00:09Intro
00:20Saudara BPS mencatat jumlah pengangguran pada Mei 2026 menurun jika dibandingkan Februari 2026.
00:27Tingkat pengangguran terbuka sebesar 4,65% turun dibandingkan Februari yang berada di angka 4,68%.
00:34Pada Mei 2026 jumlah angkatan kerja mencapai 155,41 juta orang.
00:41Dari jumlah itu sebanyak 148,19 juta orang bekerja dan 7,22 juta menganggur.
00:49Dibanding Februari 2026 jumlah penduduk bekerja bertambah 522 ribu orang.
00:56Sedangkan jumlah pengangguran berkurang 24 ribu orang.
01:04Kemudian dari angkatan kerja tersebut sebanyak 148,19 juta orang diantaranya bekerja.
01:17Jumlah penduduk yang bekerja ini bertambah sebanyak 522 ribu orang dibandingkan kondisi di bulan Februari 2026.
01:31Di sisi lain, angkatan kerja yang tidak terserap oleh pasar kerja menjadi pengangguran yaitu sebanyak 7,22 juta orang
01:44atau turun sekitar 24 ribu orang dibandingkan bulan Februari tahun 2026.
01:56Ya saudara, BPS mencatat angka pengangguran turun per Mei 2026.
02:02Meski demikian, akhir-akhir ini angka pemutusan hubungan kerja justru meningkat.
02:07Apakah saat ini Indonesia tengah mengalami fenomena jobless growth?
02:11Kita bahas bersama Zikri Firman Syahakam, ekonom sekaligus dosen sekolah bisnis dan manajemen dari ITB.
02:17Selamat pagi, Mas Zikri.
02:19Selamat pagi, Mas. Sehat ya?
02:22Alhamdulillah sehat. Mas Zikri, kalau kita lihat dari evaluasi kualitas pertumbuhan,
02:28memang secara teori pertumbuhan ataupun ekonomi tumbuh di 5,29 persen di kuartal 2 ini.
02:34Idealnya didorong oleh produktivitas industri.
02:37Namun di lapangan ini justru apakah angka ini murni penyerapan investasi real
02:42atau karena dampak belanja musiman menurut Anda?
02:47Ya, untuk ini ya, kalau kita bedah dari sisi pengeluaran,
02:53memang pertumbuhan 5,29 persen ini ya cukup menarik.
02:58Karena komponen terbesar kalau kita cek itu tetap konsumsi rumah tangga.
03:02Jadi konsumsi tumbuh 5,06 persen ya kalau kita cek.
03:06Dan ini menyumbang 2,67 poin.
03:08Tadi sudah di breakdown juga.
03:10Kontribusinya kalau kita lihat memang sedikit lebih rendah dari kuartal pertama 2026.
03:14Tapi memang ini sedikit lebih tinggi dari dibandingkan kuartal kedua 2025.
03:19Jadi kalau masalah musiman, kita kan selalu membandingkan pertumbuhan ekonomi itu year on year ya.
03:24Jadi memang musiman itu sudah terbaca juga.
03:26Jadi kalau saya cek memang konsumsi itu masih jadi mesin utama.
03:29Tapi memang kita nggak lagi mengalami akselerasi yang luar biasa juga.
03:33Nah kalau tadi di-mention tentang investasi atau PMTB gitu ya, itu tumbuh 6,87 persen.
03:39Dan menariknya, ini justru yang sekarang lumayan ekspansif.
03:42Jadi 2,06 poin.
03:43Nah dibandingkan di mana ekspansifnya dibandingkan misalnya kuartal pertama 2026.
03:48Itu kan kontribusinya hanya 1,79 poin.
03:50Jadi ada hampir lebih dari 0,2 poin kan masuk ke sana kan.
03:54Nah ini, tapi kurang lebih sama memang dibandingkan kuartal kedua 2025.
