00:00Mas Med, izin pimpinan dan Bapak Ibu yang terlalu.
00:08Saya juga agak bingung mau memulai dari mana, tapi yang pasti standing posisi kami tegas gitu ya,
00:15untuk tidak melanjutkan program apa namanya, Makan Berisi Kreatis.
00:20Argumennya sudah kami sampaikan, tadi Mas Medya sudah mendetailkan sangat-sangat rapih gitu ya.
00:26Kenapa? Karena lagi-lagi dalam konteks Makan Berisi Kreatis, konflik kepentingannya terlalu tinggi.
00:36Dan nampaknya Presiden kita menormalisasi yang namanya konflik kepentingan.
00:42Mari kita lihat pimpinan BGN hari ini.
00:47Ibu Nani, posisinya masih sebagai komisaris independen pertanian.
00:55Mari kita lihat wakilnya, Ibu Arun.
01:01Masih sebagai wakil komisaris PT Pertamina Patra Niaga.
01:11Sekaligus, pernah juga menjabat sebagai wakil kepala BPKP dan seterusnya.
01:21Bagaimana dengan Majen Purnawirawan Trenggono?
01:27Beliau masih statusnya sebagai wakil utama PT Agrinas.
01:32Jadi kalau programnya, program baik dikelola dengan busuk, mohon maaf.
01:40Tidak akan terjadi apapun.
01:42Mimpi besar 2045 gak akan pernah terwujud.
01:45Karena memang desainnya sudah didesain sedemikian rupa untuk perburuan rente.
01:50Rentenya cukup panjang Bapak Ibu semua.
01:54Saya dapat cerita, di lapangan ada SPPG yang dikelola juga.
02:01Ada yayasan yang kemudian mengelola SPPG.
02:04Dan kemudian yayasan itu punya toko sembako.
02:08Bagaimana UMKM sekitar, pedagang beras, pedagang telur, pedagang cabai, pedagang gula itu menerima manfaat?
02:18Tidak di lapangan faktualnya demikian.
02:22Mimpi besar akan melibatkan kelompok-kelompok peternak.
02:26Mimpi besar akan melibatkan kelompok petani.
02:30Bohong besar.
02:32Mas Med sudah sampaikan.
02:34Lima yayasan besar yang mengelola dapur SPPG.
02:43Bagaimana kita mau percaya teman-teman di kepolisian kalau menemukan SPPG bermasalah jika kepolisian sendiri juga mengelola dapur?
02:54Jadi tidak ada alasan yang kuat.
02:57Kami mencoba untuk menyusun mind map dari kacamata publik seperti biasa.
03:03Kami mencoba untuk menelusuri, mencari alasan apa yang kuat jika MBG dilanjutkan.
03:11Kami tidak menemukan indikator yang kuat untuk melanjutkan makan bergisi gratis.
03:20Jadi, tawaran kami adalah hentikan program makan bergisi gratis.
03:27Teman-teman komisi 9 sudah sampaikan sedemikian panjang pada badan gisi nasional.
03:35Begitu ya, dari awal tahun ketika program ini berjalan begitu.
03:42Apakah didengar? Tidak.
03:44Nah, problemnya di mana?
03:47Nampaknya memang ada magnitudenya dari presiden.
03:56Jadi, lagi-lagi saya sependapat dengan mas media tadi.
04:02Kami tidak akan memperdebatkan itu karena kami punya posisi tawar yang cukup tegas.
04:08Dalam konteks pengadaan misalnya, mari kita bertanya, setidaknya pada diri sendiri gitu.
04:18Apa alasannya kemudian badan gisi nasional menyetujui yayasan A dan yayasan B untuk mengelola dapur?
04:28Hingga hari ini kita tidak pernah dapet sistem penilaian seperti apa.
04:35Semua pengadaan-pengadaan badan gisi nasional itu besar sekali anggarannya.
04:40Ada review MBG kalau tidak salah, 1,2 triliun rupiah.
04:48Kita konsorsium, sorry mohon maaf, koalisi bikin MBG Watch.
04:54Tidak lebih dari 10 juta.
04:56Mas Bet ya.
04:58Cuman sewa server, Pak.
05:05MBG Watch itu pengaduannya cukup dengan WhatsApp.
05:10Tidak perlu buka sistem, cukup dengan kirim WhatsApp.
05:13Kami menemukan ini, kami dapat fotonya, kami dapat geotagging-nya.
05:20Memang bukan aplikasi, tapi aplikasi include di dalam WhatsApp.
05:25WhatsApp bot.
05:26Yang kemudian datanya masuk ke dalam website mbgwatch.org.
05:30Jadi saya mau bilang bahwa lagi-lagi titik tekannya adalah tidak punya alasan yang kuat untuk melanjutkan program makan bergisi
05:41gratis.
05:42Demikian kira-kira teman-teman.
Komentar