00:00Kau khawatir enggak Bu Deni akan dianggap sebagai bagian dari upaya mencemarkan nama baik?
00:04Karena kalau kita lihat kasusnya dari masalah polemik Ijazah Jokowi,
00:07Roy dan Tifa kena jerat dalam pidana pencemaran nama baik.
00:10Bismillah.
00:12Silahkan risiko-risiko untuk menegakkan kebenaran itu memang tidak mudah.
00:19Bicara semacam ini Mas Andi, tadi bisa dibeli, bisa dikriminalisasi, bisa dihabisi.
00:27Di Republik yang sekarang kritik itu dianggap barang haram, rondo ireng, antik asing, berisiko kami.
00:37Tapi kami harus menyatakan ini walaupun hanya satu ayat.
00:42Bagi kita yang ingin Republik ini menghargai posisi WP Presiden sebagai posisi yang terhormat,
00:49yang harus diisi oleh orang yang bermartabat, oleh orang yang berwibawa,
00:54punya kapasitas intelektual, punya integritas moral,
00:58bukan diisi dengan dokumen-dokumen yang bisa kita pertanyakan pendidikannya.
01:04Inilah niat kami Mas.
01:07Tidak lebih dan tidak kurang.
01:10Kami ingin justru posisi WP Presiden itu menjadi posisi yang terhormat,
01:17yang tidak dipermainkan, mengubah aturan, dan seterusnya.
01:21Keyakinan Anda akan berapa banyak peserta sayembara dari yang diajukan Bung Denny Indrayana?
01:26Sampai sejauh ini tidak ada.
01:28Oke, tapi kalau keyakinan Anda bakal berapa banyak nih?
01:30Saya mengatakan ini adalah suatu dagelan saja.
01:34Lelucuan-lucuan saja yang dilakukan ini.
01:38Sebetulnya kalau Mas Denny Indrayana ini mungkin ada suatu,
01:46ya katakanlah bukan tabayun ya, apa namanya, komunikasi misalnya.
01:52Dengan?
01:53Ya misalnya komunikasi dengan kementerian yang mengeluarkan surat kerana itu.
01:58Dia kan pasti punya data itu.
02:00Tidak pasti.
02:00Ya kan dia pasti punya.
02:02Tidak mungkin sesuatu surat itu dibuat tanpa ada, ya, tanpa ada yang namanya pembuktiannya itu.
02:11Kan tidak mungkin.
02:12Ya mungkin dong dari publik kita.
02:14Kalau ditanyakan adalah kembali tadi, ijasa SMA-nya mana?
02:20Jangan membandingkan apa yang terjadi di luar biasa secara kuliah itu ataupun SMA itu, ya,
02:27di dalam negeri gitu dengan dibandingkan yang ada di, katakanlah di Singapura, itu jauh beda.
02:33Sederhananya Anda tidak yakin bahwa akan ada pesertanya?
02:36Sederhananya yang dilakukan ini, saya tidak yakin ada peserta untuk itu.
02:41Karena masyarakat, publik ini sudah jelas, sudah mengetahui ya, secara terang-benerang, motif di belakang ini apa.
02:51Motif di belakang ini itu ada kaitan-kaitan yang terjadi selama ini, ya, dengan kasus-kasus yang berhubungan dengan Pak
02:59Jokowi.
03:00Tapi bisa aja dong kalau kemudian tidak ada pesertanya, tidak ada yang bisa membuktikan bahwa ijazah Gibran yang SMA itu
03:06asli.
03:06Kita lihat aja di PT UN.
03:09Kan saya bilang, jangan langsung kefokus ke Mas Gibran loh.
03:12Mas Gibran bagaimana dikatakan?
03:15Ya, itu kan sudah ada surat keterangan.
03:17Mas Gibran menunjukkan ijazah S1-nya, gak perlu aneh-aneh kok.
03:20Kenapa sekarang harus ke PT UN?
03:22Menunjukkan ijazah S1-nya, ya, karena ada yang dikatakan itu masalah foto, kalau gak salah.
03:28Kenapa ijazah SMA-nya tidak?
03:30Jadi saya bilang gini, ya.
03:31Kenapa ijazah SMA-nya tidak disamakan perlakukannya?
03:34Kenapa berbeda ijazah SMA-nya?
03:35Karena motifnya, ini sudah jelas.
03:38Apa yang dilakukan Profesor Deni Indrayana ini dengan teman-teman yang lainnya?
03:41Itu sudah jelas motifnya mas.
03:42Mas Andi ini tahu motif saya.
03:43Kalau kita mau lihat, ya.
03:45Sudah motifnya sudah jelas.
03:46Ini karena bukan...
03:48Tahu motif, sudah tahu isi hati saya.
03:48Bukan, bukan dalam arti begini, Mas Deni ini bukan murni menanyakan itu.
03:54Karena kes ini, ini kan saya bilang ganti pemain sudah.
03:59Dari Subanpala gagal.