03:58Nah ini kalau saya lihat memang ada ekspansi di investasi real dibandingkan kuartal sebelumnya.
04:03Tapi ini kan bukan semata stimulus ekonomi.
04:05Nah ini kalau kita cek ya masih sebelumnya itu kan kuartal 1 ada kritik bahwa konsumsi pemerintah yang menggenjot pertumbuhan
04:13ekonomi.
04:13Kita cek kalau di kuartal 2 ini, memang kontribusinya lumayan masih tetap lumayan besar.
04:17Tapi tidak sebesar di kuartal 1.
04:19Ada di sekitar 15,9 persen.
04:21Dan kemudian kontribusinya pun tidak sebesar sebelumnya juga.
04:24Hanya di 1,07 poin.
04:25Jadi memang ada dorongan pemerintah masih kuat, tetapi ya masih relatif lebih kecil.
04:31Nah itu kalau kita lihat perlu diapresiasi atau tidak di tengah gonjang-ganjing kemarin ya penurunan peringkat dari MSCI, dari
04:40Moody's, dan seterusnya.
04:41Kemudian oil price di Timur Tengah ya kita melihat ini above expectation.
04:45Dan kalau kita cek kan asumsi-asumsi prediksi dari lembaga-lembaga pun ini kan above expectation.
04:50Seperti itu.
04:51Oke, kalau kita bandingkan dengan ini kan secara year on year ya.
04:54Kalau kita lihat di kuartal pertama tahun ini adalah 5,61.
04:58Tapi baseline-nya tidak setinggi di baseline pada kuartal ini kalau dibandingkan secara tahunan.
05:04Apakah itu berpengaruh baseline ini, Pak Zikri?
05:08Ya kalau kita membandingkan angka ya kita memang harus relatif.
05:14Jadi komparasinya seperti apa.
05:16Jadi kita dikompar terkait apa dulu.
05:18Kalau dibandingkan memang dibandingkan musim yang sama, kuartal yang sama tahun sebelumnya.
05:23Ya ini kan mengalami peningkatan.
05:26Ya tadi ya 5,29 persen lagi.
05:29Jadi sudah memperdukkan musiman.
05:31Jadi memang kita harus fair juga ini relatif terhadap apa.
05:36Kalau misalnya kita bandingkan terhadap kuartal 1 memang musimnya kan berbeda ya.
05:40Kalau kita lihat kuartal 1 itu lebih didominasi oleh misalnya Ramadan dan kemudian yang kemarin itu.
05:47Tapi kalau yang sekarang itu kan misalnya gaji ke-13 itu banyak gitu ya.
05:50Musim-musimannya itu berbeda.
05:52Tetapi sudah dipertimbangkan itu musimannya tadi.
05:55Oke kita bergeser ke data yang lain yang dirilis di hari yang sama oleh BPS juga terkait dengan angka pengangguran.
06:01Tapi kita geser ke anomali jobless growth-nya.
06:04Mas Zikri ada perekonomian yang tercatat tumbuh di atas 5 persen namun angka PHK bertambah.
06:09Apakah ini kita sedang mengalami fenomena jobless growth di mana ekonomi tumbuh tetapi tidak menciptakan lapangan kerja yang memadai?
06:17Ya menurut saya kalau dibilang jobless growth tidak kurang tepat juga ya.
06:24Saya lebih prefer ini adalah low quality job growth gitu ya.
06:29Kenapa? Karena pertumbuhan ekonomi ini tidak serta-merta mengakibatkan penyerapan tenaga kerja yang berkualitas.
06:37Karena kalau dilihat kita statistik kan yang dikeluarkan oleh BPS juga Februari sampai Mei tambahan orang bekerja itu kan bahkan
06:43ada 522 ribu.
06:45Jadi ada penyerapan tenaga kerja.
06:46Nah dari ini kan tapi yang terserapnya itu kemana?
06:50Terserapnya itu ke sisi formal yang berkualitas, gajinya lumayan tinggi dan memberikan pengamanan keselamatan kerja dan seterusnya.
