Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 2 hari yang lalu
KOMPAS.TV - Wakil Kepala BGN Agustina Arumsari membeberkan bahwa di tahun 2026, BGN melanjutkan pembayaran untuk pengadaan motor listrik sebesar Rp 243,9 miliar.

Adapun pengadaan motor listrik ini bermasalah karena diduga dikorupsi oleh eks Kepala BGN Dadan Hindayana.

"Uang muka belanja, ini ada pertanyaan kenapa ada uang muka besar sekali di tahun 2025, itu adalah uang muka pembayaran motor listrik yang kemudian jadi ramai itu, jadi uang mukanya dibayar tahun 2025, pembayaran terakhirnya di tahun 2026 Rp 243,9 miliar," kata Agustina, dalam rapat bersama Komisi IX DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (17/7/2026).

BGN belum mencatatkan motor listrik tersebut sebagai aset, mengingat Kejaksaan masih melakukan penyelidikan.

"Untuk tahun 2026 ini sudah dilunasi, tetapi belum dicatat sebagai aset peralatan dan mesin definitif, karena apa? Karena masih dalam proses penyidikan oleh Kejaksaan," imbuh Agustina (9:13).

Baca Juga Waka BGN Agustina Cerita Canda Prabowo soal Rambut yang Memutih: Pulang, Langsung Cat di https://www.kompas.tv/nasional/681215/waka-bgn-agustina-cerita-canda-prabowo-soal-rambut-yang-memutih-pulang-langsung-cat



