Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 2 hari yang lalu
JAKARTA, KOMPAS.TV - Presiden Prabowo Subianto mengungkap alasan mengundang para peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) ke Istana Negara.

Menurut Prabowo, pertemuan tersebut bertujuan untuk melihat secara langsung capaian riset BRIN sekaligus memperoleh gambaran mengenai perkembangan penelitian yang telah dilakukan.

Baca Juga FULL! Menko Polkam Bicara Soal Hoaks, Mal Dipagar, Demonstrasi hingga Konflik Sosial di Papua di https://www.kompas.tv/video/684042/full-menko-polkam-bicara-soal-hoaks-mal-dipagar-demonstrasi-hingga-konflik-sosial-di-papua

Dalam arahannya, Prabowo menegaskan bahwa penguasaan sains dan teknologi merupakan kunci kemajuan sebuah bangsa.

Ia juga menyatakan pemerintah akan terus mendorong kebijakan yang berbasis fakta, data, dan pendekatan ilmiah, serta berharap dapat mengunjungi langsung kampus dan fasilitas riset BRIN untuk melihat aktivitas para peneliti.

Produser: Prayogi Haro

Editor: Novaltri

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/video/684328/prabowo-ungkap-alasan-undang-peneliti-brin-ke-istana-lihat-hasil-riset-perkuat-sains-indonesia
Transkrip
00:00Dalam keadaan yang baik.
00:05Sudah-sudah sekalian, saya sengaja mengundang ke istana karena saya ingin melihat.
00:17Saya mungkin pertama kali tidak terlalu detail dan tidak terlalu komprehensif, tapi untuk mendapat gambaran hasil-hasil yang saudara-saudara
00:35telah capek di BRIN.
00:41Terima kasih saudara datang ke istana dan saya berharap mungkin saya juga bisa datang menengok kampus-kampus saudara.
01:01Saya pernah datang pada saat dulu, ada kampus Lipi kalau tidak salah ya, di Cibinong kalau tidak salah ya, dan
01:19di beberapa tempat.
01:21Memang saudara-saudara kita mengerti semua bahwa pembangunan suatu bangsa itu ditentukan oleh apakah bangsa itu mampu menguasai sains dan
01:43teknologi atau tidak.
01:44Jadi, bangsa yang mampu menguasai sains dan teknologi, bangsa itu akan maju dengan pesat.
02:00Kuncinya adalah sains dan teknologi.
02:04Ini adalah fakta dan kenyataan.
02:15Dari penguasaan sains dan teknologi tentunya masalah pendidikan itu adalah fondasi landasan yang paling-paling kritikal.
02:34Paling kritis.
02:41Dan marilah kita, saya terutama mengajak tim saya dan saudara-saudara sekalian kalau saya memimpin, saya sukanya itu memimpin dengan
03:00fakta.
03:04Fakta, fakta, realita dengan keadaan yang sebenarnya.
03:14Kadang-kadang, fakta itu ya tidak enak.
03:23Kadang-kadang melihat realita itu tidak enak.
03:29Terus senang saja.
03:33Contoh yang kecil saja.
03:36Kita negara jumlah penduduk keempat terbesar di dunia.
03:43300, ya hampir 300 juta ya.
03:48287 juta.
03:51Tapi saya sangat sedih, terus senang saja.
03:55Masalah sepak bola saja.
03:58Kita tidak mampu masuk piala dunia.
04:03Ini fakta yang tidak enak.
04:09Masalah negara kecil seperti Cape Verde, ya.
04:16Cape Verde masuk, saya tidak tahu itu.
04:19Mungkin jumlah penduduknya dengan kabupaten Sumedang mungkin lebih banyak.
04:28Sumedang mungkin.
04:31Ya, Cape Verde, apalagi ya.
04:35Banyak negara-negara kecil yang masuk ke situ.
04:38Ini harus kita introspeksi.
04:41Kita harus lihat.
04:44Dan tidak gunanya kita mengeluh.
04:48Menurut saya.
04:50Ini saya ambil contoh sepak bola.
04:53Tapi nanti saya bisa ambil contoh banyak sekali, ya kan.
04:57Tapi ini contoh sepak bola saja.
04:59Kalau sepak bola, enggak ada yang tersinggung di antara kalian, kan.
05:03Benar enggak, ya kan.
05:05Mungkin yang tersinggung menpora.
05:11Tapi beliau juga baru menpora-nya.
05:16Atau enggak, beliau kan sudah PSAC juga lumayan.
05:19Tapi beliau sudah berjuang luar biasa.
05:22Dan kita hampir masuk kemarin, ya.
05:26Hampir masuk.
05:30Mungkin strateginya harus lebih pintar, kita.
05:33Maksud saya begini.
05:37Lihat fakta itu.
05:40Negara sebesar kita.
05:46Tidak bisa ikut piala dunia.
05:51Satu yang saya bilang, jangan mengeluh.
05:55Jangan mencari kambing hitam.
05:58Jangan.
05:58Karena itu tidak akan membantu.
06:01Nah sekarang, belajar.
06:03Bagaimana?
06:05Kenapa kok bisa?
06:10Negara itu masuk, umpamanya.
06:13Ya kan?
06:14Kenapa?
06:16Apa yang dilakukan?
06:17Pelatihnya dari mana?
06:19Guru-gurunya dari mana?
06:21Jadi
06:24500 ribu.
06:26Ya benar.
06:26Sumber dang lebih banyak.
06:29Bogor apalagi?
06:31Oh.
06:32Oh enggak.
06:33Ya.
06:34Sumber dang lebih banyak dari
06:35Cape Verde.
06:41Jadi kita
06:42cari
06:45penyebabnya apa.
06:47Baru kita berani berbuat.
06:52Sains dan Teknologi.
06:56Kita butuh
06:57orang-orang pintar.
07:00Banyak orang pintar.
07:03Saya ingat
07:06Profesor Habibie
07:08mengatakan,
07:09oke
07:09kita enggak usah takut.
07:12Satu persen saja
07:13orang pintar di Indonesia.
07:16Satu persen saja
07:17itu hampir
07:19tiga juta orang.
07:23Jadi
07:27kita sebetulnya
07:29bahan bakunya
07:31banyak sekali.
07:33Tapi
07:34ya
07:36apapun yang kita punya
07:38harus
07:39saudara-saudara
07:41saintis kan
07:41harus di
07:47dicari,
07:50dicari,
07:51dibina,
07:53diberi kesempatan,
07:55dibesarkan,
07:58didukung
07:59melalui suatu proses.
08:06jadi
08:09pendekatan
08:10kita
08:10terhadap
08:11kebangkitan
08:12suatu bangsa.
08:14Kebangkitan
08:15suatu bangsa
08:16kita
08:16cita-cita
08:17semua
08:18pendiri
08:19bangsa kita
08:20termasuk
08:21cita-cita kita
08:21semua
08:22bagaimana
08:23suatu negara
08:24di mana
08:26tidak ada
08:28kemiskinan.
08:31bagaimana
08:32suatu negara
08:33tidak ada
08:35ketidakadilan.
08:41Nah,
08:42kalau kita
08:43mendekati
08:44dengan cara
08:45saintifik,
08:47cara
08:48rasional,
08:49jangan dengan
08:50cara
08:52lain
08:53daripada
08:54rasional.
08:56Nanti
08:57kita
08:57akan
08:59keliru,
09:01rasional,
09:03sains.
09:04biasa
09:042
09:04beri
09:05beri
09:05beri
Komentar

Dianjurkan