Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV - Di tengah memanasnya perang antara Amerika Serikat dengan Iran, militer Israel menggelar latihan angkatan laut berskala besar di perairan terbuka.

Militer Israel merilis rekaman latihan angkatan laut berskala besar di perairan terbuka pada Kamis waktu setempat.

Rekaman yang dirilis menunjukkan kapal-kapal angkatan laut Israel di laut, dengan personel yang melakukan pengawasan, latihan senjata, dan manuver terkoordinasi.

Militer Israel mengatakan, latihan ini merupakan bagian dari persiapan untuk berbagai skenario keamanan maritim yang mungkin terjadi.

Israel terus melanjutkan operasi militer di seluruh wilayah sejak serangan yang dipimpin Hamas pada 7 Oktober 2023.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengklaim perang melawan Iran bisa berakhir segera dan bersikeras kesepakatan tentang Selat Hormuz sudah dekat.

Trump menilai Teheran tidak akan bisa bertahan lebih lama jika perang berlanjut.

Keyakinan ini disampaikan Trump setelah sebelumnya dia mengatakan lebih memilih untuk mencapai kesepakatan dengan Iran daripada mengambil tindakan militer.

Perang Timur Tengah terus berlanjut. Pihak Israel kini makin gencar mempersiapkan diri untuk melakukan serangan. Bahkan, dari visual terbaru, Israel menunjukkan kekuatan laut mereka. Apakah ini bentuk sinyal bahwa mereka siap jika diminta Amerika Serikat untuk melakukan serangan ke Iran?

Untuk membahas dinamika perang Iran-Amerika Serikat yang tak kunjung selesai,

kita sudah bersama pakar geopolitik dan keamanan nasional, Wibawanto Nugroho Widodo dan peneliti senior Indo Pacific Strategic Intelligence, Fauzia Cempaka Timur.

Baca Juga Trump Klaim Perang Lawan Iran Segera Berakhir, Teheran Tegaskan Mampu Hadapi Tekanan AS! di https://www.kompas.tv/internasional/684500/trump-klaim-perang-lawan-iran-segera-berakhir-teheran-tegaskan-mampu-hadapi-tekanan-as

