00:00Ya jadi saya di banyak tempat pasti kalau beberapa pemirsa menonton gitu bosannya saut ngomongnya itu-itu aja gitu.
00:12Ya emang begitulah nyatanya gitu.
00:14Jadi kalau kita bicara bagaimana kemudian tiga penegak hukum bisa menyelesaikan pemberantasan korupsi dengan baik.
00:26Dari awal kan si pembuat undang-undang KPK itu sudah mengingatkan bahwa sebenarnya KPK itu dibentuk itu ada problem di
00:34dua institusi yang sedang sekarang bertikai lah katakan atau sedang bahasanya mereka sedang bersinergi gitu.
00:44Berkolaborasi, bersinergi seperti itu ya Pak Sal.
00:46Ya benar-benar jauh ke dalam itu sebenarnya kunci-mengunci kan gitu ya.
00:49Ya itu kan maka dibuatlah yang disebutnya fungsi koordinasi, supervisi, monitoring, apakah itu dalam pencegahan dan penindakan pemberantasan korupsi dengan
01:03trigger mekanisme yang selalu dibilang itu terhadap dua institusi ini gitu.
01:07Nah itu sudah dipikirkan peristiwa-peristiwa ini.
01:10Itu penyesalan kita kenapa undang-undang di KPK diganti sehingga KPK sekarang itu gak confidence dia untuk kemudian eh ada
01:19masalah apa loh disitu gitu.
01:20Karena fungsi supervisi koordinasi dan monitoringnya itu sudah biasa-biasa aja gitu.
01:27Enggak benar-benar ekstra.
01:29Enggak benar-benar menganggap ini tanggung jawabnya.
01:32Nah nanti saya susah juga nih karena saya di bawah presiden juga.
01:36Enggak berbeda dengan dulu.
01:37Begitu saya masuk ke gedung putih itu dalam pikiran saya, saya bertanggung jawab ke rakyat.
01:42Karena saya baca betul itu undang-undang KPK itu.
01:45Saya enggak, enggak bertanggung jawab ke DPR sana.
01:48Dia milih saya karena memang harus dipilih lima pimpinan gitu.
01:52Tapi basically undang-undangnya saya bertanggung jawabnya ke rakyat gitu.
01:55Makanya Pak Agus aja berani ngelawan kan waktu kakek itu bilang hentikan katanya gitu kan.
02:04Pak Agus ngelawan kan soal IKTP itu kan.
02:06Jadi artinya independensinya tinggi.
02:09Nah sekarang persoalannya kan kembali lagi soal kepercayaan sebenarnya.
02:14Kalaupun diambil kemarin juga kan masih ada perdebatan juga.
02:19Ya KPK ini cuma ngurus-ngurusin kecil-kecil gitu ya dia gak akan mau gitu menyelesaikan ini.
02:25Terus kemudian pada bagian lain mereka beberapa pendapat juga mengatakan yang ini menimbulkan juga ada risiko ya.
02:34Walaupun saya bilang risikonya kalau di KPK tangan itu lebih kecil.
02:38Walaupun ada risiko di sana dari lima itu kan satu polisi, satu jaksa tuh.
02:42Dua hakim kemudian satu bekas BPK gitu.
02:45Kalau yang ini konflik kalau ini katakan yang dua jaksa dan polisi ini kan masih ada tiga gitu.
02:50Ya kan itu jadi bisa diredam tuh potensi.
02:53Kan Edian kan tiga pimpinan ini kan saya sedang membayangkan nih nanti kan ini kan ada sprintik 1, 2, 3,
02:594, 5, 6, 7 kan.
03:01Nah ini kan pimpinannya harus diajak bicara.
03:04Agak sulit kalau umpamanya sembilan orang itu koordinasi dengan umpamanya Pak Jaya-nya gitu.
03:09Pak, Pak Jaya kami ngelapor nih perkembangannya kayak gini, kayak gini.
03:12Agak berbeda kalau ditangani oleh KPK.
03:14Makanya dari awal kenapa mereka tidak cepat mengambil situasi ini gak bisa disalahkan juga karena memang mereka sudah paham betul
03:23bagian dari pemerintah.
03:24Mereka kurang inovatif, kurang inisiatif, kurang proaktifnya untuk kemudian mengejar bahwa ini bukan kalau udah begini caranya ini bukan cicak
03:34buaya.
03:35Ini orang selalu bilang segala macem lah.
03:37Ya jenis-jenis prokodial segala macem.