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/681222/bgn-bayar-pengadaan-motor-listrik-rp243-m-belum-dicatat-sebagai-aset-karena
Transkrip
00:00Kemudian uang muka belanja, ini mungkin ada pertanyaan, kenapa ada uang muka belanja besar sekali di tahun 2025?
00:06Itu adalah uang muka pembayaran motor listrik yang kemudian jadi rame itu.
00:12Jadi uang mukanya dibayar tahun 2025, pembayaran terakhirnya di 2026, 243,9 M.
00:22Kemudian piutang bukan pajak, nah ini adalah SPBG, MBG ya, itu sebenarnya masalah treatment akutansi saja ibu dan bapak.
00:32Dan kemudian ada penyisihan piutang itu memang harus begitu karena 0,5% itu secara ketentuan sistem akutansi pemerintah harus
00:40dicadangkan.
00:42Kemudian piutang bukan pajak dan persediaan, persediaan ini ada ATK, ada lain-lain lah, ini umum saja sebenarnya.
00:50Nah kemudian aset tetap, ada peralatan dan mesin, itu ada komputer dan sebagainya 1,4T.
00:58Kemudian ini mungkin, ini kategorinya saja ada jalan, irigasi, dan jaringan, ini kelompoknya.
01:04Tapi yang dimaksud di sini sebenarnya jaringan internet yang memang kami gunakan.
01:09Jadi 6,8 M.
01:12Kemudian aset tetap lainnya 18,9 M.
01:16Kemudian konstruksi, nah ini konstruksi dalam pengerjaan.
01:20Ini adalah pencatatan atas uang muka yang sudah diberikan kepada 315 SPBG yang dibangun atas biaya APBN, yang keluar dari
01:32BKN, 375.
01:34Yang penyelesaiannya seharusnya dibayar di tahun 2026.
01:41Tapi di tahun 2026 ini belum bisa dieksekusi karena memang juga anggarannya tidak disediakan lagi oleh Kementerian Keuangan.
01:50Kemudian akumulasi penyusutan aset tetap, itu sesuatu yang biasa.
01:54Kemudian aset tak berwujud adalah bentuknya software dan sebagainya.
01:59Kemudian data, dana yang dibatasi penggunaannya 1,9 dan akumulasi 68,8 M.
02:08Kemudian, nah ini Ibu dan Bapak, kami masih memiliki hutang kepada pihak ketiga.
02:13Next slide.
02:15Hutang kepada pihak ketiga sejumlah 1,4T, rinciannya nanti ada di belakang.
02:22Ini yang menjadi tugas kami untuk menyelesaikan dan kami sudah berdiskusi dengan Direkturat Jenderal Anggaran
02:29karena memang ada banyak item yang kami minta mulai untuk dicicillah dibayar
02:36supaya mengurangi beban pikiran kami juga, Pak, nanya hutang harus diselesaikan.
02:41Nanti rinciannya ada di belakang.
02:42Kemudian ekuitas 3,5T.
02:46Nah ini secara pendapatan, sekali lagi pendapatan penerimaan negara bukan pajak
02:51sebenarnya adalah tadi pengembalian dari tahun 2025.
02:55Kemudian beban pegawai 117, beban persediaan, beban barang dan jasa,
03:01beban pemeliharaan, beban perjalanan dinas.
03:04Nah ini beban barang untuk diserahkan kepada masyarakat, itu adalah sebenarnya
03:10karena mekanisme untuk program MBG ini adalah sifatnya ban pers,
03:15maka itu dicatat sebagai beban barang untuk diserahkan kepada masyarakat.
03:20Ini nama saja, nama pengkategorian di dalam laporan keuangan.
03:25Kemudian beban penyusutan dan beban penyisian piutang tak terdaki,
03:29jadi total seluruhnya adalah 47,9.
03:33Nah ini juga pendapatan kegiatan non-operasional lainnya,
03:37ini biasanya jasa bunga, jasa giro dan sebagainya.
03:41Nah untuk ekuitas awal ini angkanya, kemudian untuk surplus defisi tadi sudah dijelaskan,
03:49dan juga ada beberapa revaluasi.
03:52Nah ini ekuitas akhirnya 3,5.
03:54Nah ibu dan bapak ada beberapa catatan penting,
03:58karena laporan keuangan itu tidak hanya terdiri dari angka-angka di dalam laporan keuangan,
04:04tetapi ada yang disebut dengan catatan atas laporan keuangan,
04:07yaitu penjelasan kualitatif.
04:08Yang pertama adalah tunggakan tahun 2025.
04:12Ada 1,6 yang sudah selesai dilaksanakan,
04:16maksudnya kegiatannya sudah selesai dilaksanakan,
04:19namun belum dibayarkan.
04:21Akan dibayarkan dengan mekanisme tunggakan melalui DIPA tahun 2026.
04:26Ini yang kami sekarang sedang dalam proses untuk melakukan revisi-revisi anggaran dengan DGA.
04:34Tapi ada beberapa ketentuan yang disaratkan agar direview terlebih dahulu.
04:40Ada nilai tertentu yang harus direview oleh KPA,
04:43ada nilai tertentu yang harus direview oleh Inspektorat,
04:46ada nilai tertentu yang harus direview oleh BPKP.
04:49Ini yang masih dalam proses.
04:51Itu yang menyebabkan kami mungkin minta maaf kepada seluruh pihak ketiga yang mungkin ada tagihan kepada BGN,
04:58belum bisa semuanya kami laksanakan, kami bayarkan,
05:02karena masih ada proses.