#israel #trump #iran #perangiran #amerikaserikat

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/internasional/684614/pakar-geopolitik-dan-peneliti-senior-soal-israel-unjuk-kekuatan-pertanda-siap-bantu-as-gempur-iran
Transkrip
00:00Saudara Perang Timur Tengah terus berlanjut, pihak Israel kini makin gencar mempersiapkan diri untuk melakukan serangan.
00:07Bahkan dari visual terbaru, Israel menunjukkan kekuatan laut mereka.
00:12Pertanyaannya apakah ini merupakan bentuk sinyal bahwa mereka atau Israel ini siap jika diminta Amerika Serikat untuk melakukan serangan ke
00:21Iran.
00:22Dan untuk membahasnya, kita bahas sore hari ini bersama dengan pakar geopolitik dan keamanan nasional.
00:30Wibawanto Nugroho Widodo. Mas Wibawanto, selamat sore.
00:34Dan hadir juga peneliti senior Indo-Pacific Strategic Intelligence, Fauzia Cempaka Timur.
00:39Mbak Cempaka, selamat sore.
00:41Selamat sore, Mbak.
00:43Mas Wibawa, kalau dilihat ini belakangan Israel lagi pamer kekuatan maritimnya.
00:48Bahkan juga tadi ada gelar latihan militer di laut.
00:51Sebenarnya Israel lagi mencoba ingin menyampaikan pesan apa kepada dunia?
00:57Ya, jadi kekuatan maritim Israel ini belum berarti bahwa Israel itu akan segera menyerang Iran.
01:02Itu harus kita pahami ya.
01:03Jadi itu bisa dibaca sebagai strategic signaling ya.
01:06Demonstrasi bahwa Israel itu masih memiliki credibility dalam hal opsi militer terhadap Iran.
01:11Namun dalam situasi konflik seperti sekarang ini yang sangat dinamis,
01:14demonstrasi kekuatan itu juga bisa berfungsi sebagai preparation untuk eskalasi apabila diikuti oleh indikator militer lainnya.
01:21Jadi tujuh poin yang harus kita perhatikan di sini.
01:23Pertama adalah kekuatan maritim itu adalah strategic signaling.
01:27Kehadiran dan pergerakan kekuatan maritim tidak semata-mata ditujukan untuk perang.
01:31Bisa juga digunakan untuk kemampuan proyeksi kekuatan.
01:34Detrance atau penangkalan.
01:36Atau fungsi-fungsi intelligence and surveillance.
01:38Menjaga akses maritim.
01:39Atau juga menunjukkan kepada Iran bahwa opsi serangan masih terbuka.
01:43Jadi intinya adalah Tel Aviv bilang kami masih memiliki kemampuan dan pilihan untuk menyerang.
01:49Bukan berarti pasti menyerang.
01:50Yang kedua adalah kita harus bedakan antara kapabilitas signaling dan decision.
01:56Kapabilitas iya, Israel itu memiliki kemampuan militer untuk menyerang-mirang.
01:59Signaling iya, Israel menunjukkan bahwa kemampuan tersebut masih tersedia dan credible.
02:04Tapi decision-nya belum tentu.
02:05Apakah pemerintah Israel telah mengambil keputusan politik untuk melakukan serangan?
02:09Baru sampai saat ini ketiganya tidak boleh disamakan.
02:12Kita tidak boleh menyamakan ketiganya.
02:13Poin ketiga adalah laut ini menjadi teater sekarang.
02:16Strategik teater.
02:17Laut, darat, laut, udara, space, cyber, informasi.
02:20Yang keempat, formus itu menjadi faktor pengungkit utama.
02:24Jadi persoalan ini menjadi persoalan Iran, Israel, Amerika Serikat, Gulf, keamanan maritim, dan juga masalah keamanan global.
02:32Yang kelima adalah serangan Israel itu bukan tanpa risiko.
02:35Kalau sampai benar-benar Israel menyerang, Iran pun juga bisa merespon dengan kemampuan asimetriksnya.
02:39Baik rudal dan drone, serangan terhadap kepentingan regional security, disrupsi maritim, energi dan infrastruktur yang ada di kawasan timur tengah,
