Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Luhut Binsar Pandjaitan menyampaikan pidatonya di peluncuran buku Menteri ESDM Bahlil Lahadalia pada Jumat (7/8/2026).

Dalam kesempatan itu, Luhut mengaku kaget Bahlil bisa menulis hampir 400 halaman sambil menjabat sebagai Menteri.

"Pak Bahlil telah menulis hampir 400 halaman. Saya kaget juga lihat jumlahnya bapak presiden sambil tetap menjabat menteri. Saya membacanya perlu beberapa malam. Jadi saya sampai curiga Pak Bahlil ini tidurnya kapan gitu," ujar Luhut.

Dalam kesempatan itu, Luhut juga mengatakan jarang ada Presiden RI menghadiri peluncuran buku dari anak buahnya. [TIMECODE: 06:49]

Produser: Theo Reza

#prabowo #bahlil #buku #breakingnews

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/684604/full-sambutan-luhut-di-peluncuran-buku-bahlil-jarang-sekali-ada-presiden-ri-hadir
Transkrip
00:19Terima kasih, Pak.
00:30Saya hormati juga Bapak Sufmi Dasko Ahmad, Wakil Ketua DPR RI, yang saya hormati para Menteri Kabinet Merah Putih dan
00:37para hadirin yang berbahagia.
00:41Secara khusus, Bapak Presiden, saya tujukan sambutan saya khusus pada saudara saya, Bapak Bahlil Lahadalia, beserta istri dan keluarga.
00:52Nah, hari ini Pak Bahlil hari bahagia buat Anda, 50 tahun bukan umur yang muda tapi juga belum tua.
01:05Dan saya diminta oleh Pak Bahlil untuk beri sambutan singkat 5 menit, hadirin tahu sendiri kalau saya dan Pak Bahlil
01:15sudah bicara suatu realistasi, lama.
01:195 menit itu baru pemanasan, tapi baiklah hari ini saya disiplin dengan waktu.
01:24Pertama, selamat ulang tahun lagi untuk kelima puluh Pak Bahlil, setengah abad.
01:31Begini orang lain biasanya mulai pelan-pelan.
01:36Pak Bahlil telah menulis hampir 400 halaman.
01:39Saya kaget juga melihat jumlahnya, Bapak Presiden, sambil tetap menjawabkan Menteri.
01:45Saya membacanya perlu beberapa malam, jadi saya sampai curiga, Pak Bahlil ini tidurnya kapan, gitu.
01:54Jadi memang begitulah yang saya kenal mengenai Pak Bahlil, orang yang kerja keras.
01:59Energinya Pak Presiden seperti smelter, jalan 24 jam tidak boleh berhenti, kalau berhenti harganya mahal.
02:12Bapak, Ibu sekalian yang kami hormati, yang membuat buku ini otentik adalah penulisnya.
02:18Pak Bahlil lahir di bandar besar di Seram Timur.
02:23Ayahnya seorang puli bangunan, ibunya buruh cuci, anak dulu yang berdiri di atas tanah yang kaya tetap pulang dengan tangan
02:34kosong.
02:36Hari ini menulis buku tentang bagaimana anak-anak seperti dia tidak boleh lagi menjadi penonton di negerinya sendiri.
02:45Ini bukan cerita, ini motivasi dari panggung seminar.
02:51Itu hidupnya sendiri, dan menurut saya disitulah sebenarnya bobot dari buku ini.
02:58Saya masih ingat masa-masa awal larangan ekspor biji nikel, kami dicibir, kami ditekan dari berbagai arah, kami digugat sampai
03:09ke WTO,
03:11dan banyak yang bilang Indonesia tidak akan sanggup.
03:13Ada yang mentertawakan, namun sekarang saya kira Pak Bahlil tegap berdiri mengatakan kami bisa.
03:27Sebagian yang dulu mau mentertawakan itu justru sekarang antri minta bertemu dengan Pak Bahlil.
03:34Mau ikut investasi.