06:58Atau justru ke informal.
07:00Nah kalau kita lihat dari sisi teori juga memang ada berbeda.
07:04Jadi ada kausalitas dan korelasi.
07:06Jadi dalam ekonomi growth dengan penyerapan tenaga kerja itu pasti berkorelasi tetapi belum tentu jadi ada sebab akibat.
07:15Jadi kalau misalnya penyerapan tenaga kerja itu kemungkinan besar menyebabkan pertumbuhan ekonomi tetapi pertumbuhan ekonomi belum tentu menyebabkan penyerapan tenaga
07:25kerja.
07:25Tergantung dia alokasinya kemana nih pertumbuhan ekonominya.
07:29Apakah ke sektor yang padat modal atau padat karya.
07:32Nah kalau padat karya sudah pasti dia menyebabkan penyerapan tenaga kerja.
07:36Nah ini yang padat modal ini.
07:37Masalahnya kan kita musimnya otomatisasi ya musimnya AI nih.
07:41Nah kalau misalnya si pengusaha nih pengusaha dia sekarang dengan adanya otomatisasi dan AI ini dia tuh justru bisa menghasilkan
07:48supply yang sama produk yang sama dengan input tenaga kerja yang justru bisa lebih rendah.
07:53Nah itu kalau makanya kita lihat itu kan jadi ada trade off nih.
07:57Nah ini harus bijak juga nih pemerintah.
07:58Pemerintah ini mau alokasiin di sektor yang mana nih?
08:01Di tengah AI boom dan otomatisasi ini.
08:04Jadi kalau misalnya ingin fokus ke produktivitas itu bisa mengorbankan penyerapan tenaga kerja.
08:12Nah ini butuh wisdom juga dari pemerintah.
08:15Jadi artinya kalau saya bisa simpulkan adalah soal degradasi kualitas pekerjaan begitu ya karena ada informalisasi di sini.
08:21Lonjakan jumlah pekerja informal ini kan sering diklaim sebagai bentuk ketahanan masyarakat Mas Sikri.
08:26Namun dari kacamata akademisi, bukankah dominasi sektor informal ini justru sinyal pemberukan kualitas lapangan kerja?
08:35Ya menurut saya betul bisa dibilang seperti itu karena memang gini tergantung ada persepsinya.
08:42Kalau misalnya sektor informalnya kita misalnya jadi pengusaha nih atau UMKM itu karena misalnya kitanya pingin dan kitanya punya modal
08:50dan itu bisa dianggap itu suatu hal yang baik.
08:53Tetapi kalau misalnya kita switch ke sektor informal itu dikarenakan kita terpaksa misalnya karena di layoff karena PHK itu kan
09:00jadi masalah ya.
09:01Nah itu jadi problem.
09:03Nah memang kita kan dikenal ekonomi kita itu karena UMKM tadi ya karena memang adaptif dan resilience.
09:08Tapi kalau misalnya kita kehilang tadi ya pekerjaan formal tadi kan orang langsung switch itu switch bekerja jadi bisa jadi
09:17dagang.
09:18Pengembudi ojek online kan itu jadi masalah karena terpaksa tadi.
09:21Jadi informal itu karena terpaksa.
09:23Nah kalau karena peluang tadi modal kan jadi nggak masalah gitu.
09:27Informalitas itu penting memang jadi bantalan ekonomi kalau misalnya ada guncangan.
09:31Tapi kita tahu yang bisa membuat orang itu hidup dengan layak pendapatannya itu sustain itu adalah sektor formal.
09:38Jadi memang kita bukan berarti pemerintah itu tidak menghilangkan harus menghilangkan sektor informal.
09:45Tetapi harus sektor informal itu bikin naik kelas.
09:48Naik kelasnya itu apa?