02:47jaringan proksi bermain lagi di operasi cyber.
02:50Dan risiko terbesar ini adalah escalation trend.
02:53Di mana artinya ada insiden yang terjadi, ada retaliasi dari Iran, ada kontra-retaliasi dari Gulf, country, country, country, Israel,
03:00dan Amerika.
03:00Ada eskalasi yang tidak terkontrol, ini yang disebut dengan escalation trend.
03:05Jadi ada lima indikator yang harus kita pantau nih Mbak ya.
03:07Pertama itu adalah level deployment.
03:09Yang kedua adalah postur angkatan udara.
03:12Yang ketiga adalah aktivitas intelijen.
03:14Yang keempat adalah postur militer Amerika.
03:17Dan yang kelima itu adalah trajektori diplomasi.
03:19Itu yang kita lihat, itu dulu dari saya.
03:20Berarti Mas Wibawa dengan kata lain, dengan lima poin yang Anda sampaikan ini, artinya adalah memang tidak secara terus terang
03:26-terangan ya Israel sedang menyerang Iran.
03:27Tetapi, hey, saya lagi memerhatikan Anda nih, meskipun di belakang, gitu.
03:32Ya, dan ini kan konteksnya harus kita lihat sebagai operasi join, join operations.
03:36Jadi bukan hanya kata laut berdiri sendiri.
03:38Dan ini perangnya bukan Navy to Navy, antara Navy-nya Israel dan Amerika.
03:42Tetapi ini Navy-nya Israel mempunyai kemampuan untuk melakukan join operations dengan kemampuan darat, laut, udara, cyber, space.
03:49Bukan hanya kemampuan Israel sendiri, tapi juga kekuatan darat, laut, udara, space, cyber-nya Amerika dan juga negara-negara, itu
03:55country council.
03:56Itu poinnya, Mbak.
03:57Jadi kita lihat indikator yang sangat penting.
03:59Apakah terjadi pengerahan yang tidak biasa dalam hal angkatan laut?
04:02Itu indikator yang pertama.
04:03Yang kedua, kita lihat juga apa terjadi kesiapan pesawat, tanker, fungsi-fungsi udara dalam hal intelligence, survey recognition, dan pertanganan
04:13udara.
04:14Aktivitas intelijennya, seperti signal intelligence, aktivitas satelit.
04:18Dan juga bagaimana postur militer Amerika?
04:20Apakah Amerika meningkatkan force protection atau memberikan hukum operasional?
04:24Nah, ini semua harus kita lihat dalam konteks upaya diplomasi yang dilakukan oleh semua pihak.
04:29Oke.
04:29Kalau gitu pertanyaan selanjutnya ke Mbak Cempaka.
04:31Apakah Iran kemudian juga sedang bersiap-siap ini keteteran atau ketakutan nggak di dengan tadi ya,
04:37pamernya kekuatannya maritim Israel saat ini?
04:40Meskipun belum terang-terangan ya menyerang.
04:43Tentu saya lihat memang ada satu ciri khas yang memang kenapa akhirnya Israel ini melakukan sebuah latihan,
04:50begitu ya Mbak ya, latihan maritim untuk penunjukan kekuatan tadi.
04:54Yang pertama adalah memang sejak Juli hingga Agustus ini,
04:58Amerika Serikat baik dengan Iran itu ya,
05:01belum melakukan serangan kebalasan ke Israel.
05:05Nah, ini konteks yang harus dilihat bahwa bagaimana yang dilakukan oleh Israel saat ini adalah pertama tadi strategic signaling,
05:12betul, tapi yang kita lihat lebih detail adalah Mbak,
05:15bagaimana Israel juga memilih misalnya bagaimana kapabilitas kapal-kapal selam dan rudal yang terintegrasi yang ingin ditunjukkan.
05:23Nah, ini khusus kepada Iran tadi menyambung pertanyaannya Mbak terkait dengan kemampuan Iran sendiri.
05:28Kita tahu bahwa ada pola terkait dengan serangan balasan yang presisi dan juga bagaimana program rudal,
05:36yang seringkali dilakukan saling balas-membalas pada periode Februari hingga Juni.
