau untuk sementara, masih kondisi baik-baik saja, Ibu.
06:49Belum ada data ya, belum ada laporan terkait dengan sakit atau mungkin gangguan seperti kesehatan, belum ada, Ibu.
06:58Kalau untuk sementara, seperti itu.
06:59Tapi kalau untuk ke pusat-pusat bantuan kesehatan maupun posko, apakah jauh jaraknya, Bung Arto?
07:07Kalau untuk di Belaya Desa Aramo, memang sangat dekat dengan rumah sakit, rumah sakit Aramo.
07:15Akses pelayanan itu apabila ada, misalnya ada masyarakat yang sakit, bisa lari ke rumah sakit, karena jaraknya dekat.
07:25Kalau kebutuhan air bersih, seperti apa, Bung Arto?
07:29Ini yang mengalami kesulitan.
07:32Makanya ini mungkin dari sebagai warga, meminta pemerintah Kepatian Nagi Keo untuk melihat kondisi air bersih ini.
07:38Memang saat ini, contoh mandi cuci kaku susah setengah mati, Ibu.
07:42Terkait dengan warga yang mengusih, gitu.
07:44Karena kami di Aramo ini, memang sejadar dulu, air bersihnya agak susah kita pakai beli, Ibu.
07:51Tapi hari ini ya terjadinya gempa, memang air bersihnya agak sulit, Ibu.
07:56Ada MCK di titik Anda mengungsi secara swadaya ini?
08:01Tidak ada, Ibu. Tidak ada. Terpaksa MCK di hutan, Ibu.
08:05Di hutan. Dan memang air bersih belum tersupply sampai ke titik Anda dan warga mengungsi, Ibu?
08:11Ya, Ibu.
08:15Bung Arto, kalau saat ini bisa disampaikan, apa saja kebutuhan dari warga saat ini, Bung Arto?
08:25Baik, Ibu Sinta.
08:27Untuk sementara masyarakat Nagi Keo, khususnya desa Aramo ini sangat membutuhkan yang pertama,
08:33soal tenda, yang kedua penerangan ketika makan minum, dan obat-obatan,
08:39serta pekayaan seadanya.
08:41Karena masyarakat saat ini sangat membutuhkan itu.
08:43Apalagi makanan dan air minum ini agak sulit, Ibu.
08:48Apalagi masyarakat mau berkebun, bertahan, ini kan trauma dengan situasi kemarin takut terjadi.
08:54Makanya membuahkan mereka stok makanan yang ada di rumah saat ini sangat menipis.
09:00Tapi apakah masih dirasakan gempa-gempa susulan, Bung Arto?
09:07Kalau untuk terakhir dari pagi sampai jam pukul 11.00 tadi, masih ada terjadi gempa susulan.
09:16Oke.
09:17Untuk lokasi Anda, di mana Bung Arto?
09:20Sehingga manti mungkin jika ada pihak yang mengetahui bisa langsung mensuplai kebutuhan Anda di sana?
09:25Bung Arto saya di RT 02.01.
09:30Kabupaten?
09:32Kabupaten Naikyo, Kecamatan Asisau.
09:34Oke, baik.
09:35Terima kasih, Bung Arkadius Togo.
09:39Saat ini yang dibutuhkan sangat mendesak adalah air bersih, listrik, tenda, penerangan, makanan, dan juga pakaian.
09:46Terima kasih.
09:48Kami tentunya turut mendoakan kesehatan dan juga apa yang terjadi di sana menjadi keprihatinan dan juga duka bersama bagi kami
09:59di sini.
10:00Tetap sehat selalu, jaga keselamatan Anda, Bung Arto, dan salam untuk keluarga.
10:05Terima kasih, Ibu Sinta.
Komentar