04:01Masuklah Profesor Deni Indrayana dalam kes ini.
04:05Akan menempuh jalur hukum juga enggak?
04:07Selain sayembara itu tadi, kan disarankan mending petun aja sekalian.
04:11Saya kan sudah menempuh jalur hukum sejak lama, Mas.
04:15Bukan tidak pernah surat ke MK menggugat putusan 90.
04:21Kalau bersurat begini berkali-kali saya di zaman Pak Jokowi saya bersurat.
04:24Spesifik Ijazah Gibran ini?
04:25Tentang Ijazah Gibran, kita melakukan langkah-langkah.
04:28Tadi saya ke Mersi.
04:29Karena begini loh.
04:31Saya ini kan, apa boleh buat ya.
04:33Punya kantor di Australia, di Indonesia.
04:35Jadi kalau ada acara peradilan Australia, saya ke Australia.
04:39Kalau tidak, ya saya ke sini.
04:42Itu sebabnya saya kadang-kadang on and off.
04:44Tapi, bukan berarti saya tidak concern.
04:47Sekarang ini saya lakukan,
04:49karena minggu lalu saya dapat informasi tentang peraturan KPU itu.
04:53Dan tidak banyak yang tahu.
04:55Bayangkan, syarat pendidikan diutak-atik dengan peraturan KPU itu tidak menjadi isu pada saat sengketa Pilpres.
05:03Pasangan calon nomor satu, nomor tiga tidak mengangkat isu ini.
05:05Karena semua fokus hanya putusan MK90 tentang syarat umur,
05:09tentang syarat pendidikan.
05:10Baru, oh ada toh.
05:11Ada toh.
05:12Ini Pak Deni, kata Prof Jimli,
05:14itu peraturan KPU untuk mengubah setelah ada putusan MK90.
05:19Enggak, Prof.
05:20Ini sebelum, kaget beliau.
05:21Jadi, poin saya adalah sederhana.
05:26Saya ulang lagi.
05:28Mana dokumen ijazah SMA-nya, Mas Gibran.
05:32Kalau tidak ada, jangan dengan syarat keterangan.
05:35Syarat keterangan itu beda.
05:37Tunjukkan saja lah.
05:38Kalau Anda menanyakan itu, Anda juga harus membuktikan.
05:42Datanglah ke mana?
05:44Kenapa?
05:44Ke Kementerian, Dick Dasman.
05:46Tanyakan langsung.
05:47Sudah berkali-kali, sudah ke sana, Mas.
05:50Tanyakan saja langsung.
05:51Karena itu yang berkompeten untuk memberikan itu.
05:55Tadi saya berkompeten, jangan langsung.
05:58Mas, yang menanyakan.
05:59Maka saya apresiasi dengan Bung Mersi.
06:02Bung Mersi melakukan PT UN itu.
06:04Itu benar jalurnya.
06:06Diam aja nih, moderator.
06:07Tolong nggak bisa.
06:08Saya kasih kesempatan Bung Andi dulu.
06:10Saya kapan nih?
06:11Kan sudah selesai tadi.
06:12Belum.
06:13Intinya beginilah ya.
06:14Apa yang dilakukan oleh Bung Deni, itu dahaknya Bung Deni Indrayana.
06:19Ya, silakan saja melakukan itu.
06:21Tapi publik bisa melihat.
06:23Yang jelas ini adalah motivasinya bukan murni untuk itu.
06:27Karena di sini yang Anda sudah saksikan, saudara.
06:31Bagaimana ini masuk dalam politik.
06:33Durasi kita sudah habis.
06:34Karena paling jelas, dua pihak sudah tetap pada posisi masing-masing.
06:40Atas ijazah SMA Wakil Presiden Gibra Raka Buming.
06:44Pak Andri, Deni Indrayana.
06:46Mas, kita ini sudah menanyakan itu.
06:50Teman-teman itu sudah kesana.
06:52Jadi, sekadang tinggal.
06:54Kalau teman-teman menanyakan, tinggal aja Bung Deni.
06:56Tanyakan juga kesana.
06:56Aku tadi diam, Mas, ngomong.
06:57Tanyakan, sudah selesai kan?
06:59Oke, sudah selesai.
07:00Tunjukkan saja loh, Mas.
07:01Anda, saudara, sudah bisa menangkap poin dari perspektif masing-masing.
07:05Pak Andi Indrayana, terima kasih.
07:06Bung Andi Aswan, terima kasih.
07:07Salamat dulu.
07:08Terima kasih.
07:09Untuk Anda, saudara, yang sudah menyaksikan rusi.
07:11Jumpa lagi pekan depan.
07:12Saya Tifa Solesa, tetap di Kompas TV, independen.
07:14Terpercaya.
07:17Tifa Solesa, tetap di Kompas TV, Kompas TV, Kompas TV, Kompas TV, Kompas TV.
07:18Terima kasih.
07:18Tifa Solesa, tetap di Kompas TV, Kompas TV.
07:18Terima kasih.
Komentar