05:42Nah, ini yang saat ini tidak terjadi, belum terjadi antara Israel dan Iran.
05:46Namun, bukan berarti dalam konteks ini Israel tidak memiliki kekuatannya.
05:51Nah, dari konteks Iran sendiri, kita tahu bahwa bagaimana banyak report atau laporan
05:56yang menunjukkan bahwa memang kekuatan Iran masih terjaga dari konteks misil
06:01maupun dari konteks peperangan, konteks strategi asimetrisnya di Laut Hormuz, begitu.
06:07Nah, ini yang juga ditunjukkan mengapa posisi latihan yang dipilih oleh Israel adalah bukan di dekat Hormuz,
06:14tetapi lebih di dekat di Laut Merah, begitu.
06:16Karena kita lihat bagaimana saat ini yang memiliki kontrol terhadap Laut Merah adalah Huti,
06:21yang sering disebut sebagai proksi dari Iran sendiri.
06:24Nah, ini yang sebenarnya pemilihan-pemilihan yang tentu saja sangat logis
06:29jika dinyatakan bahwa ini adalah bentuk deterensi atau efek gentar
06:33yang ingin dicapai oleh Israel tanpa harus menyerang Iran, begitu.
06:37Dan yang ketiga yang tentu sangat menarik adalah bagaimana latihan militer yang dilakukan oleh Israel ini
06:42dilakukan secara terbuka dan diumumkan ke publik.
06:45Yang artinya memang ingin ada efek gentar, daya gentar yang ingin dicapai oleh Israel
06:51tanpa harus menyerang terlebih dahulu ke Iran.
06:54Kalau Israel sedang mencoba untuk pamer ya, tadi unjuk kekuatan militernya dan dipamerkan ke publik,
07:00tapi sementara satu sisi juga Presiden Trump kan sempat menyebut ada negosiasi dengan Iran.
07:04Pertanyaannya jangan-jangan, apakah ini memang beneran mau damai atau sebaliknya?
07:08Hanya sebagai jeda aja nih agar Amerika Serikat dan sekutu bisa menyiapkan diri untuk menyerang kembali lebih lanjut ke depannya.
07:14Ini usai jeda ya, Bapak Ibu tetap bersama kami di Kompas Petang.
07:17Melanjutkan pertanyaan saya sebelumnya Mas Wibawa, kalau Israel sedang pamer kekuatan.
07:23Sementara Presiden Trump ini kan sempat menyebut ya, kalau ada negosiasi dengan Iran.
07:27Pertanyaannya apakah benar kesepakatan damai ini semakin terang atau sebaliknya?
07:33Jangan-jangan ini sebagai strategi Amerika untuk jeda begitu agar Amerika Serikat dan sekutunya bisa menyiapkan diri untuk menyerang kembali,
07:40Iran.
07:41Ya, jadi melihatnya secara objektif ya, saya tuh melihat ada kombinasi dari tiga instrumen di sini.
07:46Pertama adalah instrumen deterrence ya, masing-masing menunjukkan deterrence-nya termasuk Israel dan Amerika.
07:51Deterrence dalam hal menunjukkan pesan secara denial, artinya jangan mengganggu kepentingan kami dan jangan melawan kami terlalu jauh.
07:58Dan juga deterrence dalam hal punishment, bisa sanggup mempanis jika Iran melangkat terlalu jauh gitu.
08:04Nah itu pesannya. Yang kedua adalah korsif diplomasi, upaya diplomasi terus dilaksanakan, Mbak.
08:08Tetapi tekanan militer tetap dilaksanakan.
08:11Yang ketiga adalah kesiapan militer yang ditunjukkan. Itu poinnya tuh.
08:14Tapi di sini ada paradoksnya. Paradoksnya apa?
08:17Semakin besar kekuatan militer yang dipamerkan untuk mencegah perang,
08:22sebenarnya semakin besar pula risiko bahwa lawan dalam hal ini Iran salah membaca sinyal tersebut.
08:28Akhirnya dianggap sebagai persiapan perang.
08:30Jadi intinya adalah bukan hanya apakah Israel tuh mampu menyerang Iran,
08:34apakah Amerika tuh mengambil waktu untuk jeda, tapi lebih kepada kemampuan itu ada.
