Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 2 hari yang lalu
JAKARTA, KOMPAS.TV - Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa gaya kepemimpinannya selalu berlandaskan fakta, realitas, dan kondisi yang sebenarnya.

Dalam arahannya kepada para peneliti BRIN di Istana Negara, Prabowo mengatakan pemimpin harus berani menghadapi kenyataan, meskipun fakta yang dihadapi terkadang tidak menyenangkan.

Sebagai contoh, Prabowo menyinggung Timnas Indonesia yang hingga kini belum berhasil lolos ke Piala Dunia, meski Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia.

Baca Juga Jangan Takut! Prabowo Bicara Indonesia Butuh Orang-Orang Pintar, Saintis untuk Kemajuan Bangsa di https://www.kompas.tv/video/684329/jangan-takut-prabowo-bicara-indonesia-butuh-orang-orang-pintar-saintis-untuk-kemajuan-bangsa

Menurutnya, kondisi tersebut harus menjadi bahan introspeksi untuk mencari penyebab, belajar dari negara lain, dan melakukan perbaikan, bukan mengeluh atau mencari kambing hitam.

Presiden juga menekankan bahwa kemajuan bangsa hanya dapat dicapai melalui pendekatan yang rasional, berbasis sains, teknologi, dan pengembangan sumber daya manusia unggul.

Produser: Prayogi Haro

Editor: Novaltri

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/video/684330/prabowo-saya-memimpin-berdasarkan-fakta-singgung-timnas-indonesia-belum-lolos-piala-dunia
Transkrip
00:00Saya terutama mengajak tim saya dan saudara-saudara sekalian kalau saya memimpin,
00:12saya sukanya itu memimpin dengan fakta, facts, realita, dengan keadaan yang sebenarnya.
00:30Kadang-kadang fakta itu ya tidak enak. Kadang-kadang melihat realita itu tidak enak. Terus senang saja.
00:48Contoh yang kecil saja, kita negara jumlah penduduk keempat terbesar di dunia.
00:59300, ya hampir 300 juta ya. 287 juta. Tapi saya sangat sedih. Terus senang saja.
01:09Masalah sepak bola saja. Kita tidak mampu masuk piala dunia.
01:18Ini fakta yang tidak enak.
01:24Masa negara kecil seperti Cape Verde?
01:31Cape Verde masuk? Saya tidak tahu itu.
01:35Mungkin jumlah penduduknya dengan kabupaten Sumedang mungkin lebih banyak Sumedang.
01:45Ya, Cape Verde, apa lagi ya. Banyak negara-negara kecil yang masuk ke situ.
01:53Ini harus kita introspeksi. Kita harus lihat.
01:59And tidak gunanya kita mengeluh.
02:03Menurut saya, ini saya ambil contoh sepak bola.
02:08Tapi nanti saya bisa ambil contoh banyak sekali, ya kan?
02:12Tapi ini contoh sepak bola saja.
02:14Kalau sepak bola, tidak ada yang tersinggung di antara kalian, kan?
02:18Benar tidak? Ya kan?
02:20Mungkin yang tersinggung...
02:24Menpora, mungkin.
02:26Tapi beliau juga baru main ponanya.
02:31Atau enggak? Beliau kan sudah PSAC juga lumayan.
02:34Tapi beliau sudah berjuang luar biasa.
02:37Dan kita hampir masuk kemarin, ya.
02:41Hampir masuk.
02:45Mungkin strateginya harus lebih pintar, kita.
02:48Maksud saya begini.
02:53Lihat fakta itu.
02:55Negara sebesar kita.
03:01Tidak bisa ikut piala dunia.
03:06Satu yang saya bilang, jangan mengeluh.
03:10Jangan mencari kambing hitam.
03:13Jangan...
03:14Karena itu tidak akan membantu.
03:16Nah sekarang, belajar.
03:18Bagaimana?
03:20Kenapa kok bisa?
03:25Negara itu masuk, umpamanya?
03:28Ya kan?
03:29Kenapa?
03:31Apa yang dilakukan?
03:32Pelatihnya dari mana?
03:34Guru-gurunya dari mana?
03:38Jadi...
03:38500 ribu.
03:41Ya benar.
03:41Sumber dang lebih banyak.
03:45Bogor apalagi?
03:47Oh.
03:47Oh enggak.
03:48Ya.
03:49Sumber dang lebih banyak dari...
03:51Cape Verde.
03:56Jadi kita cari penyebabnya apa.
04:02Baru kita berani berbuat.
04:06Sains dan teknologi.
04:10Kita butuh orang-orang pintar.
04:15Banyak orang pintar.
04:18Saya ingat...
04:20Profesor Habibie...
04:23Mengatakan, oke...
04:25Kita enggak usah takut.
04:26Satu persen saja orang pintar di Indonesia.
04:31Satu persen saja.
04:33Itu hampir tiga juta orang.
04:36Ya.
04:39Jadi...
Komentar

Dianjurkan