03:40Jadi maksud saya, kalaupun kemudian kita mengatakan bahwa kenapa dari awal ini tidak diselesaikan dengan menurunkan risiko.
03:53Saya selalu bicaranya risiko.
03:55Karena risikonya bagaimanapun lebih besar dan terlebih tingkat kepercayaan yang cukup rendah ini menimbulkan noisy, berisik benar dalam pemberantasan korupsi.
04:07Dan itu tidak menanamkan kepercayaan ke pasar, sinyal kepada pasar di dalam hal ini investor dan seterusnya.
04:16Oh begini loh cara penegakan hukum anti korupsi di Indonesia.
04:20Jadi kalau ditanya kembali kenapa kemudian ini agak lebih bertili-tili dan kemudian ini kan menunjukkan betapa dalamnya kasus ini
04:31dan betapa luasnya kaitan-kaitannya.
04:36Sehingga kalau kita katakan bahwa kenapa dari awal KPK tidak berani untuk kemudian memastikan diri, menjelaskan.
04:44Saya juga tanda-tanya gitu loh.
04:46Karena ketika ada pertemuan dengan Presiden itu ada Kapolri, ada Menhan, ada Pangap, ada Kapolri, ada Jaksa.
04:54Itu KPK-nya nggak ada tuh disitu.
04:56Saya lihat tuh.
04:57Ya apakah mungkin, oh udah lah KPK itu ngurusin yang lain, kita nggak tahu gitu kan.
05:03Padahal sebenarnya kalau penasihat Presiden paham betul tentang undang-undang KPK 2019 yang sulit saya terima sampai hari ini itu
05:11karena KPK jadi lemah.
05:12Ya tapi kondisi apapun ya di pasal 10 tadi yang jauh disampaikan Pak Jainul yang sudah saya jelaskan sebelumnya juga
05:19itu menjadi dasar.
05:20Yang sebenarnya saya khawatir juga ini persoalan tindak pidana korupsi ini nggak ada yang menurut sering tuh di timnya Pak
05:30Prabowo ini.
05:30Padahal kalau menurut saya yang paling pertama sebenarnya ketika dia membicara di depan KPU dia akan memberantas korupsi dengan baik.
05:38Dia sebenarnya harus bikin suatu tim yang solid yang bisa memberikan masukan tanpa konflik kepentingan dan kemudian bisa diyakinkan bahwa
05:48masukan mereka dengan KPI-KPI yang jelas gitu loh.
05:52Oke lah KPI-nya itu jangan diukur dari pengembalian uang yang sekian terilang dari PKH itu gitu.
05:58Jadi uang yang sekian terilang dari PKH itu jangan-jangan kalau saya JA-nya mungkin lebih dari segitu gitu.
06:04Jadi jangan juga dikatakan oh ini udah baik ini jam PITSUS-nya mengembalikan uang banyak.
06:10Terus kalau mengembalikan uang banyak kamu bisa sesuka-suka kamu gitu.
06:13Terus kemudian kamu melakukan dugaannya kalau pasal 12E itu kan jadi pemerasan seperti Pak Jainul juga ingatkan tadi atau penggratifikasi.
06:22Nggak begitu.
06:23Nah itu bahasanya lawyer silahkan aja gitu.
06:25Nanti-nanti biar aja hakim utuskan hal-hal yang meringankan dia gitu.
06:29Jadi maksud saya di tim yang harus dibentuk ini yang dia harus bisa menyusun strategi-strategi dalam gambar besar.
06:40Jadi dia harus melihat helicopter pew-nya itu diantaranya ya kita KPI selesai jadi presiden paling nggak di atas Malaysia
06:47gitu.
06:47Tapi kan dia harus tahu ular-ular di bawah hutan itu jangan melihat hutan indah, pemandangan bagus, ada danau.
06:54Tapi ularnya bagaimana, ruwetnya di bawah persoalan itu kan harus tahu.
07:00Siapa yang masuk ke detail-detail itu?
07:02Ya masuknya detail itu akhirnya kan menimbulkan kepercayaan campur tangan.
07:06Yang saya bilang itu komisi tiga itu ya kita patut duga mereka udah cawe-cawe di situ.
07:12Masuk di, oke dia bilang dia nggak ngurusin formil materialnya.
07:16Tetapi manajemennya, ya manajemen nggak juga harus hadir di situ.
07:21Nanti kamu panggil aja dia, panggil lagi aja yang dua pihak ini di komisi tiga dan silahkan berdialog masyarakat melihat
07:29gitu.