08:40Bukti mereka untuk menyerang, berhenti, menyerang, berhenti juga ada.
08:43Jadi pertanyaan strategisnya yang kita harus awasi sekarang ini adalah
08:46apakah kapabilitas tersebut sudah berubah menjadi keputusan politik?
08:51Itu siapa yang bisa menerjemahkan arti-arti ini nih, Mas?
08:54Oke. Kita harus baca indikatornya, Mbak.
08:56Kita harus lihat ya.
08:57Jadi ini bukan hanya mengenai pergerakan kapal perang.
09:01Kita harus melihat juga pergerakan kekuatan udara dari Amerika dan Israel.
09:05Dan juga negara Gulf Country.
09:06Kita harus lihat aktivitas intelijensinya.
09:08Kita harus lihat aktivitas-aktivitas operasi cyber.
09:12Pergerakan logistik dan dukungan Amerika Serikat.
09:15Serta arah diplomasi itu.
09:16Jadi gabungan dari itu kita harus melihatnya secara jeli gitu.
09:20Nah, karena risiko terbesar-besar itu bukan kadar perang.
09:23Tapi akhirnya deteransi ini berubah jadi eskalasi gitu loh.
09:26Yang tadi saya bilang jebakan eskalasi.
09:29Itu poinnya.
09:29Oke. Kalau soal jebakan eskalasi, pertanyaan berikutnya.
09:32Ini perangnya makin terbuka lebar, makin panjang.
09:34Atau justru sebaliknya ini makin mengerucut.
09:38Akhirnya kesepakatan damai mungkin saja tercapai dalam waktu dekat.
09:41Mbak Cepakah?
09:42Kalau saya lihat memang untuk damai yang sifatnya lebih long lasting.
09:47Tentu masih harus berproses ya, Mbak.
09:49Tapi memang dalam konteks ini kita tahu periode Juli sampai Agustus ini
09:52tidak ada serangan ke Israel.
09:54Namun Israel tentu tidak ingin kepentingannya juga tidak terwadahi.
09:57Nah, ini hal yang dilakukan tekanan pada saat kita tahu saat ini
10:01ada negosiasi yang cukup intens terkait dengan substansi
10:04antara Qatar dan juga Oman dan juga Iran sendiri.
10:08Yang tentu saja kita sangat berharap ini keluar dengan sesuatu
10:11yang sifatnya substantif dan teknis terkait dengan selaturmu sendiri, Mbak.
10:16Nah, ini dalam hal ini menurut saya apakah akan melebar?
10:19Tentu kita lihat bagaimana apakah tadi.
10:21Apakah dinamika deterensi yang ingin disampaikan oleh Israel
10:25justru dibaca oleh jangan lupa Iran dan juga proksinya.
10:29Dan ini yang akan sulit sebagai undangan untuk mengeksalasi juga.
10:33Nah, ini kalau dibaca demikian maka tentu saja bukannya keperdamaian.
10:37Yang kita akan dapatkan justru malah akan mendapatkan eskalasi yang lebih besar.
10:41Makin lebar.
10:43Betul, Mbak.
10:44Oke, nah kalau begitu pertanyaannya kalau modam,
10:47ini kira-kira siapa sih pihak yang paling berperan saat ini?
10:51Mbak Cembaka?
10:52Ya, kalau dari saya melihat memang tentu saja dari Amerika Serikat dan juga Iran.
10:57Nah, tentu poin-poin namun kita tahu sumbat paling besarnya adalah terkait Selaturmuz.
11:03Dan saat ini negara seperti Oman dan juga Qatar telah membantu Qatar sendiri
11:07lebih spesifik bicara tentang pencairan dari dana beku,
11:13frozen asset yang dimiliki oleh Iran.
11:16Sedangkan dalam konteks Oman sendiri itu bicara tentang bagaimana
11:20apakah jalur selatan dan jalur utara yang selama ini masih juga menjadi sumbat
11:25dan masih menimbulkan akhirnya serangan dari pihak Iran
11:29maupun dari pihak balasan dari Amerika Serikat
11:31yang akhirnya menimbulkan double blokade ini
11:33bisa kembali menemukan jalan tengah
11:36dan salah satu statement yang dikeluarkan oleh pemerintah Amerika Serikat sendiri
