00:19Terima kasih, Pak.
00:30Saya hormati juga Bapak Sufmi Dasko Ahmad, Wakil Ketua DPR RI, yang saya hormati para Menteri Kabinet Merah Putih dan
00:37para hadirin yang berbahagia.
00:41Secara khusus, Bapak Presiden, saya tujukan sambutan saya khusus pada saudara saya, Bapak Bahlil Lahadalia, beserta istri dan keluarga.
00:52Nah, hari ini Pak Bahlil hari bahagia buat Anda, 50 tahun bukan umur yang muda tapi juga belum tua.
01:05Dan saya diminta oleh Pak Bahlil untuk beri sambutan singkat 5 menit, hadirin tahu sendiri kalau saya dan Pak Bahlil
01:15sudah bicara suatu realistasi, lama.
01:195 menit itu baru pemanasan, tapi baiklah hari ini saya disiplin dengan waktu.
01:24Pertama, selamat ulang tahun lagi untuk kelima puluh Pak Bahlil, setengah abad.
01:31Begini orang lain biasanya mulai pelan-pelan.
01:36Pak Bahlil telah menulis hampir 400 halaman.
01:39Saya kaget juga melihat jumlahnya, Bapak Presiden, sambil tetap menjawabkan Menteri.
01:45Saya membacanya perlu beberapa malam, jadi saya sampai curiga, Pak Bahlil ini tidurnya kapan, gitu.
01:54Jadi memang begitulah yang saya kenal mengenai Pak Bahlil, orang yang kerja keras.
01:59Energinya Pak Presiden seperti smelter, jalan 24 jam tidak boleh berhenti, kalau berhenti harganya mahal.
02:12Bapak, Ibu sekalian yang kami hormati, yang membuat buku ini otentik adalah penulisnya.
02:18Pak Bahlil lahir di bandar besar di Seram Timur.
02:23Ayahnya seorang puli bangunan, ibunya buruh cuci, anak dulu yang berdiri di atas tanah yang kaya tetap pulang dengan tangan
02:34kosong.
02:36Hari ini menulis buku tentang bagaimana anak-anak seperti dia tidak boleh lagi menjadi penonton di negerinya sendiri.
02:45Ini bukan cerita, ini motivasi dari panggung seminar.
02:51Itu hidupnya sendiri, dan menurut saya disitulah sebenarnya bobot dari buku ini.
02:58Saya masih ingat masa-masa awal larangan ekspor biji nikel, kami dicibir, kami ditekan dari berbagai arah, kami digugat sampai
03:09ke WTO,
03:11dan banyak yang bilang Indonesia tidak akan sanggup.
03:13Ada yang mentertawakan, namun sekarang saya kira Pak Bahlil tegap berdiri mengatakan kami bisa.
03:27Sebagian yang dulu mau mentertawakan itu justru sekarang antri minta bertemu dengan Pak Bahlil.
03:34Mau ikut investasi.
03:36Saya tidak sebut nama, nanti acara bedah buku ini berubah jadi bedah yang lain.
03:43Hasilnya kita bisa lihat dengan angka, bukan retorika, ekspor produk nikel dan turunnya melonjak berlipat ganda.
03:51Merowali dan halam hera tengah yang dulu jaris tidak tercatat dalam peta ekonomi nasional,
03:57sekarang tumbuh dua digit, yang menjadi bagian dari rantok pasar industri dunia.
04:02Tetapi hadirin sekalian, dan ini yang saya ingin saya garis bawahi dengan serius,
04:09nilai terpenting buku ini bukan pada cerita keberhasilannya,
04:13namun nilai-nilai terpentingnya adalah keberaniannya yang jujur dan tidak pernah menyerah.
04:19Banyak pejabat menulis buku yang isinya foto-foto, peresmian semua sana-sini.
04:25Buku ini berbeda, Pak Bahlil menulis sendiri dengan data, data yang sangat kaya.
04:32Bahwa pekerjaannya belum selesai tentunya.
04:35Bagian untuk daerah penghasil belum adil.
04:39Pengusaha lokal masih banyak yang menjadi penonton di rumahnya sendiri.
04:42Ada persoalan lingkungan, ada persoalan setelah pantai kerja yang menerut nyawa dan
04:47ini ditulis oleh Pak Bahlil secara terbuka.
04:51Mengkritik orang lain itu gampang.
04:54Mengkritik pekerjaan sendiri di buku yang dicetak atas nama sendiri, itu yang jarang terjadi.
05:01Untuk itu, Pak Bahlil, saya angkat topi pada Anda.
05:04Benar-benar saya bangga melihat Anda karena berani menuliskan apa adanya.
05:09Saya percaya satu hal, sebuah bangsa hanya bisa memperbaiki apa yang berani yakui.
05:15Maka agenda ke depan sudah jelas dan buku ini menulisnya lengkap.
05:19Manfaat hilirisasi harus lebih adil bagi daerah dan masyarakat sekitar industri.
05:24Pengusaha nasional dan pengusaha daerah harus naik tuas dalam rantai menilai.
05:30Teknologi harus dikuasai anak bangsa yang standar lingkungan serta keselamatan tidak bisa ditawar.
05:35Pasar dunia selakin menuntut pasok yang bersih.
05:38Jadi ini bukan lagi pilihan, ini syarat daya saing.
05:42Pak Bahlil yang saya hormati dan banggakan, Anda sudah menulis pekerjaan rumahnya.
05:46Enam poin, rapi sekali.
05:49Sekarang tinggal masalahnya yang menulis PR, biasanya yang disuruh mengerjakan.
05:55Jadi jangan lari kemana-mana, Pak.
05:57Dan para pemberdah nanti, jangan sungkan kritik saja.
06:02Gagasan yang baik justru semakin kuat kokoh kalau diuji secara terbuka.
06:07Dan saya yakin Pak Bahlil cukup angguh untuk itu.
06:11WTOA saja bisa dilewatin, apalagi ini.
06:13Pak Bahlil yang saya hormati, 50 tahun pertama Anda pakai untuk membuktikan
06:19bahwa anak dari timur bisa duduk di ruang keputusan negara.
06:2350 tahun berikutnya atau setidaknya sisa masa jabatannya.
06:28Pakai untuk memastikan janji dalam buku ini ditepati.
06:32Rakyat di sekitar pabrik ikut sejahtera.
06:34Indonesia benar-benar menjadi tuan di negeri sendiri.
06:38Selamat Pak Bahlil atas peluncuran bukunya.
06:40Selamat ulang tahun, selamat berdiskusi,
06:45dan selamat juga menikmati yang jarang sekali ada Presiden Republik Indonesia, Pak,
06:50sampai menghadiri pembeda buku dari seorang anak buahnya.
06:54Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
06:57Terima kasih.
Komentar