03:36Saya tidak sebut nama, nanti acara bedah buku ini berubah jadi bedah yang lain.
03:43Hasilnya kita bisa lihat dengan angka, bukan retorika, ekspor produk nikel dan turunnya melonjak berlipat ganda.
03:51Merowali dan halam hera tengah yang dulu jaris tidak tercatat dalam peta ekonomi nasional,
03:57sekarang tumbuh dua digit, yang menjadi bagian dari rantok pasar industri dunia.
04:02Tetapi hadirin sekalian, dan ini yang saya ingin saya garis bawahi dengan serius,
04:09nilai terpenting buku ini bukan pada cerita keberhasilannya,
04:13namun nilai-nilai terpentingnya adalah keberaniannya yang jujur dan tidak pernah menyerah.
04:19Banyak pejabat menulis buku yang isinya foto-foto, peresmian semua sana-sini.
04:25Buku ini berbeda, Pak Bahlil menulis sendiri dengan data, data yang sangat kaya.
04:32Bahwa pekerjaannya belum selesai tentunya.
04:35Bagian untuk daerah penghasil belum adil.
04:39Pengusaha lokal masih banyak yang menjadi penonton di rumahnya sendiri.
04:42Ada persoalan lingkungan, ada persoalan setelah pantai kerja yang menerut nyawa dan
04:47ini ditulis oleh Pak Bahlil secara terbuka.
04:51Mengkritik orang lain itu gampang.
04:54Mengkritik pekerjaan sendiri di buku yang dicetak atas nama sendiri, itu yang jarang terjadi.
05:01Untuk itu, Pak Bahlil, saya angkat topi pada Anda.
05:04Benar-benar saya bangga melihat Anda karena berani menuliskan apa adanya.
05:09Saya percaya satu hal, sebuah bangsa hanya bisa memperbaiki apa yang berani yakui.
05:15Maka agenda ke depan sudah jelas dan buku ini menulisnya lengkap.
05:19Manfaat hilirisasi harus lebih adil bagi daerah dan masyarakat sekitar industri.
05:24Pengusaha nasional dan pengusaha daerah harus naik tuas dalam rantai menilai.
05:30Teknologi harus dikuasai anak bangsa yang standar lingkungan serta keselamatan tidak bisa ditawar.
05:35Pasar dunia selakin menuntut pasok yang bersih.
05:38Jadi ini bukan lagi pilihan, ini syarat daya saing.
05:42Pak Bahlil yang saya hormati dan banggakan, Anda sudah menulis pekerjaan rumahnya.
05:46Enam poin, rapi sekali.
05:49Sekarang tinggal masalahnya yang menulis PR, biasanya yang disuruh mengerjakan.
05:55Jadi jangan lari kemana-mana, Pak.
05:57Dan para pemberdah nanti, jangan sungkan kritik saja.
06:02Gagasan yang baik justru semakin kuat kokoh kalau diuji secara terbuka.
06:07Dan saya yakin Pak Bahlil cukup angguh untuk itu.
06:11WTOA saja bisa dilewatin, apalagi ini.
06:13Pak Bahlil yang saya hormati, 50 tahun pertama Anda pakai untuk membuktikan
06:19bahwa anak dari timur bisa duduk di ruang keputusan negara.
06:2350 tahun berikutnya atau setidaknya sisa masa jabatannya.
06:28Pakai untuk memastikan janji dalam buku ini ditepati.
06:32Rakyat di sekitar pabrik ikut sejahtera.
06:34Indonesia benar-benar menjadi tuan di negeri sendiri.
06:38Selamat Pak Bahlil atas peluncuran bukunya.
06:40Selamat ulang tahun, selamat berdiskusi,
06:45dan selamat juga menikmati yang jarang sekali ada Presiden Republik Indonesia, Pak,
06:50sampai menghadiri pembeda buku dari seorang anak buahnya.
06:54Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
06:57Terima kasih.
Komentar

Dianjurkan