09:49Misalnya akses modal, pelatihan, dan kemudian stimulus, dan kemudian kemudian jaminan-jaminan kesehatan dan kerja itu harus untuk sektor informal
09:56ini.
09:56Baik, berarti formalitas itu masih penting begitu ya sebagai bantalan saat adanya guncangan ekonomi.
10:03Namun kalau kita geser lagi Mas Zikri ini kan secara makro indikator kita ini terlihat solid ya.
10:09Bagaimana kemudian di tingkat mikro data apa yang menggambarkan bahwa daya beli masyarakat baik-baik saja?
10:17Ya ini sebenarnya baru dikeluarkan oleh BPS juga.
10:20Ini terkait dengan inflasi dan saya cukup surprise juga di tengah gempuran oil price yang masih naik turun,
10:27sempat naik di atas 100 dolar per barel juga ya.
10:30Ini inflasi kita masih terjaga nih Juli kemarin bahkan di bawah 3%.
10:34Lebih tepatnya di Juli itu kan 2,88%.
10:37Ini di bawah 3%.
10:38Secara bulanan bahkan kita lihat itu deflasi itu kan 0,14% dibandingkan sama Juni ya.
10:43Ini kan sebenarnya bisa ini acceptable dan ini reasonable.
10:47Karena apa? Karena oil price itu kan tidak setinggi di kuartal 1 ya, di akhir kuartal 1.
10:52Sehingga menyebabkan harga pangan itu kan jadi turun.
10:56Dan ini menjaga daya beli masyarakat.
10:57Khususnya apa? Kelompok menengah yang menengah ke bawah ya, pengeluarnya untuk kebutuhan sehari-hari.
11:02Tapi ini harus hati-hati juga sih.
11:04Inflasi ini kan nggak serta-merta ekivalen dengan daya beli, ada indikator yang lain juga.
11:09Makanya kita harus cek juga misalnya konsumsi rumah tangga.
11:12Itu kan positif tumbuh ya.
11:14Transaksi digital itu meningkat.
11:16Nah, kalau kita cek itu di kuartal 2 ya, terutama di akhir-akhir penjualan kendaraan membaik justru.
11:22Saya sih optimis ya, terutama kita lihat IHSG ke depannya dari trennya dan kemudian dari teknikal fundamentalnya ini bisa jadi
11:29baik.
11:30Dan kalau kita cek dari data penerimaan PPN, itu kan cukup kuat juga ini naik.
11:34Jadi masyarakat itu masih melakukan konsumsi gitu ya.
11:37Nah, tapi harus hati-hati juga kalau misalnya kita cek di indeks keyakinan konsumen, itu di April itu 123, itu
11:44di Juni itu kan 117.
11:46Artinya apa? Ya ada penurunan.
11:48Saya sih melihatnya penurunannya ini lebih kepada masyarakat menengah ke bawah.
11:53Kalau kita cek jadi data kan di kisaran yang pendapatannya 4 sampai 5 juta per bulan tuh.
11:58Nah, ini pertumbuhan ekonomi harus di cek ini dia berpengaruh kemana dan siapa yang tertekan bahkan ketika pertumbuhan ekonomi meningkat.
12:06Baik, berarti bisa digarisbawahi bahwa inflasi juga kita mesti lihat begitu namun selalu hati-hati karena memang tidak selalu ekvivalen
12:15dengan daya beli masyarakat juga.
12:17Terima kasih Zikri Firman Syahakam, ekonom sekaligus dosen SBM ITB atas penjelasannya bersama kami di Kompas Bisnis.
12:23Mas, sehat selalu.
12:24Ya, sehat selalu Mas. Yuk, mari.
12:27Saudara, jangan kemana-mana karena Sapa Indonesia Pagi akan kembali untuk Anda selesai.
12:32Dengan informasi, musim kemarau panjang membuat sungai di Blora, Jawa Tengah mengering.
12:36Tanah di dasar sungai terlihat retak-retak dan mengeras.
Komentar