11:39melihat bahkan kita tahu Trump menyatakan bahwa
11:41ya beberapa hari lagi akan terbuka begitu.
11:44Nah, optimisme ini sebenarnya dari hasil dari negosiasi
11:47yang sifatnya substantif tentu saja.
11:49Bukan hanya sifatnya diplomatis di atas kertas
11:52dan sebenarnya memang saling serang ini yang terjadi dari deterensi
11:55dan juga serangan yang dilakukan oleh penunjukan kekuatan dari Iran juga
11:59sebenarnya tentu saja untuk meningkatkan konsesi hasil dari negosiasi
12:04yang saat ini sedang dilakukan bersama dengan mediator dan juga interlocutor lain.
12:09Kalau Trump ini sempat menyatakan bahwa sebentar lagi negosiasi akan tercapai
12:14Mas Wibawanto, tapi kalau kita lihat kan memang Presiden Trump ini
12:18kadang bisa bilang A, besoknya bisa bilang B, tergantung ya
12:21tergantung dari moodnya Trump sendiri.
12:23Nah, kalau yang Anda baca sebenarnya memang ini benar-benar kesepakatannya
12:28memang benar-benar tercapai dalam waktu dekat
12:30atau justru sebaliknya bisa jadi masih jauh nih?
12:35Ya, jadi ini ada multivariate variable, Pak.
12:38Jadi saya sudah bilang tadi ada lima variable paling tidak.
12:41Jadi kalau indikator-indikator militer dan indikator-indikator politik
12:45yang terlima tadi itu berkirak secara simultan,
12:48probabilitas serangan itu akan meningkat secara signifikan
12:50dan bisa salah baca.
12:51Tadi saya jelaskan itu adalah apakah dalam hal naval deployment
12:55apakah memang terjadi pengerahan yang tidak biasa?
12:57Dan juga kita harus lihat Air Force posture-nya.
12:59Jadi jangan hanya apa yang disampaikan Presiden Trump,
13:01tapi kita lihat indikator-indikator ini gitu.
13:03Apakah peningkatan kesiapan pesawat tempur, tanker,
13:07intelligence, surveyor, recognition, dan juga pertanung udara.
13:09Dan aktivitas-aktivitas intelligence, satelit, surveyor, dan lain-lain.
13:14Dan juga peningkatan dari postur militer Amerika.
13:16Bagaimana Amerika itu memberikan komitmen terhadap
13:19namanya force protection,
13:21perlindungan pada force Amerika dan juga aliansi di sana gitu.
13:24Dan memberikan dukungan operasionalnya.
13:25Apakah benar begitu?
13:26Dan juga kita lihat trajektori dari diplomasinya.
13:29Tadi Baca Maka udah jelasin tuh.
13:31Mana yang esensial,
13:32mana yang hanya sifatnya diplomatic statement saja,
13:37dan mana pembicaraan-pembicaraan
13:39di dalam lapis intelijensi yang tidak kelihatan.
13:41Nah, khususnya mengenai Iran dan Hormuz ya.
13:44Yang merupakan pungkit utama lah sekarang ini.
13:49Nah, ini akan kita lihat nanti.
13:50Ini menuju breakthrough atau menuju collapse tuh.
13:53Itu poinnya.
13:54Nah, kita harus perhatikan day by day mbak.
13:56Itu poinnya dari variable-variable tadi.
13:58Kalau ini bergerak simultan,
14:00dan cepat secara bersamaan probabilitas serangan
14:03akan meningkat dan bisa salah baca oleh lawan.
14:06Nah, sebaliknya,
14:08jika ini memang hanya murni kursif diplomasi,
14:10di mana diplomasi itu disertai juga dengan tekanan militer,
14:13dan di dalam Iran sendiri juga ada perpecahan
14:16dalam arti-kata perspektif untuk menyelesaikan panggung ini,
14:19nah, ini kita bisa melihat ada posibilitas untuk breakthrough.
14:21Jadi, ini bisa saya katakan masih 50-50 mbak.
14:24Secara generalnya overall.
14:26Masih bisa lanjut,
14:27atau masih sebaliknya,
14:28masih bisa kesepakatan dalam artian adalah kata damai gitu.
14:32Kalau gitu, mbak Cempaka,