07:29Jadi sekali lagi saya mengatakan bahwa kenapa kemudian ini juga per hari ini, sampai hari ini orang masih berbicara.
07:39Kok KPK belum melakukan sesuatu yang sangat signifikan untuk mendorong, mensupervisi ini.
07:44Ya kita tunggu ke depan.
07:46Mudah-mudahan mereka memiliki strategi, nggak nahan dulu silahkan.
07:52Tetapi menjadi pertanyaan ketika kemudian pemberinya, pemberinya itu kan kita nggak jelas nih si DR ini kategorinya tuh nantinya itu
08:04masuk pemberian atau penerima tuh.
08:06Atau dia hanya pemain biasa.
08:09Jadi kan dalam peristiwa pidana itu kan ada intelektual dadernya, ada dadernya, ada pemeran serta, ada pembantu.
08:16Ini kan kalau penyelidikan dimulai, sebenarnya penyelidik-penyelidik itu di Polri itu sudah tahu sebenarnya ini intelektual dadernya siapa.
08:25Siapa yang hanya perintah-perintah, siapa yang hanya ngikut-ngikut saja, siapa yang menikmati hasil.
08:31Itu ketika surat laporan masyarakat disampaikan aja dia udah bisa memastikan, oh ini biang keroknya dan oh ini orang yang
08:38lain itu cuma perintah-perintah saja.
08:40Nah, dan ketika Anda penyelenggara negara, apalagi penegak hukum, bahasanya itu ada unsur pemberatannya gitu.
08:50Justru si DR ini bisa belakangan daripada yang penegak hukumnya.
08:54Sebenarnya disitu kalau kita bicara, akan ada unsur pemberatan nantinya disana.
09:00Bukan hanya alasan dia tidak melarikan diri, dia di rumah, dia udah kita pasang alat.
09:05Bukan disitu, ukurannya kan bagaimana sebenarnya keadilan itu bisa muncul.
09:12Oh enggak, itu ada kaitan dengan, ini Pak Saud, ada kaitan dengan apa namanya, timernya nanti gitu.
09:20Ada kaitan dengan waktu dan seterusnya.
09:23Oke, itu bisa aja strategi ya.
09:25Tapi lagi-lagi kan, lagi-lagi saya katakan, dulu pengalaman saya selama di KPK,
09:32ketika kita menuntukkan high profile person, coba tanya deh sama media,
09:37pernah enggak mereka nanya, kapan ditahan Pak Saud?
09:40Enggak pernah, saya 4 tahun disana, kasus-kasus besar itu, orang enggak nanya tuh,
09:46kapan ditahan? Enggak gitu kan, kalau lagi komprehensi persen atau apa, kapan ditahan?
09:51Pertanyaan itu kan di awal ketidakpercayaan kan?
09:54Jadi orang yang ditahan kok jadi yang gimana gitu?
09:57Ya ini yang saya bilang harus dijawab.
09:59Ini yang harus dijawab, dijelaskan ke publik.
10:02Pertanyaan kapan ditahan, kenapa enggak ditahan?
10:04Itu bukan kita dendam terhadap FI ini, atau kita takut dia lari atau tidak.
10:09Tapi ada perlakuan, itu kan simbol dari ketegasan penindakan yang dilakukan gitu.
10:14Ini yang agak sulit kita menjelaskan ke publik,
10:18oh itu kewenangan penyidik, lah itu sangat hormatif itu.
10:22Hormatif banget gitu kalau ngomong kayak begitu kan.
10:24Tapi bagaimana sebenarnya proses-proses itu bisa menanamkan kepercayaan ke publik?
10:29Makanya saya bilang, selama ini ditangani oleh pihak kejaksaan,
10:33itu akan ada aja preming-preming, noise-noise itu.
10:36Dan kemudian itu bisa diredam, kalau udah bawa aja ke KPK,
10:39sembilan orang itu ikut pindah ke sana,
10:41bahasanya itu cuma pindah rumah saja gitu.
10:44Dan kemudian ditahan,
10:46kemudian nanti pimpinan KPK berlima itu bisa ngeliat tuh,
10:49penjara itu bisa dilihat langsung gitu kan.
10:50di meja saya itu, di KPK itu bisa ngeliat tuh,
10:53tanam lagi tidur, lagi ngantuk-ngantuk,
10:55nonton TV dan seterusnya.
10:56Jadi bisa di-occupied gitu loh.
10:58Kemudian lebih bisa dipercaya.
Komentar