05:03Kemudian ada 870 neraja per 31 Desember 2025 telah dilakukan koreksi kepada utang kepada pihak ketiga.
05:13Nah ini juga karena ada potensi akan mengalami kenaikan atau penurunan sejumlah tagihannya.
05:21Artinya dulu tagihnya mungkin sejumlah 100 gitu,
05:25tetapi setelah kami lihat ternyata mungkin jumlahnya bisa ada yang di bawah itu,
05:29ada yang di atas itu, sehingga ada proses adjustment.
05:32Nah yang terakhir ini adalah nilai yang belum diyakini.
05:36Artinya pihak DCA belum bisa menganggap ini diakui sebagai hutang kepada pihak ketiga,
05:46karena belum memenuhi kualifikasi bahwa itu hutang kepada pihak ketiga.
05:51Ini juga berdasarkan hasil konfirmasi oleh BPK.
05:55Hasil review yang telah dilakukan oleh tim review Tunggakan di internal kami sendiri,
06:00sehingga ini belum masuk ke dalam catatan laporan keuangan,
06:05tapi harus kami catat di dalam catatan atas laporan keuangan.
06:10Karena bagaimanapun juga ini adalah potensi tagihan yang harus kami selesaikan kepada pihak ketiga,
06:17sejumlah 743 M.
06:19Nah kemudian ini berikutnya adalah rekening penampungan akhir tahun.
06:25Ini ada mekanisme disebut R-PATA ya.
06:31R-PATA itu sebenarnya penyelesaian pembayaran tahun 2025 sudah lewat tahun anggaran,
06:38tapi bisa diselesaikan.
06:40Nah ini antara lain waktu itu dipakai untuk melunasi motor,
06:46untuk melunasi IOT, untuk melunasi beberapa proses pengadaan.
06:52Nah kemudian termasuk ini yang 340 itu waktu itu ada koreksi dari rencana motor yang semula 25 ribu menjadi 21
07:02ribu,
07:03sehingga ada koreksi lagi.
07:04Tapi intinya yang sebelah kanan itu adalah semua yang terkait dengan motor listrik itu.
07:09Nah kemudian ada 248 kontrak yang diproses melalui mekanisme R-PATA,
07:16namun ini masih dibatasi penggunaannya.
07:20Artinya masih di blokir oleh Kementerian Keuangan karena masih ada proses-proses yang mungkin Ibu Bapak tahu sendiri
07:29karena kebetulan ada beberapa permasalahan setelah itu.
07:32Nah ini catatan penting juga di tahun 2025 program prioritas adalah program pemenuhan gisi nasional
07:40dan kemudian program dukungan manajemen, jadi dua kelompok besar itu.
07:46Nah Ibu dan Bapak kami dengan rendah hati mengakui ada beberapa capaian yang sebenarnya tidak tercapai
07:56kalau dari sisi kinerja, angka-angkanya.
07:59Nah ya jadi kalau disitu disebutkan rincian outputnya alokasi anggaran 18,7 itu realisasi hingga anggarannya 11, sekian.
08:11Maka memang capaian kami hanya 59 persen.
08:14Artinya sebenarnya secara kinerja belum memenuhi target gitu.
08:19Nah kemudian program dukungan manajemen juga seperti itu.
08:23Ada yang menjadi prioritas yaitu SPPI tadi, itu juga anggaran dan realisasinya tidak terrealisir 100 persen, hanya 93 persen.
08:34Nah Ibu dan Bapak catatan berikutnya adalah soal pengadaan motor listrik.
08:38Nah ini juga menjadi hal yang kami bertanggung jawaban kepada DPR.
08:44Tadi dicatat belanja uang mukanya di tahun 2025, penyelesaiannya itu di tahun 2026.
08:52Jadi kalau di dalam lakonan keuangan ini sebenarnya disebut subsequent event.
08:56Jadi sesuatu yang setelah tahun bukunya ditutup, ada kejadian atau ada hal yang harus kami lunasi setelah tahun 2026.
09:06Ini nilainya 243, ini hanya uang mukanya saja yang kami catat di 2025.
09:13Untuk tahun 2026 ini sudah dilunasi, tetapi belum dicatat sebagai aset peralatan dan mesin definitif.
09:22Karena apa? Karena masih dalam proses penyidikan oleh kejaksaan.
09:27Nah Ibu dan Bapak ini kira-kira rincian next, mungkin ini slide-slide terakhir ya.
09:34Ini adalah rekapitulasi tunggakan-tunggakan yang kami harus selesaikan.
09:39Ada belanja bahan 16,1, ada sertifikasi 111M, jasa konsultan, sewa, honor narasumber.
09:50Nah ini mohon maaf kami mungkin masih banyak hutang ke tempat lain.
09:53Jasa lainnya ada IO publikasi dan sebagainya 330M, kemudian kami juga masih punya hutang keunhan 7,3M,
10:04perjalanan dinas 684 juta, tunggakan banker 100M, belanja modal dan seterusnya setelahnya 1,609.
10:15Tapi insya Allah kami akan lunasi, kami akan selesaikan di tahun 2026 ini.
10:22Nah Ibu dan Bapak, ini kira-kira nanti tunggakan yang akan kami bayarkan di tahun 2026,
10:30yang sementara ini memang alokasi anggaranya masih di blokir.
10:35Tetapi beberapa hal yang memang sudah melewati proses review dan sudah sesuai dengan ketentuan memang akan segera dibayarkan oleh DJA.
Komentar

Dianjurkan