14:34apakah dengan tadi kan dibilang bahwa Amerika dan Iran lah
14:37yang paling memegang peranan penting
14:38kalau mau damai keduanya.
14:39Tapi, apakah ada pihak atau negara tentu yang
14:41jangan-jangan ya itu tadi harus menerjemahkan
14:44arti dari keinginan masing-masing negara
14:46supaya kesepakatan itu bukan hanya 50-50,
14:48tapi memang semakin dekat terrealisasi?
14:52Betul.
14:52Tentu saja memang yang paling berharap
14:55perang ini segera berakhir adalah negara-negara teluk ya, mbak ya.
14:58Karena memang negara-negara teluk ini
14:59salah satu informasi yang menyebutkan bahwa
15:03data menyebutkan bahwa
15:04impor yang dilakukan oleh Amerika Serikat
15:07terhadap minyak Saudi Arabia ini
15:10hampir mendekati nilai terendah
15:12selama beberapa puluh tahun.
15:14Yang artinya memang
15:17ketergantungan pelayaran
15:19dan juga distribusi terkait energi ini
15:21sangat tergantung dengan
15:22slat hormus ini,
15:23mau diakui atau tidak.
15:25Dan dalam konteks ini,
15:26negara-negara itulah,
15:27tadi saya sampaikan,
15:28seperti Qatar dan juga Oman
15:29dan juga Saudi Arabia
15:31kita lihat menjadi pihak
15:32yang memang saat ini
15:33sangat punya kepentingan
15:34agar perang ini segera berakhir.
15:36Baik dalam konteks yang sifatnya permanen
15:39atau gejatan senjata
15:39yang sifatnya lebih long lasting, mbak.
15:42Kalau untuk Rusia dan juga Tiongkok
15:45gimana, mbak Cempakah?
15:48Betul.
15:48Kalau kita lihat memang ada statement begitu ya.
15:50Kita lihat perbedaannya dari versi Februari hingga Juni
15:53adalah statement yang dikeluarkan oleh Rusia
15:56dan Tiongkok ini lebih sering, mbak.
15:58Dan lebih sangat besil.
15:59Misalnya seperti statement terkait dengan hormus gitu ya.
16:02Sebelumnya kita tahu
16:03statement yang dikeluarkan oleh Tiongkok dan Rusia
16:07atau Tiongkok ya, lebih banyak
16:09itu sifatnya strategic ambiguity.
16:11Artinya ambiguitas yang sifatnya strategis.
16:13Memang tidak ingin terlibat lebih jauh,
16:16tidak ingin terlihat terlalu mendukung Iran
16:18dan lain sebagainya.
16:18Tetapi saat ini statement yang dikeluarkan oleh Tiongkok
16:21lebih sangat spesifik tergantung
16:23tadi yang disampaikan oleh Mas Wibawanto
16:26yaitu day by day development.
16:28Nah ini perubahan yang berbeda begitu.
16:30Kenapa?
16:30Karena memang saya lihat strategic interest
16:33atau kepentingan nasional negara-negara ini
16:35sudah mulai terganggu oleh secara ekonomi
16:37maupun stabilitas politik begitu.
16:39Sehingga statement tadi sepertinya memang perlu
16:41begitu ya dikeluarkan oleh Tiongkok begitu ya.
16:44Sedangkan kalau Rusia sendiri kita lihat
16:45bagaimana salah satu kapal yang terlibat
16:49atau terafiliasi dengan Ukraina
16:50juga mendapatkan terlibat insiden
16:55beberapa waktu yang lalu begitu ya dengan Iran.
16:57Nah ini melihat bagaimana direction terhadap
17:00trajectory terhadap Rusia dan ini semakin
17:03kepat ya mbak ya.
17:06Oke yang pasti tadi dikatakan bahwa
17:08negara-negara lain di luar Amerika dan juga Iran
17:11sudah mulai terganggu ya dengan perang yang terus berlanjut
17:13antara Amerika Serikat dan juga Iran.
17:16Satu sisi juga sekarang Israel sedang pamer kekuatan.
17:19Apa maknanya tadi kita sudah bahas bersama-sama.
17:21Terima kasih.
17:22Kalau gitu Mas Wibawanto, Mbak Cempaka.
17:24Selamat sore Mbak Badan Ibu.
Komentar

Dianjurkan